
"Chi, kamu masih lama yah? Cepat dong, ini hampir sejam kamu di toilet." Teriak Naina.
"Duh, sabar dong, Na. Perut aku benar-benar sakit." Sahut Chia.
"Kan udah tahu nggak kuat makan sambal, masih juga mau dicomot. Kalau rakus kira-kira dong." Oceh Naina.
"Bacot amat nih anak." Batin Chia.
"Iya, sabar dikit, bawel amat." Sungut Chia.
"Lagian ini jamnya Pak Arga loh, ntar jamnya habis. Aku nggak mau yah kelewatan jamnya Pak Arga." Ujar Naina.
"Eleh, palingan cuman ingin menganggumi wajah Pak Arga doang ini mah. Dasar cewek mata keranjang." Oceh Chia dalam batin.
Chia menyalakan kran air, untuk menenggelamkan kotoran yang dibuang oleh tubuhnya. Setelah itu, dia keluar dari toilet.
Chia mencuci tangannya dengan sabun dan mengeringkan dengan hair dryer khusus pengering tangan.
"Noh, sudah." Sungut Chia.
"Dari tadi dong." Ucap Naina dengan senyumnya yang khas.
"Lihat aja, Aku samperin Pak Arga trus Aku bilang kalau semua anak cewek dikelas termasuk kamu suka sama bapak." Oceh Chia.
"Bilang aj, kan kita cuman mengagumi." Sahut Naina.
"Mengagumi wajah tampan maksudmu? Dasar mata keranjang." Tutur Chia.
"Astaghfirullah, emang hahahaha. Udah ah ayok kita kembali ke kelas." Ujar Naina.
Pak Arga adalah dosen muda yang mengajar di jurusan kami, dia sangat terkenal dikalangan mahasiswa. Selain, memiliki wajah tampan dia juga sangat akrab dengan mahasiswa.
Naina pun menggandeng tangan Chia dan berjalan bersama ke kelas.
Mereka tiba dikelas mengetuk pintu untuk meminta izin masuk ke kelas.
"Ya, dari mana kalian." Tanya Pak Arga.
"Dari toilet, Pak." Jawab Naina.
"Ngapain?" Tanya Pak Arga lagi.
"Di toilet yah berarti kalau bukan BAK yah BAB, Pak." Sahut Chia.
"Kan bisa berfoto-foto dan berdandan atau ngapain gitu." Ujar Pak Arga.
"Pak lihat wajah kami dengan saksama, adakah wajah kami ini penuh dengan dempulan?" Tanya Chia menunjuk wajahnya.
"Itu bibir kamu pink-pink gitu." Tunjuk Pak Arga.
"Ya Allah, Pak. Nih nih nggak kehapus. Emang bibir Aku aslinya gini warnanya." Sahut Chia sembari mengusap-usap bibirnya.
Mahasiswa yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah konyol Chia dan dosen yang terus menggodanya.
"Oke, kalian berdua duduk." Ucap Pak Arga.
"Terimakasih." Ucap Naina dan Chia kompak.
Chia tidak menyadari kalau Kau sejak tadi berdiri didepan menghadap ke papan tulis.
"Dia sedang apa?" Batin Chia.
"Iya kamu yang jilbab hijau, coba bersihkan papan tulis itu. Biar teman kalian bisa menjawab soalnya di papan"
Semua saling menoleh menatap satu sama lain, mencari orang yang ditunjuk oleh Pak Arga, hanya 2 orang yang memakai jilbab hijau, yaitu Chia dan satu mahasiswa lainnya.
"Saya Pak." Tanya mahasiswa yang memakai jilbab hijau itu.
"Bukan kamu, yang satunya lagi." Ucap Pak Arga.
Semua melihat kearah Chia, Chia yang masih tidak konek ikut menoleh mengikuti tatapan yang lainnya. Sementara, Chia duduk mentok didekat dinding jadi dia agak bingung siapa yang mereka lihat.
"Kamu." Tunjuk Pak Arga.
Chia menoleh kebelakang, mencari siapa yang ditunjuk oleh dosen itu.
Kating yang duduk disamping Chia pun menoel lengan Chia.
"Dek, kamu yang ditunjuk." Ucap kating.
"Ehm, saya?" Chia balik bertanya.
Dia pun melihat jilbab yang Ia kenakan, benar dia hari ini mengenakan jilbab hijau.
"Saya yah, Pak?" Tanya Chia telat sadar.
"Bukan, iya kamulah." Sahut Pak Arga.
"Oh maaf, Pak. Saya nggak sadar kalau hari ini pake jilbab hijau. Lagian, Bapak tidak menyuruhku tadi pas berdiri didepan." Oceh Chia berani.
Chia membersihkan papan dari ujung ke ujung hingga ke atas, Chia mengangkat tangannya untuk mencapai atas papan namun dia tidak menyadari bajunya ikut tersingkap ke atas hingga kulit punggungnya terlihat.
Chia tidak terbiasa memakai baju singlet, namun dia sering mengenakan jaket jadi baginya tidak perlu memakai singlet lagi. Ia sempat melepas jaketnya tadi saat maju kedepan untuk membersihkan papan.
Kay yang melihat baju Chia yang tersingkap ingin memberitahukan kepada Chia, namun dia takut Chia akan mencap dia lelaki yang jelalatan. Akhirnya, dia menutup tubuh Chia dengan tubuhnya sendiri. Agar tidak terlihat oleh mahasiswa yang lain. Saat Chia bergeser Kau juga ikut bergeser. Hal ini membuat teman-teman lainnya mengganggu Kau yang terus-menerus mengikuti arah pergerakan Chia.
Kelas pun menjadi ricuh karena suara percie-ciean teman-temannya.
"Gentle yah." Goda Pak Arga.
Chia menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang mereka tertawa kan. Namun, Chia sangat terkejut saat Kay berdiri dibelakangnya. Keseimbangan Chia menjadi goyah, sehingga hampir jatuh. Namun, Kay dengan sigap menggapai tubuh Chia agar Chia tidak jatuh ke lantai.
Seperti adegan drama Korea bisa dibilang posisi Kay dan Chia. Membuat semua yang ada di kelas ikut bersorak.
"Cie cie uhuyyyy...." Teriak Meraka.
Bahkan tidak hanya bersuara, mereka pun mengambil gambar dan juga video. Chia bergegas bangun dari rangkulan Kay, dan berdiri disamping Kay.
"Pak, papanya sudah bersih." Ucap Chia.
Chia pun ingin kembali ke tempat duduknya, namun dicegat oleh Pak Arga.
"Mau kemana?" Tanya Pak Arga.
"Mau duduk Pak." Jawab Chia polos.
"Karena kamu sudah didepan sekalian aja sama-sama dengan Kay mengerjakan soal. Dari tadi Kau belum bisa menjawab." Ucap Pak Arga.
Chia melirik ke arah Kay, dia tahu sedang dipermainkan oleh dosennya. Walaupun, begitu Chia langsung kembali berdiri disamping Kay untuk mengerjakan soal.
"Soalnya yang mana?" Tanya Chia kepada Kay.
"Yang ini." Tunjuk Kay.
"Oh, bagian mana yang sudah kamu kerjakan?" Tanya Chia.
"Yang ini tapi mereka bilang salah." Ujar Kay.
"Siapa yang bilang?" Tanya Chia.
"Andi, Sandi dan Angga." Jawab Kay.
"Oh, yaudah tulis dulu soalnya." Ucap Chia.
Kay pun menuliskan soalnya, setelah itu Chia mengarahkan Kay untuk menjawab soalnya.
"Yang ini dibuat terpisah aja dulu, binernya berapa?" Tanya Chia.
"1000001." Jawab Kay.
"Dikonversi ke oktal yah?"
"Iya."
"Ya udah bagi jadi tiga digit, mulai dari kanan 001, 000, 001."
"Itu nggak kelebihan satu yah?"
"Mana?"
"Ini loh." Tunjuk Kay.
"Iya sengaja, nggak masalah itu. Kecuali kalau diletakkan disebelah kanan nanti jumlahnya berubah."
""Oh, gitu. Understand."
"Lanjut, kalau sudah dibagi jadi tiga digit langsung gunakan cara menghitung desimal."
"Kayak gini yah? 0*2 + 0*2 + 1*2 \= 1." Ucap Kay.
"Iya cerdas sekali." Tutur Chia.
"Berarti hmm oktalnya 101." Jawab Kay.
"Yup, benar sekali. Tulis disitu." Pinta Chia.
Kay pun menjabarkan jawabannya dan menyelesaikan soal dengan bantuan Chia. Setelah selesai, mereka pun menunjukkan jawabannya kepada dosen dan mahasiswa lainnya.
"Oke, benar." Ujar Pak Arga.
"Yeay...." Ucap Chia mengajak Kay untuk TOS.
Kay mengikuti arahan Chia, mereka pun tos satu sama lain. Tidak hanya tos menggunakan tangan, hati Chia bahkan ikut merasakan pukulan tos oleh Kay.
Wajahnya tiba-tiba bersemu merah, dia bergegas menarik tangannya dan kembali ke kursinya. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang. Aris dan Anton yang duduk dibelakang Chia pun menggoda Chia sehingga membuat wajah Chia semakin memerah.