
POV: Author
Setelah menjelaskan kepada Adit, Adit pun mengiyakan untuk bertanding ganda campuran dengan Chia.
"Kamu bisa main nggak? Walaupun, ini hanya permainan tapi Aku tidak mau kalah dari si Archi." Ucap Adit.
"Tenang saja, tidak hanya kakak. Aku juga tidak rela kalah." Jawab Chia.
"Okelah, kalau gitu." Sahut Adit.
Adit pun mengambilkan raket untuk Chia pakai. Sementara, Archi dan Dea juga sudah dilapangan. Mereka sudah berdiri saling berhadapan.
"Kamu yakin bisa main. Kita uji coba dulu mau nggak?" Ucap Dea.
"Oh, boleh Kak." Jawab Chia.
Dea pun memulai untuk memukul 'kok' bola bulutangkis, dia memukul dengan kekuatan penuh sehingga melewati Chia. Chia masih berdiri terdiam sementara raketnya belum dia angkat.
"Pfttt, kamu bisa main nggak? Kalau nggak bisa belajar dulu gih." Ucap Dea.
Chia menoleh ke arah Adit, dan kemudian Chia berbalik melihat ke arah Dea.
"Maaf, Kak. Aku tidak siap tadi. Tidak perlu uji coba lagi. Langsung main saja. Oh tapi, tunggu dulu." Ucap Chia.
Chia meletakkan raketnya dibawah. Setelah itu, Chia melepaskan hoodie yang Ia kenakan dilapangan saat itu juga. Sebelumnya, Chia mengenakan hoodie hitam oversize dan juga leging hitam. Karena itu, pergerakannya sangat lambat karena mengenakan hoodie itu.
Setelah melepas hoodinya, tubuhnya hanya tersisa singlet crop top yang membalut badannya, dipadukan dengan leging hitamnya. Lekukan tubuhnya sangat terlihat. Tubuhnya yang tinggi semampai, kakinya yang jenjang, walaupun tubuhnya langsung tetapi terdapat beberapa otot mungil di kedua lengannya, tidak hanya itu perutnya pun nampak memiliki abs, terlihat begitu seksi. Rambut panjangnya yang terhempas kemana-mana saat dia membuka hoodienya menambah nilai keindahan Chia.
Disisi lain, Faris, Kevin, Zaid dan beberapa pria yang sedang menonton pun terkesima.
"Uwhooooo.... Hot..." Teriak salah satu pria dia bangku taman.
"Apakah sepupumu memang memiliki tubuh seindah itu?" Tanya salah seorang dari pria itu.
"Aku juga baru melihatnya, dia selalu mengenakan pakaian yang longgar." Ucap Faris.
"Kak Chia the best..." Ucap Kevin.
"Astaghfirullah..." Sahut Zaid.
"Bahkan, perutnya memiliki abs. Lihat kedua lengannya bahkan memiliki otot."
"Kak Chia memang selalu membuat orang takjub."
"Dia sedang apa? Kenapa dia celingak celinguk seperti itu?" Ucap Faris.
"Dia melihat kesini." Ucap Zaid.
"Kak Chia sedang berjalan kearah kita." Sahut Kevin.
Chia datang menghampiri para pemuda yang sedang duduk dibangku taman yang sedang menonton mereka bermain.
Dia berdiri tepat dihadapan Kevin, memegang hoodienya yang dia lepaskan tadi. Dia menarik tangan Kevin, hingga Kevin ikut berdiri.
"Kenapa, Kak?" Tanya Kevin bingung.
"Buka baju kamu!" Pinta Chia.
Semua pria yang mendengar permintaan Chia terkejut sampai mangap.
"Apa yang mau kau buat sama anak orang?" Sahut Faris.
"Diam, bukan urusanmu." Ucap Chia kepada Faris.
Kevin pun menuruti permintaan Chia, dia melepaskan bajunya.
"Sudah, Kak." Ucap Kevin.
"Okey. Kamu pegang hoodieku yah. Siniin baju kamu." Titah Chia.
Kevin pun menuruti perintah Chia, dia memberikan bajunya kepada Chia. Kemudian, mengambil hoodie yang Chia berikan kepadanya.
Chia pun kembali ke lapangan, berjalan melewati pria-pria itu. Dia sengaja mengenaskan rambut panjangnya sehingga membuat pria-pria itu mencium aroma dari rambut Chia.
"Wah, gila. Far, selain cantik kayak bidadari, sepupumu juga memiliki tubuh yang oke maksimal dan juga dia sangat wangi." Ucap salah satu pria itu.
Faris, Zaid dan Kevin pun melotot ke pria itu. Mereka memberikan tatapan tajam dan sangat mengancam, sehingga pria itu pun terdiam.
Chia yang tiba dilapangan, baju Kevin yang ia tenteng pun dipakainya. Walaupun, tidak seberat hoodie namun, kaosnya lumayan besar ditubuh Chia. Chia pun mengikat sisi kanan bajunya dan menyelipkan di balik celananya. Tidak hanya itu, Chia mengikat rambut panjangnya dengan style ponytail.
"Oke, Kak. Aku sudah siap." Ujar Chia.
Mereka memulai permainan. Dea memulai dengan memukul bola, diawal Adit yang menguasai bola. Namun, dipertengahan Chia mulai merebut bola. Mereka pun terkejut saat melihat Chia bermain. Dia tidak hanya berbohong jika dia tidak bisa bermain, bahkan dia seperti seorang atlit bulutangkis.
Chia tidak memberikan kesempatan kepada Dea dan Archi mencetak angka, semua serangan ditangkis oleh Chia. Bahkan, Adit seperti orang yang tidak berguna disamping Chia.
Kesempatan untuk menyerang, membuat Chia semakin gencar memberikan serangan mematikan kearah lawan. Tatapan Chia sangat tajam dan begitu fokus. Gerakan lincahnya membuat semua yang melihat sampai termangap.
Chia terus memberikan serangan, namun serangan itu difokuskn ke Dea. Seolah-olah, dia memang ingin menjatuhkan Dea. Archi dan Adit pun hanya bisa melihat Chia yang terus menghajar Dea dengan service mematikannya.
"Apa cuman saya yang lihat atau emang si Chia sedang menghajar Dea." Ucap Faris.
"Kakak tidak salah lihat, sejak Kak Chia menguasai 'kok' dia terus menyerang ke arah Kak Dea." Sahut Kevin.
"Wajahnya pun seperti orang yang sedang ingin membalaskan dendam." Ujar Zaid.
"Kira-kira siapa yang akan menang? Bahkan, Archi dan Adit hanya terdiam dipojok lapangan." Ujar Zaid.
"Sudah pasti gadis Singa itu yang bakal menang. Lihat saja, wajah Dea saja sampai sudah kesal gitu." Jawab Faris.
"Iya, Aku juga dukung Kak Chia." Sahut Kevin.
Sementara dilapangan, Chia terus menyerang Dea dengan servicenya, tidak jarang 'kok' terus mengenai tubuh Dea, tidak hanya tubuhnya wajah Dea pun tak luput dari serangan servis Chia. Hingga Dea pun terjatuh saat menerima serangan yang terus menghujamnya.
"Awww...." Tutur Dea.
"Upsss, Kak Dea sorry. Aku terlalu bersemangat nih, lain kali Aku pelan-pelan deh. Tapi, kali ini jujur saja Aku benar-benar nyerang loh Kak. Jadi, jika kakak ingin mengadu kepada kekasih kakak silahkan. Aku cuman mau bilang yah, Aku tidak perlu bersembunyi untuk menyerang kakak secara diam-diam. Aku bisa langsung menyerang karena Aku tidak takut dengan siapapun." Cerca Chia.
Chia menoleh ke arah Adit, Adit bertepuk tangan dan terus mengucapkan kata 'wow' dan mengancungkan jempol naik kerarah Chia. Mereka pun kembali bermain, namun kali ini Chia sudah mulai bermain seirama dengan Adit. Karena, dia Chia sudah membalaskan rasa kesalnya. Kali, ini dia bermain biasa saja dan menargetkan kemenangan yang ia janjikan kepada Adit.
Hingga pada akhirnya, Chia dan Adit memenangkan permainan. Adit terus bersorak dan teriak dengan girang. Saking girangnya Dia pun memeluk Chia dihadapan semua orang.
Tidak hanya orang-orang yang melihat saja yang terkejut, Chia pun ikut terkejut.
"Kak Adit, mau lepas pelukkan Kakak atau Aku patahkan kedua tangan kakak." Ujar Chia yang masih dalam pelukan Adit.
"Sorry sorry, tapi Chia bertahan sedikit agak lama dalam posisi ini dulu yah. Aku mau lihat adegan menarik." Bisik Adit ditelinga Chia.
"Adegan menarik?" Batin Chia.
Adit masih memeluk Chia, Chia pun hanya diam. Tetapi, tangan Chia tidak membalas pelukan Adit. Dia hanya ingin melihat adegan apa yang dimaksud Adit.
Tiba-tiba saja, tubuh Chia tertarik kebelakang, tidak hanya Chia tubuh Adit pun juga ikut tertarik hingga pelukkannya lepas dari Chia. Adegan dejavu ini pernah dialami oleh Chia.
Archi dan Faris menarik Chia, sementara Kevin dan Zaid menarik Adit. Mereka pun memberikan tatapan tajam dan sangat marah.
"Apakah yang dimaksud Kak Adit adegan ini? Wah, Kak Adit dari mana adegan menariknya. Yang ada malah Aku akan dimakan hidup-hidup oleh orang-orang ini. Apakah Kak Adit sedang mengerjakan." Oceh Chia dalam pikirannya.
Chia melotot ke arah Adit. Meminta pertanggung jawaban kepadanya. Karena, Dia tahu orang-orang itu akan menceramahinya panjang lebar terutama Archi. Yang sudah menggenggam tangan Chia dengan erat, hingga Chia meringis kesakitan.
"Kak Archi tanganku sakit." Jerit Chia.
Archi menarik tangan Chia, dan menyeretnya hingga keluar dari lapangan. Archi membawa Chia pergi entah kemana.
Chia terus meringis karena genggaman Archi semakin kuat, dia menubrukkan tubuh Chia di tembok. Archi mengunci tubuh Chia dengan kedua tangannya yang diletakkan dikiri dan kanan tubuh Chia.
Chia hanya bisa menatap Archi dengan wajah datarnya. Mereka saling menatap, wajah Archi memerah dan penuh guratan emosi. Kali ini, Chia hanya diam. Karena jika dia mulai maka akan terjadi masalah yang urusannya akan panjang.
"Puas?" Tanya Archi.
"Puas kenapa?" Chia balik bertanya.
"Puas memeluk pria? Pasti puaskan. Dipeluk pria tampan. Selain suka menjamah wajah pria, kamu juga suka memeluk pria."
"Kak Archi napa sih ngoceh mulu." Batin Chia.
"Apakah kamu sering menggoda pria, memamerkan aurat agar dilihat banyak pria, apakah kamu suka melakukan hal seperti itu?"
"Haruskah Aku menonjok wajah pria ini." Oceh Chia dalam pikirannya.
Archi terus menerus mengoceh dan tidak membiarkan Chia untuk berbicara. Chia menjadi kesal, tangannya bergegas menutup mulut Archi yang terus menerus mengoceh.
"Kakak bisa diam dulu nggak sih. Biarkan Aku ngomong. Ngoceh mulu ih. Aku nggak meluk Kak Adit, Kak Adit yang meluk Aku tahu. Aku sudah bilang lepas, tapi dia bilang mau lihat adegan yang menarik jadi Aku ikut saja. Tahunya, adegannya itu buat kalian pada emosi." Tutur Chia.
Archi menepis tangan Chia, sehingga dia dapat berbicara lagi.
"Tapi, kamu juga suka kan dipeluk Adit."
"Astaghfirullah, Kak. Sumpah tidak, Kak. Tanganku aja nggak Aku angkat untuk membalas pelukan Kak Adit."
"Lalu, memamerkan aurat dan menggoda pria apa maksudnya itu?"
"Yah, itu. Itu karena hoodieku berat Kak jadi Aku minjam kaos punya Kevin gitu doang."
"Apa harus membuat pakaianmu didepan orang banyak. Apa harga dirimu serendah itu."
"Kak Archi ngoceh mulu sih. Iya, harga diriku rendah. Kenapa? Nggak suka? Kalau nggak suka nggak usah lihat? Lagian Aku gitu karena kakak juga. Padahal, bukan Aku yang buat Kak Dea jatuh, tapi seenaknya nuduh Aku. Segitu cintanya yah sampe mata kakak buta. Nggak bisa bedain mana yang benar." Cerca Chia.
"Kamu kenapa jadi salahin Aku." Ujar Archi.
"Capek yah ngomong sama Kakak. Iya udah Aku ngaku, iya. Aku suka menjamah wajah tampan, Aku suka dipeluk pria tampan, Aku suka memamerkan aurat ku, harga diriku juga rendah. Puas, kakak puas sudah dengar kan. Lagian, suka-suka Aku dong. Emangnya kakak...." Archi menutup mulut Chia dengan tangannya.
"Bicara lagi, Aku akan membuatmu menyesal." Ucap Archi.
Chia pun terdiam, mata mereka saling bertemu pandang. Tidak ada suara diantara mereka, mata Chia sudah berkaca-kaca. Namun, dia menahannya.
"Archi...." Panggil seseorang.
Archi pun menoleh ke arah suara itu. Chia menepis tangan Archi yang menutup mulutnya. Ternyata, itu Dea yang sedang memanggil Archi.
"Kamu sedang apa? Tadi Aku lihat kamu kesini jadi Aku ngejar kamu. Kamu nggak papakan?" Ucap Dea.
Chia mendorong Archi yang menghimpit tubuhnya ditembok.
"Pacar kakak yang baik datang. Urus tuh." Ucap Chia bergegas pergi.
Chia pun kembali kelapangan bergabung dengan Nana, mereka bermain 2 jam hingga pukul 8. Mereka kembali karena akan pergi berwisata dengan keluarga besarnya.