
POV: Author
Chia dan lainnya tiba di desa sebelum magrib. Setibanya, Chia akan bermalam dirumah Tante Lea. Tante Lea bukan keluarga Chia, namun dia merupakan teman baik Ibunya Chia. Selain itu, Tante Lea sendiri yang memaksa untuk Lea dan Nana tidur dirumahnya. Karena Chia tidak berani bertemu dengan orang tua Faris semenjak dia menghajar Faris hingga babak belur.
Saat tiba, didesa ternyata keluarga besarnya sedang mengadakan acara. Karena acara inilah, Tante Sinar seminggu menetap didesa. Chia pun ikut serta membantu keluarganya untuk menyukseskan acara tersebut.
Chia pun sekaligus menyampaikan kedatangannya kali ini untuk berpamitan kepada keluarganya karena dia akan kembali ke kotanya. Keluarganya memaksanya untuk tinggal lebih lama namun, dia tidak bisa karena memang dia sudah harus mengurus kuliahnya yang sudah mulai aktif.
Keluarganya pun mengatakan bahwa besok mereka akan pergi ke air terjun yang ada didesa itu. Untuk mengadakan perpisahan dengan Chia. Mungkin saja, Chia tidak akan kembali ke kota ini kata Kakek.
Mereka pun bersenang-senang malam ini. Hingga salah satu orang menyarankan untuk Chia menyumbangkan satu lagu untuk mereka.
"Kak Chia, Ayok dong. Nyanyi satu lagu aja." Ucap Nana.
"Ih, Aku nggak bisa nyanyi." Ucapku.
"Nyanyi tuh cuman buka mulut trus ngeluarin suara kayak gitu saja susah." Cicit Faris.
"Aku juga tahu, maksudnya nadaku tuh sumbang, fals gitu tahu." Sahutku.
"Masa sih, Kak. Nggak papa kita nggak bakal ketawain kakak kok." Ucap Nana merengek menarik-narik tanganku.
"Yah udah, tapi nggak usah pake mic yah. Nyanyi gini saja." Ujarku.
"Iya, nggak papa." Ucap Nana.
Aku pun berdiri ditengah ramainya keluargaku yang sedang berkumpul.
Aku berdiri lama didepan mereka sehingga membuat mereka menungguku bernyanyi.
"Kak Chia, kenapa belum menyanyi?" Tanya BomBom.
"Iya, kakak harus menyanyi lagu apa?" Ucapku bingung.
Semua yang mendengar pertanyaanku seketika tertawa, wajahku pun memerah karena malu.
"Menyanyi saja lagu yang kau tahu." Sahut orang-orang yang ada didalam perjamuan itu.
"Lagu anak-anak dan lagu nasionalis saja yang ku tahu. Bolehkah Aku bernyanyi?" Ucapku.
"Ah, bohong masa cuman tahu lagu itu." Ucap Faris.
"Ehmm..." Ujarku.
Aku pun bersiap untuk menyanyi Aku mencari lagu yang pas dengan suaraku, sebisa mungkin mengambil nada yang pas agar Aku tidak fals nanti.
"Huu-oh, hmm.... Berjuang untuk di hatimu" Aku memulai senandung ku.
Aku begitu fokus dan menghayati lagu yang kubawakan. Walaupun tanpa instrumen musik yang mengiringku saat ini. Hingga pada bait terakhir Aku memperhatikan mereka satu-persatu. Mereka melihatku dengan wajah yang bingung untuk kejelaskan. Mungkin kah suaraku melenceng. Ah, atau mungkin suaraku nyaring dan fals.
Aku terdiam sejenak setalah bait laguku telah habis. Mereka semua terdiam dan Aku pun linglung.
Salah satu diantar para bapak-bapak berdiri dan memberikan tepuk tangan kepadaku. Yang lain pun ikut memberikanku tepuk tangan.
"Kak Chia, kereeeeeennn." Teriak Nana.
Jantungku hampir copot, Aku pikir suaraku fals dan membuat mereka terdiam.
"Sekali lagi dong."
"Iya ulang!" Teriak mereka.
Aku pun hanya menurut dan mengulang lagi laguku.
"Uwhooooo, seperti sedang menonton konser." Teriak Adit.
Mereka pun menyambut nyanyianku dengan melambaikan tangan.
"Inilah caraku mencintai dirimu..." Mataku tiba-tiba saja bertemu pandang dengan Kak Archi, disampingnya ada Kak Dea. Bukankah, cinta mereka tidak restui kenapa masih seakrab itu. Aku seperti sedang membangkitkan kisah cinta mereka yah. Aku melirik lagi ke arah yang lain. Hingga mataku terpaku kepada Kevin. Aku pun tersenyum lebar kepadanya. Dia pun kembali melemparkan senyumnya kepadaku.
Aku lanjut bernyanyi dan hingga pada bait terakhir. Aku pun menunduk seusai menyanyi. Semua bertepuk tangan kepadaku.
"Katanya Kak Chia nggak bisa nyanyi." Tutur Nana.
"Kakak nggak bilang gitu kok, kakak cuman takut fals saja."
"Tapi, tadi kakak keren." Ucap Adam.
"Iya, kayak nonton konser." Sahut BomBom.
"Ahh, Ka Chia kekurangannya apa sih. Hebat semua deh." Ucap Nana.
"Enggak juga." Jawabku.
Tidak hanya bocah-bocah itu yang terus memujiku, bahkan semua yang melihatku bernyanyi terus menyanjungku. Salah satu diantara mereka bahkan menyuruhku untuk mengikuti kontes bernyanyi. Aku hanya tersenyum melihat ocehan mereka.