I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 100



Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan kos. Ria pun turun namun masih menahan Naina.


"Ayok dong masuk dulu, ada Yeni, Via juga didalam." Pinta Ria.


"Enggak ah, mau langsung pulang aja deh." Sahut Naina.


Alif, Sandi dan Angga pun keluar bersamaan dari kos.


"Wuih, darimana bro?" Sapa Sandi kepada Anton.


"Eh, masuk-masuk. Banyak makanan loh." Ajak Alif.


"Naina dan Chia nggak mau padahal sudah ku ajak." Ucap Ria.


"Kenapa? Nggak papa masuk aja." Ucap Alif.


"Iya malu-malu bae. Kayak sama siapa aja." Timpal Angga.


Yeni tiba-tiba keluar dengan suara teriakannya yang cempreng berlari kearah Naina kemudian mencubitnya, tidak hanya Naina. Chia dan Cherly pun tidak luput dari cubitannya.


"Kalian dari? Ayok masuk ges." Ucap Yeni.


Naina dan Chia hanya saling bertukar pandangan, namun itu cara mereka berbicara.


Yeni yang tidak sabar pun menarik Naina, hingga mau tidak mau Naina mengikuti langkah Yeni. Mereka pun masuk ke kos Bian. Chia dan lainnya mengikuti dari belakang.


Betul saja, mereka memiliki banyak makanan bahkan ada rendangnya juga.


Setelah, masuk mereka pun duduk bersama. Piring makan sudah diletakkan memang di ruangan petak yang pas untuk mereka semua.


Mereka pun mulai menikmati hidangan yang ada didepan mereka. Setelah makan, Para cewek pun kebelakang mencuci piring-piring bekas makan mereka.


...----------------...


Hampir dua jam mereka bercengkrama di kos Bian. Setelah itu, Chia, Naina dan Cherly pamit pulang sementara Anton dan Aris masih ingin berlama-lama di kos.


"Eh, Chi jangan dulu pulang." Ucap Sandi.


"Why?" Tanya Chia heran.


"Kalian tunggu sedikit lagi." Ucap Sandi.


"Boleh, tapi jangan terlalu lama yah. Ini sudah mau malam soalnya." Ucap Chia.


Beberapa saat kemudian, Sandi pun mengizinkan Chia dan Naina untuk pulang. Naina dan Chia pun bingung.


"Jadi, kamu suruh Aku tunggu ini maksudnya apa?" Tanya Chia.


"Enggak maksud apa-apa." Sahut Sandi.


Naina, Cherly dan Chia pun keluar dari kos-kosan. Mereka menuju ke parkiran motor.


Disana Alif sedang berdiri di samping motor milik Naina.


"Kamu sedang apa?" Tanya Cherly.


Alif pun berbalik, kedua tangannya disembunyikan dibelakang tubuhnya.


"Chia, Aku mau ngomong sama kamu." Ucap Alif tanpa basa-basi.


Chia, Naina dan Cherly saling bertatapan dengan tatapan bingung.


"Iya, ngomong aja. Mau ngomong apa?" Tanya Chia.


"Sebenarnya, Aku sudah suka kamu sejak lama. Kamu mau nggak jadi pacar Aku?" Tanya Alif.


Sementara, Chia yang sedang loading pun hanya menatap tangan Alif yang menyodorkan bunga dan coklat kepadanya.


"Terima... terima..." Teriak Sandi, Angga, Bian dan teman lainnya.


"Chi.." Panggil Naina yang menyadarkan Chia dari loadingnya.


Dia mendengar suara teman-temannya, Chia menatap wajah Alif dengan tatapan bingung.


"Udah terima aja, Chi." Teriak Sandi.


Chia menoleh ke arah Sandi, yang sejak tadi paling keras teriaknya. Chia menggeserkan pandanganya, disamping Sandi ada Kay yang tersenyum dibelakang.


Entah kenapa melihat senyuman itu membuat Chia menjadi kesal. Walaupun, Kay tidak bersuara namun senyumanya memberikan isyarat yang sama seperti Sandi yakni memaksa untuk menerima perasaan Alif.


"Sudah beberapa lama?" Tanya Chia tiba-tiba kepada Alif.


"Uhmm, sudah lama sih." Jawab Alif.


"Siapa saja yang tahu?" Tanya Chia.


"Tuh, mereka semua." Tunjuk Alif dengan menoleh ke arah teman-temannya.


Chia kembali menoleh dan menatap ke arah Kay. Chia lalu tersenyum sinis, dan kembali menatap Alif.


"Apakah mereka semua tanpa terkecuali mendukung mu untuk jadian denganku?" Tanya Chia.


"Iya..." Jawab Alif.


Tawa Chia lepas seketika, bahkan wajahnya sampai memerah. Teman-temannya yang sejak tadi bersuara tiba-tiba terdiam karena mendengar tawa Chia yang pecah ruah.


"Chia, kamu nggak papakan?" Tanya Cherly.


"Sorry, sorry... Aku nggak bisa menahan tawaku. Entah kenapa Aku melihat diriku yang bodoh sudah terlalu berharap hanya pada kisah satu hari." Tutur Chia.


Chia menghentikan tawanya, kali ini dia menatap tajam Alif.


"Bisa Aku ambil Bungan dan coklatnya dulu?" Tanya Chia.


"Iya boleh memang ini untuk kamu." Jawab Alif.


"Tapi, saat Aku mengambil bunga dan coklat itu, Aku belum memberikan jawaban pasti kepadamu. Berikan Aku waktu, Aku akan menjawabnya." Ucap Chia.


"Iya, nggak papa kamu pikirkan saja dulu, kalau sudah ada jawaban kamu bilang aja ke Aku." Ucap Alif sembari memberikan bunga dan coklat kepada Chia.


Chia membalikkan badannya, dia menatap ke arah Kay dengan tatapan tajam dan tersenyum sinis.


"Ayok, Na kita pulang." Ucap Chia.


Naina dan Cherly bergegas mengeluarkan motornya dari garasi motor. Aris dan Anton tiba-tiba ikut pulang. Sejak tadi mereka hanya diam karena cuman mereka yang tahu apa yang dipikirkan Chia.


Sepanjang jalan, Chia hanya terdiam. Sementara, Cherly, Anton dan Aris masih mengikuti mereka dari belakang.


Setibanya, dihalaman rumah Chia. Chia pun bergegas turun dari motor.


"Chi, are you okay?" Tanya Cherly.


Chia berbalik dan hanya memberikan sedikit senyum.


"Kalau kamu mau cerita, cerita aja yah nanti kami bakal jadi pendengar yang baik." Ucap Aris.


"Iya, Aku nggak papa kok. Udah dulu yah, Aku masuk dulu. Makasih." Ucap Chia melambaikan tangan.


Naina, Cherly, Anton dan Aris pun pergi setelah izin kepada Chia.


...----------------...


Didalam kamar, Chia duduk didepan meja belajarnya. Dengan menekuk kedua lututnya, dan menatap ke arah Bungan dan coklat pemberian Alif. Chia teringat kembali saat melihat senyuman Kay, saat Alif menyatakan perasaan kepadanya.


"Aku yang terlalu berharap atau kamu hanya mau mempermainkan perasaanku saja? Bukankah kamu tahu kalau Aku menyukaimu?" Ucap Chia.


"Huffft..." Hela napas Chia.


Kali ini Chia tidak menangis, mungkin karena dia keseringan menangis, air matanya sudah tidak sanggup lagi keluar atau mungkin saja sumur air matanya sudah kering.


"Jawaban apa yah harus Aku berikan kepada Alif. Aku tidak memiliki perasaan kepadanya. Namun, kasihan jika Aku mematahkan hatinya." Ucap Chia.


Tiba-tiba ponsel Chia berdering, Ria yang sedang menghubunginya.


Panggilan video call, Chia mengangkatnya. Disana sudah ada Ria, Naina dan juga Cherly.


"Chi, sorry Aku benar-benar nggak tahu kalau Alif bakal nembak kamu. Aku cuman dibilang aja sama mereka kalau ngajak kalian buat makan-makan doang. Sumpah, Chi. Aku nggak tahu."Jelas Ria.


"Sumpah deh, jadi canggung gitu." Sahut Cherly.


"Chi, sorry yah Aku benar-benar nggak tahu." Ucap Ria.


"Iya, nggak papa." Jawab Chia.


"Kamu nggak lagi nangis kan?" Tanya Naina.


"Nangis sih enggak, lebih ke marah aja. Tapi, lebih marahnya ke diri sendiri aja." Sahut Chia.


"Si Kay benar-benar yah. Aku tuh lihat dia cuman senyum-senyum doang." Oceh Cherly.


"Kan Aku dah bilang, makanya nggak usah suka sama cowok kayak gitu, dia tuh player mah." Oceh Naina.


"Iya, padahal habis buat anak orang salting. Malah nggak cemburu sama sekali." Ucap Ria.


"Eh, btw pas kita pulang mereka ada ngomongin apa?" Tanya Naina.


"Yah, gitu. Kalau Chia nerima Alif, Alif bakal traktir teman-teman angkatan. Tapi, kalau ditolak dia bakal nggak masuk kuliah seminggu." Ucap Ria.


"Kalau Kay ngomong apa?" Tanya Cherly.


"Dia cuman senyam senyum, trus tertawa dan juga ikut cie cieen Alif gitu." Ucap Ria.


"Udah kamu sama Alif aja, setidaknya effortnya lebih nyata, nggak kayak si Kay. Suka dikejar doang dia mah." Ucap Cherly.


"Aku pikirkan dulu deh, Aku juga nggak ada rasa sama sekali ke Alif, kalaupun Aku terima. Berarti Aku hanya kasihan kepadanya. Aku nggak mau kayak gitu." Tutur Chia.


"Yaudah, apapun jawaban kamu. Kami akan dukung kamu." Ucap Naina.


"Iya, Chia." Jawab Ria dan Cherly kompak.


Setelah berbincang hingga 3 jam lebih, mereka pun memutuskan panggilan video call itu.


Chia merebahkan tubuhnya diatas kasur, dengan helaan nafas panjang seperti mengeluarkan semua beban dihatinya.


"Aku harus ngasih jawaban apa yah?" Ucap Chia.


"Hoammmm... Dahlah, besok lagi baru pikir."


Chia yang sudah kelelahan pun mulai memejamkan matanya yang sudah sayup.