
Aku pun tiba dirumah. Hanya ada Ibu dirumah entah yang lain dimana. Ibu yang melihatku tidak bertanya apapun. Ibu hanya menyuruhku untuk makan. Tetapi, perutku sudah sangat kenyang karena sebelum pulang Aku sudah sarapan di rumah Naina. Ibu hanya melihat Aku masuk ke kamar. Jika dilihat dari perhatian Ibu. Ibu mungkin sudah tahu apa yang terjadi padaku. Mungkin Mia atau Naina yang memberitahukan semuanya kepada keluargaku.
Aku ingin menenangkan diri dikamar tanpa diganggu siapapun. Hatiku rasanya sakit dan bercampur rasa kesal. Aku sangat marah bagaimana bisa ada orang yang berkhianat seperti Ian. Aku sangat percaya padanya tapi apa yang dia lakukan kepadaku. Lagi-lagi Aku meneteskan air mata. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku pun menangis tersedu-sedu. Umpatan-umpatan dan kekesalan Aku keluarkan. Aku benar-benar sangat marah.
Ian bahkan tidak menghubungiku sejak kemarin Aku memergokinya mengumpat diriku. Dan dengan santainya mengatakan bahwa dia sudah memiliki pacar.
"Arghhh, Aku kesal sekali." Teriakku
Aku tidak tahu air mataku ini menetes karena Aku cemburu atau karena Aku marah kepercayaanku benar-benar dipermainkan.
Tiga hari Aku dikamar meratapi kesedihanku. Aku sudah seperti mayat hidup. Muka yang kucel, mata yang bengkak dihiasi lingkaran hitam dibawah mata, rambut yang acak-acakan, dan badanku yang sangat terlihat mengecil karena Aku benar-benar tidak makan selama tiga hari itu. Aku hanya minum setelah itu Aku tidak menyentuh makanan apapun.
Keluargaku hanya melihatku dan membiarkan Aku menenangkan diri. Walaupun, sempat Aku dimarahi Ayah karena tidak makan. Tapi, Ibuku membelaku dan membiarkan Aku menjernihkan pikiran.
"Chi, pinjam tasmu yah." Tutur Yeyen yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
"Astaghfirullah, Chi. Ngapain kamu meringkuk dipojokan sana." Teriak Yeyen yang kaget melihatku.
Pasalnya, Aku dalam keadaan meringkuk dipojokan menghadap dinding benar-benar seperti kucing yang malang. Aku berbaring dilantai dan sangat terlihat lebih kasihan daripada gembel.
"Inikah yang disebut patah hati?" Ucap Yeyen yang kemudian bergegas keluar dari kamarku.
Seminggu sudah Aku menatapi nasib dikamar dan merenung. Rasanya tidak hanya mataku yang sudah tidak berbentuk lagi karena mataku sudah seperti disengat lebah. Badanku juga sangat pegal karena Aku terus tidur dalam posisi meringkuk seperti posisi kucing yang sedang bersedih.
Aku pun berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri yang seminggu tidak mandi. Benar-benar badanku rasanya seperti tumpukan kotoran. Rasanya lengket dan pastinya sangat bau. Bagaimana tidak seminggu tidak mandi. Benar-benar yah patah hati itu rasanya semengerikan ini.
Aku menanggalkan semua pakaianku. Sebelum, mengguyur tubuhku dengan air, aku membersihkan tubuhku dengan lulur, Aku menggosok badanku seperti sedang mengamplas kayu. Gosokkan dengan kekuatan full seperti semua emosiku keluarkan bersamaan dengan kekuatan gosokan ku. Badanku pun menjadi perih dan merah karena Aku menggosoknya terlalu kuat. Daki demi daki barjatuhan wah Aku benar-benar sangat bernoda dan kotor.
Setelah Aku melakukan lulur badan, Aku pun mulai mengguyurkan badanku dengan air.
"Segarrrrr...." Ucapku
Ku basahi seluruh tubuhku, tidak lupa juga aku membersihkan rambutku yang sudah sangat lepek. Menggosok gigiku dan sebagainya. Setelah selesai dengan aktivitas persabunan, pershampoan dan persikatgigian. Aku pun mengeringkan tubuhku sejenak. Karena Aku akan memakai 'body butter' keseluruh tubuhku. Aku suka memakai 'body butter' ini karena memberikan sensasi wangi yang menyegarkan. Ini akan membuat badanku wangi sepanjang hari.
Sejam sudah Aku menghabiskan waktu dikamar mandi. Setelah itu, Aku mengambil air untuk berwudhu. Sudah waktunya solat subuh. Setelah mengerjakan solat subuh aku pun meluangkan waktu untuk mengaji. Rasanya bebanku sedikit menghilang.
Setelah solat subuh, Aku tidak melanjutkan tidur. Badanku sudah sangat lelah karena terus-terus tidur. Aku berjalan ke dapur bersiap membantu Ibu untuk menyiapkan sarapan.
Ibu yang baru bangun pun terkejut melihat Aku. Tetapi, dia pun bersikap seperti biasa.
Aku dan Ibu pun memasak seperti biasa. Kemudian, menyajikan makanan diatas meja.
Yeyen yang telah bangun kemudian bergabung dengan Aku dan Ibu.
"Eh, si patah hati. Gimana udah nggak sedih lagi." Ucap Yeyen kepadaku
Ibu pun yang songak kaget dengan ucapannya, melayangkan baskom kekepala Yeyen untuk mengkodenya agar tidak membuatku terpuruk lagi.
"Ibu..... Sakit...." Teriak Yeyen
Kakak yang tiba-tiba masuk pun ikut mengejekku.
"Eh, sudah nggak sedih lagi?" Tanya Ita
"Masih muda cari lagi yang lain." Terus melanjutkan nasihatnya
"Iya, katanya kamu cantik... Masa cari cowok lain lagi nggak bisa." Sahut Yeyen
Ahhh, Aku yang mendengarnya rasanya ingin teriak dan kemudian meneteskan air mata. Tapi, sumur dimataku ini sudah mengering. Aku pun hanya diam dan tidak merespon ucapan mereka.
Mungkin mereka sudah sering merasakan apa itu nama patah hati. Tapi, bagiku itu yang pertama. Aku tidak seperti mereka yang bisa putus dan dapat yang baru lagi. Bagiku itu sangat sulit. Karena kepercayaan seseorang itu sangat berharga. Walaupun, terkesan naif tapi memang Aku sangat benci jika kepercayaan seseorang dipermainkan. For me, tidak ada kesempatan kedua untuk membangun kepercayaan lagi.
"Btw, tuh orang yang buat kamu sedih sudah kembali." Seru Yeyen
"Bodoamat." Jawabku kesal kemudian meninggalkan dapur.
Ian sudah kembali. Mungkin dia kembali disaat Aku sedang terpuruk selama seminggu. Aku sangat ingin memukul dan mencekeknya.
Keluargaku dan keluarga Ian masih bersikap seperti biasa, seperti tidak terjadi sesuatu. Ibu juga berkata bahwa itu masalah anak muda yang biasa terjadi. Karena itulah, hubungan kedua keluarga masih terjalin baik. Lagipula, keluarga Ian juga tidak tahu apa yang dilakukan Ian. Dan mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Aku pun tidak bisa bersikap egois yang mana harus bermusuhan dengan keluarga Ian. Masalahku dengan Ian, tidak ada hubungannya dengan keluarganya.
Yah, walaupun aku berkata seperti itu tetapi Aku masih enggan bertemu dengan Ian. Dia juga sama sekali tidak menjelaskan apapun padanya.
Setelah dipikir-pikir Aku juga yang salah karena bersikap terlalu plin plan. Seharusnya, Aku mengatakan kepadanya kalau Aku sudah mulai menyukainya. Nasi sudah menjadi bubur, terlambat mengatakannya maka bersiap untuk menerima pengakuan dari orang lain.
Aku mencari ponselku sudah seminggu Aku tidak memegangnya. Ponselku sudah seperti kampanye banyak notif yang masuk. Notif dari group kampus, organisasi dan lainnya. Selebihnya, notif dari sahabat-sahabatku yang memberikan semangat kepadaku. Lebih tepatnya, mereka sedang melawak bukan memberikan semangat. Aku membaca chat mereka dan membuatku terkekeh karena pesan yang mereka kirimkan sungguh lelucon yang membuatku tertawa.
"Tok tok tok, permisi Aku mau kembaliin tas yang aku pinjam." Ucap Yeyen
"Hm." Responku
"Eh, Aku mau bilang sesuatu loh. Tapi, kamu jangan nangis yah. Kemarin, pas Aku jemur pakaian, Aku lihat tuh si Ian VC-an sama pacar barunya. Idih, panggil-panggil sayang." Cerca Yeyen.
Yeyen adalah manusia yang selain suka mengejek Dia juga suka mengompori dan membuat orang terbawa emosi.
"Hmm, bodoamat. Keluar sana!" Sahutku
"Bilangnya bodoamat tapi, nangisnya kek orang ditinggal mati." Sahut Yeyen yang kemudian bergegas lari keluar kamar
Aku pun bangun mengunci kamarku agar dia tidak kembali dan menggangguku.
Aku tidak bisa terus begini. Dia bahkan tidak menyesal sama sekali. Lalu, apa gunanya Aku menangis seperti ini. Bahkan, jika Aku menangis pun tidak bisa membuatnya kembali kepadaku. Kembali pun, Aku tidak mungkin menerimanya lagi. Dia sudah menghancurkan kepercayaanku.
Aku mengangkat tanganku menghadap ke langit-langit kamar. Aku melihat cincin yang tersemat dijariku. Itu merupakan cincin yang memberikan Aku ikatan kepada Ian. Melihatnya saja membuat hatiku benar-benar sakit.
Bentuknya, ukirannya dan ukurannya semua Aku yang pilih. Tapi, harus Aku lepaskan. Aku tidak mungkin memakainya lagi karena Ian tidak bersamaku lagi. Walaupun ini hadiah dari keluarga Ian. Tetapi, Aku tidak bisa menerimanya. Dengan mengembalikan cincin ini berarti melepaskan ikatan antara Aku dan Ian.
Aku pun bergegas keluar kamar mencari Ibu. Aku pun menceritakan keputusanku kepada Ibu. Awalnya, Ibu terlihat sangat sedih bahkan tidak rela jika Aku dan Ian putus. Bagaimana, tidak kecewa Ian merupakan menantu yang sangat beliau idam-idamkan dan setiap hari mengangung-angungkan didepan kami. Tetapi, Ibu menyerahkan semua keputusan kepadaku. Dan mengatakan untuk segera mengembalikan cincin tersebut.
Esoknya, Aku kerumah Ian. Aku bertemu dengan Ibu Ian. Kebetulan saja disana hanya ada Ibu Ian tidak ada lagi orang lain.
Aku menjelaskan alasan kedatanganku. Sama seperti Ibu, Tante pun awalnya tidak ingin Aku melepaskan ikatan. Bahkan menyuruhku untuk tidak mengembalikan cincin tersebut. Tetapi, jika cincin ini terus ada padaku. Aku yang akan terluka. Tante sangat terlihat sedih namun beliau juga tidak bisa melakukan apa-apa. Tante menyuruhku mengembalikan cincin itu langsung kepada Ian. Namun, Aku menolak karena tidak ingin bertemu dengan Ian lagi. Walaupun, tetap akan bertemu karena kami tetanggaan. Terpaksa, Tante menerima cincin itu. Sebelum, Aku pulang Tante menceritakan tentang beliau yang tidak tahu jika Ian sudah berselingkuh. Dan beliau juga berpesan untuk tidak membenci Ian. Aku hanya mengangguk dan kemudian pamit untuk pulang.
Walaupun berat memang inilah takdir kehidupan. Mungkin, Ian memang tidak ditakdirkan untukku. Namun, untuk memaafkannya sekarang itu tidak mudah. Tetapi, untuk melepaskannya maka hari ini aku putuskan untuk melepaskannya.