I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 39



Kami pun menikmati pemandangan yang sangat indah. Bukan hanya pemandangan, ada juga spot-spot untuk berfoto yang disediakan oleh pihak destinasi wisata ini.


"Kak Chia fotoin Aku disana dong." Ucap Nana


"Okey."


Aku dan Nana menuju tempat yang ingin dia abadikan. Aku mengambil gambarnya dengan berbagai macam gaya dan posisi, agar dia bisa memilih mana foto yang bagus.


"Kak Chia nggak mau foto?"


"Enggak."


"Ha, kenapa? Nggak papa Aku fotoin loh."


"Enggak usah deh."


"Ih, kak Chia. Ayok....." Cicit Nana yang menarikku.


"Ayok Kak bergaya." Teriak Nana


Aku hanya berdiri mematung, Nana terus meneriakkan ganti gaya kepadaku. Aku pun mengeluarkan gaya andalan setiap umat ketika mati gaya, yup pose '2 jari'. Aku benar-benar tidak tahu harus mengeluarkan gaya seperti apa.


"Sudah, Na. Nggak usah banyak-banyak." Ucapku.


Nana pun berjalan mendekatiku. Menunjukkan hasil jepretannya.


"Wah, mereka cakap banget..." Teriak salah satu pengunjung wisata.


Aku dan Nana pun saling pandang, kemudian kami mengarahkan pandangan ke arah pengunjung itu melihat.


Siapa yang dia maksud, sementara arah yang diperhatikan pengunjung itu tepat mengarah pada orang-orang yang ku kenal. Aku memastikan lagi, apakah pengunjung itu benar melihat kearah mana. Tapi, mau berapa kali pun Aku memastikan. Gadis itu melihat ke arah Kak Archi dan lainnya.


"Apakah yang dia maksud itu Kak Archi dan yang lainnya." Tanyaku kepada Nana memastikan.


"Sepertinya, Kak." Jawab Nana


Tidak hanya gadis yang berdiri disampingku. Bahkan, ada beberapa pengunjung wanita yang menghampiri Kak Archi and the geng.


"Apakah mereka seterkenal itu?" Tanyaku Lagi.


"Iya, mereka kalau jalan tuh selalu jadi pusat perhatian." Jawab Nana.


"Apa yang dilihat oleh gadis-gadis itu, apakah mata mereka katarak." Ujarku.


Nana pun terkejut dengan ucapanku dan kemudian menoleh menatapku. Aku juga menatapnya dengan gerakan mata yang menanyakan kenapa.


"Justru Kak Chia, yang matanya perlu diperiksa tahu." Timpal Nana.


"Ha? Kenapa harus Aku?" Jawabku


"Kak Chia selain tidak peka juga benar-benar minus yah."


"Iya, kakak tidak hanya minus juga silinder. Jadi, mata kanan kakak itu silinder trus mata kiri minus." Jawabku polos.


"Bukan, gitu. Maksud, Nana. Masa Kak Chia nggak bisa lihat seperti cewek-cewek itu sih. Kalau lihat Om Archi dan yang lainnya. Nana aja sampe kepincut loh Kak, kalau meraka bukan saudara, mungkin Nana juga sudah jatuh hati."


"Kepincut sama siapa?"


"Yah, sama mereka. Sini nih Aku buka mata dan batin kakak." Ucap Nana sembari menarikku menghadap tepat kearah Kak Archi dan lainnya.


"Coba kakak amati lagi. Om Archi, Kak Faris, Kak Zaid, Kak Kevin, dan Kak Adit. Mereka cakep banget tahu, kayak aktor Korea. Apalagi kalau mereka berlima berdiri seperti itu. Gimana nggak jadi pusat perhatian."


"Oh..."


"Kak Chia, kok cuman 'oh' doang sih. Kak Chia benar-benar nggak melihat ketampanan paripurna dari mereka berlima?" Sahut Nana


"Lihat." Ujarku


"Apanya." Tanya Nana


"Hm, Kak Archi putih glowing, bahkan wajahnya tidak memiliki pori-pori sama sekali, tinggi, hidungnya setinggi cita-citaku, bibirnya merah merekah, warna lensa matanya coklat cappucino." Tuturku


"Wah, kan apa Aku bilang. Bahkan, Kak Chia sampai memperhatikan sedetail itu." Ucap Nana


"Faris tidak setinggi Kak Archi, tetapi dia memiliki wajah yang oriental dan exotis. Zaid yang paling pendek diantara mereka tetapi suaranya merdu, dan wajahnya pun juga sangat oriental. Diantara mereka, postur tubuh Adit sangat bagus, tinggi, berisi dan tegak, wajahnya pun hampir menyamai Kak Archi, dan Kevin sejauh ini diantara mereka dia sangat manis, punya lesung pipi dan gingsul, dia juga tinggi, kalau senyum juga lumayan menggoda." Tuturku lagi.


Nana terperangah mendengarku menilai Kak Archi dan lainnya. Aku memang adalah tipe manusia yang suka mengamati orang lain saat bertemu walaupun tidak nampak cara Aku memperhatikan orang.


"Kak Chia bisa sedetail itu. Trus kenapa kakak nggak tertarik sama mereka? Aku jika bukan keponakan dari Om Archi aja, pengen jatuh cinta sama Om Archi."


"Benarkah."


"Iya, benar. Masa kakak dikelilingi mereka nggak deg degan gitu."


"Mmm, mungkin karena kakak sudah sering bertemu orang-orang yang seperti mereka. Teman-teman kuliah kakak bahkan seperti para model internasional."


"Oh, iya?"


"Iya, mantan tunangan kakak juga sama seperti mereka."


"Masa, coba Aku lihat."


Aku mengeluarkan ponselku. Aku mencari IG milik Ian, dan menunjukkan kepada Nana.


"Gila, mantan tunangan kakak cakep banget. Pantas kakak biasa aja kalau didekat mereka. Wah, kakak beruntung sekali dikelilingi para cogan. Gimana yah, habisnya Kakak sangat cantik. Aku juga mau kayak kakak."


"Nanakan cantik. Bahkan, menurut kakak. Nana, seperti artis China. Kakak bahkan kagum melihat Nana sangat cantik."


"Yang benar Kak? Ih, Nana jadi malu nih."


"Iya, sangat cantik."


"Ih, udah kak. Nanti kepala Aku terbang nih. Oh, iya. Jadi, diantara mereka siapa yang Kakak suka?"


"Mmm, kakak suka semua. Mereka kan kerabat kita."


"Ih, bukan gitu. Maksudnya, orang yang kakak mau nikahi."


"Wah, cepat sekali tolaknya. Kalau Om Archi gimana?"


"Apanya?"


"Kak Chia suka nggak sama Om Archi. Gimana kalau Kak Chia jadi Tante Aku?"


"Enggak."


"Sakit, belum juga dipikirkan langsung ditolak mentah-mentah. Kalau gitu siapa diantara mereka yang kakak pilih. Kak Adit, Kak Zaid dan Kak Kevin bukan saudara kakak jadi bisa tuh."


"Enggak ada yang kakak suka untuk dijadikan pasangan."


"Yah, kasihan sad boy semua. Padahal, mereka suka loh sama kakak."


"Oh, ya?"


"Iya, kak. Masa kakak nggak tahu sih. Ih, kak Chia benar-benar nggak peka deh."


"Kakak nggak tahu soalnya mereka nggak bilang. Walaupun, mereka bilang pasti itu cuman candaan."


"Mana ada, dari bulan pun nampak kalau mereka tuh suka sama Kakak. Apalagi Om Archi. Om Archi bahkan tidak pernah memperhatikan Aku seperti dia memperhatikan Kakak. Aku yang lihat saja jadi baper tahu."


"Oh, ya. Kakak pikir Kak Archi nggak suka sama kakak. Makanya sering mempersulit kakak."


"Ya ampun dilihat dari berbagai arah pun orang-orang bakal nyadar kalau Om Archi tuh suka sama Kakak. Kakaknya aja kurang peka. Makanya kakak diselingkuhi deh sama mantan tunangan kakak." Ucap Nana


"Iya, kamu benar. Kakak nggak bisa baca perasaan orang."


"Eh, maaf Kak. Nana, nggak maksud ngomong gitu."


"Iya nggak papa."


Tiba-tiba Kak Archi menghampiri kami.


"Kalian sedang apa? Kita mau ke toko sebentar mau beli makanan untuk dibawa ke pondok sana. Kalian mau ikut nggak?"


"Iya, mau. Ayok, Kak Chi." Sahut Nana


Nana pun menarik tanganku, Aku mengikuti langkah kakinya hingga ketempat Faris dan lainnya.


Kami pun berjalan ke minimarket yang terletak dekat dengan tempat wisata yang kami kunjungi hanya perlu berjalan kaki.


Setibanya, kami di minimarket kami pun mengambil jalur masing-masing karena ingin memilih makanan yang akan kami beli.


Aku berjalan ke arah snack-snack ditempatkan. Aku melihat snack asal Jepang, aku pun tertarik dan ingin mengambilnya. Asal kalian tahu salah satu sisi lainku adalah, aku adalah pecinta Jepang, terutama animenya. Karena itu Aku sering dipanggil wibu oleh beberapa orang yang mengenalku.


Aku mengambil snack itu, namun tidak hanya tanganku yang meraih snack tersebut tetapi ada tangan lain yang mengambil lagi, dan orang tersebut adalah Kevin.


"Kakak suka ini juga." Ucap Kevin


"Enggak." Jawabku


"Terus, kenapa ambil yang itu?" Tanya Kevin


"Karena buatan Jepang, Aku suka sesuatu yang berbau Jepang."


"Oh, yah? Kau gitu anime juga Kakak suka?"


"Iya, sangat suka malah. Tunggu, kamu tahu anime? Kamu juga nonton yah?" Sahutku


"Iya, Aku setiap hari nonton. Kakak suka anime apa saja?"


"Aku suka semua anime." Jawabku


Aku dan Kevin pun mulai bercerita banyak tentang anime yang kami suka. Aku akan jadi orang yang berbeda jika ada orang yang sefrekuensi atau sehobi denganku. Aku yang datar ini akan sangat antusias bercerita dengan orang yang sehobi denganku.


Kami pun berjalan bersama sembari menceritakan anime yang kami sukai. Tidak lupa juga kami mengambil beberapa jajanan yang akan kami nikmati.


Mungkin karena asik bercerita jadinya kami berdua keluar paling terakhir. Aku dan Kevin berjalan sambil tertawa kecil karena menceritakan plot anime yang lucu.


"Eh, sini barang kakak Aku yang pegang saja." Ujar Kevin


"Nggak papa, Aku yang pegang sendiri aja." Ucapku


"Sudah sini Aku bantuin." Ucap Kevin sembari menarik kantong yang Aku pegang.


"Kalau gitu tolong yah." Ucapku sembari tersenyum kepada Kevin.


Kami mengobrol sambil berjalan. Sementara, Kak Archi, Faris, terus melotot ke arah kami.


"Wah, mereka berdua sedang ngobrolin apa yah? Kak Kevin bisa buat Kak Chi senyum dan tertawa seperti itu. Ini pemandangan langkah." Ucap Nana.


"Si Kevin boleh juga." Ucap Adit


Aku dan Kevin berjalan dan mau menyebrang. Tiba-tiba dari arah berlawanan, ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan penuh. Aku yang melangkah terlebih dulu hampir ditabrak, namun Kevin menarikku dalam pelukannya.


Kak Archi dan lainnya pun bergegas kearahku. Faris menjitak kepala Kevin.


"Sudah puas berpelukan?" Ucap Faris


Kak Archi juga menarikku hingga Kevin melepaskan pelukannya. Kak Archi menjitak keningku.


"Matamu dipake untuk apa? Nyebrang lihat-lihat dong. Kalau kamu ditabrak bagaimana?" Cerca Kak Archi.


"Bukan salah, Kak Chia. Orang itu yang ngebut." Ujar Kevin


"Iya, lagian Kevin juga nolongin Aku. Jadi, aku fine-fine aja nih."


"Kamu..." Ucap Kak Archi yang menahan amarahnya.


"Sudah-sudah, ayok kita jalan." Ucap Zaid


Kami pun kembali ke tempat wisata, kami berjalan menuruni tangga yang lumayan panjang. Hingga sampai ke pondok yang kami inginkan. Setelah, itu kami beristirahat dan bersantai dipondok itu. Kami memakai dua pondok sekaligus. Pondok untuk Aku dan Nana, juga pondong untuk mereka yang pria.