
Kami berlatih diruangan kami masing-masing. Karena kami berada pada bidang bela diri yang berbeda. Aku yang sempat mengikuti pencak silat dan juga taekwondo gugur dalam babak penyisihan. Namun, Aku lolos dibidang yang sangat Aku perdalam yaknik Karate.
Setelah, latih tanding. Kami kembali berkumpul dan mendapatkan arahan dari pelatih untuk mempersiapkan pertandingan final besok.
"Chia, hari ini nginap dihotel yah? Lion dan Amel akan nginap dihotel." Tanya Pelatih.
Aku terdiam sejenak, dan memikirkan apakah Aku harus nginap atau tidak. Aku melirik ke arah Amel dia tampak diam. Jika, Aku nginap maka Aku akan sekamar dengannya. Entah kenapa Aku merasa gugup dan tidak nyaman.
"Saya masih ada urusan dirumah, jika urusan saya sudah selesai saya usahakan untuk datang kehotel." Jawabku.
"Baiklah, kalau begitu."
Setelah arahan yang disampaikan pelatih selama beberapa jam, kami pun dipersilahkan pulang untuk beristirahat penuh.
Aku yang bersiap untuk pulang, tiba-tiba dihentikan oleh tangan yang memegang tanganku.
"Bisakah kita berbicara sebentar." Pinta Amel.
Aku pun menoleh kearahnya, Aku begitu gugup.
"I..iy.iya. Bicara saja." Sahutku.
Amel menarikku, dia membawaku kebelakang gedung tempat kami berlatih. Setelah kami sampai, Amel melepaskan tanganku. Ia berjalan dan bersandar pada tembok gedung.
"Semalam, kamu ada dihotel kan?" Tanya Amel tanpa basa basi.
Aku menelan ludahku, mulutku tidak mampu berucap. Apakah dia melihatku. Tapi, Aku yakin dia tidak melihatku karena posisinya membelakangi pintu saat Aku mengintip semalam.
"Tidak, Aku dirumah. Karena perutku sakit." Jawabku dengan nada sedikit bergetar.
"Benarkah? Kamu benar tidak datang semalam." Tanya Amel lagi.
Aku semakin gugup, Aku tidak pernah berbohong untuk pertama kalinya Aku berbohong. Kenapa dia menanyakan hingga dua kali? Apakah dia benar-benar melihatku.
"I..iya. Aku tidak kehotel semalam." Ucapku.
Amel menoleh kearahku, dia berjalan mendekati diriku. Dia mengangkat wajahku, hingga mata kami saling bertemu.
"Benarkah?"
"I...iya, benar."
Amel melepaskan tangannya. Dia membelakangi ku sementara waktu, kemudian kembali berhadapan denganku. Dia tersenyum kearahku. Membuat tubuhku bergetar kencang.
"Chi, kau tahukan Kak Vino sangat berjuang sangat keras. Setiap hari dia berlatih tanpa mengeluh sedikitpun. Kau tahu kenapa dia seperti itu?" Tutur Amel.
Aku merespon dengan menggelengkan kepala.
"Tapi, ada orang-orang yang dengan seenaknya mereka menyabotase pertandingan kali ini. Seberapa keras Kak Vino berusaha, Kak Vino nggak bakal bisa mendapatkan beasiswa itu. Aku sendiri mendengarnya, Chi." Lanjut Amel.
"Bagaimana jika Kau salah dengar Amel. Tapi, jika benar yang kau dengar. Mungkin saja Kak Vino tidak mendapatkan juara 1, tetapi juara 2 dan 3 masih bisa membantu Kak Vino mendapatkan beasiswa itu." Ujarku.
"Tidak, Chi. Aku benar mendengarnya. Kak Vino tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Bahkan, juara 2 ataupun 3 tidak akan diberikan walaupun Kak Vino memenangkan pertandingan. Aku sendiri yang mendengarnya, beberapa orang besar membayar koneksinya agar anak-anak mereka yang mengambil keuntungan ini bahkan jika mereka kalah." Jelas Amel.
"Tapi, pertandingan ini disaksikan langsung oleh semua orang bahkan akan ditonton hingga diluar negara, tidak mungkin untuk melakukan kecurangan." Sahutku.
"Tapi, jika memang hal itu akan terjadi kenapa kau tidak memberitahu Kak Vino?" Lanjutku.
"Yah, Aku ingin memberitahukan kepada Kak Vino, tetapi Aku salah langkah Chi. Pelatih kita tidak sebaik yang kita pikirkan. Awalnya, Aku menceritakan ini kepada pelatih agar dia bisa membantuku menjelaskan kepada pelatih Kak Vino. Jika, hanya Aku yang membocorkan informasi ini. Mereka mungkin saja tidak akan mempercayaiku dan akan langsung mengeluarkan Aku atau bahkan juga kak Vino sendiri." Ucap Amel.
"Semalam, Aku menunggumu. Lalu, ada yang mengetuk pintu kamar. Aku pikir itu kamu, Aku membukanya tiba-tiba orang itu menyerangku dan menusuk jaruk ke tubuhku. Tubuhku menjadi mati rasa dan kakiku tiba-tiba menjadi lemas. Aku teriak minta tolong tetapi tidak ada orang yang mendengar. Setelah itu, Aku aku aku dilecehkan, Chi..." Suara Tangis Amel mulai terdengar.
"Dia mengatakan bahwa Aku terlalu ikut campur. Akan sangat berbahaya jika rencana mereka diketahui oleh publik. Karena itu, dia melecehkan Aku untuk membungkam mulutku. Dan jika Aku melaporkan hal ini, maka keluarga ku Chi. Keluargaku akan menanggung akibatnya."
Tanganku gemetar bahkan kakiku menjadi lemas mendengar penjelasan Amel.
"Rasanya sakit Chi, Aku teriak-teriak minta pertolongan. Tapi, tidak ada, tidak ada satupun yang menolongku. Aku bahkan berharap kamu segera datang dan menolongku." Tutur Amel.
Aku jatuh tersungkur, tubuhku sangat lemas. Air mataku ikut menetes. Aku benar-benar takut saat itu.
"Sekarang aku sudah hancur, Chi. Rasanya sakit, benar-benar sakit. Huhuhuhu...." Jerit Amel.
Aku tidak berdaya Aku bahkan tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan, Aku juga merasakan takut. Aku mendengar jeritan dan tangisan Amel yang begitu memilukan. Aku bahkan tidak sanggup untuk menenangkan dirinya.
Amel menghentikan tangisnya, dia menoleh ke arahku. Lalu, dia tersenyum membuatku merinding. Amel berjalan mendekatiku. Dia berbisik ditelingaku, sembari memberikan sesuatu ditanganku.
"Aku menemukannya didepan pintu kamar hotel. Terimakasih, sudah menjadi temanku. Jangan percaya kepada siapapun. Sebaiknya, kau menjaga jarak dari pelatih." Ucap Amel yang kemudian memeluk sekejap lalu pergi.
Aku melihat apa yang Ia selipkan ketanganku. Sebuah gantungan tas berbentuk panda. Aku memeriksa tasku, mengecek gantungan yang aku pasang disana. Namun, tidak ketemukan yang artinya gantungan itu terjatuh.
Air mataku lagi-lagi menetes, Amel tahu bahwa Aku datang ke hotel semalam. Apakah, menyalahkan Aku karena tidak menolongnya.
"Amel, maafkan Aku huhuhu..." Memeluk gantungan dengan tangisan yang sendu.
Bahkan, jika Aku meminta maaf saat ini. Tidak akan menghilangkan rasa sakit yang diterima oleh Amel.
Aku terus menangis, dan terus menyalakan diriku yang tidak memiliki keberanian untuk menyelamatkan Amel. Percuma Aku menguasai bela diri tetapi Aku tidak bisa menolong orang.
Tapi, bagaimanapun Aku juga masih seorang bocah. Bagaimana jika Aku tidak bisa menolong namun juga ikut terjebak dan mengalami hal yang sama, Aku juga sangat takut bahkan tubuhku tidak henti-hentinya bergetar ketakutan.
"Kenapa Aku tidak meminta pertolongan saat itu, huhuhu... Aku benar-benar bodoh. Aku bodoh, kenapa Aku tidak memberitahukan kepada Kak Vino saat itu huhuhuhu. Amel, Aku minta maaf." Jeritku.
Tubuhku rasanya lemas, Aku diliputi oleh penyesalan dan juga ketakutan. Amel pasti sangat kecewa denganku.