I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 83



Chia berjalan ke arah gedung fakultas, hari ini Chia tidak bersama Naina. Chia datang lebih awal atas permintaan Kaprodi yang ingin memintanya untuk ikut serta dalam penulisan jurnal ilmiah.


"Pip... Pip...Pipp.." Suara klakson mobil.


Chia menoleh kearah belakang karena suara klakson yang tidak henti-hentinya bunyi. Chia sedikit menepi dan memberikan ruang kepada mobil agar bisa jalan lebih dulu. Namun, mobil itu berhenti tepat di samping Chia. Chia yang diam sejenak menunggu mobil itu lewat pun bingung.


Kaca mobil itu perlahan turun, didalam mobil terdapat seorang bapak yang menyapa Chia.


"Assalamu'alaikum, Chia yah." Ucap Bapak itu.


"Iya, Pak." Sahut Chia.


"Masih ingat Saya kan?" Tanya Bapak itu.


"Iya, Pak Prof." Sahut Chia lagi.


"Alhamdulillah, masih ingat. Chia bisa bantu bapak?" Tanya Pak Prof.


"Bantu apa yah, Pak?"


"Ini si Kay, tidak ingin istirahat dirumah, padahal bapak sudah meminta izin kepada dosennya. Tapi, dia kekeuh mau ke kampus. Kemarin dia kecelakaan, luka dikakinya saja belum kering. Tolong antarin si Kay sampai diruang kelas, bisa kan? Kalian satu kelas kan?"


Chia melihat kearah dalam mobil, disamping Pak Prof ada Kay yang sedang duduk diam. Dia bingung mau memberikan jawaban apa.


"Maaf, Pak. Maksud bapak, antarin gimana yah? Dia kan tahu arah jalan ke kelas pak." Tutur Chia.


"Iya, dia masih kesulitan untuk berjalan. Bapak buru-buru soalnya. Tolong yah!" Pinta Pak Prof.


"Baik, Pak." Tutur Chia.


Chia pun memutar jalan ke pintu sebelah tempat Kah berada. Kay membuka pintu, sementara Chia sudah berdiri didepannya. Namun, Chia hanya melihatnya.


"Kamu kenapa diam saja?" Tanya Kay.


"Trus, Aku harus ngapain." Ucap Chia.


"Astaga, bantu Aku turun."


"Gimana caranya? Gendong gitu?"


"Astaghfirullah." Ucap Kay.


Kay memberikan isyarat kepada Chia untuk lebih mendekat kearahnya. Chia pun menurut dan melangkah semakin dekat kearah Kay. Kay memegang bahu Chia, kemudian menurunkan kakinya secara perlahan.


Chia melirik kearah Profesor dengan wajah bersemu merah.


"Tahan Chia, kamu hanya diminta untuk menolongnya." Batin Chia.


"Kamu bisa megang Aku yang benar nggak?" Ucap Kay.


Chia memandang Kay dengan kesal walaupun wajahnya sudah sangat merah.


"Kalau gitu, Aku minta maaf jika tidak sopan. Maaf yah." Ucap Chia meminta izin untuk merangkul Kay.


Dengan cekatan Chia membantu Kay turun dari mobil, setelah turun Chia langsung menutup pintu mobil.


"Kalau gitu bapak pamit dulu yah, terimakasih yah Chia." Ucap Pak Prof kemudian pergi dengan mobil yang dikendarainya.


Chia dan Kay masih berdiri melihat mobil pergi hingga hilang dari pandangan mereka. Tangan Kay masih melingkar dipundak Chia. Chia dengan reflek melepaskan pegangannya dan menjauh dari Kay, Kay yang melihat tingkah Chia pun bingung.


"Kamu bisa jalan kan?" Tanya Chia.


"Jangankan jalan, turun dari mobil saja Aku kesulitan." Sahut Kay.


Chia terdiam, dia menengok kiri kanan mencari orang. Dia memanggil orang yang lewat didepannya. Setelah, menanyakan beberapa pertanyaan Chia pun meminta pertolongan untuk membantunya memapah Kay.


"Tolong yah, Dek. Antarnya sampai ke kelas."Ucap Chia.


"Oh iya, Kak." Ucap Adik tingkat Chia.


Dia berjalan kearah Kay dan mencoba untuk memapah Kay, namun Kay menolak membuat adik tingkat itu menjadi bingung dan menoleh ke arah Chia.


"Nggak usah dek, kamu pergi saja. Terimakasih, Maaf merepotkan." Ucap Kay.


Adik tingkat itu pun pergi atas perintah Kay, sementara Chia hanya melongo melihat tingkah Kay. Kay pun berusaha berjalan sendiri, walaupun hanya bisa menyeret kakinya. Membuat Chia sedikit kesal karena Kay menolak adik tingkat itu membantu memapahnya. Chia pun berpaling dan meninggalkan Kay. Namun, Chia kembali lagi kepada Kay.


Dia berhenti dihadapan Kau dengan wajah kesalnya namun kasihan kepada Kay.


Kay tanpa basa-basi menaruh tangannya dipundak Chia, sementara tangan Chia merangkul pinggang Kay.


"Apa kamu marah?" Tanya Kay.


"Hmm..." Jawab Chia.


"Segitu bencinya kamu kepadaku. Semalam pun kamu pergi tanpa memberitahuku." Tutur Kay.


"Apa Aku butuh persetujuanmu untuk pulang. Lagipula, sudah ada wanita pujaanmu yang menemanimu." Ungkap Chia.


Kay menoleh kearah Chia, wajahnya tepat dekat dengan wajahnya. Namun, Chia fokus melihat kearah depan untuk melihat jalan.


"Siapa? Nadin?" Tanya Kay.


"Apa harus Aku mengiyakan. Oh iya, apa Aku telpon saja Nadin untuk membantumu. Dia nggak bakal marahkan Aku memegangmu seperti ini." Jawab Chia.


Kay hanya terdiam melihat wajah Chia yang cemburu, kesal namun tetap bersemu merah.


Beberapa menit, akhirnya mereka tiba diruang kelas. Chia membantu Kay duduk dikursi tempatnya biasa duduk. Chia membantu Kay dengan perlahan dan memastikan Kay duduk dengan nyaman. Setelah itu, dia pergi tanpa berkata-kata.


...----------------...


Chia hari ini tidak ikut jam pelajaran karena sibuk diruang ka prodi membantu untuk menyusun jurnal. Namun, setelah itu dia keruang kelas tempat teman-temannya belajar. Mereka juga sudah selesai belajar, masing-masing keluar dari kelas. Chia menghampiri teman-temannya. Namun, tidak lupa dengan lirikannya kepada Kay. Chia memastikan apakah dia bisa berdiri dan berjalan. Namun dia tersenyum ketir karena melihat Nadin. Entah kenapa Chia begitu kesal melihat Nadin. Namun, dia hanya bisa menyimpan rasa cemburunya karena dia juga bukan siapa-siapa untuk Kay. Bahkan, jika Kau bersama dengan Nadin. Maka, Chia akan menghapus perasaannya untuk Kay. Karena dia tidak ingin mencintai pasangan orang lain dan tidak ingin bersaing dengan siapapun.


Nadin duduk tepat didepan Kay, diantara Sandi dan Andi. Mereka pun keluar duluan, sementara Kay masih duduk. Nadin juga ikut keluar tanpa membantu Kay sedikitpun.


Chia masih mengamati Kay dari kejauhan, memastikan ada yang membantunya untuk memapahnya keluar dari ruangan.


"Chia, ayok." Teriak Ria.


"Iya, iya..." Sahut Chia.


Chia pun ikut bergegas keluar mengikuti teman-temannya. Namun, dia masih menoleh ke arah Kay.


Mereka duduk didepan gedung, sementara Chia masih menoleh kearah dalam mencari sosok yang sedang dia amati tadi. Namun, tak kunjung keluar Chia begitu gelisah dia ingin kembali keruangan.


"Kamu kenapa?" Tanya Naina.


"Ehm, itu. Kamu lihat gantungan tasku nggak?"


"Enggak."


"Duh, mungkin jatuh. Dimana yah jatuhnya."


"Coba cari dulu, tadi kamu kemana aja."


"Hmmm... Coba Aku cek dulu yah."


"Okey."


"Kalian jangan kemana-mana. Aku cari dulu." Ucap Chia.


Chia pun berlari ke dalam gedung, dia bersembunyi dibalik tembok dan mengintip apakah teman-temannya melihatnya atau tidak. Saat melihat temannya sedang asik sendiri, Chia pun bergegas kembali naik ke lantai satu untuk melihat keadaan Kay.


Saat ditangga, Chia berpaspasan dengan Kay dan Alif yang sedang membantunya turun dari tangga.


Mereka saling beradu pandangan. Hati Chia pun lega, karena sudah melihat Kay bersama dengan Alif. Chia kemudian berbalik badan dan bergegas turun.


"Kamu kenapa, Chi." Tanya Alif.


"Yah?" Chia menghentikan langkahnya.


"Kamu nggak jadi naik?" Tanya Alif.


"Enggak jadi, tadi Aku pikir ada barangku yang ketinggalan. Setelah dipikir-pikir, sepertinya enggak ada yang ketinggalan." Jelas Chia.


Alif dan Kay saling bertatapan melihat tingkah konyol Chia.


"Yaudah, Aku pergi dulu." Ucap Chia kemudian bergegas pergi dari hadapan Kay dan Alif.


Chia berjalan dengan perasaan lega, entah kenapa tadi dia merasa ada beban yang menjanggal dihatinya. Akhirnya, beban itu telah musnah dia pun tersenyum.


Chia bergegas kembali ke bergabung dengan teman-temannya didepan gedung.