
"Dikota nggak ada air terjun yah? Jadi, berendam sampai selama itu?" Ucap Faris menyindir Chia.
Chia pun menggeplak kepala Faris, menjulurkan lidah dan melewatinya.
"Kamu cewek jadi-jadian yah. Kenapa selalu saja Aku yang dipukuli olehmu." Jerit Faris yang mengelus kepalanya.
"Kamu terlalu menyebalkan." Sahut Chia.
Sementara, orang-orang yang melihat Chia dan Faris saling mengadu mulut, hanya tertawa melihat kekonyolan mereka berdua.
Saat Chia tiba, makanan sudah tidak tersisa satu pun.
"Yah, Kak Chia nggak kebagian." Seru Nana.
"Nggak papa, Chi. Kakak belum lapar." Ucap Chia.
"Ini nih karena orang yang tidak diajak ikut-ikutan. Mana ambil makannya nggak kira-kira lagi. Kayak nggak pernah makan setahun saja." Ujar Nana melirik ke arah Dea dan teman-teman Faris.
"Hush, nggak boleh gitu, Na." Ucap Chia menegur Nana.
"Habisnya, ya udah Kak Chia makan sama Aku aja." Tutur Nana.
"Nggak papa kamu makan aja, biar cepat gede."
"Tapi, Kak....."
Kruk kruk kruk
Suara perut Chia yang sedang meminta asupan.
"Tuh, kan Kak Chia juga lapar. Udah makan sama Aku saja. Tapi, punyaku juga sedikit habisnya dihabiskan sama mereka." Oceh Nana.
Wajah Chia yang tadinya pucat tiba-tiba saja memerah karena suara perutnya yang meminta makan begitu besar sehingga orang-orang bisa mendengar.
Chia menutup wajahnya yang memerah karena merasa malu. Adit menghampiri Chia, lalu dia duduk disebelah Chia.
"Aaa..." Ucap Adit mengarahkan sendok yang berisi makanan ke arah Chia.
Chia pun menoleh kearah Adit, dan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kepala kakak tadi kebentur dimana?" Tanya Chia.
"Apasih, kamu kan nggak kebagian makanan jadi kita berdua berbagi aja makanannya." Ucap Adit.
"Ih, nggak usah. Aku sama Nana saja." Sahut Chia.
"Aih, makanan yang Nana ambil saja nggak bisa buat kalian berdua yang kurus kering ini kenyang. Sudah buka mulutmu." Ucap Adit.
"Ihh, nggak mau. Kakak geger otak yah. Nggak mau, dilihat sama orang-orang tahu." Ucap Nana.
"Nggak papa, Kak Chi. Makan sama Kak Adit saja." Suruh Nana.
"Tapi, ya udah tapi Aku pegang sendoknya sendiri aja." Ucap Chia.
"Sendok dan piringnya juga udah nggak ada, kenapa sih cuman disuapin doang. Kenapa kamu takut kalau disuapin Aku, ntar kamu jadi suka sama Aku." Oceh Adit.
"Ih, apaan sih. Narsis amat kak. Makan ya makan." Ucap Chia yang melahap makanan yang disuap oleh Adit.
"Dah tuh, puas... Ugh uhuk uhuk..." Chia yang belum menelan makanannya dengan baik pun tersedak.
"Kan kan kan, makan tuh nggak boleh sambil ngoceh. Kualat kan." Ujar Adit dengan sigap memberikan air ke Chia.
Chia pun meminum air yang diberikan oleh Adit. Chia, Adit dan Nana makan bersama. Kemudian, datanglah Kevin, Faris, Adam dan BomBom bersamaan untuk bergabung dengan mereka bertiga.
"Kak Chi, mau cobain ayam nggak?" Ucap BomBom.
Chia pun mengangguk, BomBom menyuapi Chia. Tidak hanya BomBom, Adam yang tidak ingin kalah pun juga menyuapi Chia.
"Kak Chi, ini mie punyaku juga enak." Ucap Kevin yang juga ingin menyuapi Chia.
"Mie punyamu darimana? Yang masak saja bukan kamu." Cerca Faris.
"Piring pun bukan punyamu." Cerca Faris lagi.
Mereka pun berdebat dan yang lain hanya menonton mereka sembari melahap makanan mereka.
Chia yang melihat mie yang berada disendok Kevin, terus diputar-putar karena sedang berdebat dengan Faris. Chia menarik tangan Kevin, dan mengarahkan sendok yang berisi mie ke dalam mulutnya.
"Udah didalam mulutku, jadi mie ini punyaku." Cicit Chia.
"Nggak adil. Kalau gitu Aku juga dong. Aaa...." Ucap Faris yang menyendok nasi dari piringnha dan mengarahkan ke Chia.
Chia hanya melihat sendok yang diarahkan oleh Faris dan memalingkan wajahnya dari Faris. Dia menyantap suapan Nana.
"Tega banget sih, suapan mereka kamu makan punyaku kamu abaikan." Oceh Faris.
"Karena mereka nggak pelit." Jawab Chia.
"Aku juga nggak pelit, nih buktinya Aku mau menyuapimu." Cerca Faris.
"Iya, tapi nggak nasi sebanyak itu juga dong. Mau mulutku robek apa? Mana cuman nasi doang kering pula." Ujar Chia yang menyipitkan mata menyindir Faris.
"Ya udah ini." Ucap Faris mengurangi porsi nasi dan menambahkan beberapa potong daging ke sendok.
Chia pun bergegas melahap makanan yang disodorkan oleh Faris.
"Thank you." Ucap Chia.
Mereka pun tertawa bersama, mereka menyantap makanan bersama hingga habis. Setelah itu, mereka pun membersihkan piring masing-masing.
Setelah seharian mereka bersenang-senang, mereka pun bersiap untuk pulang. Chia, Nana, Archi, Adam dan kedua orang tua Nana melanjutkan perjalanan ke kota. Sebelumnya, Chia sudah berpamitan ke keluarganya di desa.
Setelah berpamitan, Chia dan lainnya bersiap balik ke kota. Nana dan keluarganya menggunakan mobil. Sementara, Chia ikut dengan Archi menggunakan motor. Awalnya, Chia ingin bersama Nana naik ke mobil. Namun, dengan tatapan sangar Archi dan Nana yang peka pun menyuruh Chia untuk bersama Archi. Chia hanya manut dan mengikuti Archi. Walaupun tidak terlalu nampak namun Archi tersenyum sumringah.
Dalam perjalanan, sengaja Archi melajukan kendaraannya agar Chia memeluknya. Namun, apa daya Chia sangat tidak peka. Chia memeluk tubuhnya sendiri, bahkan tidak ada perasaan takut seperti wanita pada umumnya ketika diatas motor dengan kecepatan tinggi. Bagaimana tidak dia sudah terbiasa dibonceng oleh teman-temannya yang agak tidak waras ketika memboncengnya. Apalagi, jika dia bersama dengan Anton dan Ari hampir setiap dibonceng membuat spot jantung bagi Chia. Namun, hal itu melatih dia hingga sudah merasa terbiasa.
Archi pun yang kesal, hanya bisa mengoceh dalam hatinya.
Tiba-tiba saja hujan turun disaat perjalanan mereka. Archi tidak membawa helm hanya bisa menepi.
"Perasaan tadi panas, kok bisa hujan gini." Oceh Archi.
"Coba tadi Aku naik mobil aja." Cicit Chia.
"Jadi, kamu nggak suka barengan sama Aku?" Sahut Archi.
"Eh, nggak kok... Hehehe..." Ucap Chia, Chia malas berdebat dengan Archi jadi hanya bisa menjaga agar tidak menyinggung Archi.
Hujan masih saja turun, bahkan bertambah deras. Sementara langit sudah hampir gelap, karena mereka memulai perjalanan dari jam 4 sore tadi.
Chia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya, udara sangat dingin karena hujan dan mereka berada di daerah yang masih sepi dan penuh pohon-pohon bisa dibilang seperti hutan.
Archi meraih tangan Chia, dia meniup tangan Chia agar menjadi hangat. Lalu, tangannya dimasukan kedalam saku jaket yang Ia kenakan. Mereka berdiri hingga hujan agak reda.
"Kak Archi, hujannya sudah reda nih."
"Oh, iya. Ayok kita jalan ntar hujan lagi."
Archi melepaskan jaketnya, dan memakaikannya ke Chia. Archi menggosokan kedua tangannya dan meletakkan ke kedua pipi Chia. Setelah, merasa pipi Chia hangat. Mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan.
Chia melihat Archi hanya mengenakan kaos, lalu kedua tangannya meraih pinggang Archi. Kedua tangannya melingkar ditubuh Archi. Archi yang melihat inisiatif Chia pun tersenyum melebar.
"Kak Archi, maaf yah. Aku permisi peluk kakak, biar kakak nggak kedinginan." Tutur Chia.
Archi tidak menjawab Chia, namun dia memegang tangan Chia yang memeluknya agar tidak terlepas.
Mereka tiba di kota jam 8 malam, karena mereka sempat berhenti untuk berteduh. Sementara, Nana dan keluarganya sudah tiba dari jam 6. Sesampainya, dirumah Chia pun segera mandi untuk membersihkan diri agar tidak dlu karena kehujanan, begitu juga dengan Archi.
Setelah, mandi Chia menyeduh teh hangat untuk keluarganya dan berbincang-bincang dengan mereka hingga larut malam.