
Setelah bermain sepuasnya Adit mengantar Chia pulang.
"Jangan lupa yah malming nanti." Ucap Adit.
"Ini kan udah malming." Tukas Chia.
"Minggu depan, trus just berdua saja okay." Pinta Adit.
"Hmmm, okey." Jawab Chia.
Adit pun pergi setelah berpamitan dengan Chia. Chia bergegas masuk kedalam rumahnya.
......................
POV Chia
Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuh. Aku mengganti pakaianku setelahnya Aku rebahkan tubuh diatas kasur.
Aku mengambil ponselku, dan membuka beberapa media sosial punyaku.
Aku menghentikan jariku yang terus melihat status postingan di WA. Aku baca nama ya g tertera "Nadin" yah itu postingan milik Nadin. Gambar yang dipostingnya itu adalah foto selfienya dengan boneka Panda, Grizzly dan Ice Bear yang Aku berikan kepadanya saat kesal.
"Thanks bonekanya Kay❤️." Ejaku membaca tulisan pada postingan Nadin.
"Thanks bonekanya Kay, gigi kau botak. Itu punyaku tahu. Dasar buaya betina. Ih, pake emot love lagi, gak tahu malu banget." Cercaku.
Chia menggeser untuk melihat postingan selanjutnya. Dia melihat foto Nadin dan Kay yang diambil secara candid.
"Siapa sih yang foto kayak gini. Alay deh." Ucapku kesal.
"With someone who likes me. What? Yang benar saja? Kay suka sama Nadin? Tapi, Kau nggak pernah bilang. Nih, cewek agak lain sih. Tapi, kalau Bernai diposting ginikan Kay juga bisa lihat. Apa tanggapan Kay yah." Ucapku.
Aku mencari status postingan milik Kay, tapi tidak ditemukannya sama sekali. Aku masih mencari namun hasilnya tetap sama. Lalu, Aku mencari di IG postingan milik Kay.
Jariku terhenti saat melihat postingan Kay di IG. Dia memposting foto dirinya dan juga Nadin. Setelahnya tidak ada postingan apapun.
Hatiku seperti disambar petir, rasanya sakit sekali. Mungkin saja benar mereka memiliki hubungan yah Aku saja yang kePD-an mengira Kay sudah sedikit menerimaku.
Air mataku menetes, Aku memegang dadaku yang rasanya sesak sekali. Entah kenapa bisa sesakit ini padahal kami tidak memiliki hubungan yang spesial namun Aku bisa merasakan sakit yang luar biasa.
Aku meletakkan ponsel milikku. Kemudian membalikkan badanku kearah kasur. Menjerit dan menangis. Sudah berkali-kali Aku menangis karena seseorang yang Aku harap bisa bersama denganku. Aku rasanya lelah dan ingin menyerah saja, namun sangat sulit bagiku.
Malam ini, Aku menangis sejadi-jadinya. Melepaskan kesedihanku. Aku berharap setelah ini, Aku benar-benar harus menyerah akan perasaanku.
...----------------...
POV Author
Diruang kelas, Chia sedang menjelaskan materi. Dosen menyuruhnya untuk menggantikannya sementara waktu karena hari ini jadwal rapat bagi para dosen, namun karena materi hari ini adalah materi yang sudah dikuasai oleh Chia, dosen pun meminta kepada Chia untuk menjelaskan apa saja yang dia ketahui kepada teman-temannya.
Namun, hari ini Chia sangat badmood sehingga dia menjelaskan dengan wajah yang judes.
Dia memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk bertanya terkait materi yang Ia jelaskan. Namun, saat Nadin ingin bertanya Chia seolah-olah tidak mengindah pertanyaan Nadin, bahkan pura-pura tidak melihat saat Nadin mengangkat tangan. Dia akan memberikan kesempatan kepada yang lain, padahal Nadin sudah lebih dulu mengacungkan jarinya.
Seisi kelas pun mengetahui hal itu, dengan wajah kebingungan.
"Chia kenapa sih? Dia kayak pura-pura nggak lihat Nadin gitu?" Tanya Cherly.
"Lagi PMS kali?" Sahut Ria.
"Kalian kayak nggak tahu aja." Jawab Naina dengan isyarat mata.
"Ohhhhh.." Sahut Cherly dan Ria.
"Chia kalau cemburu menakutkan juga yah." Tutur Ria.
Chia yang memperhatikan teman-temannya mengobrol saat dia menjelaskan sesuatu membuatnya kesal.
"Kalian bertiga yang sibuk sendiri, coba jawab soal yang ini didepan." Suruh Chia.
Naina, Ria dan Cherly saling pandang mereka melihat ke kiri kanan mencari orang yang dimaksud oleh Chia yang nyatanya adalah mereka bertiga sendiri.
"Dia nyuruh kita yah?" Tanya Ria.
"Iya kalian bertiga, kalau mau ngobrol diluar saja." Tutur Chia.
Naina, Cherly dan Ria pun meminta maaf, lalu fokus pada Chia yang sedang menjelaskan lagi.
"Ada yang mau bertanya lagi atau masih kurang paham?" Tanya Chia.
"Saya mau bertanya?" Ucap Nadin.
Lagi-lagi Chia mengabaikan Nadin, sangat jelas terlihat oleh semua yang ada dikelas.
"Chia, Nadin mau bertanya." Ujar Sandi.
"Kamu saja yang jawab pertanyaannya." Sahut Chia judes.
Semua saling pandang, apa yang mereka pikirkan benar bahwa Chia memang sengaja mengabaikan Nadin.
"Ih, kata kamu yang mau bertanya silahkan bertanya." Cerca Nadin.
"Yap, tapi Aku berhak memilih siapa yang pantas." Ucap Chia.
"Nggak boleh gitu dong, kalau ngajar tuh harus profesional. Lagian ada masalah apa kamu sama aku?" Tanya Nadin.
"Ada tidaknya masalah, Aku punya hak untuk menentukan mau menjawab pertanyaan siapa." Sahut Chia.
Nadin dan Chia terus berdebat dan beradu argumen, sementara mahasiswa yang lain hanya melihat perdebatan itu. Suasana semakin memanas karena Nadin yang tidak terima dirinya diperlakukan buruk oleh Chia.
"Wah, semakin hot nih." Ucap Anton.
"Mereka ada masalah apa sih?" Tanya Aris.
"Mau ada masalah atau enggak pokoknya ini lebih seru daripada mendengar materi yang mematikan itu." Ucap Anton.
"Eh udah dong, kita lagi belajar." Lerai Bian.
"Nggak bisa gitu, Aku kan cuman mau bertanya. Kalau nggak niat ngajar yah nggak usah." Cicit Nadin.
"Kamu pikir aku mau ngajar? Ini pun terpaksa. Kalau kamu nggak suka, kamu keluar aja." Sahut Chia.
"Aku laporin kamu yah ke dosen." Ujar Nadin.
"Lapor saja." Titah Chia.
Mata Nadin mulai berkaca-kaca, Nadin berdiri dengan wajah kesalnya dan keluar dari ruang kelas.
"Weh, gimana nih. Si Nadin keluar tuh." Ucap Ria.
"Iya, Chia pasti dimarahi tuh. Mau lihat dari segala arah pun si Chia yang salah." Ucap Cherly.
"Mana ini mata kuliahnya Pak Simon lagi, Chia bisa dimarah habis-habisan." Ucap Ria.
"Na, coba kamu bicara sama Chia dong. Kamu kan pawangnya kalau dia lagi mode singa gitu." Tutur Anton.
"Kalian gila yah, yang ada Aku yang kena semprot sama dia." Sahut Naina.
"Diantara kalian ada lagi yang mau keluar? Kalau ada silahkan keluar." Ucap Chia.
Tidak ada respon apapun, mereka masih tetap ditempat duduk mereka masing-masing. Karena tidak ada yang keluar, maka Chia melanjutkan menjelaskan materinya.
...----------------...
Setelah jam mata kuliah telah usai, Chia ke ruang dosen untuk berjumpa dengan Pak Simon atas aduan Nadin karena Chia telah mengusirnya. Didalam ruangan Chia dan Nadin berhadapan dengan Pak Simon. Sementara, teman-temannya Chia menunggu diluar ruangan dosen, tidak hanya Chia teman-temannya Nadin juga menunggu diluar ruangan.
"Kok nggak ada suara sih." Cicit Anton yang sedang menguping dibalik tembok.
"Ih, nanti kamu dimarah kalau ketahuan nguping." Ucap Ria.
"Bodoamat, yang penting bisa dengar apa yang dibahas oleh mereka." Ucap Anton.
"Kamu sedang apa?" Tanya Pak Arga yang tiba-tiba muncul.
"Eh, tidak Pak." Jawab Anton.
"Kalian kenapa pada rame-rame nih?" Tanya Pak Arga.
"Si Chia dan Nadin berantem, Pak." Jawab Aris.
"Berantem kenapa?" Tanya Pak Arga.
"Ceritanya panjang, Pak." Jawab Aris.
Pak Arga pun bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi.
"Kira-kira Chia dimarah ngga?" Tanya Aris.
"Enggaklah, dia kan kebanggaan kampus." Ucap Anton.
"Belum tentu ges, Nadin tuh dekat sama semua dosen tahu." Sahut Yeni.
"Iya juga, mana dia goodlooking." Jawab Ria.
"Benar juga yang goodlooking always menang." Jawab Aris.
"Btw, Chia juga goodlooking ges." Tukas Sari.
"Iya juga, walaupun dia kayak singa betina kalau lagi PMS tapi kalau lihat dari segala arah dia jauh diatas Nadin Weh." Tutur Anton.
"Iya, cantikan juga Chia." Sahut Cherly.
Tiba-tiba Chia dan Nadin keluar bersamaan. Mereka yang sedang bergosip pun cepat-cepat mendekati mereka.
"Gimana, Chi?" Tanya Aris.
"Apanya?" Chia menanyakan balik.
"Gimana didalam tadi?" Tanya Anton.
"Yah, gitu. Udah aahhh Aku mau ke kantin." Ucap Chia yang bergegas pergi.
Naina dan lainnya pun bergegas mengejar Chia.
Sementara itu, teman-temannya Nadin juga bertanya hal yang sama kepada Nadin.
"Gimana tadi?" Tanya Andi.
"Aku nggak salah dia yang dimarah." Ucap Nadin.
"Iya, dia juga yang keterlaluan."
"Trus, Pak Simon bilang apa?" Tanya Sandi.
"Yah, dia diskors 3 hari." Ucap Nadin.
"Diskors?" Tanya Angga.
"Iya."
"Tapi, diakan dibebaskan dari semester ini jadi nggak kuliah pun nilainya tetap aman." Ucap Bian.
"Lagian dia juga sok deh."
"Mungkin dia lagi PMS." Sahut Alif.
"Apaan kamu bela-belain dia."
"Iya nih."
"Lah, daripada belain kamu mendingan belain dia. Walaupun, dia kayak gitu dia orangnya baik tahu." Sahut Alif.
"Iya, baik karena kamu suka sama dia." Tukas Nadin.
"Trus, Chia ngomong apa?" Tanya Andi.
"Nggak ngomong apa-apa dia hanya diam doang, kan takut tapi sok soan." Ujar Nadin.
"Jangan ngomong gitu." Ucap Kay.
"Emang kan, sok sekali kayak dia yang punya kampus aja. Berasa sok pintar gitu." Tutur Nadin kesal.
"Hmm, untung kamu nggak ngomong didepan dia langsung. Kalau nggak kamu sudah dihajar sampai babak belur olehnya." Sahut Adit yang tiba-tiba bersuara.
Ternyata Adit, sudah lama berdiri dan mendengar percakapan mereka.
"Kalian tahu dia pernah menghajar beberapa orang preman di kota M sendirian loh, dan dia juga seorang jenius dunia bela diri. Kalau sampai dia mendengar kalian saat ini dengan kesabarannya yang setipis tisu itu kalian bisa habis ditangannya." Jelas Adit.
Setelah berbicara, Adit pun pergi mencari Chia. Yah, Adit yang bisa keluar masuk kampus karena orang tidak menyadari kalau dia bukan mahasiswa dikampus itu.
"Oh, iya. Aku nggak bakal ngasih tahu Chia apa yang kalian bicarakan tadi. Aku tidak mau tangan Chia kotor ketika membukam mulut kalian." Tukas Adit.
Nadin dan lainnya hanya diam, dan melihat Adit pergi begitu saja.