I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 30



Kak Archi tiba-tiba saja kembali. Menghidupkan lampu kamar. Kebetulan Aku juga belum tertidur.


"Kau bangun dulu." Ucap Kak Archi


Aku pun menuruti ucapan Kak Archi, Aku bangun dan duduk berhadapan dengan Kak Archi.


"Minum obat ini. Obatnya dapat merendahkan nyeri." Ucap kak Archi sembari merobek bungkusan obat. Setelah itu memberikannya kepadaku.


Aku hanya memandangi obat itu. Selain jarum suntik, Aku juga takut mengkonsumsi obat. Bahkan saat sakit pun Aku tidak pernah mengkonsumsi obat. Jika, Aku sakit maka Aku hanya rebahan setiap hari agar sembuhku hilang. Aku lebih memilih obatan herbal tradisional daripada obatan kimia.


"Kenapa hanya dilihat saja? Ambil ni trus kamu lahap."


Aku menoleh kearah Kak Archi, kemudian menggelengkan kepala sembari menutup mulutku.


"Jangan bilang kamu takut obat lagi."


Aku pun mengangguk untuk mengiyakan ucapan Kak Archi.


"Astaghfirullah, ini anak kedokter takut, minum obat pun takut. Trus biasa kalau kamu sakit, cara nyembuhinnya gimana?" Cicit Kak Archi


"Aku jarang sakit Kak. Terus, kalau Aku sakit, Aku cuman rebahan trus minum banyak air sama Aku biasa minuman herbal."


"Gadis aneh bin merepotkan. Trus, Kaki kamu gimana tuh kan sudah bengkak sekali."


"Biarin aja, dikompres aja terus. Nanti sembuh sendiri."


"Hah? Gila nih anak. Buka mulut mu cepat buka." Ucap Kak Archi yang memegangi daguku membuka paksa mulutku.


"Hmm, ehmmm..." Aku yang menutup rapat mulutku


"Baiklah kalau kamu melawan." Ucap Kak Archi yang melepaskan dagu yang dipegangnya.


"Bagaimana kalau Aku menciummu." Tutur Kak Archi


"Kak Archi gila..." Teriakku


Kak Archi mulai mendekatiku, semakin dekat wajahnya dan wajahku. Jantungku berpacu begitu cepat. Aku berusaha memundurkan tubuhku, namun sudah sampai pada posisi rapat antara dinding tempat tidur dan belakang tubuhku. Kak Archi masih terus merepotkan wajahnya.


"Kak Archi jangan macam-macam yah. Aku teriak nih." Ucapku yang mulai panik


"Teriak aja! Kamu kan sudah tidak perawan lagi." Ucap Kak Archi berbisik di telingaku.


Mataku terbelalak mendengar ucapan Kak Archi. Sudah kuduga dia masih mengingat ucapan yang Aku katakan saat panik dijalan tadi. Padahal, Aku sudah mengatakan itu hanya ucapan untuk perlindungan diri.


"Sini obatnya, Aku punya tangan bisa minum sendiri." Ucapku dengan nada datar bercampur kesal.


Aku mengambil obat ditangan Kak Archi dengan kasar. Ku masukan obat itu kedalam mulutku, secepatnya Aku menelan obat itu dan kemudian meneguk segela air. Aku mengembalikan gelas ke Kak Archi lalu segera merebahkan tubuhku lagi. Aku membelakangi Kak Archi sehingga Aku tidak melihat jelas dia yang berada dibelakangku.


Aku merasakan dengan jelas, Kak Archi telah berdiri dari posisi duduknya tadi. Dia menyelimuti tubuhku dengan selimut hingga menutup seluruh tubuhku kecuali kepala. Langkah kakinya pun terdengar saat dia berjalan keluar.


"Aku masih perawan, aku juga sehat tidak ada penyakit mematikan apapun dalam diriku. Aku juga enggak panuan, kudis atau penyakit lainnya. Umurku juga masih panjang. Ucapan tadi tolong jangan diingat lagi, itu Aku ucapkan karena Aku dalam keadaan panik." Tuturku yang kemudian menarik selimut menutupi wajahku.


"Hm." Ucapan Kak Archi


Perasaanku campur aduk, antara malu, kesal dan juga marah. Aku sudah bilang kalau ucapan itu hanya asal-asalan kenapa masih diingat juga. Lagian, hanya menyuruh minum obat saja harus pake cara mesum gitu.


"Arghhh.." Teriakku dengan suara yang pelan


POV: Archi


Aku menutup pintu kamar, setelah memberikan obat kepada Chia. Aku bersandar dibalik dinding kamar. Memukul-mukul dahiku karena perbuatanku tadi. Apa yang dipikirkan Chia dengan tindakanku tadi. Apakah dia akan menjauh dariku. Apakah dia marah. Aku sudah sangat keterlaluan kepada Chia. Sebaiknya, tadi Aku tidak memaksanya saja dan langsung meninggalkan dia.


"Tapi, dia menjelaskan lagi kepadaku bahwa dia masih perawan. Apa arti dari ucapannya itu. Tentu saja dilihat dari sisi mana pun dia masih seorang perawan, Aku kan hanya bercanda kepadanya." Batin Archi


"Apa Chia marah? Apa dia mengira Aku mesum? Bagaimana Aku dimatanya?" Batin Archi lagi


Aku berjalan menuju ruang tamu. Yah, Aku akan tidur diruang tamu. Karena kamar yang dipakai sama Chia adalah kamarku.


Aku merebahkan tubuhku diatas kursi sofa yang panjang. Bayang-bayang Chia selalu menggema dikepalaku.


"Dia sangat menggemaskan." Batin Archi


Saat menjemputnya dipelabuhan dulu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku langsung mengenalinya karena Aku pernah melihat fotonya yang dikirim oleh Tante Aisyah. Difoto wajahnya sangat datar dan tidak tersenyum sama sekali. Awalnya, Aku kira dia adalah anak yang sombong. Tetapi, saat Aku mendekatinya, dia tiba-tiba tersenyum dengan wajah cantiknya itu. Bahkan, senyumnya mengundang banyak mata. Dia sangat sopan dan sangat cerdas. Walaupun, dia sedikit keras kepala. Karena itu, dia membuat perasaanku begitu gusar.


"Mau kamu masih perawan ataupun tidak, bahkan janda sekalipun Aku akan tetap suka kepadamu, Chia." Batin Archi lagi


POV: Chia


"Argghh tadi kenapa Aku ngomong ngasal gitu yah. Gimana kalau Kak Archi cerita kejadian tadi sama keluargaku. Ibu pasti memukulku sampai babak belur. Bisa-bisanya aku mengucapkan kalimat yang bisa merusak harga diriku sendiri sebagai seorang gadis. Tapi, Aku sudah jelaskan ulangkan kalau itu Aku ucapkan karena lagi panik." Ocehku


Aku terus overthingking dengan ucapanku. Apalagi Aku sudah sangat keras kepala dan tidak menuruti ucapan Kak Archi. Mungkin Kak Archi bakal ngadu ke keluargaku.


"Tapi tadi Kak Archi jawabnya 'hm', maksudnya apa yah?" Batinku


"Tadi 'hm-nya' berapa ketukan yah, 'hm-nya' tadi 'm-nya' ada berapa? Hmnya Kak Archi itu artinya iyakan? Argghh, Aku benar-benar bingung." Batin Chia


Aku terus memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi, hingga membuatku kesulitan untuk tidur.


Hingga pagi menjelang entah kapan Aku tidurnya. Tiba-tiba saja Aku sudah terlelap sampai sepagi ini. Aku pun bangun untuk mengerjakan salat subuh. Aku berjalan sambil memegang dinding kamar. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah, berwudhu aku pun mengerjakan solat subuh. Karena Aku kesulitan jika solat seperti biasa, jadi Aku solatnya dalam posisi duduk. Setelah, selesai solat Aku tadarus Al-Qur'an walau hanya dua lembar. Setelah itu, Aku kembali tertidur karena overthingking semalam membuatku tidur tidak nyaman.


Aku terbangun saat mendengar suara musik yang begitu besar. Sepertinya Tante sedang sibuk memasak didapur dengan menyetel musik. Aku pun bergegas membersihkan kamar lalu kebelakang untuk membantu Tante.


"Chia sudah bangun?" Tanya Tante


"Iya, Tante." Jawabku sembari memegang sayur yang sudah Tante letakkan diatas meja.


"Eh, mau ngapain kamu. Udah nggak usah. Kamu istirahat saja. Itu kakimu sudah kek gitu lagi."


"Nggak papa Tante, kan cuman kaki aku yang sakit bukan tangan."


Tante pun tidak mencegah Aku lagi. Aku membantu Tante walaupun dalam keadaan duduk. Setelah semua siap, kami pun menyajikan hidangan tersebut diatas meja.


Semua orang sudah bangun, karena masa liburan sudah selesai Nana dan Adam pun harus kesekolah. Om dan Kak Archi bekerja, tinggalah Aku dan Tante yang nantinya dirumah.


Kami pun menyantapi makanan kami. Dan kemudian semua bersiap untuk menjalankan harinya masing-masing.