I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 11



Aku tidak tahu bagaimana dalam memperlakukan orang lain. Aku selalu berpikir menggunakan logika yang Aku punya. Kenapa harus seperti itu kenapa begini dan banyak pertanyaan ketika Aku selalu berhubungan dengan orang lain.


Hal ini yang membuat Aku sulit untuk percaya kepada orang. Bagiku Naina, Uta dan Ria adalah orang yang bisa memahamiku dan lebih tahu Aku seperti apa. Karena itulah, hanya mereka yang Aku percaya. Terkadang, jika Aku sulit berinteraksi dengan orang dan tidak memahami maksud orang itu. Aku akan bertanya kepada mereka bertiga. Orang-orang yang berada disekitarku selalu mengatakan bahwa Aku orang yang tidak memiliki kepekaan sama sekali. Benar atau tidak Aku sendiri sulit memahami diriku.


Waktupun berlalu, kami sudah sangat lama bermain dipantai. Akhirnya, kami pun masing-masing pamit untuk pulang.


Entah mengapa, Yeni sejak tadi mendiami diriku. Padahal, Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Dia tiba-tiba marah kepadaku.


Dalam perjalanan pulang, Aku dan Ian hanya diam. Hanya terdengar suara angin, kendaraan dan manusia sekitar.


Sesampainya dirumah, Aku mengucapkan terimakasih kepada Ian. Selain itu, Aku juga mengucapkan kata maaf kepada Ian. Entah mengapa ucapan maaf itu keluar dari mulutku yang hampir berabad-abad tidak pernah mengucapkan kata itu.


Ian yang kaget dan juga bingung menatapku lama. Kemudian, dia tersenyum dan mengatakan kalau Aku tidak perlu mengucapkan kata 'maaf'. Hal ini, karena baginya Aku tidak melakukan kesalahan apapun.


Sebelum Ian pulang, diapun mengelus kepalaku dan pamit pulang.


Aku pun masuk kerumah, mengambil handuk untuk pergi mandi. Setelah beberapa menit dikamar mandi, Aku pun mengambil beberapa buku bacaan.


Notif HPku terus bermunculan. Yah, pasti itu teman-temanku sedang mengirim foto. Ritual yang tidak boleh terlewatkan saat berkumpul dan healing bersama teman-teman adalah mengambil banyak foto. Sebelum pulang tadi, kami memang mengambil banyak foto untuk kenang-kenangan.


Pesan foto tersebut dikirim oleh Naina, memang jika ada sesi foto maka HP Naina lah yang selalu digunakan.


Tidak hanya itu, pesan chat dari Ian pun ada. Dia juga mengirim beberapa foto. Beberapa foto milik kami berdua dan sisanya foto bersama. Karena HP Naina mati, maka kami pun menggunakan HP Ian yang kameranya lebih jernih 3x lipat dari HP Naina.


Aku pun melanjutkan gambar-gambar tersebut digroup.


Bukan cewek namanya kalau group cuman hanya ada satu. Group kelas, group geng teman kampus, dan group khusus sahabat.


Sekarang kami sedang aktif di group geng teman kampus. Sejak tadi Anton dan Ari terus mencie-ciekan foto yang Aku salah kirim yang itu foto Aku dan Anton. Digroup kami hanya 2 orang cowok yaitu Anton dan Ari, kami memanggilnya dua betina. Aku pun menghapus gambar tersebut tanpa berkata apa-apa.


"Chi, kamu tuh benaran suka sama Ian nggak? Kamu tuh kek nggak ada effort banget loh sama Ian."tiba-tiba Sari nimbrung di group


"Iya, kasihan Ian-nya kek sabar banget loh ngadapin sifat kamu yang dingin dan datar gitu."lanjut Ria


"Kurang peka sih menurut ku."sambung Cherly


"Memangnya Aku kenapa?"tanyaku yang mulai membalas komentar mereka.


"Sepertinya Ian tadi marah deh pas kamu ngasih air minum ke si Kay."sahut Ari


"Kenapa harus marah? Memangnya kalau memberi itu salah?"jawabku lagi


"Nggak salah, Chi. Cuman kalau minum dibekas orang itu artinya BLA BLA BLA."sambung Anton


"BLA BLA BLA apa?"tanyaku lagi


"Ciuman nggak langsung b**o!"seru Ari


"Kamu tuh sok alim, polos benaran atau apa sih? Be*o maybe."Yeni yang tiba-tiba nimbrung.


"Kamu kenapa si Yen? Perasaan Aku nggak pernah nyinggung kamu deh. Kok seenaknya maki-maki Aku gitu."Aku mulai kesal


"Kalau Aku ada salah atau menyinggung, tolong yah langsung to the point saja. Nggak usah mencaci maki orang gitu. Lagipula Aku benaran nggak tahu dimana letak kesalahanku."lanjutku


"Na, tolong temanmu diajarkan bagaimana menghargai manusia."jawab Yeni yang kemudian tiba-tiba keluar dari group.


"Aku no comment karena tidak bisa berword-word."jawab Naina


"Apaan sih, nggak jelas deh."Ujarku


Aku pun tidak merespon digroup lagi, Aku malah pindah mengirim pesan ke group yang isinya hanya Aku, Naina, Uta dan Ria.


"Na, Ri. Kira-kira Aku salah apa?"tanyaku di group chat.


"Ada apa ini? Kalian bahas apa?"tanya Uta yang kebingungan.


"Nggak masalah group sebelah."balas Ria ke Uta


"Menurut Aku mungkin Yeni tuh mau kamu peka gitu ke Ian."lanjut Ria


"Trus, kenapa dia nggak ngomong langsung aja gitu, to the point. Aku kan emang nggak bisa nebak-nebak apa yang dia pikirkan. Kenapa harus mencaci maki Aku."ungkapku meluapkan emosi.


"Wow, lagi panas nih suasananya."sahut Uta


"Iya sih, kamu emang tipe orang yang harus diceritakan secara detail baru ngeh. Tingkat kepekaanmu minus banget."jawab Ria


"Chia, emang gitu dikodein sampe mam**s pun tidak bakal ngeh."sambung Uta


"Wajar sih Yeni emosi sama kamu Chi. Tapi, Yeni juga terlalu ikut campur urusan pribadimu."jawab Naina


"Aku nggak masalah, dia mau ikut campur urusanku atau enggak. Tapi, jelaskan ke Aku salahku apa, biar Aku tahu dan mungkin bisa Aku perbaiki."Cercaku


"Sepertinya kamu nggak bisa perbaiki. Kamu tuh tingkat kepekaan sudah nggak bisa disembuhkan lagi."jawab Ria


"Iya sih, tapikan bisa diomongin baik-baik nggak usah maki-maki dong."sahutku kesal


Aku dan Yeni adalah teman sekelas di perkuliahan. Aku dan Yeni memang sering berselisih paham dan biasa seringkali bertengkar. Kami berdua memiliki tingkat emosi yang mudah meledak-ledak. Bahkan kami pernah berkelahi saat jam kuliah. Sama halnya dengan Uta yang mana kami berdua sering berbeda pendapat. Namun, Uta selalu mengalah kepadaku dan dia juga mengetahui bagaimana diriku, sifatku dan kelakuanku. Sehingga, kami walaupun sering bertengkar tetapi akan baikan dalam hitungan jam.


Berbeda dengan Yeni, hubungan kami berdua sering renggang karena tidak ada diantara kami yang mau mengalah. Mungkin itulah jeleknya salah satu sifatku. Yeni memang selalu ikut campur urusan orang lain, sementara Aku orang yang sangat malas mengurusi orang lain.


Kami berdua pun saling mendiami. Walaupun, Aku sudah tidak marah dan kesal lagi. Aku memang orangnya cepat emosi namun Aku juga cepat memaafkan dan melupakan. Hanya saja Aku gengsi mengucapkan kata maaf. Karena itulah, Aku hanya bisa akrab dengan Naina dan Ria dikampus karena cuman mereka yang mengerti akan sifatku. Kadang mereka memanggil Naina pawangku. Karena setia Aku marah hanya Naina yang bisa mengontrol emosiku.