I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 56



Aku tiba di kotaku jam 8 malam. Tanpa dijemput Aku pun memakai jasa ojek untuk mengantarku sampai ke rumah. Sesampainya, dirumah Aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur.


Aku menggunakan waktu weekend untuk beristirahat dirumah, karena hari Senin Aku sudah harus ke kampus.


Selepas solat subuh Aku pun melakukan aktivitas seperti biasa kulakukan. Membantu Ibu didapur, menyiapkan sarapan.


"Wuisss.... Yang habis liburan nih." Goda Yeyen


"Oh iya dong..." Jawabku.


"Gimana udah bisa move on?" Tanya Yeyen lagi.


"Jelas udah dong..."


"Cepat banget. Btw, kamu bawa apa aja dari sana?"


"Tuh, di kulkas. Bawa makanan aja."


"Uhuyyyy...." Ujar Yeyen sembari mendekat ke kulkas.


"Kamu ke rumah siapa saja?" Tanya Ibu.


"Sesuai list yang Ibu kasih. Tapi, Aku tinggal di kota bareng Tante Sinar."


"Harusnya kamu manggil Kakak bukan Tante." Sambung Ita.


"Hais, Aku reflek manggil Tante yah udah keterusan." Jawabku.


"Gimana? Banyak cogannya nggak?" Tanya Yeyen.


"Lumayan."


"Kamu sudah lihat Sion belum? Gila sih, dia cakep banget..."


"Aku sempat lihat sih waktu acara di desa. Nggak juga sih, masih cakepan si Kevin."


"Kevin siapa?" Tanya Ibu.


"Adik iparnya Kak Winda, Bu." Jawabku.


"Ibu belum lihat dia, mungkin waktu Ibu ke kota M. Dia belum ada kali yah."


"Mungkin juga, Bu."


"Mana sih, kamu ada fotonya?" Tanya Yeyen.


"Wait..." Ucapku bergegas berlari ke kamar untuk mengambil ponsel.


Aku kembali ke dapur dengan membawa ponselku. Aku membuka galeri ponselku, dan mencari foto-foto waktu di kota M. Aku menunjukkan foto-foto itu kepada keluargaku.


"Ih, tumben si Faris cakep gini."


"Iyakan, mereka kayak aktor-aktor Korea or China gitu. Padahal kitakan keluarga kenapa cuman keluarga kita yang nggak setampan dan secantik mereka yah..." Ujarku.


"Mau bagaimana lagi, Ibu aja kayak gitu." Ucap Yeyen.


"Kayak gimana?" Sahut Ibu.


"Harusnya Ibu datang duluan pas pembagian kulit, dan hidung biar kami juga cakep tahu." Lanjut Yeyen.


"Tapi, Chia putih dan hidungnya juga mancung." Ujar Ibu.


"Tapi, Aku pendek Bu." Jawabku manyun.


"Nggak ada yang sempurna, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan." Oceh Ibu.


"Itu tuh dengar..." Ucap Yeyen mengejekku.


"Dih, kamu yang duluan." Jawabku.


"Sudah-sudah panggil yang lain kita sarapan." Tukas Ibu.


Kami pun segera menyiapkan sarapan, dan memanggil semua anggota keluarga untuk sarapan.


\*\*\*\*


Aku sedang berbaring dikamar, membaca komik online di handphoneku. Saat asik membaca dan bermalas-malasan, Ibu tiba-tiba memanggilku. Ibu menyuruhku untuk mengantarkan makanan yang ku bawa dari kota M ke rumah-rumah tetangga. Salah satunya adalah keluarga Ian.


Aku ingin menolak perintah Ibu, tetapi Aku takut akan diejek oleh mereka jika Aku belum move on, makanya tidak ingin bertemu dengan Ian.


Aku pun bergegas mengantarkan makanan-makanan itu. Rumah Ian adalah rumah terakhir yang Aku datangi.


"Assalamu'alaikum." Ucapku.


"Wa'alaikumus salaam. Loh, Chia udah tiba yah? Kapan tibanya?" Ucap Tante Ami.


"Oh, iya iya. Masuk dulu, sudah sebulan yah kamu perginya." Ucap Tante.


"Iya, ini Aku bawa oleh-oleh."


"Ya ampun nggak usah repot-repot."


"Nggak papa, Tan. Ibu memang titip buat dibagikan ke tetangga."


"Oh, okelah. Tante terima. Terimakasih yah."


"Iya, Tante. Aku langsung pulang yah Tante."


"Buru-buru amat."


"Hehehe, Aku lagi baca buku soalnya."


"Oh, oke-oke. Terimakasih lagi yah."


"Iya, Tante sama-sama."


Aku pun bergegas pergi, Aku tidak ingin berjumpa dengan Ian. Walaupun sudah move on tetapi rasa kesalku masih ada.


Baru juga ingin pergi, Ian tiba-tiba saja muncul dihadapanku. Kami pun saling bertatapan satu sama lain. Seperti, sinetron sih tidak seperti drakor atau drachin gitu.


Aku pun memaksa untuk tersenyum, Aku menyapa Ian seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Setelah, melepaskan senyumku kepadanya, Aku pun bergegas pergi. Namun, Ian menghalangi jalanku. Aku menatap wajahnya, dan berpikir apa yang dilakukan ini.


Aku ke kiri dia juga ikut ke kiri, Aku ke kanan dia pun ikut ke kanan. Aku berhenti sejenak, senyumku yang tadi kupaksakan hilang, mataku tiba-tiba menjadi mode tempur.


"Aku mau lewat, bisa kamu minggir." Titahku.


"Aku ingin bicara denganmu." Sahut Ian.


"Bicara apa? Sekarang saja, Aku sangat sibuk."


Ian menarik tanganku, dan melangkah pergi. Ian menuju ke taman sembari menyeretku dengan tergesa-gesa.


Saat tiba di taman, Ian mendudukkan ku di bangku taman, sementara dia berdiri didepanku tiba-tiba duduk dihadapanku. Posisinya seperti orang yang akan melakukan sungkeman.


Ian menarik tanganku, dan menggenggamnya dengan lembut.


"Maafkan Aku Chia." Tutur Ian.


Aku hanya diam dan menatapnya dengan tajam.


"Yah, Aku sadar Aku salah. Bisakah kamu memberikan Aku kesempatan lagi?" Ujar Ian.


Aku masih diam dan terus mengamatinya memohon kepadaku.


"Aku akui benar akui Aku salah, sangat salah. Tetapi, Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya ingin membuatmu cemburu, tetapi semua perkiraanku meleset. Karena itu, kita jadi seperti ini. Aku sangat menyesal, bisakah kita kembali seperti dulu." Tutur Ian.


Aku menarik tanganku, dan menepis tangan Ian. Aku mencoba untuk tersenyum senatural mungkin.


"Sebenarnya Akulah yang salah, dengan ketidaksadaranku dan kepekaanku membuat mu melakukan semua itu, Aku minta maaf. Namun, dalam kamus hidupku tidak ada namanya kesempatan kedua atau pun berikutnya. Karena itu, menyerahlah Aku tidak akan kembali denganmu. Aku cukup dengan berteman seperti awal kita tidak akrab."


"Chi..." Panggil Ian dengan wajah melas.


Ian menatapku dengan sendu, matanya berkaca-kaca.


"Aku sangat menyesal, cara yang Aku gunakan benar-benar telah menghancurkan hubungan yang sudah sangat susah Aku bangun bersamamu." Ucap Ian.


"Seharusnya, kamu tahu bahwa Aku benar-benar hancur dibuat olehmu." Sahut Chia.


"Aku minta maaf." Ucap Ian, kali ini air mata Ian menetes dihadapanku.


Aku memalingkan wajahku ketempat lain, Aku sangat tidak bisa melihat orang menangis.


Ian menyentuh tanganku lagi. Menciumnya dengan penuh kasih.


"Aku mohon berikan Aku kesempatan. Aku tidak lagi melakukan kesalahan yang sama." Ucap Ian.


Lagi-lagi Aku menarik tanganku yang digenggam oleh Ian.


"Kamu tidak perlu mengucapkan maaf berulang kali. Karena, bukan kamu saja yang salah. Aku juga salah, namun Aku benar-benar tidak bisa menerima dirimu lagi. Maaf..." Tuturku.


"Chia, Kau mohon." Pinta Ian.


"Maaf, Aku ada urusan." Ucapku yang langsung beranjak pergi meninggalkan Ian.


Aku tidak ingin mendengar maaf yang terus keluar dari mulut Kan, itu sangat menyakitkan, namun Aku juga sadar bahwa andilku yang lebih besar sehingga dia berpaling dariku. Aku pun pergi tanpa menoleh kebelakang, terus berjalan hingga Aku hilang dari pandangan Ian. Aku tidak bisa memberikan kesempatan kepada orang lain, karena gelas yang sudah pecah walaupun sudah direkatkan kembali akan tetap memiliki bekas pecah disana. Karena itu, Aku tidak ingin terluka lagi pada orang yang sama.


"Aku berharap aku dapat memberikan rasa sakitku hanya untuk sesaat sehingga kamu dapat memahami betapa kamu menyakitiku." - Mohsen El- guindy.