
Aku kembali menghubungi Amel, namun masih juga tidak direspon. Aku juga spam pesan kepada Amel, tapi pesanku juga tidak dibalas. Aku berniat kembali ke resepsionis untuk bertanya apakah dia tidak salah memberikan Aku info terkait nomor kamar.
"Brugh"
Aku mendengar suara benda jatuh sangat keras. Aku mendengar diujung koridor. Samar-samar terdengar suara seseorang yang sedang meminta pertolongan.
"To...Lo....Ong." Suara teriakan.
Aku berjalan perlahan ke kamar paling ujung. Apakah Aku salah dengar? Pasalnya, suara itu sangat keras. Namun, tidak ada orang dikoridor ini yang keluar. Apakah orang-orangnya sedang keluar atau tidur.
"To...Lo...Ng hmm..." Jeritan itu terdengar lagi dengan nada yang sedikit aneh.
Aku mencari asal suara itu, hingga tiba diujung koridor. Aku yakin suara itu berasal dari kamar ini. Aku mengecek nomor kamarnya, namun tidak ada nomor yang tertera di depan pintu.
Aku bergeser ke kamar sebelumnya, ada yang aneh. Kenapa setelah nomor 112 menjadi 114. Aku berbalik mengecek kamar yang berhadapan yang menulis angka 115. Aku kembali ke kamar yang tidak memiliki nomor kamar, lalu kamar ini nomor berapa. Apakah, pihak hotel melakukan kesalahan.
Aku masih berdiri lama didepan pintu kamar, tanganku yang iseng menggenggam ganggang pintu, tanganku yang sedikit menekan ganggang pintu membuat pintu sedikit terbuka. Aku terkejut lalu melepaskan tanganku.
"Kenapa tidak terkunci? Bagaimana bisa orang seceroboh ini tidak mengunci pintu?" Ucapku dalam benak.
Aku pun kembali menutup pintu perlahan, dan memutar badan untuk turun kebawa. Namun, Aku mendengar suara yang sangat familiar dari kamar yang baru saja Aku buka ini.
"Apa Aku masuk saja? Tapi, bagaimana jika pemilik kamar ini mengira Aku seorang pencuri." Ucapku dalam benak.
Aku memutarkan badan bergegas untuk pergi. Namun, Aku mendengar suara tangisan dari kamar itu. Dengan sedikit lancang dan rasa penasaran Aku pun kembali membuka pintu kamar dengan perlahan, Aku sedikit mengintip kedalam kamar itu.
Mataku terbelalak melihat orang yang ada dikamar itu, dia tidak sendiri. Ada orang lain bersamanya. Aku tahu, Aku mengenal orang itu, dia salah satu juri dalam pertandingan bela diri tingkat SMA. Aku menutup mulutku, Aku mundur secara perlahan. Tanganku gemetar, Aku menjadi linglung. Aku menahan nafasku, melirik kiri kanan. Langkahku menjadi berat, Aku pun lari meninggalkan koridor ini. Aku berlari kearah tangga, Aku menjadi panik dan tidak berani menggunakan lift.
Aku berlari tanpa berhenti hingga tiba di lantai satu, tubuhku penuh dengan keringat nafasku tersengal-sengal. Orang-orang yang melihatku pun menjadi bingung.
Aku sedikit bingung dan terus mencerna pikiranku, Aku berlari masuk di toilet dan bersembunyi disana.
Aku mengunci pintu toilet, kemudian duduk diatas closet. Aku menggenggam tanganku yang sudah basah karena berkeringat dingin. Jantungku berdegup kencang. Apa yang telah kulihat, tidak apakah Aku tidak salah lihat.
Tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku bergegas melihat ponselku dan disana tertera nama yang saat ini membuatku bimbang, apakah harus menerima atau abaikan saja. Aku memilih untuk mengabaikan namun nomor itu terus menghubungiku. Dengan berani Aku mengangkat telfon itu.
"Hallo, Chia." Ucap orang disebrang.
Aku tidak menjawab hingga berulang kali Ia menyapa.
"Chia, kau disana?" Tanyanya lagi.
"I...ya, Kak. Hallo, maaf." Jawabku.
"Chia, kamu nggak papakan? Kamu dimana?"
"A..ku, baik-baik saja."
"Chia, lagi sama Amel yah? Kakak hubungi ponselnya tapi tidak aktif. Kamu tahu dia dimana? Atau lagi sama dia?"
Aku terdiam, wajahku menjadi pucat. Tanganku gemetar, apa yang harus aku katakan.
"Chia, Hallo."
"I..iya, Kak. Maaf, Kak. Aku tidak lagi sama Amel." Jawabku gugup.
"Oh, gitu. Amel kemana yah. Emangnya Chia belum tiba dihotel yah? Kan katanya kalian mau nginap dihotel?"
"Oh, gitu. Ya udah kalau gitu, kalau kamu sudah di hotel bilangin Amel yah."
"Maaf, Kak. Sepertinya Aku tidak ke hotel Aku rasa perut sakit. Mung...mu...mungkin Amel su..dah ti..dur. Coba lagi besok untuk menghubungi dia."
"Oh, yah. Aduh, cepat sembuh yah. Jaga kesehatan dong jangan makan sembarangan, lusakan kamu mau tanding. Ya udah jangan lupa minum obat dan istirahat yah. Okey, nanti Aku hubungi Amel besok lagi."
"I...ya, maaf Kak Vino." Suaraku mulai bergetar.
"Maaf kenapa Chi? Kamu nggak papa kan? Mau kakak belikan obat trus kakak antara kerumah kamu?"
"Tidak kak, tidak apa-apa." Ucapku menahan air mataku yang sudah mulai menetes.
"Oh, ya udah. Kamu istirahat yah. Kakak tutup telponnya. Bye..." Ucap Kak Vino dengan mengakhiri percakapan kami lewat telepon.
Aku langsung mengeluarkan semua air mataku, ku tahan suaraku yang mungkin saja akan terdengar orang yang nantinya masuk ke toilet. Aku telah membohongi orang yang sangat baik kepadaku.
Aku menangis hingga air mataku sudah tidak mampu untuk diteteskan lagi. Aku menelpon adik laki-lakiku untuk menjemput diriku.
Beberapa saat kemudian adikku datang, Aku pun bergegas keluar dari toilet dan cepat untuk bertemu adikku. Setelah bertemu adikku, Aku langsung naik ke motor dan menyuruhnya untuk cepat menjalankan motornya.
Sepanjang jalan, Aku meneteskan air mata dan mengeluarkan suara tangisan yang tidak bisa kutahan lagi. Adikku hanya terdiam, dan dengan kecepatan penuh mengendarai motornya hingga tiba dirumah.
Sesampainya dirumah, keluargaku menjadi heran kenapa Aku menangis. Adikku yang diinterogasi pun mengangkat kedua bahunya menandakan dia pun tidak tahu apa yang membuatku menangis. Aku masuk ke kamarku, dan bersembunyi dibalik selimut.
Aku memikirkan apa yang aku lihat tadi. Apakah perbuatan itu atas kehendak Amel sendiri, tetapi kenapa dia meminta tolong dan terus menjerit. Ataukah dia dipaksa untuk melakukan hal seperti itu. Aku tidak bisa memikirkan hal ini lagi, Aku sangat takut. Bagaimana jika ada yang melihatku karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat. Aku pun berpikir hingga tertidur pulas hingga pagi pun tiba.
****
Aku terbangun dipagi hari dengan wajah penuh sisa-sisa air mata. Mataku yang bengkak karena terus memaksa air keluar dari sumur yang berada dimataku ini. Aku terbaring berat rasanya untuk beranjak dari kasurku. Setelah kejadian semalam, Aku sangat takut untuk keluar dari kamar ini.
Aku memeriksa ponselku, ada beberapa pesan masuk. Diantaranya pesan dari Lion yang mengatakan untuk ke hotel pagi ini untuk membahas pertandingan besok nanti.
Aku pun bergegas ke kamar mandir untuk membersihkan tubuhku.
Aku berjalan keluar dan langsung menyantap makanan yang ada dimeja makan. Keluargaku hanya memandangiku dengan tatapan penuh tanya. Namun, mereka tidak langsung bertanya kepadaku. Setelah sarapan Aku pun bergegas ke hotel.
Aku tiba dihotel, tepat di depan hotel Aku menghentikan langkahku. Entah kenapa ada perasaan takut saat ingin melangkah masuk ke dalam. Aku membalikkan badan, berniat untuk tidak masuk kedalam. Aku akan memberikan alasan untuk tidak dapat hadir dalam pertemuan. Saat Aku mau melangkah pergi, langkahku terhenti didepan orang yang menyapaku. Yah, dia pelatihku. Dia telah melihatku bagaimana Aku bisa pulang dan beralasan untuk tidak ikut dalam pertemuan.
"Chia, baru datang? Kenapa tidak masuk?" Ucap Pelatih.
"Oh, iya. Aku baru saja mau masuk kak." Jawabku dengan canggung.
Aku dan pelatih pun masuk bersama ke hotel. Ternyata, Aku orang yang sedang ditunggu karena semua sudah hadir kecuali Aku. Aku berjalan mendekati orang-orang yang sedang duduk. Aku melihat orang yang disebelah Lion. Yah, dia adalah Amel. Melihatnya mengingatkanku pada kejadian semalam yang membuatku ketakutan.
"Kenapa berhenti? Ayok bergabung dengan teman-temanmu." Ucap pelatih.
"Iya."
Aku pun duduk disalah satu kursi yang agak jauh dari Amel. Aku tidak berani menatapnya. Sementara, dia terus melihatku. Hal ini membuatku semakin gugup.
Sebelum memulai pertemuan, pelatih menanyakan keberadaanku semalam yang tidak nginap bersama Amel. Aku pun menjelaskan bahwa Aku tiba-tiba saja merasakan sakit pada perutku sehingga Aku tidak datang. Amel terus memperhatikan dengan tatapan kosongnya. Aku meremas kedua tanganku. Apa arti dari tatapannya itu.
Setelah, memberikan penjelasan terkait Aku yang tidak ada dihotel semalam. Pelatih pun mulai dengan pembahasan inti terkait pertandingan. Pelatih memberikan pencerahan, saran, tips dan juga beberapa saran kepada kami bertiga. Setelah itu, pertemuan pun selesai. Kami disuruh berlatih tanding untuk mempersiapkan diri esok nanti. Kami pun berjalan bersama ketempat latihan untuk berlatih.