
Hari ini Aku ke kampus, Aku menunggu Naina menjemputku. Setelah sarapan Aku bergegas menunggu didepan gerbang.
Saat menunggu Naina, Ian menghampiriku. Aku sangat bingung harus menampakkan ekspresi apa kepadanya.
"Kamu mau ke kampus?" Tanya Ian.
Aku hanya mengangguk tidak menatapnya, mataku fokus ke ponselku. Entah kenapa Aku sangat malas bertemu dengannya.
Dalam hatiku terus menyebut nama Naina, agar dia segera muncul. Suasana menjadi sangat canggung.
Baru saja menyebut namanya, Naina sudah datang. Aku tersenyum ke arahnya. Naina tahu apa arti senyumku itu.
"Temanku sudah datang. Aku pergi dulu." Ucapku.
Ian menoleh kearah Naina, Ian menyapa Naina namun Naina tidak menggubris sapaan Ian. Aku ingin tertawa melihat hal ini namun Aku hanya menahannya.
Naina bergegas menyalakan mesin motornya, dan kami pun pergi.
"Na, tadi Ian menyapamu loh." Ujarku.
"Oh ya? Aku tidak lihat, Sorry." Jawab Naina ketus.
Aku hanya tersenyum, sudah bukan rahasia umum. Dalam persahabatan cewek, ketika temannya disakiti maka satu geng akan membenci orang itu.
Dengan kecepatan penuh, kami pun tiba dikampus. Di prodi sudah ada Ria dan lainnya, Aku dan Naina pun bergabung. Kami harus mengantri untuk masuk ke ruang prodi untuk konsultasi KRS yang akan kami ambil di semester ini.
Setelah masing-masing dari kami berkonsultasi, kami pun nongkrong dibawah pohon. Ini merupakan tempat ternyaman bagi kami. Kami pun membahas banyak hal. Tentang liburan kami, bahkan tentang mereview kehidupan orang, segala hal kami bahas. Saat bercerita, Kay menghampiri kami.
"Chia, bisa bicara sebentar." Ucap Kay.
"Oh, iya." Jawabku.
Kay memberikan paper bag kepadaku. Aku pun menjadi bingung.
"Apa ini?" Tanyaku.
"Kamu kan yang menyuruhku membelikan sesuatu." Jawab Kay.
"Ha? Belikan apa?" Tanyaku lagi.
"Cek DM!" Suruh Kay.
"DM? Oh, iya iya Aku lupa sorry-sorry hehehe." Sahutku.
"Jiah, oh iya yang kamu cari nggak Aku beli semua. Soalnya, Aku malu jika masuk sendiri ke toko cewek."
"Nggak papa kok. Oh iya ini berapa harganya?" Tanyaku.
"Nggak usah, untuk kamu saja."
"He? Ihh, nggak ah. Berapa harganya, nggak boleh gitu."
"Udah nggak usah, anggap saja itu oleh-oleh dariku. Sama ini juga buat kamu. Kalau kamu mau ngasih teman kamu juga nggak papa."
"Benaran nih, aduh jadi nggak enak. Oh okey-okey nanti Aku bagi-bagi ke teman-temanku. Makasih yah."
"Iya, Aku pergi dulu yah."
"Oke."
Kay pun pergi Aku menatapnua hingga dia menghilang dari pandanganku. Aku pun kembali bergabung dengan teman-temanku.
"Cieee ngomongin apa tuh?" Ujar Ria.
"Nggak waktu itu Aku nitip barang, sama ini nih dia nyuruh Aku untuk bagi ke kalian." Ucapku menyodorkan tas plastik ke hadapan mereka.
Mereka pun berhamburan saling menarik tas plastik yang Aku tunjukkan.
Kay memberikan kami gantungan, dengan tulisan khas kota yang Ia kunjungi. Aku pun mengambil satu dan menggantung di tas ranselku.
Selepas kami mengurus urusan kami di kampus, kami pun menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan bersama, mencari jajanan hingga berkeliling kota seharian.
"Eh, Mall yuk. Kita ke fun station!" Ajak Ria.
"Ayok, ayok...." Sahut Naina.
Kami pun bergegas ke mall dan menuju tempat bermain di mall. Lihat betapa bahagianya teman-temanku saat masuk. Kami pun menggunakan sistem patungan untuk membeli koin agar kami dapat bermain bersama. Setelah membeli koin, kami pun berpencar mencari permainan yang kami sukai. Aku dan Aris memilih permainan tembak-tembakan.
"Lomba ayok." Ucap Aris.
"Syarat menangnya apa?" Tanyaku.
"Okey, yang kalah traktir KFC yah." Jawabku.
"Siapa takut, gas kan." Ujar Aris.
Kami pun menggesekkan kartu yang berisi koin pada mesin permainan. Setelah itu kami pun mulai bermain.
Aku fokus menembak target tembakanku. Begitu juga Aris, dengan hanya sekali menggesek koin Aku dan Aris bermain dengan imbang.
Aku fokus membidik tidak hanya itu Aku mengatur jarak tembak dan kecepatan. Kami tidak seperti orang yang sedang bermain namun seperti sedang berlatih menjadi sniper.
"Apa yang dimainkan oleh Chia dan Aris?" Tanya Ria.
"Entah, tapi sampai mengundang banyak mata sepertinya seru. Lihat yuk." Sahut Cherly.
"Ayok..." Jawab mereka kompak.
Mereka pun berjalan ke arah Aris dan Chia yang sedang ditonton banyak orang, tidak hanya remaja bahkan ada anak-anak dan juga orang dewasa yang menonton mereka berdua.
"Kakak itu keren..." Teriak Anak kecil yang melihat Aku dan Aris bermain.
Kami bermain hingga peluru kami habis. Aku dan Aris baru tersadar jika kami menjadi tontonan banyak mata.
"Bang, Kamu dapat berapa?" Tanyaku pada Aris.
"20, kamu?" Sahut Aris.
"21, yey Aku menang... Bang, jangan lupa traktir KFC."
"Kamu curang karena bermain duluan." Sahut Aris.
"Ihhh, kalah yah kalah saja nggak usah fitnah." Cicitku.
"Serah deh. Ayok main yang lain lagi." Tutur Aris.
"Okey..." Jawabku.
Aku dan Aris pun mencoba semua permainan dan saling bertaruh siapa yang menang. Tidak hanya itu yang lainnya pun juga bermain. Kami seperti menguasai arena fus station. Kami mengumpulkan banyak kupon. Sehingga membuat pegawai yang menjaga mukanya berubah masam. Karena melihat hal itu, kami pun menghentikan permainan kami. Kami menukar banyak barang dengan kupon yang telah kami dapatkan.
Setelah itu, kami pun keluar dari fun station. Tempat penutup hari ini adalah KFC, walaupun sudah banyak jajan namun kami adalah manusia dengan perut yang tidak akan pernah merasa kenyang.
Kami pun memesan makanan setelah itu kami menyantap bersama sembari bercerita banyak, yah kebiasaan buruk memang. Namun, itu sangat umum dilakukan oleh kami.
"Lalu gimana udah move on?" Tanya Anton.
"Jelas sudah dong. Eh, tapi tadi lucu deh, Aku aja sampai nahan tawa. Kan si Ian nyapa Naina, tapi Naina cuke gitu. Kasihan loh lihat muka Ian diabaikan Naina." Celetukku.
"Ih, enggak gitu. Tadi Aku nggak lihat." Sahut Naina.
"Setia kawan kan, menyakiti teman berarti menyakiti kita juga. Iya nggak?" Ujar Ria.
"Iyalah... Siapa juga yang nggak marah." Sambung Cherly.
"Tapi, nggak boleh gitu. Kan Aku yang punya masalah dengan dia, jadi cukup Aku yang membencinya kalian nggak usah ikut. Ntar kalian juga yang dosa." Tuturku.
"Aku nggak benci sama dia kok, Benar deh, tadi tuh Aku nggak lihat kalau dia nyapa Aku. Sumpahhhh." Sahut Naina.
"Tapi, jujur yah. Aku juga mungkin akan seperti Naina deh kalau lihat Ian. Bawaanya kek kesal gitu." Sambung Cherly.
"Aku tidak." Tutur Aris.
"Iyakan kalian sama-sama cowok, yah otaknya juga rada-rada sama." Sahut Ria.
"Sama apanya?" Tanya Anton.
"Sama bejatnya lah." Jawab Ria.
"Berarti Angga juga sama?" Balas Aris.
"Enggak yah... Angga beda." Jawab Ria.
"Ntar tuh si Angga juga kek Ian. Hahahah."
"Ihhh, enggak..." Jerit Ria.
Gelak tawa pun pecah karena Aris dan Anton mengejek Ria. Kami pun terus dilihat oleh orang-orang yang juga sedang makan di KFC. Namun, kami bersikap bodoh amat.
Setelah, makanan kami habis, kami pun pulang. Aku diantar pulang oleh Naina, namun teman-teman yang lain juga ikut mengantar. Setelah mereka mengantarku, mereka pamit untuk pulang.