
Setelah film usai, Chia dan Kay pun keluar bersama dari ruangan.
"Lumayan sih, tapi nggak seram-seram amat." Ucap Kay.
"Iya, biasa aja sih menurut Aku." Sahut Chia.
"Soundnya aja yang sering ngagetin sih." Ujar Kay.
"Enggak juga." Jawab Chia.
"Hmm, iya juga sih. Kamu bahkan bisa tidur nyenyak dengan soundnya yang max gitu." Ledek Kay.
"Ih, enggak yah."
"Enggak apa?"
"Enggak salah lagi."
Tiba-tiba ponsel Chia berdering, Chia pun bergegas mengangkat panggilan masuk itu.
*Percakapan lewat telpon
"Assalamualaikum, Chi."
"Wa'alaikumus salaam, iya Kak Adit bagaimana?"
"Chia udah selesai nontonnya? Kalau udah nanti teman Kakak jemput kamu yah, ngantar kamu pulang."
"Iya, Kak. Aku sudah selesai nonton. Aduh, jadi repotin deh Kak. Nggak papa Aku bisa pulang naik ojek kok."
"Nggak boleh, ini sudah larut malam. Kamu tunggu yah, teman kakak otw kesitu."
"Iy..."
Kay mengambil ponsel milik Chia, dan mulai berbicara kepada Adit.
"Nanti Aku aja yang ngantarin Chia pulang." Tukas Kay.
"Ini siapa yah?"
"Aku Kay teman sekelas Chia."
"Oh, Kay. Oke deh kalau kamu nggak keberatan ngantarin Chia sampe rumah. Terimakasih kalau gitu, pastikan dia sampai masuk rumah yah. Aku titip dia."
"Oke."
Kay pun langsung memutuskan sambungan telpon, lalu dia mengembalikan HP Chia.
"Nih." Ucap Kay mengembalikan ponsel Chia.
"Kak Adit ngomong apa?" Tanya Chia.
"Nitip kamu, pokoknya harus pastikan kamu sampai masuk kedalam rumah." Jawab Kay.
"Jadi, kamu yang mau nganter Aku pulang? Kamu yakin?" Tanya Chia.
"Iya, kenapa kamu nggak mau?"
"Mau, tapi ini udah malam banget, rumah kamu dan Aku kan berlawanan trus jauhan pula, kamu yakin nggak papa?"
"Iya, Aku ini cowok tahu. Udah ayok jalan. Kamu nggak ada mau singgah lagi ke tempat lain?"
"Enggak, ini sudah larut."
"Ya udah ayok pulang."
Chia mengikuti langkah Kay yang berjalan keluar dari gedung cinema.
"Kaki kamu sudah sembuh?" Tanya Chia.
"Iya, udah kering kok lukanya." Sahut Kay.
"Alhamdulillah." Ucap Chia lega.
Chia dan Kay berjalan menuju eskalator, karena ramai Kay menggenggam tangan Chia saat turun bersama menggunakan eskalator agar tidak terpisah dikeramaian.
Melihat Kay yang menggenggam tangannya, wajah Chia menjadi memerah namun dia bersikap biasa saja agar tidak membuat Kay risih kepadanya.
Kay terus menggenggam tangan Chia, hingga mereka keluar dari gedung dan sampai diparkiran.
"Maaf yah Aku genggam tangan kamu. Soalnya tadi tuh rame banget." Jelas Kay.
"Iya, nggak papa kok." Ucap Chia
"Ya udah naik gih."
Chia pun bergegas duduk dibelakang Kay, Kay mulai menyalakan mesin motornya dan menjauh dari gedung tempat mereka nonton tadi.
Dipertengahan jalan menuju rumah Chia, Kay menepi sebentar. Kay berjalan menghampiri gerobak yang menjajakah martabak.
"Kamu mau nggak?" Tanya Kay.
"Enggak usah, nggak papa." Ucap Chia.
"Mas, pesan martabak asinya dua, martabak manisnya tiga rasa coklat, coklat kacang, sama rasa... Bapak kamu suka rasa apa?" Kay menoleh ke arah Chia.
"Bapakku? Kacang aja. Eh, kamu mau beliin, ih nggak usah repot-repot." Sahut Chia.
"Sama Kacang, Mas." Ucap Kay kepada penjual martabak.
"Ih, Aku ngga usah tahu." Tukas Chia.
"Siapa yang belikan buat kamu?"
"Oh, bukan yah."
"Iya, itu untuk orang tuamu."
"Ih, sama aja. Nggak usah ih dibilangin juga."
"Suka-suka Aku lah."
"Ih...."
Mereka pun menunggu sementara pesanan mereka dibuat. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
"Yah, gimana nih pulangnya? Kamu bawa mantel nggak?" Tanya Chia.
"Nggak tahu yah, ntar aku cek dulu deh." Tukas Kay.
Kay pun berjalan mendekati motornya, dia membuka jok motornya dan memeriksa jok motornya. Setelah, melihat isi jok motornya. Kay berjalan kearah Chia sembari menenteng mantel ditangannya.
"Ada yah?"
"Iya, tapi ini mantel kayak pakaian gitu."
"Oh, iya nggak papa yang penting ada. Kamu pake aja, rumahmu kan jauh."
"Mana bisa begitu, trus kamu gimana?"
"Nggak papa, kan rumahku udah dekat. Pulang langsung Aku berendam di air hangat."
"Nggak boleh, nih kamu aja yang pakai mantelnya."
"Ih, kamu aja yang pakai. Kamu kan nganterin Aku lagi trus balik kerumahmu. Nanti kamu bisa basah kuyup tahu, kalau kamu sakit gimana?"
"Kamu aja yang pakai."
"Ehemmm... Mas ini pesanannya udah jadi." Suara Kang Martabak mengalihkan perdebatan antara Chia dan Kay.
"Mbak dan Masnya kalau mau bucin jangan didepan Aku yang jomblo dong, kan Aku jadi sedih." Canda Kang Martabak.
"Oh, gitu yah. Makanya cari pacar bang biar nggak jones gitu hahaha..." Balas canda Kay.
"Daripada berantem, mending berteduh aja dulu disini. Nunggu hujannya agak redah baru jalan kan." Ucap Mas Penjual.
Kay dan Chia pun mengangguk, mereka numpang berteduh sejenak.
Beberapa menit berlalu, hujan sudah mulai reda dengan perlahan. Kay melepaskan jaket yang dikenakannya.
"Nih, kamu pakai jaket Aku." Ucap Kay.
"Aku nggak kedinginan kok." Tukas Chia.
"Pakai aja, jaketku anti air kok. Kan kamu nggak mau pakai mantelnya."
Chia pun mengambil jaket yang disodorkan oleh Kay, setelahnya memakai jaket ketubuhnya.
Tubuh Chia yang kecil membuat jaket Kay begitu terlihat kebesaran saat ia mengenakan jaket itu. Kay yang melihatnya pun terkekeh melihat Chia dibalut jaket miliknya.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu?"
"Enggak papa kok, jangan lupa pake topinya juga trus kancingnya sampai keatas." Ucap Kay yang menjahili Chia.
"Ih, Kay...." Jerit Chia.
"Hahahaha....." Tawa Kay pecah.
Setelah puas menertawakan Chia, Kay pun mulai menyalakan mesin motornya. Chia dengan sigap duduk dikursi penumpang dengan anteng.
"Udah?" Tanya Kay.
"Iya." Jawab Chia.
Mereka pun meninggalkan tempat mereka berteduh itu.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai dirumah Chia. Chia bergegas turun dari motor. Kay juga ikut turun dan mengantar Chia sampai didepan pintu.
"Nih, martabak buat orang tua kamu." Ucap Kay.
"Makasih." Jawab Chia mengambil kresek yang berisi martabak.
"Kamu masuk gih." Pinta Kay.
"Nggak papa, Aku nunggu kamu jalan dulu baru Aku masuk." Tukas Chia.
"Udah, kamu masuk aja. Aku sudah janji nganterin kamu sampai kamu masuk ke rumah." Timpal Kay.
"Oke, deh. Aku masuk dulu yah. Byeeeee..." Ucap Chia.
Chia pun melangkah masuk dalam rumahnya.
"Chia..." Panggil Kay.
"Iya." Chia berbalik.
"Besok kamu mau kemana?"
"Besok? Uhm, sepertinya mau nganter Kak Adit ke bandara deh." Ucap Chia.
"Setelah itu, kemana lagi?"
"Pulang."
"Aku mau penuhi janjiku."
"Janji apa?"
"Waktu pertandingan basket, Aku pernah bilang mau traktir kamu kan kalau kamu menang. Jadi, Aku mau penuhi janji itu." Terang Kay.
"Boleh."
"Besok yah, oh iya mau Aku temani buat nganter Kak Adit nggak?"
"Boleh sih, asal kamu nggak keberatan aja."
"Enggak sama sekali, yaudah besok yah. Aku balik dulu. Assalamualaikum." Ucap Kay.
Kay pun berjalan ke motornya dan mulai meninggalkan rumah Chia.
Setelah memastikan, sudah benar-benar pergi. Chia pun langsung masuk ke rumah. Dengan wajah berseri dan senyum yang terukir di wajahnya. Hari ini seperti mimpi baginya, dia pun mencubit lengannya memastikan bahwa memang dia tidak sedang bermimpi.
"Ya Allah bukan mimpi, awahahahah..." Jerit Chia girang.
"Kamu kenapa teriak-teriak seperti itu?" Ucap Ibu Chia.
"Enggak kenapa-kenapa kok. Oh, iya Bu. Ini martabak buat Ibu dan Ayah. Dari calon anak mantu Ibu dan Ayah. Hahahaha....." Ucap Chia disambut tawa.
Setelah memberikan martabak kepada Ibunya, Chia pun bergegas masuk kekamarnya.