
Mudah saja mengatakan namun untuk bertindak itu sangat sulit. Aku masih tidak bisa bersikap biasa kepada Ian. Apalagi kami sering bertemu karena kami tinggal bersebelahan. Kami harus menjalankan peraturan rukun antar warga.
Namun, saat melihatnya Aku sangat ingin sekali memukulnya, menjambak rambutnya dan menampar wajahnya. Tapi, ingat tetangga harus hidup rukun. Menahan kesal itu sangat menyiksa bagiku.
Jika kami berpapasan Aku mengabaikan daun dan terlihat acuh. Walaupun, dia bersikap seperti biasa dan tersenyum saat melihatku.
Saat melihat dia tersenyum Aku sangat ingin memakinya. Tapi, Aku sudah berjanji dengan Ibunya untuk tidak saling membenci.
Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku ingin pergi jauh untuk melupakan semua sakit hatiku ini.
Ibuku pun menyarankan untuk keluar kota. Ibu memilihkn tempat yang harus kutujui. Di kota M, disana banyak keluarga Ibu yang bisa Aku kunjungi sekaligus bisa berlibur.
Aktivitas perkuliahan sudah berakhir, beda dengan anak sekolahan yang liburnya hanya hitungan Minggu. Kami anak kuliah diberikan libur dua bulan lamanya. Kesempatan ini sangat bagus bagiku untuk menghilangkan sesuatu yang mengganjal dihatiku.
Ini keberangkatanku yang pertama terlebih lagi Aku sendiri. Aku menggunakan jalur laut, agar Aku bisa mengunjungi banyak tempat dan menikmati lautan.
Semua tiket dan perlengkapan Ibu dan Kak Ita yang siapakan. Aku hanya perlu menyiapkan diriku sendiri. Di tiket kapal akan datang jam 5 pagi. Karena itu, setelah solat subuh Aku harus bergegas ke pelabuhan.
Sesuatu yang tidak bisa disangkal adalah yang mengantarku kepelabuhan adalan Ian. Orang yang membuatku harus memutuskan pergi jauh untuk move on. Semua ini Ibu yang atur. Ian pun tidak menolak dan dengan senang hati menerima permintaan Ibu.
Kapal sudah tiba selepas solat Aku pun bersiap untuk berangkat. Ian mengangkat barang-barangku dan memasukkannya ke bagasi mobil.
Sepanjang jalan, kami tidak bersuara sama sekali. Aku juga malas mengobrol dengan. Entah kenapa saat didekatnya Aku merasa kesal dan mohon maaf kalau kasar aku juga merasa 'jijik'. Inikah yang disebut cinta jadi benci.
"Kamu ke kota M, ngapain? Kok nggak ngajak Aku?" Tanya Ian yang mencoba menghentikan keheningan ini
"Liburan. Tidak perlu, Aku suka berpergian sendiri." Jawabku judes
"Hmm..." Ucap Ian
Setelah itu, suasana kembali hening. Hingga kami masuk ke pelabuhan. Jadwal keberangkatan kapal di negara ini memang sangat 'karet' alias tidak sesuai dengan jadwal.
Jalur transportasi laut memang sangat padat. Banyak orang yang berkerumunan. Aku tiba-tiba sangat takut untuk naik keatas kapal. Jika Aku naik maka Aku akan berdesak-desakan dan membuatku terjepit.
Melihat wajahku yang tiba-tiba pucat pun Ian menarik tanganku.
"Kamu pegang baju saja. Ikuti Aku." Ucap Ian
Dia mengangkat semua barang-barangku dan Aku hanya mengikuti langkah kakinya dari bawah hingga naik ke atas kapal.
Kebutuhan ada orang yang disebelah seatnya kosong. Dan usut punya usut orang itu adalah keluarga teman sekelasku di kampus. Aku pun menjadi senang karena ada orang yang Aku kenal diatas kapal. Awalnya, Aku tidak ingin menempati seat tersebut karena sama saja Aku mencuri hak orang lain. Tetapi, orang-orang diatas kapal mengatakan tidak apa kalau tidak ada yang menempati lagipula tempatku juga sudah direbut.
Kapal belum juga jalan, Ian pun masih menemaniku. Aku ingin menyuruhnya lekas pergi tetapi melihatnya yang tadi mengantarkan ku ke atas hingga tiba dengan mulus. Aku pun membiarkan dia menemaniku.
"Tadi kamu sudah makan?" Tanya Ian kepadaku
"Belum." Jawabku
Ian pun membelikanku makanan pada pedagang keliling dan menyuruhku untuk makan. Agar aku tidak lemas sepanjang perjalanan.
"Makan dulu. Sepertinya kamu semakin kurus." Ucap Ian
"Karena siapa Aku bisa menjadi sekurus ini." Sahutku dalam benak.
Pengumuman kapal akan lepas landas pun berbunyi Ian pun bergegas untuk pergi. Namun, sebelum pergi dia memberikan tangannya, dia memintaku menjabat tangannya. Aku menoleh dan melihat wajahny yang tersenyum. Aku pun menjabat tangannya. Sebelum pergi, Ian sempat mengatakan bahwa dia ingin kembali kepadaku
Namun, Aku tidak menjawabnya. Dia pun langsung turun karena kapal sudah benar-benar akan berangkat.
Aku hampir saja takluk akan dirinya namun Aku menepisnya lagi. Dia sudah menghancurkan kepercayaanku bagaimana bisa dia meminta kembali semudah itu. Dasar pria breng**k ucapku.
Kapal sudah berjalan. Rencana awal Aku ingin berjalan keliling kapal. Dan melihat lautan namun tidak sangka Aku mabuk laut. Kepalaku pusing, akhirnya aku hany bisa terbaring ditas tempat tidurku.
Perjalanan dari kotaku ke kota M membutuhkan waktu 8 jam. Aku berangkat jam 7 pagi dan akan tiba di kota M jam 4 sore. Selama 8 jam itu aku hanya bisa tidur dan berusaha untuk mengatasi mabukku.
Rencana menikmati keindahan perjalanan laut pupus sudah tubuhku tidak mau mentolerir mabukku. Setelah 8 jam berlayar diatas kapal. Akhirnya, kapal pun sandar di pelabuhan kota M.
Saat naik dikapal Aku ditemani oleh Ian sekarang Aku harus turun sendiri. Perasaanku menjadi panik. Bagaimana mana ini pikirku. Namun, Aku dibantu oleh kenalan temanku. Dia menyuruhku untuk mengikutinha dari belakang. Setelah, menghadapi ratusan manusia yang saling berdesak akhirnya aku pun tiba dibawa dengan selamat. Aku mengucapkan terimakasih kepada kenalan tersebut setelah itu aku berdiri untuk menunggu jemputan.
Aku tidak tahu siapa yang akan menjemputku karena Aku tidak mengenal keluarga Ibuku. Tetapi, mungkin dia akan mengenal diriku karena Ibu sudah mengirimkan fotoku padanya. Saat menunggu aku dijemput, aku pun disamperin sama orang yang tidak lain adalah teman kampusku yang kenalannya tadi membantuku dan menemaniku diatas kapal.
Dia datang menemuiku setelah dia diberitahu keluarganya bahwa Aku ada di kota M. Kami tidak terlalu dekat dikampus, namun setiap berjumpa aku menyapanya. Dia sering satu kelompok tugas kuliah dengan Naina sehingga Aku juga sering membantu mereka.
Dia pun menemaniku dan berbincang denganku. Tiba-tiba ada yang mengampiriku pria dewasa yang menyebutkan namaku. Dia adalah orang yang menjemputku. Aku pun berpamitan sama temanku dan mengikuti jemputanku itu pulang.
Aku datang kota M, semoga kita ini bisa membantuku untuk menghilangkan gundah gulana ku dan Aku bisa kembali pulih seperti semula. Semoga Aku bisa melupakan Ian sepenuhnya dan Aku juga bisa memaafkannya.