I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 7



Kami tiba di desa x. Tugas kami adalah mewawancarai beberapa petani dan peternak ikan. Juga pemilik kebun buah yang ada di desa x tersebut. Kami mengumpulkan data-data dari hasil wawancara tersebut untuk dimasukan ke website kami. Kebetulan tema website kami tentang pertanian, perkebunan dan perikanan. Website ini merupakan proyek berkelompok yang mana nilainya akan dijadikan nilai ujian semester akhir.


Kami sudah membagikan tugas masing-masing. Untuk di jalur 1, Naina yang akan mewawancarai peternak ikan mujair. Di jalur 2 Cherly dan Via akan mewawancarai petani padi, dijalur 3 Sari yang bertugas mewawancarai petani kebun buah naga, dan dijalur 4 Yeni dan Ria bertanggungjawab mewawancarai peternak ikan lele.


Aku hanya mengatur dan berkoordinasi dengan para petani dan peternak tersebut agar dapat meluangkan waktunya untuk diwawancara.


Tentu saja tugasku tidak hanya itu. Karena Akulah yang nanti akan merekap data dan memasukan pada codingan website nanti. Tentu saja aku bagian programmernya.


Pembagian tugas berdasarkan pilihan masing-masing. Tentu saja Aku tidak memilih untuk bagian program dan laporan. Tetapi, diantara kami. Akulah yang lebih bisa dalam hal merincikan data dan melakukan aktifitas conding. Tidak bermaksud sombong tetapi, Aku satu-satunya wanita di program studi Kami yang bisa seimbang dengan para pria jenius coding seperti Angga, Sandi dan Andi.


Sebab itulah, Aku yang ditugaskan untuk merekap data dan menampilkan pada website.


Setelah beberapa jalur kami singgahi, akhirnya kami tiba di akhir jalur yakni jalur 4. Giliran Yeni dan Ria menjalankan tugasnya. Sementara, yang lainnya sibuk mengabadikan momen healing mereka.


"Kami nggak capek? Istirahat dulu, sini duduk."Pinta Ian


"Capek sih, tapi Aku lihat Yeni dan Ria dulu takutnya mereka butuh bantuan."jawabku


"Kalau gitu minum dulu ntar kamu dehidrasi loh."ujar Ian


"Okey."


Aku pun duduk dan meneguk air yang diberikan Ian kepadaku.


Dari kejauhan para gosipper atau tukang gosip sedang berkumpul dan melirik kearahku. Yah, Aku tahu mereka sedang membicarakan diriku tapi aku tidak ambil pusing.


"Ah, tunangannya Chia sweet banget loh."ungkap Sari


"Iya, tadi pas gerimis langsung dipayungin pake jaket dia segala. Ah, sweet banget. Nggak kayak si Gani tuh kebanyakan ngerocos doang."sambung Via agak kesal


"Eh, tapi Chia beda banget kalau sama tunangannya. Dia kelihatan kalem yah. Biasanya dia kek singa kelaparan galaknya minta ampun. Wajahnya jutek, orang yang mau dekat saja langsung kabur duluan. Eh, kalau sama tunangannya beda banget."


"Na, kapan Chia tunangannya kok nggak ada infonya. Tahu-tahu dah tunangan aja. Eh, besok tiba-tiba udah nikah lagi."sambung Cherly


"2 bulan yang lalu sih. Aku juga kaget, pas dia foto cincin pertunangan mereka."jawab Naina


"Ah, lalu kapan mereka akan menikah."


"Sepertinya setelah wisuda."


"Ihhh, soswiet. Pas wisuda langsung dilamar."


"Apa yang dilamar?"ucapku tiba-tiba muncul dibelakang mereka.


"Astaga, Chiaaaa. Aku kaget."Ujar Via


"Daripada kalian ngumpul disini, mending bantuin Yeni dan Ria sana."


"Iya, iya... Isss, gak adil banget sama kita kejamnya minta ampun."keluh Sari


Kami pun bergegas membantu Yeni dan Ria. Sesi wawancara pun usai. Kami diberikan kesempatan untuk berkeliling disekitar tambak ikan.


Tentu saja kami mengambil banyak gambar.


Sebelum pulang kami foto bersama dengan pemilik tambak ikan. Setelah itu kami pamit pulang.


Kami pun singgah dirumah makan, untuk mengisi tenaga sejenak.


Semua sudah duduk ditempat masing-masing. Aku pun memilih tempat dudukku. Tiba-tiba Kay duduk disampaingku. Yah, karena semua tempat sudah penuh. Tempat yang kami singgahi memang hanya warung kecil. Jadinya Aku dan Kay duduk bersama.


"Kamu mau minum apa? Biar sekalian Aku ambilkan."ucap Kay yang berdiri dari bangkunya.


"Aku Aqua saja."jawabku


"Okey."jawabnya


Setelah mengambil minuman, Kay kembali dan duduk disampaingku. Kami berdua pun makan tanpa ada pembicaraan.


Namun, sejak tadi suara batuk tanpa henti terdengar. Seperti orang yang terserang penyakit mematikan.


Aku pun menoleh kesumber suara tersebut. Sandi yang terus mengeluarkan suara batuk.


"Mungkin makanannya kepedasan."jawab Kay


"Hmmm..."anggukku sekali memalingkan wajah kearahnya lagi.


Aku pun mengambil botol minumanku. Kay pun bergegas membantuku membuka penutup minumanku.


"Kay..."teriak Yeni kepada Kay


Aku dan Kay menoleh kearah Yeni.


Tampak Yeni, Bian, Via, Gani, Sandi dan Sari satu meja yang sama. Sementara, Naina, Anton dan Cherly di belakang mereka. Ria dan Angga pun dimeja yang berlawanan dengan arah Aku dan Kay.


"Kenapa?"jawab Kay


Aku pun juga ikut menoleh sekian detik, namun berbalik lagi menyantap makanan.


Entah apa yang mereka bicarakan dengan Kay. Hanya dengan tatapan dan lirikan. Kay pun berdiri dan bergabung dengan Naina, Cherly, dan Anton.


Perpindahan sekejap itu membuatku kembali menoleh dan bertanya-tanya. Apa yang mereka lakukan.


"Chi, kau melupakan seseorang?"tanya Anton kepadaku.


"Melupakan seseorang? Siapa?"tanyaku dengan wajah kebingungan.


"Sudah selesai makannya?"tiba-tiba Ian datang menghampiri Aku.


"Belum, kamu sudah makan."tanyaku balik


"Sudah."jawabnya singkat


"Kapan, kok aku nggak lihat."


"Kamu nggak bisa lihat karena kamu nggak duduk bareng Aku."jawabnya sedikit tersenyum walaupun menurutku agak sedikit aneh senyumnya.


Tiba-tiba suara tersedak terdengar, asalnya dari arah meja Naina. Itu suara Kay, mungkin kepedasan.


Semuanya juga tiba-tiba memalingkan wajah mereka. Sepertinya ada yang salah dari ucapan Ian. Kami pun melanjutkan makan kami. Hingga selesai.


Kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Dalam perjalanan terasa hening, Aku dan Ian tidak bersuara sedikit pun. Sementara, teman-temanku dibelakang seperti orang kesetanan sangat ribut. Jalanan didesa begitu sepi jadi, sepanjang perjalanan kami seperti pemilik jalan.


Ian mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Aku yang diboncenginya pun seperti akan terbang. Yah, mungkin karena hari mulai gelap. Kami pun lebih dulu tiba dikota. Ian buru-buru mengantarku pulang karena dia ada urusan lagi.


Sesampainya, dirumah Aku bergegas bersih-bersih. Setelah itu menghubungi teman-temanku memastikan mereka tiba dirumah dengan selamat.


Obrolan chat group pun mulai rame, mereka mengabari kalau sudah tiba dirumah dengan selamat. Mereka pun melanjutkan aktivitas pergosipan mereka. Terkadang aku pun ikut nimbrung.


"Chi, kamu tuh yah...."cerca Yeni


"Aku kenapa?"jawabku kebingungan


"Iya, Chia. Padahal, tadi kamu beda banget. Kalem, sweet gitu."sambung Sari


"Hah?"


"Ternyata masih sama, nggak peka."lanjut Yeni


"Aku no comment yah."sahut Naina


"Kalian bahas apa sih?"aku semakin dibuat bingung.


"Kamu tuh yah, padahal ada tunangan. Masa makannya berdua sama Kay. Kasihan loh tunanganmu lihatin dari jauh."Cerca Sari


"Hah? Kan cuman makan doang. Nggak ngapa-ngapain. Ian juga nggak marah."jawabku


"Hadeh, terserah lu dah."ucap Ria


"Dahlah, daripada bahas yang tidak penting. Kumpulkan data yang sudah kalian dapatkan, buat laporannya. Ntar Aku yang rekap."Ujarku sekalian menutup obrolan.


Perjalanan jauh membuat badan lelah, dan pastinya diserang kantuk yang berat. Aku pun tertidur