I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 27



Sudah 30 menit kami berkeliling, seperempat kebun sudah kami jelajahi rasanya penat juga. Kenapa Aku baru sadar kalau Aku memiliki Kakek yang begitu kaya. Kira-kira Kakek mau nggak yah Aku minta sebagian buah-buahannya ini untuk Aku bawa pulang ke kotaku. Kalau nggak mau Aku beli saja deh. Masing-masing 2 kantong gede deh.


Kami pun beristirahat dipondok, lumayan kebun ini menguras tenaga kami.


"Kakek punya buah apa saja? Rasanya sehari tidak cukup untuk menjangkau semua pohon buah ini." Ucapku


"Kakek ada pohon rambutan, durian, mangga, jambu air, jambu biji, jeruk, jeruk Bali, buah naga, pepaya, kelapa, matoa, sirsak, nangka, ada juga sukun, pisang dan masih banyak lagi." Jawab Zaid


"Wah, Aku dengarnya saja sampai no word-word loh. Buahnya dijual atau ditanam gitu saja?"


"Kadang dijual kalau lagi berbuah banyak, kadang juga dimakan atau dibagi-bagi ke tetangga. Yah, namanya orang tua zaman dulu kn suka berkebun."


"Iya, kamu benar. Eh, boleh Aku jalan lihat-lihat lagi nggak?"


"Iya jalan saja."


Aku pun kembali menjelajahi kebun Kakek, Aku mencari buah yang sedang berbuah lebat. Pasalnya, ini belum masuk musim buah sehingga banyak yang buahnya masih kecil atau masih dalam masa pertumbuhan.


Aku berjalan dikebun tempat buah jeruk berada, karena kali ini buah jeruk banyak yang sudah matang.


Orange dan hijau itulah warna yang sedang menghiasi kedua retina mataku. Perasaan seperti berada di California karena warna buah jeruk ya sangat kuning, seperti jeruk California yang ada di iklan tv. Sangat memanjakan mata.


"Kamu mau?" Tanya Zaid


"Iya." Jawabku tanpa menoleh ke Zaid, karena Aku fokus memandangi buah jeruk-jeruk itu. Rasanya air liurku ingin menetes.


"Sabar yah, Aku ambilkan." Ucap Zaid


"Ih, nggak usah. Aku bisa ambil sendiri." Ucapku mencegat Zaid


"Nggak papa kok, lagian pohon jeruk berduri nanti kamu luka lagi." Sahut Zaid


"Aduh, Aku nggak suka merepotkan orang. Nggak usah deh, Aku bisa ambil sendiri." Cicitku yang kemudian bergegas mendekati pohon.


Zaid pun menarik kerah belakang bajuku. Aku yang sudah ancang-ancang melompat untuk mengambil buah jeruk itu pun tertarik kebelakang.


"Ngapain?" Tanya Zaid


"Mau ambil jeruklah." Jawabku


"Yang itu asem tahu."


"Oh yah? Nggak papa, Aku suka yang asam-asam." Ucapku yang kemudian kembali meloncat-loncat untuk mengambil buah jeruk tersebut.


Aku yang menolak dibantu Zaid. Oleh karena itu, Zaid hanya melihatku melompat-lompat berusaha untuk mengambil jeruk.


"Jeruknya terlalu tinggi nih, melompat pun tidak bisa menjangkau jeruk itu. Aku jago memanjat tapi pohon jeruknya berduri dan batang pohonnya pun kecil ntar malah Aku ambruk lagi, gimana yah ambilnya." Pikirku dalam benak


Aku pun menoleh dan melihat sebatang kayu yang lumayan panjang, Aku pun berlari mengambil kayu tersebut. Dan kemudian menjolok-jolok buah jeruk tersebut agar jatuh ketanah. Walaupun sudah berusaha memakai kayu dibarengi lompat-melompat buah jeruk itu bahkan tidak tergerak sedikit pun untuk jatuh.


Zaid yang melihat tingkahku itu terkekeh dan terus menahan tawanya.


Aku menoleh ke arah Zaid, menahan rasa malu. Tapi, Aku tidak bisa meminta pertolongan orang, Aku tidak terbiasa meminta bantuan orang bahkan dalam kesulitan apapun. Bagiku meminta bantuan orang itu dapat menjatuhkan harga diriku.


Aku masih dengan gaya loncat-loncatan masih berjuang untuk mendapatkan jeruk itu. Hingga saat Aku salah berpijak, membuat keseimbanganku runtuh. Aku pun tersungkur jatuh.


Zaid pun berlari kearahku. Berbeda jika Faris yang melihatku dalam kesulitan. Jika Faris melihat ku jatuh dia akan tertawa terlebih dahulu mengambil banyak gambar dan video setelah itu baru menolong. Tetapi, Zaid berlari dengan wajah paniknya.


"Kamu nggak papakan? Yang mana yang sakit?" Tanya Zaid dengan wajah khawatirnya.


"Ah, nggak papa kok. Terkilir sedikit, tadi kayak Aku salah injak deh makanya jatuh." Jawabku


Sakit sih emang tidak, malu pas jatuhnya itu loh. Wah, mana dilihatin sama Zaid lagi. Untung Zaid nggak kayak Faris. Zaid sangat khawatir mungkin karena Kakek sudah berpesan kepadanya untuk menjaga kami saat dikebun.


"Kamu duduk panjangin kaki saja dulu." Ucap Zaid


Zaid kemudian berdiri dan memetik buah jeruk yang sedari tadi ingin Aku petik. Zaid memiliki postur tubuh yang tinggi, Jadi, mudah bagi dia untuk mendapatkan jeruk itu. Lalu, dia kembali berjongkok disampingku.


"Ini jeruknya, meminta tolong terkadang tidak merepotkan kok. Orang yang diminta tolong pun juga senang, artinya keberadaan orang itu dibutuhkan." Ucap Zaid kemudian memberikan ku jeruk yang baru saja dia petik.


"Aku bisa kok ambil sendiri cuman pohonnya ketinggian. Aku juga agak kurang tinggi gitu." Sahutku yang masih mempertahankan harga diri.


Zaid hanya menatapku tanpa berkata apa-apa.


"Benar loh, Aku tuh tinggi sebenarnya. Cuman yah gitu..." Lanjutku yang mencoba menjelaskan sesuatu yang tidak penting padahal Zaid tidak berkata apa-apa tetapi Aku berpikir bahwa Zaid mungkin ingin mengatakan Aku pendek.


Aku terus mengoceh dan mengatakan Aku tinggi. Zaid hanya melihatku terus beroceh sambil tersenyum.


"Iya, iya kamu tinggi kok. Pohon jeruknya juga terlalu tinggi." Ucap Zaid sembari mengelus kepalaku


"Kan Aku juga bilang apa." Tuturku saat mendengar ucapan Zaid yang mengiyakan ocehan ku.


Aku pun memberikan buah jeruk yang tadi Zaid berikan kepadaku kembali kepada Zaid.


Zaid bergegas pergi mencuci buah jeruk itu. Setelah beberapa menit Zaid kembali. Dia kemudian duduk disampingku, tanpa bersuara dia mengopek kulit jeruk itu.


"Ini makannya pelan-pelan saja."


Aku hanya mengangguk apa yang dia pintakan. Aku pun menikmati buah jeruk itu. Yah, seperti kata Zaid bahwa jeruk yang Aku pilih itu kecut rasanya. Tetapi, Aku adalah pencinta rasa kecut. Tetapi, wajah tidak bisa menutupi ekspresi saat memakan buah asam tersebut. Zaid hanya mengamatiku makan. Karena terus diamati oleh Zaid, Aku pun menoleh kearah yang berlawanan dengan wajah Zaid. Aku benar-benar tidak bisa dilihat seperti itu. Mungkin aku akan salah tingkah.


"Kak Chiaaaaa......" Teriak Bombom dan Nana


"Bombom, Nana... Kalian darimana saja?" Sahutku


"Kami dan Kak Faris nyari durian yang matang. Tapi, nggak ada sebiji pun yang masak." Ucap Nana


"Iyakan belum musim durian." Sambung Zaid


"Ihh, kak Chia makan jeruk nggak bagi-bagi. Minta dong." Ucap BomBom


"Iya, ini makan." Jawabku


"Mmm, kecut ih. Weeeee..." Ucap BomBom yang kemudian memuntahkan kembali Jeruk yang Ia makan.


Kami pun tertawa melihat tingkah Bombom.


"Kak Chia suka jeruk Bali nggak? Kalau suka ayok kita kesana tadi Kak Faris sudah metik beberapa. Aku mau makan jeruk Bali."


"Iya kakak suka kok. Ayok kita sama-sama kesana."


Aku pun dan yang lain bersiap-siap untuk berdiri. Tetapi, Aku agak perlahan karena kakiku yang terkilir tadi rasanya lumayan perih.


"Kami bisa? Pegang tanganku." Ucap Zaid


"Nggak papa kok Aku bisa." Ucapku


Kami pun berjalan, Zaid menyamakan langkah kakinya dengan langkah kakiku. Sementara, BomBom dan Nana berlari melewati kami berdua.


Sebelum kembali ke kebun jeruk Bali. Kami harus melewati semacam parit tapi juga semacam lumpur, bagaimana yah menggambarkan tempat yang akan kami lewati ini. Intinya kami berjalan diatas sebongkah papan yang lumayan sudah lapuk, dan dibawahnya ada becek atau lumpur.


Bombom dan Nana berjalan lebih dulu, kemudian disusul Zaid. Aku yang lumayan merasa sakit harus melangkah dengan perlahan.


"Sini pegang tanganku saja. Nanti kamu jatuh." Ucap Zaid


"Ih, nggak usah. Sini Aku aja yang tolong Kak Chia." Sahut BomBom yang kembali ke arahku.


"Sudah biar Nana saja." Ucap Nana yang mengikuti jejak BomBom


Bombom dan Nana memperebutkan untuk menolongku. Zaid yang melihat tingkah mereka pun melangkah mundur dan mempersilahkan mereka berdua untuk membantuku. Namun, bukannya menolong mereka malah bertengkar. Tingkah mereka memang seperti tikus dan kucing.


"Kalian berdua jangan bertengkar disitu, cepat jalan kayunya itu lapuk." Teriak Zaid


Padahal mereka tidak perlu bertingkah seperti itu, Aku pun bisa berjalan sendiri.


Mereka terus saling mendorong dan tarik-menarik. Sampai pada peristiwa memalukan terjadi. Tebak apa, yup papan lapuk yang kami pijak pun ambruk. Bagaimana tidak kayu tersebut menahan beban yang berat juga goncangan yang kuat. Sehingga, tidak mampu mempertahankan bentuk kokohnya lagi.


Kami jatuh tersungkur, Bombom dan Nana jatuh bersimbah lumpur. Sementara Aku ikut terjatuh namun tidak diatas lumpur. Karena Aku sempat menyadari kayu akan ambruk jadi perlahan Aku mundur kebelakang tetapi memang malang nasibku Aku tersandung dan jatuh juga.


Kali ini poseku sangat parah kaki dilangit kepala ditanah. Pose yang menurutku sangat memalukan dan terlebih Aku bisa gegar otak karena kepala yang duluan menubruk tanah.


Hatiku memang sembuh dari sakit, tetapi tidak bagi fisikku yang sejak pagi terluka. Badan yang ditindih BomBom, kaki yang terkilir dan sekarang kepala yang terbentur.


"Itukan gara-gara kamu. Kan sudah aku bilang biar aku saja yang bantu kak Chia." Teriak Nana mendorong BomBom


"Kamu yang salah, Aku kan duluan."


"Dasar kuda nil." Ejek Nana


"Dasar triplek rata." Ejekan balik BomBom


"Hey, berhenti bertengkarnya. Tolong Kak Chia nggak bisa bangun." Teriakku yang kesal


Zaid yang sejak tadi loading pun tersadar dan bergegas meloncat kearahku dan menolong ku.


Untuk tanah tempatku mendarat lumayan empuk dan tidak ada bongkahan batu disana. Nana dan BomBom bangkit dari tempat mereka jatuh. Mereka bermandikan lumpur. Sementara, Aku yang memegang Zaid pun berdiri sempoyongan. Malu dan sakit sudah kugandrungi sejak tadi. Walaupun, Zaid tidak menunjukkan ekspresi apapun. Aku tetap beranggapan dia sedang menertawakanku dalam hati. Lebih baik diketawa langsung didepanku daripada nanti dia menertawakanku dibelakang saat tidak ada aku. Akan lebih memalukan jika itu terjadi.


"Kalian berdua yah..." Ucapku


"Maaf Kak Chia." Ucap Nana dan BomBom


Aku yang melihat wajah penyesalan mereka pun tidak sanggup memarahi mereka. Aku pun membiarkan mereka dan melangkah melanjutkan perjalanan. Aku memegang pergelangan tangan Zaid saat berjalan. Kali ini Aku menurunkan gengsiku untuk mendapatkan bantuan darinya.