
"Brughhh"
Suara benturan yang begitu keras, saat Chia dan Kay terjatuh bersama.
"Aw....." Jerit Chia.
Kay menindih tubuh Chia, sementara tubuh Chia yang terbentur dengan lantai. Kay bergegas bangun agar memberikan ruang kepada Chia. Setelah Kay bangun, Chia pun bangun juga dan bergegas memeriksa apa Kay baik-baik saja.
"Kamu nggak papakan?" Tanya Chia memeriksa Kay.
"Ada yang sakit atau terluka? Mau ke rumah sakit?" Lanjut Chia mencari jawaban.
"Aku nggak papa." Jawab Kay.
"Oh ya? Alhamdulillah, syukurlah." Ucap Chia mengelus dadanya.
Chia mengkhawatirkan Kay, namun tidak melihat dirinya sendiri yang gemetar. Chia tiba-tiba tersadar bahwa jaraknya begitu dekat dengan Kay, bukankah Kay menyuruhnya untuk jauh darinya. Chia dengan cepat memundurkan tubuhnya dan menjauh dari Kay.
Flashback On
Chia sedang berlari menuju ruang kelas, namun saat dia menaiki tangga untuk menuju ruang kelas, dia melihat Kay yang hampir terjatuh dari tangga. Dengan cepat Chia berlari ke arah Kay, awalnya Chia hanya ingin menyangga tubuh Kay dengan tubuhnya. Namun, dia salah berpijak sehingga mereka terjatuh bersama.
Flashback Off
"Kamu jangan salah sangka, tubuhku sendiri yang merespon untuk menolong. Lagian, walaupun itu orang lain Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk menolong. Jadi, kamu tenang saja Aku akan menjaga jarak darimu." Tutur Chia.
Kay menatap Chia dengan ekspresi bingung, namun Kay mencoba untuk mendekati Chia.
"Kamu jangan banyak bicara dulu. Apakah kamu baik-baik saja. Benturan tadi sangat keras." Tanya Kay menyelidiki balik Chia.
Chia dengan cepat menghindari Kay, dia cepat-cepat berdiri dan menjauh dari Kay.
"Kalau kamu baik-baik saja Aku pergi dulu." Ucap Chia.
Kay dengan cepat menarik tangan Chia, sehingga langkah Chia terhenti. Kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Kamu yakin nggak papa?" Tanya Kay.
"Iya." Jawab Chia.
"Tapi, kenapa kamu gemetar? Ayok kita periksa, tadi bagian mana yang terbentur?" Tanya Kay menyelidiki.
"Tidak perlu." Ucap Chia menepis tangan Kay yang masih memegang tangannya.
Chia pun cepat-cepat pergi dengan menaiki tangga menuju ruang kelas.
----------------
Chia tiba dikelas dengan nafas tersengal-sengal karena dia berlari agar sampai dikelas dengan cepat. Chia sedikit menundukkan tubuhnya untuk mengatur nafasnya. Namun, saat berdiri tegak semua yang dilihatnya nampak sangat kabur. Pandangannya menjadi buram, kepalanya nyut-nyutan.
Chia menghentikan langkahnya sejenak dan masih berdiri didepan pintu masuk ruang. Mencoba untuk mengembalikan penglihatannya yang kabur itu.
Dari arah belakang Kay dan Sandi muncul, namun mereka menunggu sejenak karena Chia menghalangi pintu.
"Kamu kenapa Chi?" Tanya Sandi.
Chia pun menoleh, dengan matanya yang disipitkan agar penglihatannya sedikit tajam.
"Nggak papa." Jawab Chia.
"Nggak papa, tapi kamu mimisan loh." Ucap Sandi tiba-tiba terkejut.
Chia mengangkat kepalanya menghadap ke langit-langit ruangan agar menghentikan darah yang terus menetes.
Kepala Chia masih terasa pusing, tubuhnya masih bergetar dan kini darah menetes dari hidungnya. Saat menghadapkan wajahnya keatas membuatnya menjadi lebih pusing. Dia kembali meluruskan kepalanya, namun darah yang keluar tanpa henti.
"Kamu duduk dulu." Ucap Kay yang mencoba membantu Chia duduk.
Namun, Chia dengan cepat menepis tangan Kay. Dia sudah berjanji bahwa apapun yang terjadi dia tidak angkat mendekati Kay.
"Wajah kamu penuh darah tuh, hey ada yang punya tisu?" Teriak Sandi.
Chia terus mengelap darah yang keluar dari hidungnya, namun darahnya menjadi belepotan. Chia melihat tangannya yang penuh dengan darah, wajahnya berubah sangat puncat, tangannya semakin gemetar. Ekspresnya menunjukkan dia sangat ketakutan, tiba-tiba saja Chia jatuh tersungkur dan pingsan.
----------------
Setelah Chia pingsan, dia dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam keadaan tidak sadarkan diri. Chia diangkut menggunakan mobil salah satu dosen yaitu Pak Arga, sementara Ria dan Naina yang ikut mengantar ke rumah sakit.
Setibanya, dirumah sakit. Naina menghubungi orang tua Chia. Beberapa menit kemudian, Ayah Chia datang dengan wajah yang sangat panik.
Chia masih belum sadarkan diri. Ria dan Naina sedang ngobrol disamping tempat tidur Chia.
"Bagaimana keadaan Chia?" Tanya Ayah Chia.
"Chia masih pingsan Om." Ucap Naina.
"Kenapa dia bisa seperti ini?"
"Nggak tahu Om, dia masuk kelas trus tiba-tiba mimisan langsung pingsan." Tutur Ria.
Ayah Chia pun langsung menuju ke ruang perawat, untuk menanyakan keadaan Chia. Saat Ayah Chia sedang pergi. Chia membuka mata, dengan pelan-pelan dia mengamati keadaan sekitar. Pikirannya bercampur aduk, tempat yang saat ini dia berada adalah salah satu tempat yang sangat dia takuti.
Chia tiba-tiba menjerit histeris, membuat Naina dan Ria terkejut. Mereka dengan cepat memegang tubuh Chia dan berusaha menenangkannya. Namun, Chia masih saja histeris dan menangis. Naina dan Ria begitu bingung, sementara orang-orang melihat ke arah mereka. Pasalnya, mereka masih di IGD jadi masih satu ruangan dengan pasien lain. Ria bergegas memanggil suster.
Suster dan Ayah Chia datang bersamaan. Mereka menahan tubuh Chia, sehingga suster dapat menyuntik obat penenang. Setelah, Chia tertidur suster menjelaskan bahwa ada terjadi benturan di kepala Chia, benturan itu terjadi berkali-kali. Namun, memang benar kepala Chia sudah terbentur dua kali. Sementara, jeritannya tadi karena dia mengingat sesuatu yang begitu membuatnya trauma. Setelah menjelaskan semuanya suster pun pergi.
Ayah Chia menyuruh Naina dan Ria pulang saja, namun sebelumnya beliau mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga Chia. Selanjutnya, keluarga Chia yang akan mengurus Chia.
Setelah Chia kembali sadar, pikirannya lumayan tenang sehingga dia tidak histeris lagi. Namun, dia meminta untuk pulang saja dan tidak ingin dirawat. Dokter mengizinkan Chia pulang karena dia hanya mengalami gegar otak ringan untuk sementara ini. Namun, lebih rutin untuk memeriksa agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
----------------
"Kabarnya Chia gimana? Udah tiga hari dia ngga masuk." Tanya Cherly.
"I don't know." Jawab Ria.
"Kita jenguk sebentar gimana?" Tanya Aris.
"Kemarin Aku chat, katanya istirahat dirumah doang trus nggak usah dijenguk." Tutur Naina.
"Jenguk aja, kalau kita jenguk mungkin dia cepat sembuh." Ucap Anton.
"Nggak usah deh kayaknya, soalnya waktu kami temani dia dirumah sakit. Dia nggak hanya sakit biasa tapi juga sakit batin deh, maksudnya dia pernah trauma gitu. Makanya, kami langsung disuruh pulang sama Ayahnya." Ucap Ria.
"Trauma kenapa?" Tanya Anton.
"Nggak tahu juga, tapi sepertinya parah deh. Dia aja sampai histeris loh trus disuntik gitu pake obat penenang."Jelas Ria.
"Iya, nggak usah. Lagian pasti dia langsung masuk kuliah kalau sudah membaik. Anak seambis itu mana mungkin mau kecolongan absen." Tutur Naina.
"Iya juga." Jawab mereka kompak.