
"Okey, Aku tebus resep ini dulu trus langsung pulang deh." Ucap Chia.
Chia berjalan di koridor rumah sakit menuju apotek rumah sakit. Chia melalui jalan pintas untuk sampai di apotek yakni melewati IGD.
Langkah Chia terhenti karena didepannya ada pasien yang digotong oleh beberapa orang.
"Perasaanku saja atau orang yang baru saja lewat seperti.... Ah, tidak mungkin salah lihat." Batin Chia.
Setelah orang-orang itu lewat Chia bergegas ke apotek.
Beberapa menit setelah menunggu antrian, akhirnya Chia mendapatkan obat yang diberikan dokter untuknya. Setelah mendapatkan obat Chia keluar dari apotek itu.
Saat Chia keluar dia disamperin oleh pria paruh baya. Pria itu yang tadi menggotong seorang pasien.
"Permisi, mbak. Selamat malam." Ucap pria paruh baya.
"Iya, malam. Bagaimana, Pak?" Jawab Chia.
"Mbak yang namanya Chia yah."
"Iya, benar. Ada apa yah?"
"Teman mbak tadi mengalami kecelakaan, kami yang menolongnya dan membawanya kesini. HPnya terlempar dan terlindas oleh kendaraan karena itu layarnya retak, kami tidak bisa menghubungi keluarganya. Kebetulan tadi dia sempat melihat mbak dan mengatakan mengenal mbak." Jelas Pria paruh baya itu.
Chia berpikir sejenak, jangan-jangan pasien yang tadi lewat dihadapannya benar-benar orang yang dia kenal dan tidak salah lihat.
"Pasiennya sekarang dimana yah, Pak?"
"Ada di IGD, dia hanya mengalami luka ringan dan syukur saja dia tidak pingsan."
"Baik, Pak. Saya akan kesana untuk mengeceknya."
Chia dan pria paruh baya itu berjalan bersama ke IGD.
"Permisi, Sus. Mbak ini kenalan pasien yang kecelakaan tadi." Ucap pria baruh baya itu.
"Oh, iya mbak. Mbak siapanya yah?" Tanya Suster.
"Saya teman kampusnya, Sus." Jawabku.
"Oh, gitu. Mbak bisa bantu urus administrasinya dulu. Biar masnya kami obati dulu." Ucap Suster.
"Baik, Sus." Jawab Chia.
"Kalau gitu, Saya pamit dulu yah Mbak. Oh iya motor teman mbak sudah dibawa di kantor polisi dekat lokasi kecelakaan, barang-barangnya tadi sudah saya kasih ke masnya." Ucap pria itu.
"Oh iya, Pak. Terimakasih yah Pak." Sahut Chia.
Pria paruh baya itu pun pergi, sementara Chia masuk ke ruangan untuk meminta KTP agar dapat mengurus administrasi.
Chia berjalan sembari memiringkan kepalanya karena tidak ingin melihat suster membersihkan darah temannya itu, Chia sangat takut dengan darah.
Chia sudah berdiri disamping temannya itu yang tidak lain adalah Kay.
"KTP kamu dimana? Aku mau bantu urus administrasimu." Ucap Chia.
"Ditas." Sahut Kay.
Chia mengambil dompet didalam tas milik Kay dan memberikan kepada Kay.
"Nih..." Ucap Chia menyerahkan dompet kepada Kay.
"Kamu langsung ambil aja." Ucap Kay.
"Aku nggak mau buka dompet orang sembarangan." Tutur Chia.
"Nggak papa buka aja, Aku nggak bisa buka lihat nih tanganku." Ucap Kay.
Chia pun langsung membuka dompet milik Kay, dia mengambil KTP milik Kay.
"Kay..." Panggil Chia.
"Ehm.." Sahut Kay menoleh ke arah Chia.
"Itu... Kamu ada itu nggak?" Tanya Chia
"Itu apa?"
"Itu loh.... hmmmm BPJS?" Tanya Chia pelan.
"Nggak ada." Jawab Kay.
"Dih, orang kaya." Tutur Chia.
Suster yang sedang membersihkan luka-luka di tubuh Kay pun sedikit tertawa saat Chia mengatakan Kay orang kaya karena tidak memiliki BPJS.
Chia langsung meminta izin untuk pergi sebentar saja untuk mengurus administrasi.
...----------------...
Setelah beberapa saat, Chia kembali dengan membawa kartu pasien milik Kay. Saat Chia kembali Kay juga sudah selesai diobati.
"Mbak, temannya sudah diobati. Tidak perlu dirawat inap yah, cukup minum obat dan istirahat saja dirumah. Oh, iya lukanya jangan dulu kena air yah." Jelas Suster.
"Oh, iya sus." Sahut Chia.
"Saya buat resep obatnya dulu yah Mbak, temannya sudah bisa keluar." Ucap Suster.
Chia pun masuk ke ruangan, dia menghampiri Kay yang sudah dalam posisi duduk dan ingin turun dari tempat tidur.
"Kamu sudah boleh pulang, kata suster. Nanti kamu dikasih obat saja trus usahakan lukanya jangan dulu kena air, biar cepat kering." Jelas Chia.
Kay hanya mengangguk dengan penjelasan Chia. Kay berusaha untuk turun dari tempat tidur, namun dia terlihat begitu kesusahan karena kaki dan tangannya terluka. Namun, Chia hanya melihat Kay yang berusaha turun.
"Apakah kamu tidak melihat Aku sedang kesulitan untuk turun?" Tanya Kay.
"Iya, Aku lihat kok." Jawab Chia.
"Trus, Aku harus apa?"
"Tidak bisakah kamu menolongku?"
"Bagaimana caraku menolongmu?"
"Apakah perlu Aku jelaskan metode menolong orang? Bantu Aku untuk turun dari tempat ini." Ucap Kay.
"Aku bisa saja membantumu turun, tapi jika Aku membantumu Aku harus mendekatimu dan menyentuhmu. Sedangkan, kamu dulu meminta untuk Aku menjaga jarak dan tidak perlu peduli denganmu." Cerca Chia.
"Apakah kamu begitu perhitungan kepada seorang pasien yang sedang terluka?" Ucap Kay.
"Tidak juga, hanya saja Aku sudah berjanji untuk tidak mendekatimu lagi. Jika Aku melanggar janjiku sendiri bukankah sama saja Aku orang yang tidak memiliki pendirian pada sebuah janji." Tutur Chia.
Kay terdiam, dia benar-benar tidak bisa berdebat dengan Chia, dan lagi dia sedang terluka.
"Aku minta maaf untuk ucapanku waktu itu, Aku menarik kembali ucapanku. Sekarang bisakah kamu menolongku?"
"Tidak, bahkan jika Kamu meminta maaf Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kamu hanya terluka fisik, yang mana bisa disembuhkan. Sementara, Aku terluka batin, Kau mengatakan Aku wanita yang tidak benar dan sangat jijik kepadaku."
Kay termangu mendengar ucapan Chia, dia pun diam dan mencoba untuk turun sendiri dari kasur. Bahkan, Chia yang terlihat kejam dalam ucapannya pun tidak tega melihatnya seperti itu.
"Hufft...." Hela napas Chia.
Chia mengulurkan tangannya kepada Kay, Kay yang melihat tangan Chia dihadapannya pun menoleh ke arah Chia.
"Aku tidak memaafkanmu, hanya saja Aku tidak sejahat itu melihat orang yang sedang kesusahan." Ucap Chia.
Kay langsung memegang tangan Chia, namun masih tidak bisa berdiri karena Chia hanya memberikan satu tangan kepadanya untuk menyanggahnya berdiri. Tubuh Chia masih menjaga jarak dari Kay.
"Bisakah kamu menolong secara maksimal?" Ucap Kay.
"Ini udah Aku bantu loh, pegang tanganku aja trus berdiri dan turun." Ucap Chia.
Tangan kanan Kay terluka dia hanya bisa menggerakkan tangan kirinya, Kay menggunakan tangan kirinya menggenggam lengan Chia. Dengan kekuatan tangan kirinya dia menarik lengan Chia hingga tubuh Chia tertarik dan berhadapan langsung dengan tubuh Kay.
Chia sempat terkejut saat Kay menarik lengannya, saat ini dia hanya sejengkal dengan Kay.
"Aku minta maaf atas ucapanku yang begitu membuatmu sakit hati, namun kali ini anggap saja Aku yang melanggar ucapanku sendiri dan membiarkanmu mendekat padaku." Ucap Kay.
"Ini sangat dekat, tidak Aku harus tetap terlihat biasa saja. Jangan salting Chia. Ingat dia hanya meminta pertolonganmu tidak lebih." Batin Chia.
Kay mengalungkan tangannya di pundak Chia, bahkan Chia melotot kearah Kay karena Kay seperti memeluknya.
"Apakah harus seperti ini? Tidak bisakah kamu hanya memegang tanganku?" Tanya Chia.
"Hanya memegang tanganmu yang kurus itu mana bisa membantuku untuk turun dan keluar dari ruangan ini." Sahut Kay.
Chia pun hanya bisa patuh kepada Kay, dia membopong Kay keluar dari ruangan. Mereka mengambil resep obat yang ditulis oleh dokter kemudian keluar dari IGD, diluar mereka duduk dibangku tunggu depan IGD. Chia membantu Kay untuk duduk dikursi.
"Kamu duduk disini dulu, Aku akan menebus obat-obat ini untukmu." Ucap Chia.
Kay hanya mengangguk, Chia pun bergegas pergi ke apotek untuk menebus resep obat milik Kay.
...----------------...
Setelah mendapatkan obat, Chia kembali memberikan obat itu kepada Kay.
"Ini obatnya, trus kamu pulangnya bagaimana?" Tanya Chia.
"Bisa pinjam HP kamu hubungi keluargaku?"
"Maaf, tapi Aku tidak membawa HP."
"Jadi, kamu keluar rumah tidak membawa HP?"
"Iya, Aku jarang membawa HP."
"Kamu kan cewek, masa keluar rumah nggak bawa HP. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, bagaimana cara menghubungi kerabatmu." Oceh Kay.
"Kenapa kamu malah mengoceh padaku. Kamu bawa HP pun saat ini tidak berguna kan HPmu." Sahut Chia.
"Itu, haish. Trus kamu bawa motor?"
"Enggak, Aku naik ojek. Keluargaku ada acara dirumah kerabatku, jadi Aku tinggal bersama adik cowokku. Tapi, ini malam Minggu jadi disedang berkeliaran entah kemana."
"Naik ojek, nggak bawa HP." Ucap Kay menepuk jidatnya melihat kekonyolan Chia.
"Udah nggak usah mengurusku, kamu sekarang bagaimana?" Tanya Chia.
"Bagaimana lagi? Nggak ada HP untuk menghubungi keluargaku." Tutur Kay.
Chia dan Kay tiba-tiba diam, tidak ada percakapan lanjutan. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Chia duduk disamping Kay, terus menghela napas. Padahal, malam ini setelah pulang check up langsung menonton anime tapi malah alurnya menjadi berubah seperti ini.
"Oh, iya kamu ke rumah sakit ngapain?" Tanya Kay.
"Check up." Jawab Chia.
"Check up?"
"Nggak perlu tahu." Tukas Chia.
Kay pun tidak melanjutkan pertanyaan, dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Tangan kirinya terus memijit keningnya.
"Anu, kalau kamu pusing kamu bisa bersandar di pundakku, tapi kalau nggak mau juga nggak papa." Tutur Chia.
Kay tiba-tiba meletakkan kepalanya dipundak milik Chia.
"Hah, dia benar-benar meletakkan kepalanya dipundak ku. Astaga, mimpi apa Aku tadi." Batin Chia.
Lima menit berlalu, Kay sedikit tidur dipundak Chia. Bahkan, Chia hampir tidak bernafas dan duduk mematung, bergerak pun tidak karena takut Kay terbangun.
Chia tidak ingin Kay terbangun, dia membiarkan Kay istirahat lebih lama. Bahkan, Chia juga bersenandung pelan sebagai pengantar tidur untuk Kay.