
"Pasti kau sangat terpukul yah, melihat Amel mengenaskan seperti itu." Tutur Pelatih.
"Pasti itu, kalian berdua sangat akrab dan slalu bersama." Ucapnya.
"Kau tidak menyangka dia akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendirikan?" Lanjutnya.
"Padahal dia sangat berbakat tetapi cukup bodoh juga." Kata pelatih tersenyum sinis.
"Jika dia cukup untuk tidak ikut campur semua ini tidak akan terjadi, jika saja Aku mengabaikan dia. Aku pun tidak akan terjerat seperti ini."
Aku mendengar dengan jelas, pelatih mengakui kesalahannya. Namun, kenapa dia mengatakan kepadaku. Apa yang pelatih pikirkan. Tubuhku merinding, tanganku yang tersembunyi dibalik selimut pun gemetar hebat.
"Saat dia memberitahuku akan rencana itu, Aku sangat terkejut bahkan Aku juga ikut marah. Dia mengemis memintaku untuk membantunya menegakkan keadilan untuk kakaknya. Aku berniat membantunya, namun Aku tidak berdaya. Yang disinggung oleh Amel adalah orang-orang yang berpengaruh di kota ini."
"Aku diancam oleh mereka sehingga Aku tidak mampu untuk membantu Amel, Aku sudah memperingati Amel. Namun, dia masih saja bersikeras melawan. Karena, kebodohannya sendiri membuat orang-orang itu marah."
"Amel menyerahkan bukti rekaman ke panitia penyelenggara membuat kompetisi itu hampir dibatalkan. Namun, ketua penyelenggara ternyata disuap oleh orang-orang itu. Sehingga, pertandingan masih tetap berlanjut. Tetapi, Amel tidak bisa lepas dari mereka."
"Mereka merencanakan semuanya untuk memberikan teguran kepada Amel, bagaimana akibatnya menyinggung orang-orang itu. Mereka meminta bantuan ku, sebisa mungkin Aku menolak. Tetapi, Aku akan hancur jika tidak mendengar mereka."
"Amel, Amel merusak semuanya. Bahkan, Aku pun ikut terseret karenanya. Apanya yang menegakkan keadilan, ha? Aku meminta kalian untuk tinggal dihotel, lantai itu sudah diboking semua kamarnya. CCTV pun sengaja tidak diaktifkan karena itu salah satu dari orang-orang itu bisa memberikan pelajaran kepada Amel." Oceh pelatih.
"Padahal, dia hanya dilecehkan. Bukankah dia juga menikmatinya? Padahal tidak akan berpengaruh pada hidupnya. Dia masih bisa hidup bebas dengan merahasiakan kejadian itu. Lagi, orang-orang itu juga berkata akan memberikan apa yang dia mau agar dia dapat menutup mulutnya dengan rapat. Tapi, dia malah memilih untuk mengakhiri hidupnya, dasar gadis bodoh."
"Untung saja kau memiliki keberuntungan, Chia." Ujar pelatih yang kemudian mendekatiku dan mengusap kepalaku.
"Untung saja Kau tidak bersama Amel saat itu, jika tidak Kau juga akan mengalami hal yang sama seperti Amel." Bisiknya ditelingaku.
Buku kudukku merinding, badanku menjadi dingin.
"Yah, karena Tuhan juga tahu kamu tidak tahu apa-apa. Tetapi, kau sudah merusak keberuntunganmu sendiri. Ternyata, Kau tahu penyebabnya kematian Amel." Ucap pelatih menatapku.
Aku sangat ketakutan, bukan hanya karena ucapannya tetapi aku takut jika ponsel yang kupegang yang kusembuyikan dibalik selimut dapat diketahui olehnya. Entah Kak Vino mendengar semua ini atau tidak.
"Aku... Aku tidak tahu apa yang pelatih maksud." Sahutku.
Dalam hatiku terus menjerit meminta pertolongan, Aku harap adikku segera kembali atau tidak suster yang berjaga masuk saat ini juga. Entah karena Aku merinding saat didekati oleh pelatih atau karena hujan yang sedang turun lebat diluar sana. Aku sangat kedinginan, kedua kakiku menjadi lemas dan membeku.
"Oh, ya. Benarkah kau tidak tahu?" Tanya Pelatih.
Matanya tertuju kepada tanganku yang kuletakkan dibalik selimut. Dia pun menarik tanganku hingga tersangkat. Dia melihat ponselku yang saat ini sedang dalam mode terhubung dengan seseorang. Dia mengambil paksa ponselku. Setelahnya, menatapku dengan sangat tajam.
"Dasar gadis ja***g."Suara yang bergemah ditelingaku yang juga disambut tamparan yang sangat keras.
Pelatih menamparku hingga wajahku mengikuti arah tamparannya. Dia menarik kerah bajuku.
"Sudah kuduga, kasus ini bisa ditutup. Tetapi, karena satu dua kata dari seseorang keluarga Amel meminta kembali untuk diselidiki. Ternyata, benar kamu orangnya. Kau sama Amel sama-sama gadis nakal, jika kau tidak ikut campur Aku tidak akan seperti. Dasar gadis nakal, pak pak..." Ucap pelatih melayangkan dua kali tamparan kepadaku.
Pelatih menggunakan tenaga yang cukup untuk membunuh hewan kecil, bahkan Aku saja sampai meneteskan darah dari hidungku. Pelatih berulang kali menamparku, tangan kirinya memegang kerahku dengan kuat. Aku yang berusaha melepaskan tangannya dari kerahku pun tidak bisa.
"Kau manusia kejam yang pernah ku kenal, semoga kau mendapatkan balasan setimpal." Ucapku.
Pelatih langsung melayangkan dua tangannya dileherku, mencekek batang leherku sehingga membuatku kesulitan bernapas. Tangannya sangat erat bahkan jika Aku bisa menguasai bela dir, keadaan saat ini tidak bisa Aku menerapkan ilmuku itu. Perbedaan kekuatan membuatku harus menahan sesak akibat di cekek.
Air mataku menetes disela-sela napasku yang hampir diujung ya. Hujan yang deras menutup suaraku yang juga tidak mampu untuk berteriak. Aku hanya berharap adikku datang dan menyelamatkan Aku.
"To.....Lo......Ng, I...bbu..." Ucapku.
Brakkkk
Suara hantaman benda keras, membuat genggaman tangan pelatih lepas dari leherku. Aku pun cepat-cepat menghindar dan bergegas turun dari kasur.
Pelatih memegang kepalanya, terlihat darah ditangannya saat setelah mengusap kepalnya.
Perkelahian tidak bisa dihindari, bahkan Aku ketakutan dan hanya bisa menangis dipojokan. Aku tidak tahu, tiba-tiba saja pelatih sudah berlumuran darah dan terjatuh dilantai. Ternyata, Kak Vino menikamnya dengan pisau.
Setelah, melihat pelatih jatuh. Kak Vino berlari kearahku, tangannya penuh darah. Dia mendekapku dan mengatakan tidak masalah Aku sudah baik-baik saja. Namun, sayangnya Kak Vino teledor. Pelatih kembali menikam Kak Vino dari belakang saat Ia sedang memelukku. Darahnya mulai menetes, pelatih berkali-kali menikam Kak Vino hingga Ia terjatuh.
"Kak Vino, Kak Vino..." Jeritku yang berbalik mendekap Kak Vino.
Darahnya terus menetes, Aku memeluk Kak Vino melihat tanganku bersimbah darah. Tangisku pecah, tubuhku bergetar hebat.
"Kak Vinoooooo...... Aaaa......." Teriakku.
Mungkin orang-orang diluar sana sudah mendengar teriakanku.
"Kakak, kakak jangan tidur huhuhu...." Ucapku
Aku melepaskan pelukanku pada Kak Vino, Aku berlari keluar berteriak memanggil perawat. Aku berlari dengan pakaian penuh darah, orang-orang yang melihatku berlari kearahku. Aku meminta pertolongan Meraka menunjuk kearah kamarku.
Setelah memastikan orang-orang sudah berlari ke kamarku. Aku jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.
*****
"Kak Vinoooooo..." Jeritku saat terbangun.
"Chia, Chia kamus sudah sadar." Sahut Ibu.
Aku melihat disekelilingku, semua keluargaku berkumpul diruangan ini. Aku langsung memeluk Ibu, dan menangis dengan histeris. Ibu terus mengusap kepalaku dan menenangkan diriku. Tidak hanya keluargaku, ada beberapa orang polisi yang sedang menungguku.
Mereka ingin menginterogasi diriku. Ayahku meminta mereka untuk membiarkanku tenang sejenak baru bisa diintegrasi oleh mereka.
Ayah memberitahu kepadaku bahwa nyawa Kak Vino tidak bisa diselamatkan karena kehabisan darah, ditubuhnya ada beberapa luka tusukan. Tidak hanya itu, pelatih saat ini dalam keadaan koma, dia juga mengalami Lukas tusuk dan kepalanya ada bekas hantaman benda keras. Mendengar itu, Aku menangis, menangis hingga mataku tidak menyisakan air mata. Aku melihat kearah tanganku. Yang tadinya memandikan darah Kak Vino, kini telah bersih. Apakah Aku yang mengakibatkan semua ini.
****
Setelah tenang, Ayah mempersilahkan Pak Polisi untuk menginterogasi diriku. Aku ditanya banyak pertanyaan, dan diminta untuk menceritakan kejadian detailnya.
Akupun menceritakan semua yang Aku ketahui, mulai dari kasus kematian Amel sampai saat melihat Kak Vino yang berlumuran darah dihadapanku.
Setelah menginterogasiku, polisi pun memberitahu padaku bahwa juri yang melakukan pelecehan kepada Amel juga telah menutup usianya. Dia ditemukan tergeletak dijalan depan bar yang baru saja dikunjunginya. Kepalanya dihantam benda padat yang diperkirakan adalah batu. Dan pelakunya tidak lain adalah Kak Vino sendiri. Rupanya, dia terlebih dahulu membunuh juri itu lalu berlari kerumah sakit untuk menyelamatkanku.
Dia menikam pelatih dengan pisau buah yang ada diatas lemari rumah sakit yang ada dikamarku. Setelah memberikan kesaksianku, polisi pun pergi. Sementara Aku masih menangis dalam kesedihan.
Aku begitu terpukul dan traumaku bertambah. Diusiaku yang masih belia, Aku melihat temanku mati tidak hanya itu Kau juga menyaksikan pembunuhan yang sangat tragis dan hampir juga kehilangan nyawaku.
Aku cuti sekolah selama setahun, jiwaku begitu terguncang hingga membuatku begitu depresi. Karena itu, Aku memilih untuk tinggal dirumah tanpa bertemu siapapun. Aku bahkan takut melihat darah dan juga pisau, setiap melihat keduanya Aku akan histeris ketakutan.
Setahun itu, keluargaku mencoba untuk menyembuhkan traumaku. Setelah setahun, Aku kembali pulih perlahan.
Aku pindah sekolah tetapi dibiarkan untuk mengulang kelas. Karenanya, Aku bertemu dengan orang-orang yang satu tahun lebih muda dariku saat dikelas. Disekolah baru inilah Aku bertemu Uta. Uta adalah anak yang introvert karena itu dia tidak mudah bergaul dengan orang lain, sementara Aku trauma untuk memiliki teman. Namun, karena kami berdua sering mengasingkan diri dari keramaian, kami berdua pun menjadi dekat hingga saat ini.
Setelah kejadian yang membuatku trauma, Aku mendengar kabar bahwa pelatih menghembuskan nafas terakhir sesudah Kak Vino dimakamkan. Tidak hanya itu, pelaku-pelaku yang melakukan kecurangan dalam pertandingan bela diri juga ditangkap dan dijatuhi hukuman. Keadilan inilah yang diinginkan Amel dan juga Kak Vino. Usaha mereka untuk menghukum orang-orang curang ini akhirnya terbayarkan walaupun mereka sendiri telah kehilangan nyawa mereka.
Setelah pulih, Aku mengunjungi makam Amel dan juga Kak Vino. Aku mendoakan mereka agar diberikan kemudahan dialam sana.
Flashback Off
Kak Archi yang melihatku keringat dingin dan wajahku yang sudah pucat pun menarikku keluar dari pondok. Aku yang tersadar mengikuti langkah kakinya yang panjang.
"Kak Archi, mau kemana?" Jeritku.
Kak Archi hanya diam dan terus menarik tanganku. Aku pun hanya mengikutinya.