
Chia bergegas masuk dan berlari ke kamarnya. Dia berdiri diatas bedcovernya dan meloncat-loncat kegirangan. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Dia menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya.
"Oh jadi ini yah rasanya berbunga-bunga." Ucap Chia.
Chia terus tersenyum sumringah, bahkan dalam pikirannya pun ikut tersenyum.
"Cerita ke teman-teman nggak yah? Pasti heboh deh tanggapan mereka." Ucap Chia.
"Eh, tunggu jangan deh. Lagian Kay hanya memenuhi janjinya bukan karena suka sama Aku kan." Pikir Chia yang tiba-tiba overthingking.
Senyumnya yang tadi terus mengembang tiba-tiba menghilang dan ekspresinya menjadi datar.
"Kira-kira Kay seperti ini apa karena sudah memiliki sedikit perasaan padaku atau dia hanya kasihan sama Aku yah." Oceh Chia.
"Arrgggggggg, dasar Chia baru juga bahagianya udah overthingking lagi. Pokoknya apapun yang terjadi hari ini itulah yang harus kamu pikirkan, please jangan overthingking." Oceh Chia.
Chia kembali mengingat kejadian hari ini, hingga senyumnya kembali mengembang dipipinya.
"Chiaaaa, kamu sudah pulang yah." Teriak Ibu didepan pintu kamar Chia sembari menggedor-gedor pintu.
"Iya, Bu." Sahut Chia.
"Bantu Ibu dulu." Ucap Ibu.
Chia bangkit dari kasur dan bergegas membuka pintu.
"Bantu apa, Bu?" Tanya Chia.
"Besok anaknya Tante Dian nikah, jadi semua tetangga pada bantuin persiapannya. Kamu juga ikut gih bantu-bantu."
"Tante Dian? Siapa? Laras?" Tanya Chia.
"Bukan, abangnya si Wendi." Ucap Ibu.
"Oh, kok Chia doang anak Ibu yang lain juga disuruh dong." Oceh Chia.
"Mereka dari pagi sudah bantu, tinggal kamu doang yang belum bantu. Nunjukin muka kamu tuh ntar kalau kamu nikah juga mereka yang bantuin. Ayok cepat."
"Iya, Bu."
Chia pun bersiap-siap dan mengikuti Ibunya kerumah tetangganya yang mengadakan acara.
"Kenapa nikahnya hari Senin, Bu. Kan bagus kalau hari Sabtu atau Jumat jadi orang-orang pada rame datangnya. Lagian, hari Senin orang pada sibuk kerja." Oceh Chia.
"Kata orang tua sih pernikahan mereka bagusnya besok."
"Zaman sekarang kok masih percaya kayak gitu."
"Hushhh, itu sudah adat udah kamu nggak usah cerewet."
Chia dan Ibu sudah tiba dirumah tetangganya. Ibu menyapa para tetangga lainnya. Sementara, Chia masih berdiri melihat apa yang harus dikerjakannya.
"Darimana? Kok baru muncul?" Sapa tetangga.
"Eh, iya Tante. Tadi ada urusan ini baru pulang langsung disuruh Ibu ikut kesini. Oh, iya Tante apa ada yang bisa Chia bantu."
"Coba kamu kebelakang trus tanya sama Ibu-ibu disana."
"Oke, Tante."
Chia pun berjalan kebelakang untuk menyapa tetangga yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sekalian, bertanya apa yang harus dia lakukan.
"Tante Dian, kira-kira ada yang bisa Chia kerjakan?" Tanya Chia.
"Oh iya, kebetulan kamu beli tisu dulu yah. Tadi lupa dibeli kalau sudah kamu lipat dan selipkan dipiring-piring yang sudah dicuci tadi."
"Okey, uangnya? Trus beli dimana?"
"Ini, kamu beli di minimarket saja. Oh, iya nanti suruh laki-laki yang ngantar yah ini sudah malam soalnya." Ujar Tante Dian.
Tante Dian dan Chia keluar bersamaan, Tante Dian bertanya kepada pria-pria yang sedang sibuk dengan pekerjaan bakar-bakar ikan dan ayam.
"Kalian ada yang nggak tidak sibuk nggak?" Teriak Tante Dian.
"Kenapa, Tan." Tanya pria-pria itu.
"Ke minimarket sebentar beli tisu." Ucap Tante.
Mereka pun saling mengover-over karena enggan untuk pergi.
"Kamu aja."
"Siapa bilang aku dari tadi udah cabut bulu ayam yah. Kamu aja atau enggak tuh si Dedi."
"Ya elah cuman ke minimarket doang, lagian cuman temani si Chia doang."
"Nggak papa Tante, Chia bisa pergi sendiri. Minjam motor saja." Ucap Chia.
"Oh, sama Chia. Aku aja."
Mereka pun kembali berebut untuk mengantar Chia.
"Giliran disuruh temani cewek langsung berebut." Cerca Tante.
Salah satu pria diantara mereka yang sejak tadi hanya diam pun berdiri dan menghampiri Chia.
"Aku aja yang nganter." Ucap Ian.
"Iya, nih Chia sama Ian aja lebih terjamin keselamatannya daripada sama mereka mata keranjang." Cicit Tante Dian.
"Elah, si Tante macam nggak pernah muda saja." Sahut salah satu pria itu disambut gelak tawa.
Ian pun berjalan mendekati motornya dan menyalakan mesin motornya.
"Itu tuh Chi, Ian sudah siap." Ucap Tante Dian.
"Agaknya akan ada yang CLBK deh." Teriak salah satu pria.
"Uhuuuyyyy." Sambut gelak tawa mereka.
Chia tidak menggubris tawa mereka dia pun bergegas duduk dikursi penumpang. Dan Ian langsung menggas motornya, hingga mereka menghilang dari pandangan teman-teman mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak mengobrol apapun hingga tiba didepan minimarket.
"Kamu tunggu aja disini, Aku cuman beli tisu doang." Ucap Chia saat turun dari motor.
Ian hanya mengangguk mengiyakan perintah Chia.
Chia pun masuk kedalam minimarket dan mencari tisu yang dibutuhkannya.
Beberapa menit setelah Chia masuk, dia masih belum keluar juga. Ian pun masuk mencarinya.
"Chia." Panggil Ian.
"Ya."
"Masih belum ketemu tisunya?" Tanya Ian.
"Aku bingung pilih tisu yang mana? Biasnya diacara pernikahan pake tisu apa?" Ucap Chia.
"Kamu nggak tahu?"
"Iya, Aku nggak pernah pergi ke acara-acara."
"Hmmm, biasanya sih yang diatas itu."
Chia menoleh ke arah yang ditunjuk Ian, tepat diatas kepalanya.
Chia pun mencoba meraih tisu itu, namun tisu yang ditunjuk Ian berada ditempat yang sangat tinggi.
Ian pun menahan tawanya melihat Chia yang menjijit untuk meraih tisu itu.
"Kamu kenapa tertawa?"
"Enggak, Aku becanda kok tisu yang biasa dipake tuh tisu ini loh." Ucap Ian menunjukkan tisu yang sudah dipegangnya.
"Nggak lucu yah." Ucap Chia cemberut.
"Oke maaf, oh iya ini Tante Dian chat kalau belanjanya ditambah minyak goreng sama kecap."
"Oke." Jawab Chia.
Setelah membeli semua pesanan Tante Dian, Chia dan Ian pun bergegas pulang.
Masih dalam kondisi yang sama, sepanjang jalan tidak ada obrolan apapun. Hingga mereka tiba dirumah tetangganya.
Chia pun bergegas turun dan mengucapkan terimakasih sebelum masuk kedalam rumah.
Setelah menyerahkan belanja kepada Tante Dian, dia pun langsung mengerjakan pekerjaan yang lain hingga dia kelelahan dan meminta izin untuk pulang lebih dulu karena besok dia ada jadwal kuliah.