
Sehari sebelum berangkat, Tante Sinar mengajak Chia untuk berbelanja di Supermarket. Chia ingin mencari barang untuk dijadikan buah tangan ketika kembali nanti dikotanya.
Mereka pun berkeliling untuk mencari barang-barang khas kota M. Sementara, Tante Sinar berbelanja. Chia dan Nana mengambil kesempatan untuk jalan berdua saja. Mereka masuk ke semua toko untuk mencari barang yang disukai.
Sejam sudah mereka berkeliling, Chia sudah mendapatkan beberapa barang untuk diberikan kepada keluarganya dan juga untuk sahabat-sahabatnya.
"Na, kita ke toko jam tangan yuk!" Ajak Chia.
"Oke, Kak." Sahut Nana.
Chia dan Nana pun pergi ke toko jam tangan. Disana, Chia membeli jam tangan untuk pria dan jam tangan untuk wanita. Selain itu, Chia juga membelikan beberapa pakaian.
Tidak hanya itu, Chia membeli beberapa makanan seperti kue dan roti.
Setelah puas berbelanja, Chia dan keluarga Nana pun pulang.
Keesokkan harinya, Chia bergegas ke bandara. Chia diantar oleh Archi, Faris, Kevin, Zaid dan Adit. Mereka tiba di kota jam 6 pagi hanya untuk mengantar Chia ke bandara. Nana tidak bisa ikut karena harus kesekolah, sebenarnya dia ingin meminta izin untuk tidak kesekolah namun dia ada ulangan yang tidak bisa ditinggalkan.
Mereka menggunakan mobil Adit, Adit juga yang menjadi sopir.
Dibandara, sebelum masuk ke gerbong. Chia memberikan beberapa barang ke Archi dan lainnya.
"Faris ini untukmu sekalian dengan punya BomBom yah. Aku nggak tahu mau kasih apa jadi semoga kamu suka yah." Ucap Nana.
Faris pun mengambil barang yang diberikan oleh Chia.
"Ini untuk Zaid, Kevin dan ini untuk Kak Adit."
"Nggak usah repot-repot, Chi." Ujar Zaid.
"Nggak papa, ini sebagai ucapan terimakasih sudah menjaga Aku selama sebulan ini."
"Kak Chia, bulan depan Aku juga akan ke kota Kakak. Keluargaku juga ada disana." Ujar Kevin.
"Oh, ya? Kalau begitu jangan lupa untuk menghubungiku yah. Aku ingin memamerkan wajah tampanku ke teman-temanku, hehehehe..." Ucap Chia.
"Kalau Aku yang kesana bagaimana?" Tanya Adit.
"Bagaimana apanya? Kakak kan keluarga terpandang nggak perlu dijemput. Tapi, kalau Kakak bertemu denganku, kakak harus mentraktirku." Ucap Chia.
"Boleh, sekalian aja kita jadian yah..." Sahut Adit.
Kevin, Faris, Zaid dan Archi melotot ke arah Adit.
"Becanda doang, guys.... Nggak ngerti guyonan yah kalian." Lanjut Adit.
"Chi, udah waktu kamu masuk tuh. Cepat nanti pesawat ninggalin kamu." Tutur Faris.
"Oh, iya Aku masuk yah." Ucap Chia.
Adit, Faris, Kevin dan Zaid melambaikan tangan kepada Chia.
Archi mengikut Chia hingga didalam untuk mengantarkan tas Chia. Sementara, yang lainnya menunggu di mobil.
"Iya." Sahut Archi.
"Oh, iya Kak. Ini buat kakak. Terus tolong sampaikan ke Nana Aku meletakkan hadiah untuknya diatas lemari kamar, punya Adam juga yah." Ujar Chia.
"Kamu tidak harus melakukan hal itu." Tutur Archi.
"Nggak papa kok, Aku pun senang. Oh iya, Kak Aku pamit yah. Pesawatnya sudah tiba." Ucap Chia yang melambaikan tangan kemudian berbalik untuk pergi.
Tiba-tiba Archi menarik tangan Chia yang hendak pergi. Dia menarik Chia hingga tubuh Chia berada dalam dekapannya. Archi memeluk erat Chia.
"Aku menyukaimu, Chi." Tutur Archi.
"Ehmm..." Sahut Chia.
"Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu."
"Iya, Aku tahu."
"Bisakah kita bersama?"
"Tidak bisa."
Archi melepaskan pelukan Chia, dan menatap lekat wajah Chia.
"Kenapa?"
"Aku menyukai kakak, tapi aku hanya ingin kakak menjadi keluargaku. Jika, lebih dari itu mungkin suatu saat kita akan menemukan masalah sehingga kita harus bertengkar dan membenci satu sama lain. Aku tidak ingin merasakan hal itu." Tutur Chia.
Archi melepaskan tangannya dari pundak Chia. Hatinya merasa sakit ketika ditolak oleh Chia. Walaupun, dia sudah menduga Chia akan menolaknya.
"Kakak pasti bisa mendapatkan orang yang lebih baik lagi dariku. Jika kakak menemukan orang itu kabari yah, Aku akan memberikan ucapan untuk kakak. Tapi, jangan sama Kak Dea yah. Hatinya sangat sempit." Oceh Chia.
"Kalau Aku tidak menemukan orang itu, apa Aku boleh berharap kepadamu?"
Chia pun terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang harus dia berikan.
"Kalau sampai disaat usiaku menginjak 27 tahun dan aku belum juga memiliki pasangan, terus kakak juga belum mendapatkan pasangan, datanglah kepadaku Aku yang akan menjadi pasangan kakak."
"Benarkah?"
"Iya, tapi kalau ada yang lebih baik dariku maka cepatlah melamarnya!" Pinta Chia.
"Oke." Jawab Archi sembari mengelus kepala Chia.
Chia pun pamit untuk pergi, kali ini Archi tidak menghentikan Chia dan melambaikan tangan kearah Chia.
Chia menoleh ke belakang dan juga melambaikan tangannya.
"Kak Archi kapan-kapan ke kotaku yah... Aku akan menjemputmu... Telpon Aku jika tiba yah." Teriak Chia.
Archi pun hanya tertawa melihat Chia yang teriak-teriak dan terus melambaikan tangannya. Archi memperhatikan Chia hingga punggungnya hilang dari pandangannya. Setelah itu, baru dia keluar dari bandara untuk pulang.