I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 71



Hari ini pertandingan sepak bola antar jurusan diadakan, pertandingan ini diadakan oleh fakultas untuk mempererat ikatan masing-masing jurusan dalam lingkup fakultas walaupun beda program studi.


Pertandingan sepak bola ini rutin diadakan saat memperingati hari berdirinya fakultas teknik ini.


Dalam satu fakultas setiap angkatan dalam jurusan boleh ikut serta, jadi banyak angkatan dari semua program studi ikut berpartisipasi. Tak terkecuali angkatan 17 yakni angkatan Chia dan teman-temannya. Ada dua group yang diajukan oleh angkatan 17 yaitu group putri dan group putra.


"Sebentar kalian tanding jam berapa?" Tanya Cherly.


"Jam 4." Jawab Anton.


"Mau nonton nggak?" Tanya Cherly kepada Naina dan Chia.


Chia menoleh kearah Naina, karena jika Naina menjawab tidak maka Chia pun menjawab sama dengan jawaban Naina. Namun, Chia sangat ingin menonton pertandingan itu, karena Kay ikut bertanding nanti.


Chia menatap Chia dengan tatapan penuh harap, namun agak sedikit gengsi untuk memaksa.


"Sepertinya tidak." Jawab Naina.


Ekspresi Chia berubah mendung, sayang sekali dia sangat ingin menonton pertandingan itu. Tetapi, dia malu untuk mengatakannya kepada teman-temannya.


"Nonton yuk, masa angkatan kita main nggak ada sporternya." Paksa Cherly.


"Benar nggak bisa, Chi kamu gimana?" Tanya Naina.


"Aku ikut kamu aja." Jawab Chia.


"Chi, Kay juga ikut tanding loh." Ujar Cherly.


"Yah, emangnya kenapa kalau dia ikut?" Ucap Chia menoleh kearah Naina.


"Udah deh, Chi. Bilang aja kamu juga mau nonton kan?" Sambung Anton.


"Aku nggak ngomong apa-apa kok." Sahut Chia salting.


"Iya tuh, Na. Masa kamu nggak kasihan sama Chia yang juga mau nonton." Ucap Cherly.


"Aku nggak bilang mau nonton yah." Jerit Chia dengan wajahnya yang sudah merah seperti tomat.


"Cieee salting." Ucap Anton.


"Ih, apaan sih enggak yah." Tutur Chia.


Naina pun menyetujui untuk menonton pertandingan, namun sebelum itu Naina menghubungi orang tuanya untuk mengabari kalau dia akan pulang telat. Yah, Naina adalah anak street parent, sehingga dia harus menggunakan nama Chia sebagai tamengnya jika dia akan pulang telat.


----------------


Pertandingan sedang berlangsung, angkatan 17 prodi informatika melawan angkatan 16 prodi komputer. Pertandingan begitu sengit, sehingga poin masih dalam jumlah yang sama pada babak pertama.


Pluit tanda istirahat berbunyi, semua keluar dari lapangan untuk mengistirahatkan tubuh mereka sejenak, serta melepas rasa dahaga karena terus berlari yang menguras banyak cairan mereka.


Chia memegang botol air mineral, dia sangat ingin memberikan air itu kepada seseorang yang tidak lain adalah Kay, namun Chia mengurungkan niatnya karena dia pikir Kay akan menolak apapun yang diberikan olehnya.


Chia berdiri di belakang Kay, jaraknya hanya 300cm dari Kay. Chia menggenggam erat botol air itu, dan terus memperhatikan Kay yang duduk dengan nafas yang saling buru satu sama lain.


"Apa yang kamu lakukan disitu? Cosplay jadi patung? Diam aja kayak orang udah nggak bernyawa saja." Sapa Aris.


"Astaghfirullah, moncong kau yah Aris." Sahut Chia yang menampol Aris.


"Iya iya maaf. Lagian kamu kenapa berdiri kek patung gitu?" Tukas Aris.


"Bukan urusanmu." Sahut Chia.


Aris diam namun memperhatikan arah pandangan Chia. Dia sekali lihat langsung paham situasi yang terjadi saat ini.


"Oh, rupanya kamu mau ngasih Kay air minum yah. Cieee...." Ucap Aris yang sudah peka.


"Hussttt, suaramu kecilin dikit." Pinta Chia.


"Oh, okey. Jadi, kamu mau ngasih Kay air?" Bisik Kay.


Chia pun mengangguk apa yang dikatakan oleh Aris, Ia membenarkan apa yang dilihat oleh Aris.


"Kenapa nggak kamu kasih?" Tanya Aris.


"Tidak bisa, dia mungkin saja akan membuang tanpa diminum." Tutur Chia.


"Kok gitu?" Sahut Aris.


"Entah." Jawab Chia mengangkat kedua bahunya.


"Sini Aku coba ngasih ke dia. Siapa tahu dia terima." Ucap Aris.


Chia pun cepat-cepat memberikan air itu kepada Kay. Setelah Aris memberikan kepada Kay, Kay langsung memalingkan wajahnya memeriksa setiap sudut pandang. Hingga, tatapannya mengarah kepada Chia. Chia yang tidak sempat bersembunyi pun jadi salah tingkah. Chia menjadi harap-harap cemas apakah ujiannya berhasil.


Kay menerima air yang diberikan oleh Aris. Aris pun bergegas kembali ke Chia. Saat mau pergi, Chia menoleh lagi ke arah Kay. Seperti dugaannya air itu tidak diminum malah diberikan kepada orang lain. Kejadian ini seperti pepatah yang mengatakan seseorang diangkat setinggi langit setelah itu dia dibanting juga.


Chia menghentikan langkahnya dan melihat momen Kay memberikan air itu kepada Sandi. Sementara itu, Nadin juga datang dan memberikan air mineral kepada Kay, Kay tanpa basa-basi langsung meminum air yang diberikan oleh Nadin.


----------------


Pertandingan kembali sengit, yang tadinya satu sama lain, kini berbeda selisih 1. Angkatan 17 memimpin pertandingan 3:2. Kali ini angkatan 17 sedang bersiap-siap mengumpulkan banyak skor. Dengan satu tendangan maka angkatan 17 akan heboh.


Semua sporter meneriak nama-nama cowok angkatan 17 sebagai bentuk sport kepada pemain dalam video ini.


Pertandingan terus berlangsung hingga saat Kay mendapatkan empat blok dari lawan. Saat mau mengover bola, kaki Kay ditangkis oleh lawan sehingga dia terjatuh tersungkur. Sehingga bunyi pluit berbunyi memberikan kartu peringatan kepada pemain.


Chia yang melihat itu spontan berdiri, dia bergegas berlari keluar stadion untuk membelikan es batu untuk mengompres kaki Kay.


Chia kembali dengan nafas tersengal-sengal, karena berlari tanpa henti. Chia mendekati Kay langsung, dia bahkan lupa dengan janjinya yang tidak akan mendekati Kay jika Kay belum mengizinkannya.


Kay menangadah wajahnya keatas karena dia dalam posisi duduk dipinggir lapangan.


Chia menjongkok untuk lebih dekat dengan kakinya Kay yang tadi sempat terbentur.


"Mana yang tadi terbentur biar di kompres dulu pakai es batu. Kebetulan aku bawa nih esnya." Ucap Chia.


"Tidak perlu, tidak apa-apa terimakasih tidak perlu merepotkanmu." Sahut Kay.


"Tidak, tidak Aku nggak merasa repot kok. Udah mana yang sakit?" Tanya Chia.


Lagi-lagi Kay menolak, dia tidak ingin dikompres oleh Chia. Sehingga agak terjadi sedikit perdebatan antara Kay dan Chia.


"Chia...." Bentak Kay.


Chia yang tadi terus memaksa untuk mengompres kaki Kay. Langsung menghentikan niatnya, dia menatap wajah Kay.


"Sudah ku bilang tidak usah yah tidak usah. Apakah kamu tidak memiliki telinga." Cerca Kay dengan volume suara yang lantang.


Tidak hanya Chia yang terkejut namun semua yang ada menoleh kearah mereka.


Chia langsung sigap berdiri, tanpa ucapan apapun dia langsung pergi menjauh dari Kay. Matanya berkaca-kaca karena hatinya sakit saat dibentak tadi didepan umum. Namun, Chia masih sanggup menahan air matanya itu.


Naina juga yang melihat kejadian itu bergegas mengejar Chia yang sudah berlari keluar.


"Chia, are you okay?" Tanya Naina.


"Yeah, I'm okay." Sahut Chia dengan nada pelan.


"Mau pulang?" Tanya Naina.


Chia menjawab dengan anggukan. Naina pun pergi mengambil motornya. Sebelum pergi, Naina memberikan es batu kepada Nadin yang sempat lewat. Chia berpesan kepada Nadin untuk segera mengompres kaki Kay. Mungkin, jika itu Nadin yang melakukan Kay tidak akan menolak.


----------------


Naina dan Chia menepi disalah satu kios karena hujan tiba-tiba saja turun. Chia sejak dari stadion tadi masih terus terdiam dalam perjalanan.


Naina membeli dua ice cream satu untuknya dan satu untuk Chia.


Mereka duduk di bangku yang disediakan oleh kios tersebut. Sembari menunggu hujan reda, karena mereka tidak membawa jas hujan.


Chia duduk terpaku, ice cream yang dipegangnya saja bisa jadi meleleh, namun ekspresinya sangat datar.


"Udah menangis aja kalau mau, nggak usah ditahan." Ucap Naina sembari mengemut ice creamnya.


Chia menoleh ke arah Naina, dia menatap dalam Naina. Tiba-tiba air matanya menetes mengikuti irama hujan yang juga sedang menetes.


"Huhu, hiks hiks hiks..." Tangis Chia pecah.


Naina tidak menoleh kearahnya, dia hanya fokus ke ice cream miliknya. Dia tidak ingin melihat temannya menangis, dan mungkin saja nanti Chia juga akan terus menahannya jika dilihatin.


"Apakah aku seburuk itu? Apakah Aku menjijikan? Hiks hiks hiks... Kenapa dia begitu benci kepadaku? Padahal dulu dia tidak seperti itu. Apakah karena Aku menyukainya? Hiks hiks hiks." Oceh Chia dalam tangisannya.


Naina tidak menjawab ocehan temannya itu, karena dengan seperti itu dia tidak harus terus berkata bahwa orang akan cepat berubah jika terus diberi perhatian.


Naina sudah sering mengingatkan Chia untuk tidak terus mengejar Kay, karena jika tidak dia sendiri yang akan terluka dan patah hati.


"Jika dia tidak ingin Aku mengejarnya, maka hari ini Aku akan melepaskan perasaanku yang bertepuk sebelah tangan ini. Hiks hiks hiks..."


"Yah itu yang harus kamu lakukan." Sahut Naina.


Chia terus mengoceh panjang lebar dan semakin besar suara tangisannya.


Beberapa saat kemudian suara tangisan itu perlahan-lahan menghilang, omelan, umpatan yang tadi bergema juga menghilang. Naina menoleh memastikan Chia sudah tenang.


"Sudah puas? Gimana sudah lega?" Tanya Naina.


Chia pun mengangguk karena memang air matanya sudah kering dan tidak bisa menetes lagi. Suaranya juga sudah semakin serak. Setelah memastikan Chia sudah selesai melepaskan semua beban yang ada dihatinya dan juga hujan telah meredah. Naina dan Chia pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.


----------------


Dikamar, Chia sedang berperang dengan batinnya sendiri. Dia memutuskan untuk tidak mengejar Kay lagi, namun disisi lain tidak ingin putus asa dan terus mengejarnya agar dapat dilihat.


Chia terus bertentangan dengan batinnya namun pada keputusan akhirnya adalah Chia akan menghentikan perasaannya secara perlahan-lahan. Dia akan menjauh dan menjaga jarak dengan Kay, dengan begitu dia akan fokus kepada pekerjaan dan masa depan.