
Chia sedang memegang ponselnya, tiba-tiba Kay mengirimkan pesan untuknya. Walaupun, hanya membalas postingan status Chia. Sudah membuat Chia tersenyum sumringah.
Mereka pun saling berbalas pesan, hingga pada Chia spontan mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Aku menyukaimu." Pesan yang dikirim oleh Chia.
Entah apa yang dipikirkan oleh Kay nanti, seorang cewek yang lebih dulu mengatakan perasaannya. Chia bahkan terkejut dengan penuturannya itu. Dia ingin menarik kembali pesannya itu, namun terlanjur dibaca oleh Kay. Dia pun penasaran Kay memberikan respon seperti apa.
"Maaf." Balas Kay.
Seketika air mata Chia menetes begitu saja. Apakah dia baru saja di tolak secara halus.
"Kita tidak perlu berpacaran, Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Tapi, Aku hanya ingin tahu apakah kamu juga menyukaiku." Balas Chia.
"Aku tidak tahu." Balas Kay.
Hati Chia menjadi semakin sesak. Dia benar-benar di tolak, Chia melepaskan ponselnya dari tangan. Membenamkan wajahnya diatas bantal, dengan suara tangisan yang lepas darinya.
Hatinya benar-benar terluka, bahkan ini lebih sakit daripada diselingkuhi.
"Huhuhuhu, hiks hiks...." Suara Tangisan Chia.
Chia memegang dadanya yang benar-benar terasa sakit.
"Apakah ini yang dirasakan orang-orang yang ditolak? Ternyata yang difilm-film itu tidak bohong, rasanya begitu sakit..." Batin Chia.
"Hiks, hiks, hiks, hiks kenapa dia harus bersikap baik kepadaku? Hiks, hiks, hiks jika dia tidak menyukaiku tidak perlu berbuat baik kepadaku hiks, hiks...." Tutur Chia dengan tangisannya.
"Tidak Aku yang bodoh hiks, kenapa Aku bisa menyukainya hanya karena dia berbuat baik hiks, hiks...." Lanjut ocehan Chia.
"Apakah ini karma karena Aku pernah menolak Kak Archi? Tunggu apa Kak Archi juga menangis sepertiku saat di tolak?" Batin Chia.
"Tapikan hiks, hiks. Aku nggak ada perasaan sama Kak Archi, hiks hiks hiks... Huhuhuhu...." Ucap Chia.
"Tapi, kenapa Aku harus nangis hiks hiks hiks, Kay juga nggak ada rasa padaku hiks hiks hiks... Huhuhuhu hatiku sakit sekali hiks hiks....." Tangis Chia semakin pecah.
Semalam suntuk Chia menangis, perasaan yang telah diutarakan ditolak begitu saja.
...----------------...
"Aku malas ke kampus hari ini, tapi tidak bisa absenku akan merusak nilai. Tapi, kalau ke kampus Aku akan bertemu dengan Kay." Batin Chia.
"Arghhhh, malunya...." Jerit Chia.
"Apa yang malu?"
"Eh, astaghfirullah, ngagetin aja sih." Sahut Chia yang kaget dengan kemunculan Ita, kakaknya.
"Mata kamu kenapa bengkak?" Tanya Ita.
"Habis nonton anime." Jawab Chia ketus.
"Nonton film kartun saja sampai nangis." Ucap Ita.
"Anime dan kartun itu beda." Teriak Chia.
"Apaan sih teriak-teriak, gila yah." Sahut Ita.
"Anime itu beda dengan kartun tahu..." Ucap Chia dengan mata yang berkaca-kaca.
Ita menatap Chia dengan tatapan aneh, masa hanya perkara anime yang dibilang kartun saja sampai dia ingin menangis. Ita pun lebih memilih pergi daripada melihat adiknya yang kecanduan anime itu.
Nyatanya, Chia bukan menangis karena anime dibilang kartun. Tetapi, masih meratapi dirinya yang ditolak oleh Kay semalam.
...----------------...
Chia sudah berada dikampus, saling berpaspasan dengan Kay. Awalnya, Chia yang ingin menghindar namun Kay lebih dulu menghindar. Biasanya, dia akan datang bergabung dan berbincang dengan teman-teman Chia. Namun, kali ini Kay menghindar saat melihat Chia. Chia semakin sedih, namun tidak Ia ungkapan.
Dimana saja mereka bertemu, Kay yang terus menghindar dan menjauh.
"Apakah segitu bencinya dia kepadaku?" Batin Chia saat melihat Kay tiba-tiba saja pergi saat Chia datang.
Hampir seminggu sudah Kay menghindar dari Chia. Membuat Chia menjadi terbiasa dan sudah tidak perduli dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kay. Jika, diberikan kesempatan dia ingin menarik pernyataannya itu. Dijauhi lebih menyakitkan daripada ditolak.