
Hari ini hujan turun dengan derasnya, tidak hanya mempengaruhi alam juga mempengaruhi semangat mahasiswa yang hari ini mendapatkan jadwal kuliah di pagi hari. Selain itu, dosen yang mengajar pun terkesan kejam dimata mahasiswa. Tidak hadir saat mata kuliah beliau, maka seterusnya tidak boleh mengikuti jam mata kuliahnya.
Suasana begitu hening, hanya terdengar suara hujan yang berjatuhan ditanah dan juga suara Pak dosen yang ingin bersaing dengan suara hujan dan gemuruh angin yang berhembus. Sementara, mahasiswa yang lain duduk diam, menahan kantuk dan rasa malas mereka.
"Hoam....." Suara menguap seseorang.
"Siapa tadi yang menguap?" Tanya Pak Dosen.
Namun, semua terdiam, tidak ada yang menyahut. Pak dosen menghentikan penjelasannya.
"Katakan, siapa yang menguap tadi? Sangat tidak menghargai Saya yang sedang berbicara panjang lebar didepan sini. Sangat tidak sopan." Cerca Pak Dosen.
Namun, lagi-lagi semua hanya diam membisu. Yah, bagaimana tidak jika jujur kemungkinan akan dikeluarkan dari kelas, namun kemungkinan terburuk yaitu akan mendapatkan nilai E alias mengulang.
Memang sadis dosen satu ini, tidak tanggung-tanggung pernah puluhan mahasiswa harus mengulang dimata pelajarannya karena membuatnya tersinggung saja.
"Kalian masih tidak mau mengaku? Baiklah, kalau kalian tidak ingin mengaku. Saya akan keluar dari kelas ini." Oceh Sang Dosen.
Semua saling pandang memandang, mencari orang yang tengah membuat sang dosen ngambek.
"Siapa yang tadi menguap? Cepat mengaku, jangan hanya ulah satu orang kita semua kena imbasnya." Tukas Andi.
"Kalian mahasiswa atau bukan? Jangan bertingkah kekanakan-kanakan begini." Ucap Sandi.
Walaupun demikian, masih tidak ada yang mengaku. Sehingga membuat sang dosen sangat marah dan sudah menyimpan barang-barangnya ke tas.
Sandi, Andi, Angga, dan Nadin terus mendesak orang yang membuat dosen marah itu untuk mengaku. Tetapi, nihil masih tidak ada yang mau mengaku. Suasana menjadi genting dan tegang. Andi sangat marah, karena ulah satu orang mereka akan mendapatkan masalah.
"Permisi, Pak." Ucap Kay mengacungkan tangan.
"Iya, kenapa? Kamu yang menguap tadi?" Tanya Dosen.
"Tidak, Pak." Jawab Kay.
"Lalu kenapa kamu angkat tangan? Jangan buat Saya semakin kesal yah." Tanya dosen.
"Maaf, Pak. Dicuaca seperti ini membuat seseorang lepas kendali karena pengaruh dinginnya udara oleh karena itu maafkan jika diantara kami kurang sopan. Namun, Pak. Materi yang bapak ajarkan sangat menarik, jika bapak hentikan maka kami akan sangat menyesal karena melewatkan penjelasan yang begitu penting. Selain itu, penjelasan bapak ini juga sangat dibutuhkan oleh beberapa diantara kami untuk mengikuti lomba pada dies natalis bulan depan. Bisakah bapak memaafkan kami, dan kembali menerangkan kembali materi yang bapak baru saja jelaskan?" Jelas Kay.
Semua terkejut dengan keberanian Kay yang bisa berkata demikian kepada dosen yang sedang sensitif itu.
Namun, mereka berharap dosen itu tersentuh dengan ucapan Kay, dan mengurungkan niat untuk pergi.
"Oh, lomba apa itu?" Tanya dosen.
"Bersaing dalam mempertahankan dan menyerang sistem, Pak. Jadi, bagaimana jurusan kami menunjukkan kemampuan kami dalam menjaga keamanan jaringa. Jadi, ada regu penyerang dan regu pertahanan." Jawab Kay.
"Wah, itu konsep yang sangat bagus. Bisa dijelaskan secara detailnya, mungkin bapak bisa memberikan arahan." Ucap Pak Dosen.
Seketika mood sang dosen berubah drastis, beliau yang berencana keluar pun mengurungkan niat. Dan terus bertanya terkait lomba yang dijelaskan oleh Kay. Bagaimana tidak excited, beliau sebagai pengampu mata kuliah keamanan jaringan baru kali ini ada yang berani menguji skill mereka dalam perlombaan. Ini merupakan hal yang baru pertama kali terjadi.
Melihat sang dosen yang sudah kembali stabil dan kembali menjelaskan materinya membuat orang-orang menoleh kearah Kay dengan tatapan penuh takjub, pasalnya dosen satu ini sangat sulit dihadapi. Namun, Kay berhasil meluluhkan hatinya.
"Dia sangat keren kan." Bisik Chia kepada Anton.
Chia yang juga melirik ke arah Kay pun tersenyum sangat terkesan kepada Kay. Tentu saja perasaan sukanya semakin berlipat ganda.
----------------
Hari ini hanya ada satu mata kuliah, oleh karena itu mahasiswa angkatan yang sama dengan Chia. Memiliki waktu untuk bersantai seharian. Namun, itu hanya ekspektasi karena hujan yang belum juga berhenti.
Chia berjalan di koridor sendiri, karena dia keluar terakhir dari kelas. Sementara teman-temannya sudah menunggu di parkiran. Chia agak terlambat karena sedang berdiskusi dengan dosen terkait lomba yang dijelaskan oleh Kay tadi. Pasalnya, Chia salah satu peserta lomba. Oleh karena itu, sang dosen meminta mereka untuk tetap tinggal untuk mendengarkan rincian rencana mereka nanti.
Chia keluar dari koridor ruangan, tidak sengaja Ia melihat Kay yang telah berdiri di depan pintu keluar. Chia menghentikan langkahnya agar dia tidak berpaspasan dengan Kay langsung.
Chia memperhatikan Kay dari bibir koridor. Sepertinya Kay lupa meninggalkan mantelnya di parkiran, karena itu dia seperti menunggu hujan reda. Mungkin saja dia tidak ingin menerobos hujan karena membawa laptop.
"Eh, eh sini..." Panggil Chia kepada seseorang yang melewatinya.
"Kenapa?" Jawabnya.
"Minta tolong apa?"
"Tolong, kamu ngasih mantel ini buat Kay yah. Tapi, jangan bilang ini dariku, okey?" Pinta Chia.
"Kenapa tidak kamu kasih sendiri saja? Trus, kenapa tidak boleh bilang ini darimu?" Tanyanya.
"Kami lagi marahan, jadi Aku nggak bisa kasih langsung. Trus, dia tidak akan terima jika mantel ini dariku. Pokoknya gitu, udah kamu kasih aja. Ingat yah harus dia terima. Kalau berhasil, Aku akan bantu codingan kamu yang error" Ujar Chia.
"Benar nih, jangan bohong."
"Iya, benar. Udah gih langsung kasih aja. Kasihan dia sudah menunggu lama tuh." Ucap Chia.
Orang yang disuruh Chia pun bergegas pergi menghampiri Kay. Sementara, Chia bersembunyi dan memperhatikan dari kejauhan.
Orang itu berhasil membuat Kay mengambil mantel itu tanpa tahu bahwa itu punya Chia. Chia yang melihat dari kejauhan tersenyum bahagia.
Kay mengenakan mantel milik Chia, dia pun bergegas pergi.
Setelah, Kay menghilang dari jangkauan penglihatan Chia. Chia pun juga bergegas pergi, mencari teman-temannya yang sudah menunggu di parkiran. Karena mantelnya sudah diberikan kepada Kay, jadi Chia hanya dengan kedua telapak tangannya yang menutup kepalanya berlari ditengah hujan yang masih derasnya.
----------------
Chia tiba diparkiran dengan pakaian yang basah kuyup, jarak parkiran dan gedung tempat mereka belajar lumayan jauh karena itu Chia sangat basah.
"Kenapa kamu bisa basah? Mantelmu mana?" Tanya Naina.
Chia diam sejenak, dia tidak ingin memberitahukan Naina bahwa mantelnya sudah dipinjamkan kepada Kay.
"Oh, sepertinya tadi Aku letakkan diatas motormu deh." Ucap Chia.
"Enggak ada kok, kamu datang kesini nggak ada lihat mantel." Sahut Ria.
"Masa? Loh, trus kemana mantelku?" Tanya Chia.
"Lah, nggak tahu. Kamu yang punya kok." Sahut Ria.
"Tadi pagi, kamu bawa kekelas loh, Chi." Ucap Naina.
"Oh, yah? Duh, Aku lupa. Ketinggalan dong. berarti." Ucap Chia.
"Ambil gih, nih pake mantelku." Suruh Ria.
"Nggak usah deh, Aku pun sudah basah juga." Ucap Chia.
"Nanti hilang loh itu." Ucap Naina.
"Nggak, nggak hilang udah ayok pulang. Aku mau mandi hujan deh, udah lama nggak rasain hujan." Tukas Chia.
Tiba-tiba Kay muncul dibelakang Chia, Naina yang menoleh kearah Kay. Memperhatikan Kay dengan saksama.
"Astaga, kenapa Kay disini. Harusnya dia sudah pergi. Gawat nih..." Batin Chia
Naina menatap Chia dengan tatapan tajam, Chia yang memahami tatapan Naina pun hanya bisa tersenyum konyol.
Naina tahu jika Chia memberikan mantelnya kepada Kay. Naina sangat hafal dengan mantel punya Chia, karena mereka membeli mantel yang sama namun hanya beda warna saja.
Selang satu menit setelah Kay tiba, Nadin pun tiba-tiba muncul. Dan meminta Kay mengantarnya pulang. Kay mengiyakan permintaan Nadin, bahkan dia memberikan mantel milik Chia kepada Nadin untuk dikenakan. Chia, Naina dan Ria saling bertukar pandangan.
Setelah, Kay dan Nadin pergi Naina dan Ria mengoceh panjang lebar kepada Chia.
"Nah, lihat tuh pengorbananmu hingga basah kuyup seperti ini." Sindir Naina.
Chia hanya tersenyum namun bibirnya bergetar, dia bahkan tidak membalas ocehan Naina.
Chia yang sudah terdiam membuat Ria memberikan kode kepada Naina untuk menghentikan ocehannya. Mereka pun bergegas pulang. Namun dalam perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Chia benar-benar merasa sedih namun dia terus menguatkan dirinya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Suatu saat Kay akan melihat besarnya perjuangannya untuk mendapatkan hatinya.