
"Sepertinya percuma aku menjelaskan ke kamu, toh kamu nggak bakal percaya sama Aku. Terserah kamu saja."ucapku
Ian memukul stir mobil dengan kuat. Kemudian menyandarkan badannya ke sandaran kursi. Wajahnya yang mengarah keatas dan menarik napas panjang.
Beberapa menit kami tidak bersuara. Aku memalingkan wajah kearah jendela melihat keadaan sekitar. Kami masih didalam parkiran mall.
"Sepertinya kamu lebih menyukai teman kamu si Kay. Kamu selalu tersenyum jika bersama dia."tutur Ian yang memecah keheningan
Aku menoleh kearahnya dengan wajah penuh kesal. Kenapa dia harus menyebut nama Kay disaat seperti ini.
"Apa urusannya dengan Kay. Kenapa jadi bawa-bawa Kay sih."Ujarku
"Kamu sepertinya menyukai Kay."
"Stop... Tidak ada urusannya dengan Kay. Masalah kita berdua hanya kita berdua tidak perlu membawa nama orang lain dalam pertengkaran ini."
"Kan kamu menyukainya sampe-sampe tidak ingin melibatkan dia. Hebat yah... Kamu nikah saja sama dia.."
"Ian..."teriakku
Aku sudah malas berdebat dengan Ian lagi. Wajahku penuh guratan amarah. Aku pun berencana keluar dari mobil. Namun pintunya terkunci.
"Buka pintunya."titahku
Ian tidak menggubris ku
"Aku bilang buka pintunya."teriakku kedua kali
"Kamu begitu kesal ketika aku menyebut nama Kay. Bukankah sudah terbukti kamu menyukai."cerca Ian
"Iya, kamu benar iya Aku suka sama Kay. Kamu puas? Sekarang buka pintunya."ungkapku sembari membuka paksa pintu mobil.
Ian yang mendengar itu, menarik tanganku yang mencoba membuka paksa pintu mobil. Menarik agar duduk pada posisi yang benar. Ian menggenggam bahuku dengan keras. Wajahnya yang putih tampak memerah. Keningnya mengerut dan nampak urat-urat wajahnya. Dia sangat marah.
Aku tidak memperdulikan dia dan terus membuka paksa pintu mobil.
Ian kemudian menyalakan mesin mobil. Kami pun keluar dari parkiran mall. Ian menginjak pedal gas, dan mengendarai mobil dengan kecepatan yang bisa dibilang seperti sedang balapan.
Dalam hatiku ketakutan, Aku takut kami mengalami kecelakaan karena Ian yang ngebut. Aku menahan pegangan agar tidak terbentur.
"Ian, kami sudah gila. Pelankan kecepatan mobilnya."Ujarku
Ian tidak mendengarkan ku, dia terus menginjak gasnya. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar kami tidak menabrak apapun.
Tiba-tiba kucing yang menyebrang didepan kami. Sontak membuat Ian menginjak pedal rem. Tubuh ku sampai terhempas kedepan dan kepalaku terbentur. Jantungku berdegup sangat kencang.
Untungnya kucing itu selamat karena Ian membanting stir ya ke arah kanan.
Kami hampir kecelakaan, untungnya tempat yang kami lewati sudah sepi karena sudah jam 22.30 malam. Aku yang terkejut sudah tidak kuat menahan tangis. Aku pun menangis dengan suara yang sangat kuat. Tubuhku gemetar dan wajahku pucat. Aku pikir kami akan mati begitu saja. Aku terus menangis, dan kupikir Ian akan menenangkan diriku.
"Sejak kapan kamu menyukai Kay?"tanya Ian disela-sela tangisku
"Kau senang jalan dengan dia benarkan? Makan berdua bahkan minum dengan botol yang sama. Kau sangat senang jika itu Kay yang lakukan."lanjut Ian
"Cukup Ian, aku mau pulang."jawabku dengan suara tersedu-sedu
Aku benar-benar tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini.
"Bagaimana tadi tingkahmu saat melihat aku berbicara dengan wanita lain? Kamu cemburu tidak? Cemburu seperti Aku melihat kamu tersenyum ke Kay. Apa kamu pernah cemburu sepertiku?"
"Ian, aku percaya sama kamu. Apa yang kamu lakukan tidak mungkin menghianatiku. Adapun, Kay yang terus kau sebut-sebut tadi. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan."jawabku sambil sesekali sesegukkan.
"Percaya? Kamu terlalu naif, Chi. Kamu bukan percaya tapi kamu sedikit saja tidak menyukai Aku. Tidak memahami apa yang Aku rasakan. Selama ini Aku yang berjuang untukmu."
"Kamu harus aku bertingkah seperti apa, Ian? Ketika kamu sudah memilihku. Aku pikir kamu sudah siap akan baik buruknya Aku. Kelebihan dan kekuranganku. Aku pun berpikir begitu percaya sama kamu dan siap menerima apa adanya dirimu."
"Tapi, kamu tidak terlihat seperti itu. Aku terus yang effort ke kamu. Aku seperti orang bodoh yang mengejar-ngejar kamu. Apa kamu memang perempuan yang seperti itu?"
Aku sudah sangat lelah dan sudah tidak sanggup berdebat. Tangisku lagi-lagi pecah, kubenamkan wajahku ke kedua telapak tanganku. Wajahku sudah sangat basah. Aku yang selalu menang dalam perdebatan, kali ini kalah tanpa sepetah katapun.
"Ian aku mau pulang, tolong antar aku pulang."pintaku dengan wajah memelas dan mata penuh air yang menetes.
"Aku mau kabur dari masalah."
"Oke, aku minta maaf jika aku salah. Baiklah, aku jujur jika aku memang menghindar darimu tadi di mall. Adapun, alasan aku menghindar aku juga masih memikirkannya. Karena itu, aku bersembunyi ditoilet untuk memahami diriku."
"Saat di bioskop, di fun station, di KFC jantungku terus berdebar saat didekatmu. Tiba-tiba aku sesak napas. Aku tidak tahu kenapa aku seperti itu. Pipiku yang terasa panas dan memerah dan telinga pun sama. Aku tidak tahu itu perasaan apa. Setelah kita berjalan dipusat perbelanjaan aku tiba-tiba menjadil ilfil saat kau terus mengekoriku dari belakang. Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti. Dan, kamu tanya saat melihatmu dengan wanita lain yang sedang mengobrol. Sumpah, aku tidak berpikiran buruk itu tentangmu. Kamu adalah pria yang Rama wajar jika mengobrol dengan orang lain."lanjut ku yang bercerita dengan tangisan.
Kali ini Ian tidak memotong penjelasanku.
"Aku tidak tahu jika kau cemburu kepada Kay. Aku benaran tidak menyadari itu. Aku minta maaf."sambungku
Ian tidak bersuara sama sekali. Dan aku juga merasa sudah cukup jujur untuk menceritakan apa yang ingin Ian dengar.
"Daylan Adrian Khalid, bisakah Kau mengantarkan Aku pulang? Aku sudah lelah dan ini sudah sangat larut."ucapku dengan wajah memelas suara yang pelan
Ian pun menyalakan mesin mobilnya, dan mulai menjalankan mobil. Sepanjang jalan kami tidak berbicara apa-apa. Kali ini Ian mengendarai mobil dengan kecepatan normal.
Tidak lama kemudian, mobil sudah tiba didepan gerbang rumahku. Aku pun membuka pintu mobil dan bergegas keluar. Sebelum keluar aku mengucapkan kata 'terimakasih' lalu bergegas pergi. Aku berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Suara mobil Ian yang berlalu pergi pun juga terdengar. Aku lalu masuk ke kamar dan merebahkan badan diatas kasur. Rasanya ini adalah malam yang sangat panjang.
Mataku menjadi sembab dan bengkak. Semenjak dewasa ini air mata pertama yang aku keluar, pasalnya Aku orang yang jarang meneteskan air mata sedikit pun.
Aku bangun dari aktivitas rebahanku. Kemudian, menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku. Aku pun mengompres mataku, agar besok pagi mataku tidak bengkak lagi. Aku malas melihatkan wajah yang menyedihkan ini didepan banyak orang.
Sebelum tidur aku menyalakan HP untuk mengecek siapa tahu ada pesan penting. Mataku tertuju pada nama yang notif pesannya 100 pesan. Siapa lagi kalau bukan Naina. Aku lupa tadi saat menghubunginya, aku langsung mematikan tanpa berbicara sepatah kata pun.
Dia tipe orang yang khawatiran dan juga pasti penasaran alias kepo.
Akhirnya, Aku membalas pesannya. Dan menceritakan apa yang terjadi hari ini antara Aku dan Ian. Yah, Aku selalu terbuka kepada Naina. Apapun itu aku selalu bercerita kepada Naina. Bagiku Naina adalah keluargaku dan dia tahu semua tentangku.
Kami saling berbalas chat hingga pukul 2 pagi. Setelah itu, aku ketiduran. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku.