I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 53



Chia dan keluarganya sudah berada ditempat wisata air terjun yang diceritakan oleh keluarganya. Mereka pun melepaskan penat dan menghibur diri dengan berendam dibawah aliran air terjun.


"Na, kayaknya bajunya kekecilan dan terbuka sekali deh." Ucap Chian.


"Nggak, kok kak. Bagus itu, pas dibadan kakak. Aih, Kak Chia pake malu-malu segala padahal pagi tadi kakak pamer kemolekan kakak." Sahut Nana menggoda Chia.


"Astaga, jangan mengingat hal itu lagi. Aku benar-benar khilaf saat itu. Lagian, itu juga karena ulahmu." Ujar Chia.


"Kok, gara-gara Nana sih, Kak."


"Yah, kan kamu yang hasut-hasut kakak. Tapi, benar deh Na, ini celananya kependekan deh lihat paha kakak sampai kelihatan gini, trus bajunya juga kayak bajunya para bocil cabe-cabean deh, Na. Perut kakak sampai kelihatan gini."


"Yah, mau gimana lagi. Baju yang ada cuman itu kak. Emang kakak mau mandi pake gamis? Kakak Chia aneh deh. Udah gitu aja."


"Kalau gitu, kakak nggak jadi mandi deh. Kakak mau ganti baju aja. Kalau pakaian kayak gini bisa-bisa kakak diceramahin lagi."


"Ihhh, jangan Kak. Lagian siapa yah marah kalau kakak pake seperti ini?"


"Siapa lagi?"


"Om Archi?"


"Hmm..."


"Huffft, nggak usah dengarin Om Archi deh. Dia aja nggak percaya sama kita, noh matanya telah dibutakan oleh bidadari sawah. Lagian tuh cewek ngikut mulu dah. Padahal, nggak ada yang ngajak." Oceh Nana sembari memberi kode untuk melihat kearah yang dia maksud.


Mereka melihat Archi dan Dea sedang berbincang-bincang dan sesekali tertawa riang.


"Apa yang bagus sih dari wanita itu? Padahal, Kak Chia 100x lebih cantik." Lanjut Nana.


"Ih, apaan sih siapa yang cantik, jangan ngadi-ngadi deh."


"Kalian lagi ngomong apa?" Ucap Adit yang tiba-tiba saja Aku diantara Nana dan Chia.


"Astaga, kak Adit. Aku kaget tahu." Ujar Nana.


"Hehehehe, sorry, sorry..." Sahut Adit.


"Kak Adit ngapain sih?" Tanya Nana.


"Mau lompatlah, kalian minggir halangin jalan aja." Cicit Adit


Adit pun melewati Nana dan Chia, dia berdiri diujung tebing. Dibawah tebing terdapat kolam air terjun yang lumayan dalam, namun sangat jernih. Sehingga orang-orang akan naik ketebing dan loncat kebawah untuk menikmati sensasi mandi yang seru.


"Plak..." Bunyi bokong Adit.


Adit pun terjatuh saat Chia menendang bokong Adit yang belum siap untuk melompat, namun sudah ditendang lebih dulu oleh Chia.


"Hahahaha, Kak Chia kenapa bisa tendang Kak Adit." Tawa Nana pecah melihat tingkah Chia.


"Biarin aja, karena dia kakak kena omel dan caci tahu." Ujar Chia Ketus.


"Hahaha..." Suara tawa Nana.


Dilain tempat, Zaid, Faris, Kevin dan beberapa orang pria sedang berendam dikolam.


"Tapi apapun yang terjadi Liverpool yang paling hebat karena memiliki pemain yang hebat." Ucap Faris.


"Mana ada, tidak sehebat Manchester City. Buktinya, semalam mereka bisa mencetak banyak gol." Ucap salah satu pria.


"Apapun kata orang Liverpool adalah yang terbaik didunia." Tutur Faris.


"Tetapi, Manchester City seringkali mendapatkan peringkat unggul klub terbaik didunia." Balas Pria itu membantah penuturan Faris.


Mereka pun saling berdebat, tidak tinggal diam tangan mereka pun saling menyerang dengan menghempaskan air satu sama lain.


"Weh Weh, lihat tuh pemandangan indah." Ucap salah satu pria lain.


Faris dan pria yang saling menyipratkan air pun berhenti dan menoleh kearah yang ditunjuk oleh teman mereka tadi.


"Apa yang kamu maksud Chia?" Tanya Faris.


"Siapa lagi. Lihat tuh, gila sih tuh cewek. Kakinya mulus banget." Ucap Pria itu.


"Apakah semua gadis kota seperti dia?"


"Tubuhnya sangat ideal bukan? Dia tersenyum saja bisa mematikan makhluk hidup, apalagi tertawa seperti itu."


"Astaghfirullah, hey bertobat kalian." Ucap Zaid yang menyipratkan air kepada teman-temannya itu.


"Iya, jika Kak Chia mendengar ucapan kalian tadi mungkin saja dia akan mematahkan tulang kalian." Ucap Kevin.


"Alah, Vin. Bilang aja kamu juga suka lihat kan? Vin, bagi tips dong biar bisa dekat dengan Chia."


"Iya, dia sangat perhatian sama kamu. Kamu pake pelet apa sih?"


"Mana ada, jangan sembarang bicara yah." Seru Kevin.


"Ohoho, lihat-lihat. Si Adit mau ngapain tuh tarik-tarik tangan gadis itu."


Adegan menunjukkan Adit yang menarik tangan Chia untuk mendorongnya ke kolam.


"Ih, Kak Adit lepas ih..." Teriak Chia.


"Enggak, tadi kamu yang dorong Aku duluan. Jadi, kamu juga harus merasakan apa yang kamu lakukan tadi." Ujar Adit.


"Iya, iya maaf, Kak. Tapi, jangan dorong yah Aku nggak mau basah." Ucap Chia.


"Oh, tidak bisa." Jawab Adit.


"Na, tolong Kakak dong." Ucap Chia.


"Kak Adit, ja... Aaaaa..." Teriak Nana yang tiba-tiba saja di dorong sama Adit.


"Dasar Kak Adit......" Jerit Nana yang jatuh ke kolam.


"No, Kak Adit..." Jerit Chia juga.


Adit pun mendorong Chia hingga terjatuh. Setelah mendorong Chia dan Nana, Adit pun ikut meloncat bergabung dengan Nana dan Chia.


Nana dan Chia pun menyipratkan air ke wajah Adit. Mereka pun saling berperang dengan menyipratkan air ke tubuh satu sama lain. Setelah selesai bermain, Nana dan Adit pun naik ke permukaan. Namun, Chia masih terus berendam.


Hampir sejam sudah Chia berendam, wajahnya nampak putih kepucatan.


"Kak Chia kok masih di air sih." Ucap Kevin.


"Iya, wajahnya saja sudah sepucat itu. Apa dikota nggak ada air terjun kayak gini yah sampai dia begitu excited untuk berendam selama itu?" Ujar Faris.


"Na, kamu panggilin Chia. Makan dulu." Ujar Tante Sinar.


"Iya, Ma." Jawab Nana.


Nana pun berjalan mendekat ke arah Chia, dia berdiri ditepi dan memanggil Chia.


"Kak Chia makan dulu." Teriak Nana.


"Ehmm..." Jawab Chia dengan suara bergetar.


"Kak Chia nggak dingin apa, hampir sejam berendam loh."


"Di..ngin... Na. Tapi, Kakak nggak bisa naik. Kamu bisa bawakan jaket atau semacamnya nggak? Baju dan celana kakak warna putih jadi transparan kalau basah gini." Ujar Chia.


"Astaga, jadi kakak nggak naik sejak tadi karena takut pakaiannya nerawang?"


Chia pun mengangguk, Nana pun bergegas ketempat keluarganya berkumpul untuk membawakan sesuatu yang bisa menutup tubuh Chia.


Chia yang sedang menunggu Nana pun mencoba berdiri untuk melihat seberapa menerawangnya pakaiannya. Baru berdiri setengah badan, Chia pun kembali berendam karena pakaian dalamnya sangat tampak dibalik pakaian luarnya.


"Sampai kapan kamu berendam?"


Chia pun menoleh kearah suara yang menegurnya.


"Bukan urusanmu." Sahut Chia setelah melihat orang yang menegurnya.


"Cepat naik." Ucap Archi.


"Enggak bisa." Sahut Chia.


"Kenapa? Wajahmu sudah seperti mayat masih saja berendam." Cerca Archi.


"Aku nungguin Nana." Ujar Chia.


"Nana nggak bakal datang. Cepat naik..."


"Nggak bisa." Jawab Chia.


Archi pun membuka jaket yang Ia kenakan.


"Naiklah, Aku akan menutup tubuhmu." Ucap Archi.


Archi mengulurkan tangannya, Chia pun menyambut tangan Archi. Archi menarik tangan Chia, hingga Chia tertarik dalam dekapan Archi.


Archi bergegas memakaikan jaketnya kepada Chia.


"Kak, celanaku juga nerawang banget." Ucap Chia menoleh kearah celananya.


Archi bergegas membuka kaos yang Ia kenakan. Ia membuka kembali jaket yang ada ditubuh Chia. Chia pun hanya menurut apa yang dilakukan Archi. Saat membuka jaket, benar saja pakaian dalam Chia yang berwarna hitam begitu kelihatan dibalik bajunya. Archi menyuruh Chia memakai kaosnya, dan menyuruh untuk melilitkan jaket dipinggulnya untuk menutup celananya yang juga menerawang.


"Tadi Aku ingin mengganti pakaianku, karena menurut Aku ini kekecilan dan juga kependekan. Tapi, belum sempat berganti Kak Adit sudah mendorongku." Jelas Chia.


Archi pun hanya mendengar apa yang Chia katakan namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Chia yang melihat respon Archi hanya diam pun ikut terdiam.


Archi menggesekkan kedua telapak tangannya, setelah itu menempelkan dikedua pipi Chia. Wajah Chia dan Archi pun saling berhadapan.


Archi melakukan berulangkali hingga wajah Chia yang pucat kembali hangat.


Setelah itu, dia juga mengusap bibir Chia yang juga nampak pucat.


Chia menoleh melihat Archi, mata mereka saling bertemu pandang.


"Kak Archi nggak marah sama Aku lagi kan?" Tanya Chia.


"Bukannya kamu yang marah sama Aku." Sahut Archi.


"Enggak marah, cuman kesal doang." Jawab Chia.


"Maaf yah. Kakak yang salah." Ucap Archi.


Chia pun hanya mengangguk, dengan melempar senyum kepad Archi.


Setelah melihat senyum Chia, Archi pun menjitak kening Chia. Hingga Chia menjerit kesakitan.


"Ih Kak Archi sakit tahu..." Jerit Chia.


"Kamu mau membunuhku." Ucap Archi.


Archi pun berjalan terlebih dulu meninggalkan Chia.


"Ih, siapa yang membunuh Kakak." Ucap Chia.


"Lain kali jangan tersenyum, kamu lebih cocok dengan wajah datar. Sudah ayok..." Ucap Archi.


"Cih..." Ucap Chia.


Chia dan Archi pun bergegas bergabung dengan keluarga mereka.


Mereka pun menikmati makanan yang telah mereka persiapkan sebelumnya.