
"Kamu kok sendiri? Mana kembaranmu?" Tanya Cherly.
"Kembaran?" Sahut Chia.
"Naina. Kalian berdua kan nggak pernah terpisahkan." Ujar Cherly.
"Entah. Dia juga nggak balas chatku." Jawab Chia.
"Naina sakit. Semalam dia izin, nih suratnya Aku yang buatkan." Sahut Ria.
"Sakit apa?" Tanya Anton dan Aris kompak.
"Entah, semalam katanya dibawa ke rumah sakit karena sesak napas. Tapi, sudah pulang lagi." Jelas Ria.
"Kok Aku nggak tahu." Sahut Chia.
"Mana ku tahu, kamu kan juga jarang online. Di chat pun kayak artis papan atas yang nggak balas-balas." Ujar Ria.
"Ih, masa sih?" Ucap Chia.
"Ih, maca cih. Nggak nyadar loh...." Cerca Ria.
"Ntar habis kuliah kita jenguk aja dirumahnya." Sahut Cherly.
"Okey." Jawab kami kompak.
...----------------...
Kuliah telah berakhir, Chia dan kawan-kawannya menuju rumah Naina. Namun, Chia agak terlambat karena dia bersama dengan Uta. Chia menunggu Uta selesai jam kuliahnya, selepas itu mereka singgah sebentar di toko untuk membelikan buah tangan untuk Naina.
Sesampainya dirumah Naina, Uta dan Chia saling menatap. Pasalnya, mereka seperti tidak sedang mengunjung orang yang sedang sakit.
Gelak tawa terdengar saat Chia dan Uta baru masuk ke rumah Naina. Pemandangan yang sedikit berbeda dengan menjenguk orang yang sedang sakit.
Bahkan, terlihat Naina sedang memegang baki yang berisi minuman. Chia dan Naina saling menatap satu sama lain. Sedangkan, teman-temannya sedang menyantap cemilan yang disediakan oleh Naina.
"Kalian sedang menjenguk orang atau mau bertamu?" Tukas Chia.
"Menjenguk lah, sekalian numpang makan." Sahut Anton.
Chia menepuk jidatnya, dia lupa jika teman-temannya berbeda dengan manusia pada umumnya. Tingkah mereka tidak seperti makhluk berakal. Bahkan, orang sakit yang melayani mereka.
"Yang sabar, Na." Ujar Uta.
"Turut kasihan yah, Na." Sambung Chia.
"Kayaknya ini terakhir kali Aku sakit deh, besok-besok Aku nggak mau sakit lagi." Sahut Naina.
"Pantas mereka memaksa untuk menjenguk, ternyata hanya untuk merepotkan. Mana datangnya tangan kosong pula. Hadeuhhh, gini amat teman-temanku." Ucap Chia.
Teman-teman mereka hanya tertawa, namun mata Chia tertuju ke seseorang yang tidak lain adalah Kay.
"Kenapa Kay ada disini?" Tanya Chia dalam hati.
Walaupun, teman sekelas namun Kay tidak masuk dalam geng atau groupnya Chia and the genk.
"Kenapa ada Kay?" Tanya Chia berbisik ditelinga Ria.
"Entah dia tiba-tiba minta ikut gitu." Jawab Ria.
"Dia tidak seperti orang yang akan menjenguk orang yang tidak dekat kan?" Tanya Chia.
"Bahkan disini bukan gengnya." Sahut Ria.
Chia memperhatikan Kay, dan terus berpikir sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa Kay bisa ikut menjenguk.
Setelah lama dirumah, Naina. mereka pun pamit pulang. Sebenarnya, Naina sudah terus meminta mereka untuk pulang. Bukan tambah sembuh malah sakit melihat tingkah konyol teman-temannya. Saat mereka pamit, Naina sangat bergembira membukakan pintu agar mereka cepat-cepat keluar dari rumahnya.
...****************...
Esoknya dikampus, Chia duduk di ruang kelas. Hari ini Naina masih tidak ke kampus, jadi Chia berangkat sendiri ke kampus. Chia berangkat ke kampus lebih awal, sehingga dia yang lebih dulu ada di ruangan. Selagi menunggu jam kuliah dimulai, Chia menunggu di depan ruangan saja. Satu per satu orang berdatangan. Kini tidak hanya ada dia, ada Fira, Candy dan juga Kay.
Fira dan Candy merupakan geng sosialita karena mereka sering nongkrong di restoran ataupun cafe. Begitulah ucap teman-teman Chia yang notabene hanya bisa nongkrong diwarung atau kos dan masak sendiri. Mereka begitu akrab dengan geng cowok-cowok populer termasuk Kay. Walaupun, mereka bergeng-geng namun jika dikelas mereka sering berbicara atau ngobrol, hanya diluar kampus saja mereka sendiri geng.
"Cie, kemarin yang jenguk Naina." Ucap Candy yang menggoda Kay.
"Iyakan, Aku nggak pernah lihat Kay jenguk orang. Kemarin aja baru Aku lihat loh." Sahut Fira.
"Iyakan, cieeeee..... Jangan jangan..." Ujar Candy.
Chia yang juga duduk didekat mereka pun mendengar gurauan yang dilemparkan ke Kay. Chia menatap Kay, dengan wajah penuh tanda tanya.
"Benarkan tidak hanya Aku yang terkejut melihatnya menjenguk Naina." Batin Chia.
Candy dan Fira masih terus mengganggu Kay, bahkan saat Sandi datang juga ikut menjahili Kay. Tanpa sadar, Chia dengan spontan bertanya dengan ekspresi polos yang membuat semua berpaling ke arahnya.
"Kamu suka Naina?" Tanya Chia.
"Siapa yang bilang?" Tanya Kay balik.
"Kayaknya iya deh, kan. Fir." Sahut Candy.
"Iya tuh." Jawab Fira.
"Kalian berbesan jadinya." Ucap Sandi.
"Oh, yah? Kalau gitu, ntar Aku sampaikan ke Naina." Ucap Chia dengan wajah datarnya.
" Eh, enggak mereka bohong jangan." Sahut Kay.
"Cieee salting..." Ucap Candy dan Fira.
"Bilang aja, Chi." Sahut Candy.
Chia bergegas berdiri, entah kenapa hatinya terasa sesak.
...----------------...
Chia masuk ke toilet, duduk merenung di atas closet.
"Kenapa hatiku rasanya sesak dan sakit?" Batin Chia.
"Masa Aku cemburu?"
"Tapi, jika Aku mengatakan tidak cemburu hatiku terasa sesak."
"Mungkinkah, Aku menyukai Kay. Sepertinya, Aku benar-benar menyukai Kay."
"Tetapi, bagaimana jika Kay benar-benar menyukai Naina. Haruskah Aku mengalah dan menyimpan perasaanku." Batin Chia.
Chia terus overthingking, memegang dadanya yang terasa sesak. Padahal, mereka tidak saling berhubungan tetapi mendengar gurauan mereka saja sudah membuatnya terbakar api cemburu.
...----------------...
Chia kembali ke kelas, dikelas Chia terus sesekali melirik Kay. Chia terus bertanya-tanya apakah Kay benar-benar menyukai Naina. Apakah kali ini saingannya adalah sahabatnya sendiri. Jika, benar maka Chia yang mengalah untuk melepaskan rasa sukanya yang baru saja diakui olehnya itu.
"Kamu kenapa? Tumben hari ini tidak banyak tanya dan debat dengan dosen." Ucap Ria.
"Iya, pas dosen bertanya pun semua menoleh ke arahmu tapi kamu hanya diam. Kami sampai terkejut loh, kamu nggak angkat tangan." Ujar Cherly.
"Iya, apakah kepala terbentur?" Sahut Aris.
"Aku lagi nggak mood." Jawab Chia.
Cherly, Ria, Anton dan Aris saling menatap dengan tatapan sangat tidak percaya, bahkan mereka sampai termangap.
"Chi, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Anton menyentuh kening Chia.
"Aish, Aku baik-baik saja. Udah ah jangan gangguin Aku." Sahut Chia menepis tangan Anton.
"Mungkin dia nggak mood karena nggak ada Naina kali." Ujar Cherly.
"Maybe." Sahut Ria.
"Udah, besok Naina udah ke kampus kok. Kamu yang sabar aja." Ucap Aris menepuk pundak Chia.
"Apaan sih. Udah aah Aku mau ke kantin." Chia langsung berdiri keluar dari ruangan.
Teman-temannya saling menatap, dan mengangkat bahunya karena melihat Chia yang bersikap aneh.
"Mungkin dia sedang datang matahari." Ujar Aris.
"Bulan keles..." Sahut Ria.
"Ya itu dia maksud saya." Jawab Aris.
Mereka pun mengejar Chia, karena mereka juga ingin mengisi perut mereka yang sudah meminta jatah makan.