
Selepas menghabiskan jajanan kami. Teman-temanku kembali ke laut untuk menikmati dinginnya air laut dihari yang sangat panas ini.
Aku, Ian, Via dan Ria yang tidak ikut menikmati air laut tersebut. Kami memilih duduk tenang menikmati angin yang berhembus. Via dan Ria terus mengabadikan wajah mereka dengan smartphone milik mereka.
"Kamu nggak lanjut mandi?"tanyaku pada Ian
"Tidak, Aku sudah lelah."jawabnya
"Oh."ucapku
"Mau jalan?"tanya Ian
"Kemana."aku balik bertanya
"Jalan aja, kesana atau kesitu."jawabnya sembari menunjuk-nunjuk keberbagai tempat.
"Kalau kamu mau jalan, nggak papa jalan saja. Aku tidak ingin jalan."jawabku
"Hmm... Kalau gitu foto bareng yuk. Kita berdua belum ada foto bersama loh."lanjut Ian
"Boleh."jawabku singkat
"Fotonya hadap kelaut yah, biar pemandangan lautnya lebih kelihatan. Bisa minta tolong sama teman kamu, fotoin kita berdua."
"Ria, Via bisa minta tolong fotoin Aku dan Ian nggak?"teriakku
"Okey."jawab Via
Via dan Ria pun berjalan kearahku dan Ian. Kami berdua pun berdiri membelakangi laut. Ian pun memberikan HPnya kepada Via.
"Agak dekatan dikit dong. Kek orang lagi marahan saja."ucap Ria yang sejak tadi berdiri disamping Via yang sedang sibuk mengatur posisi HP untuk mengambil gambar.
Via pun sudah mulai mengambil gambar, teriak 1, 2 dan 3 kemudian menyuruh kami berganti gaya. Aku yang merasa sangat kaku hanya bisa bergaya dengan 2 jari.
"Boleh pinjam tangan kamu nggak?"tanya Ian disela-sela berfoto.
"Ngapain?"jawabku bingung
"Fotonya sambil pegangan tangan boleh nggak?"tanya Ian lagi
"Pegangan tangan? Genggam maksudnya? Kenapa harus genggaman tangan? Kitakan nggak lagi mau nyebrang."jawabku datar
Via dan Ria yang mendengar penuturanku pun saling menatap dan hanya pasrah dengan Aku yang sama sekali tidak paham maksud Ian yang mencoba untuk berfoto romantis denganku.
Yah, walaupun sudah 2 bulan Aku dan Ian bertunangan. Namun, Aku dan Ian sama sekali tidak terlihat seperti sepasang kekasih. Aku tidak pernah bergandeng tangan atau jalan berdua dengan Ian seperti kebanyakan pasangan kekasih lainnya.
Pertunangan kami direncanakan oleh kedua orang tua kami, lebih tepatnya Ibuku dan Ibunya Ian. Ibu-ibu kami merupakan teman akrab, Ian juga sangat dekat dengan Ibuku. Tidak hanya Ibuku, Ian juga sangat dekat dengan keluargaku. Karena itu, saat Ibu Ian datang melamar ku. Keluarga ku pun menyetujui rencana tersebut. Mereka tahu Aku akan setuju, karena Aku adalah anak yang sangat penurut apapun itu yang dikatakan orang tuaku, Aku hanya bisa mengiyakan.
Awalnya, Aku tidak menyukai sikap Ian yang sok akrab dengan Ibuku. Yah, karena Aku sendiri tidak begitu dekat dengan Ibuku. Aku memiliki beberapa orang kakak dan juga beberapa orang adik, jadi aku adalah anak tengah. Nasib anak tengah yakni kurang diperhatikan. Setiap hari, Aku menceritakan tentang Ian ke Naina. Sikapnya yang sok akrab dan lain sebagainya.
Aku tidak tahu kalau suatu hari dia akan menjadi tunanganku. Sebenarnya, Ian bukan dijodohkan denganku namun dia dijodohkan dengan adik perempuanku. Tetapi, Ian menolaknya. Lalu, kakakku juga tertarik dengan Ian dan mengajukan diri untuk ditunangkan dengan Ian. Apa yang terjadi Ian juga menolak niat baik kakakku.
Entah apa yang Ian lihat dariku. Dia datang sendiri kepadaku, dan mengatakan ingin melamar ku. Aku pun menceritakan kepada ibukku. Ibukku pun sangat bahagia, beliau senang karena Ian merupakan menantu idamannya. Esoknya, Ibu Ian datang ke rumahku membawa cincin untuk mengikatku.
Ibuku tidak menjodohkan Aku, karena Ibukku tahu kalau Aku adalah penggila belajar, hari-hariku hanya diluangkan untuk belajar. Aku satu-satunya anak yang tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun. Aku sangat tegas jika ada pria yang mencoba untuk mendekatiku. Karena itu, Ibu lebih menjodohkan Ian dengan Adik atau kakakku saja. Namun, nyatanya Ian lebih memilih Aku.