I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 17



Hari demi hari kami jalani. Sudah tiga bulan semenjak keberangkatan Ian. Kami hanya bisa mengobrol dan bercerita lewat chat. Sekarang, Aku lebih sering menghubungi Ian dan menceritakan banyak hal kepadanya. Ian pun juga begitu. Setiap hari, Aku mengirimnya kata 'semangat' agar hatinya tegar saat menemani proses penyembuhan Ayahnya.


Kami juga sering VC dan Aku bisa berkenalan juga mengobrol dengan Ayahnya. Apapun yang Aku lakukan aku menceritakannya kepada Ian. Yah, dengan begitu tidak terjadi pertengkaran seperti yang lalu pikirku. Aku juga mengingatkan Ian jika Aku melakukan kesalahan maka dia bisa langsung menegurku, agar aku cepat memperbaiki kesalahan tersebut.


Teman-temanku juga mengatakan bahwa Ian adalah orang yang pencemburu, terlihat saat pertengkaran kami sebelumnya. Walaupun, dia hanya senyum-senyum ketika Aku berbicara dengan pria lain atau bercanda gurau. Karena itulah, Aku menjaga jarak dari pria lain. Ponselku juga hanya menyimpan nomor keluarga dan teman terdekat, tidak ada satu pun nomor pria yang kusimpan. Kecuali, Ari dan Anton yang merupakan sahabatku laki-lakiku. Ian tidak bakal cemburu kepada mereka berdua karena mereka juga dekat dan setiap jalan bersama mereka bertiga sering mengobrol bersama. Selain itu, mereka berdua lebih senang bermain dengan perempuan daripada laki-laki jadi bisa dibilang bukan saingan yang patut dicemburui.


Seminggu ini, Ian merespon chatku sangat lambat. Tidak seperti biasanya, dia selalu membalas chatku dengan cepat. Namun, Aku orang yang selalu berpikir positif. Aku pikir dia sedang fokus merawat Ayahnya. Karena itu, dia jarang mengabariku.


Akan tetapi, sudah tiga hari Ian tidak memberikan kabar kepadaku. Bahkan, pesan terakhirku juga tidak dibalasnya. Padahal, chatku terkirim karena centang dua pada pesanku. Tidak mungkin jika dia kehabisan pulsa data kan? Pikirku dalam benak. Tapi, Aku juga masih postive thinking. Ian adalah pria baik yang bertanggung jawab.


"Apa aku telpon saja yah. Mungkin terjadi sesuatu padanya."benakku


Aku berpikir untuk menghubunginya namun, Aku takut jika itu akan mengganggu dirinya. Dia tidak membalas chatku, mungkin karena dia benar-benar sibuk.


Minggu sore, Aku berjalan-jalan menghirup udara sekitar di taman dekat rumahku. Terlalu banyak belajar dapat membuat stress. Karena itu, Aku meluangkan waktu untuk lepas stress dan depresi karena efek belajar yang berlebihan.


Saat jalan-jalan, Aku singgah di tempat penjual minuman. Dimana minuman yang dijual adalah 'es Boba' dengan varian rasa yang bermacam-macam. Aku memilih rasa 'Oreo Cheese Cake', tidak hanya membeli minuman aku juga mencoba beberapa jajanan yang ada disekitar. Seperti, Corndog, Takoyaki, dan sosis serta pentol bakar. Efek berteman dengan Naina, Uta dan Ria nih aku jadi doyan jajan. Setiap, hari mereka mengajakku berkeliling untuk menikmati bermacam-macam jajanan.


Sesudah mendapatkan minuman dan makanan yang Aku beli. Aku pun mencari tempat untuk menikmati jajananku.


Aku memilih tempat duduk di taman sembari mencicipi jajananku. Satu per satu makananku nikmati. Mulai dari sosis bakar, aku menggigit perlahan demi perlahan menikmati setiap gigitan. Wah, Masya Allah nikmat Tuhan mana yang ku dustai, ucapku yang sangat menikmati makanan ku.


Saat menikmati makanan. Ada gerombolan bocah-bocah cowok yang lewat di depanku. Aku mengenal bocah-bocah itu. Salah satunya adalah adik Ian. Rudy namanya, Rudy adalah adik Ian lebih tepatnya Adik Tiri Ian mereka berbeda Ayah. Rudy dan teman-temannya lewat di depanku.


"Kak Chia."Teriak salah satu bocah


"Iya..." Jawabku ramah


"Kak Chia ngapain disini."tanyanya lagi


"Lagi cuci pakaian." Tuturku yang mulai dengan candaan


"Ohh, kirain lagi berenang."sahut salah satu bocah yang lain


Mereka adalah bocah-bocah yang sudah Aku anggap sebagai adikku. Pasalnya, kami bertetangga dan juga mereka sering kerumahku untuk memintaku membantu mengajari mereka dalam pelajaran sekolah. Tidak, hanya itu saat mereka kecil pun sering sekali orang tua mereka menitipkan mereka kepadaku. Aku memang sedari dulu seperti tempat penitipan anak. Mereka sangat nakal dan suka mengganggu dan mengejekku.


"Kasihan sendiri yah. Kek orang jomblo."lanjut Rizal salah satu bocah


"Lah bodoamat."jawabku


"Oh iya, Rudy. Ian bagaimana kabarnya? Ayahnya sudah sembuh apa belum?"tanyaku pada Rudy


"Baik-baik saja. Ayahnya sudah keluar dari rumah sakit."jawabnya


"Wah, Alhamdulillah." Tuturku


"Trus Ian ngapain saja? Soalnya, dia sudah beberapa hari tidak membalas pesanku." Tanyaku lagi


"Dia liburan kan, Aku lihat postingannya di FB. Mana sama cewek lagi." Sahut Afar


"Yang benar?" Tanyaku yang menoleh ke Rudy untuk memastikan


"Aku nggak tahu yah. Tapi, Chat Aku dibalas. Tadi pagi juga baru telponan." Jawab Rudy yang begitu jujur


Aku hanya terdiam, dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Para bocah ini memang sering membullyku. Jadi, mungkin mereka sekarang sedang mempermainkan diriku.


"Mana coba fotonya." Tanyaku lagi


"Lihatlah di HPmu!" Seru Rizal


"Aku nggak punya FB be*o." Cicitku


"Ini." Jawab Afar yang menunjukkan foto Ian dan cewek lain.


Aku hanya mengangguk dan mengatakan 'oh'. Aku percaya dengan Ian dan Aku sudah sering melihat para wanita mendekatinya. Tetapi, tentu saja bocah-bocah ini terus menggangguku dan mengejekku. Karena kesal, Aku pun menyuruh mereka pergi.


Aku tidak mau membebani pikiranku dan membuat kepercayaanku memudar. Aku benar-benar yakin dan percaya Ian adalah pria yang baik.


Malam pun tiba, Aku terus memandangi ponselku. Aku membuka aplikasi WhatsApp, melihat story, siapa tahu ada story salah satu orang yang ingin kuhubungi disana. Tapi, nihil hasilnya tidak ada story apapun darinya.


"Argghh, Ian kenapa sih. Kok nggak balas chat." Teriakku kesal


Aku pun membuang ponselku dan merebahkan tubuh diatas kasur. Aku ingin mengirim pesan lagi, tapi pesanku yang kemarin saja belum dibalas. Aku pun kembali mengambil ponsel yang tadi ku hempaskan di atas kasur. Aku mencari namanya, dan scrolll chat-chat kami yang sudah lalu-lalu. Wah, rasanya nostalgia dan terkadang membuatku terkekeh karena malu dengan chat-chat kami.


Entah bagaimana caranya, tiba-tiba aku salah menghubungi Ian. Mana itu adalah mode video call. Aku rasanya sangat malu. Kalau Aku padam sekarang mungkin terlihat seperti orang yang tidak memiliki kerjaan. Kalau Aku biarkan, Aku bisa tahu dia sedang aktif atau tidak. Zaman sekarang WhatsApp biasa dibuat tidak terlihat online kan.


Tidak menunggu lama, Ian pun menggangkat video callku. Aku sangat kejut dan ekspresiku yang mangap benar-benar terlihat jelas. Dalam pikiranku Ian mengangkat VC-ku artinya dia sedang aktif, tapi kenapa dia tidak membalas chat dariku.


"Tidak, tidak Chi. Positif aja. Mungkin dia baru saja aktif." Ucapku dalam benak


"Kenapa." Tanya Ian


"Nggak papa, tadi itu Aku salah mencet. Oh, iya gimana kabarmu?" Aku berbalik bertanya


"Alhamdulillah. Eh, sudah dulu yah Aku lagi diluar." Sahut Ian


"Oh iya, okay." Jawabku


Ian pun mengakhiri VC kami yang hanya beberapa menit itu. Otakku masih ngeleg dan tidak tahu apa yang aku pikirkan.


Aku mencoba menenangkan diriku, dan terus mengatakan pada diriku bahwa tidak terjadi apapun. Keadaan aman terkendali dan apa yang buruk dalam pikiranku itu hanya imajinasiku saja.


Aku pun meletakkan ponselku. Dan mencoba untuk tidur agar pikiranku kembali tenang esoknya.


"Fix, Chi. Don't think too much about it. Kamu hanya overthingking doang. Tidur...!" Ucapku dalam benak.