I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 58



Semalaman Aku memikirkan dan mencari benda, barang atau sesuatu yang ku bawa dari kota M. Mungkin saja masih ada beberapa atau satu pun tidak masalah. Aku ingin memberikan kepada seseorang. Namun, Aku tidak menemukan apa-apa. Aku menghela nafas panjang, merebahkan barang di atas ranjang menatap langit-langit kamar. Hingga Aku tertidur hingga pagi.


*****


Saat Aku bangun dipagi hari, Aku bergegas ke kamar mandi untuk membuang hajat. Dengan wajah masih mengantuk Aku mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ada di perutku. Tiba-tiba saja, Aku terpikir sesuatu yang mana itu adalah jawaban dari pencarian barang semalam.


Setelah membersihkan diri, Aku pun bergegas ke arah dapur. Aku membuka pintu kulkas, disanalah Aku menemukan barang yang bisa ku bawa sebentar ke kampus.


Barang yang ku maksud adalah sekotak kue, sebenarnya kue itu ingin ku makan sendiri. Bahkan, Aku menempelkan catatan 'JANGAN DIMAKAN INI PUNYA CHIA'. Aku hanya membeli dua kotak, kue ini di import dari Jepang bahkan dikotaku aja belum ada, yah mungkin ada tapi belum Aku temukan. Aku sangat menyukai sesuatu yang berbau Jejepangan. Karena itu, Aku mengambil dua kotak dengan rasa yang berbeda, dan ukuran yang berbeda pula. Kotak kecil untukku dan kotak besar Aku memberikan kepada Naina.


Tapi, Aku harus merelakan kotak kue yang bahkan belum Aku icip sedikit pun. Tetapi, bagaimana pun Aku ingin membalas kebaikan orang, jadi Aku harus melepaskan kotak kue itu dengan ikhlas.


****


Naina menjemputku didepan gerbang, kami pun bergegas ke kampus. Karena kami sudah mulai dengan aktivitas belajar disemester baru ini.


Sesampainya di kampus, Aku bertemu dengan orang yang ingin ku berikan kotak kue itu. Namun, melihat kondisi yang ramai ini, Aku tidak berani untuk menyerahkan barang yang sudah Aku pegang sedari tadi.


Aku menunggu waktu yang pas untuk menyerahkan itu, agar orang lain tidak memperhatikan dan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.


Saat semua mulai naik ke kelas. Yah, kelas kami ada di lantai dua jadi kami harus menaiki tangga untuk mencapai kelas kami.


Aku sengaja berjalan paling akhir, agar Aku bisa memberikan kotak kue itu pada orang itu. Sepertinya, Tuhan juga sedang ingin membantuku. Orang itu berjalan didepanku, Aku bergegas menarik bajunya.


Kay mengentikan langkah kakinya saat Aku menarik bajunya. Yah, orang yang Aku maksud adalah Kay. Beberapa hari lalu, dia memberikan Aku barang yang Aku minta tanpa bayaran. Aku tidak ingin berhutang pada orang lain, jadi Aku berfikir untuk membayar dengan memberikan barang juga.


"Kenapa?" Tukas Kay.


"Maaf cuman ini yang tersisa." Sahutku memberikan sekotak kue.


"Untukku?" Tanya Kay.


"Iya. Aku tidak punya barang yang tersisa yang ku dapatkan dari kota M. Hanya itu saja yang tersisa."


"Wah, ini udah lebih dari cukup. Terimakasih." Ucap Kay tersenyum.


Jantungku tiba-tiba berdebar saat melihat Kau tersenyum.


"Cieeee..." Ucap Sandi.


Aku dan Kay pun menoleh ke arah Sandi, entah kenapa kuping telingaku terasa panas.


"Jangan salah paham, kemarin Aku menitip barang. Jadi, ini anggap saja sebagai pengganti uang titipan." Ucapku sembari melangkah pergi.


Aku merasa ada yang salah dengan otakku, Aku pun mempercepat langkahku dengan berlari ke kelas.


****


Sepanjang dosen mengajar, Aku sangat tidak fokus. Entah kenapa pipiku terasa panas, mungkin Aku sakit. Aku terus meletakkan telapak tanganku dipipi, merasakan betapa hangatnya pipiku.


"Kamu kenapa?" Tanya Sandi.


"Tidak apa-apa." Jawabku.


Aku dan Sandi duduk bersebelahan, dalam perkuliahan kami bisa menentukan dimana kami duduk. Aku adalah orang yang ambis jadi sudah pasti tempat duduk ku selalu didepan. Tidak hanya Aku kami yang duduk didepan memang adalah anak ambis. Oleh karena itu, Aku selalu terpiaah dengan teman-temanku. Mereka takut jika duduk didepan, mereka takut jadi korban dosen yang sering menunjuk untuk menjawab pertanyaan random.


Mungkin cuman Aku saja yang selalu duduk didepan, dipojok dekat dengan tembok. Entah kenapa tempat itu selalu dikhususkan untukku. Yah, maybe antara diberikan untuk ku atau mereka memang tidak ingin duduk ditempat yang menjadi incaran dosen.


"Wajahmu sangat merah." Ujar Sandi.


"Benarkah?" Sahutku.


"Iya."


"Hmmm, mungkin Aku demam kali yah." Ucapku.


Aku dan Sandi terus berbincang hingga membuat dosen yang sedang menjelaskan materi pun menegur kami.


Aku dan Sandi pun saling bertatapan, tidak hanya itu semua yang ada dikelas pun menoleh kearah kami.


"Iya, Bu." Jawab Sandi.


"Iya, apa? Sebutkan langsung jawabannya!" Oceh dosen.


"Iya, Bu. Ini lagi mau Saya hitung." Tutur Sandi.


"Kan ngobrol saja kalian! Giliran ditanya baru bingung." Cerca dosen.


"Jawabannya 5, Bu." Ucapku.


"Darimana kamu tahu jawabannya 5, jangan sembarang menjawab."


"Yang ditanya harapan munculnya mata dadu 2. Sementara yang diketahui peluang pelemparan mata dadu ber-angka 2 adalah 1/6 jika dadu dilempar sebanyak 30 kali. Maka, jawabannya adalah 5. F(A) \= P(A) x f \= 1/6 x 30 \= 5." Jelas Chia.


"Lain kali kalau dosen sedang mengajar jangan bicara sendiri. Mau sepintar apa kalian harus hargai orang yang berdiri didepan." Sahut Dosen.


"Baik, Bu. Maaf, Saya tidak akan mengulanginya lagi." Ujarku.


"Okay, sampai disini saja penjelasan Ibu. Ibu rasa ini materi yang sangat mudah. Teman kalian saja bisa menjawab tanpa mencoret buku lagi. Ibu akan memberikan kalian tugas, nanti akan Ibu upload di e-learning kalian." Ucap sang dosen yang langsung keluar dari ruangan.


Memang dosen di jurusan kami adalah orang-orang yang sering moodnya berubah-ubah, kadang baik kadang juga galak. Setelah, dosen keluar kamu pun ikut keluar.


****


Aku duduk dibawah pohon tempat kami biasa nongkrong. Aku sendiri, teman-temanku sedang mencari jajanan untuk kami makan.


Notifikasi group WhatsAppku terus berbunyi. Ternyata, Bu dosen sudah meng-upload tugas. Di group penuh dengan komentar dan keluhan. Bagaimana tidak, soal yang diberikan berbeda dengan soal yang diajarkan. Bukankah hal itu, hal biasa tidak hanya tugas. Bahkan, ujian nasional saat sekolah juga seperti itu. Apa yang diajarkan mudah tetapi ketika ujian, soalnya seperti monster.


Tugasnya seminggu lagi baru diupload, masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas itu.


Naina dan lainnya pun datang, tidak hanya kaki mereka saja yang bekerja tetapi mulut mereka pun ikut bekerja. Mengoceh panjang lebar karena notif tugas yang telah mereka lihat.


"Kamu paham yang Ibu jelaskan." Tanya Naina.


"Jangan bertanya padaku, Aku juga tidak mengerti." Jawab Aris.


"Tapi, yang nomor 4 ini belum Ibu ajarkan." Celoteh Ria.


"Haisshhh, nggak ada waktu bersantai lagi. Tugas udah kek setumpuk perasaanku pada si doi." Sambung Cherly.


"Nah, kan..." Sahut Naina.


"Tenang, santai aja. Kita punya seorang jenius." Ujar Anton melirik ke arahku.


"Oh, iya. Tolonglah kami wahai Dewi-ku." Cicit Aris menyembahku.


"Mana persembahanmu." Sahutku bercanda.


"Ini yah Dewi." Ucap Anton memberikan sekantong gorengan.


"Baiklah, Aku menerima persembahan kalian." Jawabku.


"Horeee...." Teriak mereka kompak.


"Eh, tapi nggak boleh nyontek. Aku akan mengajar kalian sampai paham, seterusnya kalian kerjakan soal kalian sendiri." Lanjutku.


"Yahhhh... Nggak papa deh." Celetuk Cherly.


Setelah itu kami menikmati makanan yang sudah dibeli oleh teman-temanku. Saat menikmati makanan, Aku juga sambil mengajar mereka tentang probabilitas dan statistika, agar mereka dapat mengerjakan tugas dari dosen. Yah, bisa sekalian untuk persiapan ujian atau quis nanti.


Setelah belajar sampai waktu sudah menunjukkan matahari terbenam di barat. Kami pun masing-masing pulang kerumah.