I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 34



Kami pun tiba dirumah. Sesampainya dirumah, Tante menyuruh kami makan. Aku pun menoleh kearah Kak Archi. Karena perutku sudah dibuat sangat kencang oleh Kak Archi. Namun, Kak Archi pura-pura tidak tahu menahu apapun. Bahkan, dia duluan menuju kemeja makan. Aku pun terpaksa ikut makan malam bersama. Walaupun, Aku hanya mengambil sedikit. Aku melihat kearah Kak Archi dia menyantap makanan dengan lahap. Tadi dia yang menyuruhku untuk menghabiskan jajanan hingga perutku sangat full. Sekarang, lagi Aku harus bisa menghabiskan makananku lagi. Dia benar-benar ingin menyiksa dan membunuhku secara perlahan.


"Ma, ini namanya apa?" Tanya Adam


"Kok tanya mama, tanya dong sama yang masa." Jawab Tante Sinar


"Itu ayam woku-woku." Sahutku


"Kenapa? Enak yah?" Tanya Tante


"Iya, enak. Kak Chia the best deh." Sambung Nana


"Sama kue tadi sore juga enak. Ntar kalau Adam ulang tahun buatkan itu saja." Ucap Adam


"Loh, bilang sama yang buat." Ucap Tante Sinar


Adam hanya menoleh kearahku namun tidak mengatakan apapun.


"Adam ulang tahunnya kapan?" Tanyaku


"3 Minggu lagi kak Chia." Sahut Nana


"Mmm, tiga Minggu lagi yah? Sepertinya kak Chia ngga bisa. Soalnya, dua Minggu lagi Kak Chia sudah harus balik ke kota A." Tuturku


"Loh, sudah mau balik. Cepat yah. Oh iya Chia sudah mau sebulan yah disini. Tidak terasa yah waktu cepat sekali." Ucap Tante Sinar


"Iya, Tante." Jawabku


"Kenapa buru-buru pulang? Tinggal lagi lebih lama disini." Pinta Om Nio


"Maunya gitu, Om. Hanya saja Aku sudah harus masuk kuliah." Jawabku


"Yah, sedih Kak Chia mau balik nih. Nana nggak ada teman lagi." Tutur Nana


Aku hanya tersenyum, mataku melirik kearah Kak Archi. Hanya dia yang tidak berkomentar apapun. Biasanya dia yang paling bawel. Tapi saat ini dia hanya diam dan fokus menyantap makanannya. Baguslah jika dia diam seperti itu.


Kami pun lanjut makan makanan masing-masing, tanpa bersuara. Setelahnya, Aku dan Nana membereskan piring-piring yang ada diatas meja makan, kemudian membersihkan piring itu dengan cara mencuci.


"Kak Chia, benaran mau balik yah?" Tanya Nana


"Iya, dek."


"Apa nggak bisa lebih lama lagi?"


"Kakak juga mau, cuman Kakak harus kuliah."


"Yah, Nana masih mau main sama Kak Chia. Nanti Kak Chia balik lagi nggak kesini."


"Mmm, kakak lihat-lihat dulu yah. Kalau ada libur lagi, kalau nggak ada halangan kakak kesini lagi."


"Benaran yah Kak Chia, janji nih."


"Eh, tapi kakak nggak bisa janji. Kalau misal, Kakak nggak datang kesini lagi. Nana aja yang ke kota A."


"Kalau gitu boleh juga. Kalau Nana udah tamat sekolah, Nana mau jalan-jalan di kotanya Kak Chia deh."


"Iya, boleh. Nanti Kak Chia yang langsung jemput Nana."


Nana pun tersenyum, kami pun segera menyelesaikan pekerjaan kami. Setelah itu, kami masuk kekamar masing-masing.


Keesokkan harinya, Tante Sinar, Om Nio dan Adam pergi ke desa pagi-pagi sekali. Agar saat tiba disana tidak kesorean.


Nana dan Kak Archi juga sudah pergi. Nana kesekolahnya, Kak Archi pergi bekerja. Lagi-lagi Aku tinggal sendirian.


Nana dan Kak Archi biasa pulang sore hari. Jadi, Aku hanya perlu masak untuk makan malam. Siang hari, Aku hanya buat makanan untukku saja.


"Sekarang Aku ngapain yah biar nggak bosan?" Tuturku


"Nelpon Naina aja deh."


Aku pun mengambil ponselku dan bergegas menelpon Naina.


Tut Tut Tut (tersambung)


"Hm, Hallo. Kenapa?" Suara Naina


"Assalamu'alaikum, kek." Ucapku


"Iya, Wa'alaikumus salaam. Kenapa?"


"Astaga, judes amat jadi orang. Enggak nelpon doang."


"Siapa tuh, Na." Terdengar suara Mamanya Naina


"Noh, si kang galau Chianus." Ucapa Naina kepada Mamanya dibalik layar telpon


"Chiaaa, jangan lupa ole-olenha yah. Awas loh kalau nggak bawa." Teriak Tante


"Iya, ntar Aku bawain deh." Sahutku sambil menahan tawa.


"Oh, iya. Chi. Aku lupa infoin ke kamu. Kata KaProdi registrasi ulang nggak bisa diwakilkan. Jadi, kamu harus urus sendiri deh."


"Haaaa? Yang benar. Astaga kenapa baru bilang."


"Sorry, Aku lupa."


"Berarti minggu depan Aku sudah harus balik. Astaga, harus boking tiket pesawatnya nih. Tunggu, Aku belum pamit sama orang didesa nih. Gimana dong, kenapa Aku nggak ikut Tante Sinar aja." Ocehku


"Yah, itu sih deritamu." Ujar Naina


"Kamu baliknya naik pesawat? Ku pikir kapal lagi."


"Pesawat aja biar cepat. Kalau kapal nggak ada temannya."


"Kemarin juga nggak temanmu kan pas berangkat."


"Yah, beda. Kemarin kan Aku sedang galau berat jadi nggak pikir panjang pas naik kapalnya. Sekarang, otakku sudah benar-benar jernih."


Suara pintu terbuka. Aku pun menoleh dan ternyata Kak Archi yang datang.


"Kenapa dia balik lagi." Batinku


"Wah, kebetulan Aku bilang Kak Archi dulu deh kalau Aku Minggu depan sudah harus balik." Batinku lagi


"Na, udah dulu yah." Ucapku


"Oh, okey." Jawab Nana


Aku pun memutuskan sambungan telponku kepada Naina. Aku bergegas berjalan mencari Kak Archi.


Kak Archi sedang dikamar mungkin ada barang yang dia lupa bawa.


"Anu, Kak Archi." Panggilku kepada Kak Archi


Namun, Kak Archi tidak menoleh dan terus mencari mengobrak abrik lemari miliknya.


"Kak, Kakak. Kak Archi." Panggilku lagi


Namun, Kak Archi masih kekeh tidak menoleh kearahku. Sepertinya dia sengaja mengabaikanku.


Apa yang terjadi, padahal aku sama sekali tidak melakukan kesalahan. Bahkan semalam kami masih jalan bersama. Memang dia seperti cuaca yang suka berubah-ubah. Kenapa ibu memiliki kerabat yang temperamental begini sih.


Aku pun berjalan mendekati Kak Archi, Aku memegang baju bagian belakangnya.


"Kak Archi." Panggilku lagi


"Apa sih? Kenapa?" Bentak Kak Archi yang langsung saja menoleh kepadaku.


Aku sangat terkejut karena Dia langsung membentak ku dengan jarak yang sangat dekat. Suaranya bergema ditelingaku. Sepertinya hari ini dia sedang emosi. Jika, seperti ini Aku harus membalasnya dengan lembut.


"Kakak nyari apa? Biar Aku bantuin nyari."


"Nggak usah, nggak perlu." Jawab Kak Archi yang kemudian menangkis pegangan ku pada bajunya.


Aku benar-benar tidak tahu Aku salah apa dengannya hari ini. Dia begitu emosian.


"Oh, ya udah kalau gitu." Ucapku kemudian keluar dari kamar.


Aku yang melangkah keluar, tiba-tiba berhenti. Dan mengatakan sesuatu kepada Kak Archi. Entah dia mendengar dengan baik atau tidak.


"Kak Archi, minggu depan Aku sudah harus balik. Nggak jadi dua minggu. Soalnya, kata teman Aku. Aku harus mengurus pendaftaran ulang. Jadinya, Aku harus balik minggu depan." Tuturku


Usai Aku mengatakan hal tersebut Aku pun bergegas keluar.


Aku ingin melanjutkan kalimatku kepada Kak Archi untuk menemaniku ke desa. Namun, Aku mengurungkan niat itu. Kak Archi dalam suasana yang tidak baik saat ini.


"Huffft..." Aku menghembuskan napas


"Sepertinya, Aku nggak bisa kedesa langsung deh. Aku izin lewat telpon aja deh. Aku telpon Faris dulu deh." Tutur batinku


Aku mencari kontak Kak Faris diponsel milikku. Kemudian, Aku memencet fitur telpon untuk menghubunginya.


Tut Tut Tut.....(Telpon tersambung)


"Iya, halo. Kenapa?" Ucap Faris


"Faris, gini Aku sudah mau ba....." Belum sempat mengucapkan kalimatku hingga selesai. Ponselku ditarik oleh seseorang. Yah, tidak lain adalah Kak Archi


Aku membalikkan badanku, melihat ponselku sudah berada ditangan Kak Archi.


"Ba... Ba apa Chi. Yuhuuu helloo... Chi Chi." Teriak Faris disebrang telpon


Kak Archi memutuskan sambungan telponnya. Berjalan melangkah mendekatiku. Aku pun mundur perlahan entah kenapa eksperi Kak Archi seperti singa yang sedang lapar. Aku pun terpojok, tubuhku sudah menempel dengan dinding rumah.


Jarak Aku dan Kak Archi sudah sampai 5 cm. Untung saja Kak Archi tinggi jadi wajahku tepat berhadapan dengan dada bidangnya. Jika tingguku sama dengan Kak Archi, mungkin akan terjadi sesuatu yang menyeramkan.


"Kak Archi bisa mundur dikit nggak? Aku sudah mepet dengan tembok nih." Ucapku


Aku mengangkat wajahku melihat wajah Kak Archi. Dia tidak berkata apa-apa. Kemudian dia menundukkan kepalanya, wajahnya berhadapan langsung dengan wajahku. Aku pun seketika memalingkan wajahku kesamping.


"Yang nyuruh telpon Faris siapa?" Ucap Kak Archi


"Ha? Nggak ada yang nyuruh Aku yang berinisiatif sendiri." Ucapku masih memalingkan wajahku


"Telpon dia memangnya mau bilang apa?" Sahut Kak Archi


"Aku mau pamit. Soalnya kan Aku nggak bisa ke desa, nggak ada yang antar. Jadi, Aku pamitnya lewat telpon saja." Ucapku


Kak Archi hanya diam, namun posisinya masih sama seperti tadi. Aku mulai merasa risih.


"Kakak, bisa mundur dikit nggak. Ngomongnya nggak usah mepet-mepet gini dong." Ucapku


"Dimana jamku?" Tanya Kak Archi


"Jam apa? Aku nggak tahu."


"Kamu yang tinggal dikamarku. Semua barang-barangku ada dalam jangkauanmu." Ucap Kak Archi


Kak Archi memegang daguku, membalikkan wajahku hingga mata kami saling bertatapan.


"Benar Kak, Aku nggak lihat jam Kakak. Lagian, Aku juga nggak pernah sentuh barang-barang kakak kok." Ucapku


Kak Archi pun menarik tubuhnya dan menjauh dariku. Aku menarik napas lega. Dia berjalan mendekati pintu keluar.


"Cari jam tanganku sampai ketemu. Kalau tidak ketemu, jangan harap kamu bisa kembali ke kotamu. Ponselmu juga Aku tahan." Tutur Kak Archi kemudian keluar rumah.


Aku hanya bengong dan melihatnya hingga punggungnya benar-benar menghilang dari pandanganku.


"Jam tangan apa? Yang mana? Gila yah Kak Archi. Kok ada manusia kek dia sih." Ucapku


Aku pun bergegas kekamar Aku mencari benda yang dikatakan oleh Kak Archi. Aku mencari hingga disetiap sudut kamar.


Aku masih mencari hingga tidak memperhatikan waktu. Aku memeriksa semua barang-barang, namun Aku rapikan kembali agar lebih mudah untuk mencari barang. Anggap saja sekalian bersih-bersih.