
POV: Chia
Kami kembali ke pondok, di pondok Nana mengobati luka Faris. Untung saja lukanya tidak terlalu besar.
"Harusnya kau yang mengobatiku." Tutur Faris.
"Kenapa harus aku yang mengobatimu." Ucapku tanpa melihat kearahnya.
"Kalau kamu nggak gegabah mungkin wajah tampanku ini nggak bakal berlumuran darah tahu." Jerit Faris.
"Iya, nggak berlumuran darah tapi langsung masuk diliang lahat. Lagian, kamu jadi cowok lemah amat." Sahutku sinis.
"Aku nggak lemah tapi menghindari perselisihan tahu." Ujar Faris.
"Iya, nggak lemah tapi penakut. Harusnya cowok tuh lindungin cewek. Bukan malah ngadu kalau cewek yang mukulin orang-orang brengsek itu." Tuturku.
"Ngapain harus lindungin kamu, kamu aja lebih brutal dari orang-orang itu." Cicit Faris.
"Sudah-sudah jangan ribut lagi." Ujar Zaid.
"Tapi, benaran Chia yang mukul mereka sampe babak belur gitu?" Tanya Adit.
"Siapa lagi? Disana cuman kita berdua. Malah Aku pun kena tonjok darinya." Cerca Faris.
"Na, sekalian perban mulutnya." Titahku pada Nana.
"Kak Faris sudah dong, ntar Kak Chia marah tuh." Ucap Nana.
"Kak Chia hebat, kalau Aku disana mungkin Aku akan jadi sporter kakak deh." Ucap Kevin.
"Benarkah, terimakasih." Ucapku sembari tersenyum kearah Kevin.
Kak Archi menarik wajahku, hingga menoleh kearahnya.
"Sudah menghajar anak orang, masih bisa tersenyum juga saat dipuji." Ucap Kak Archi.
"Ih, apaan sih." Ucapku menangkis tangan Kak Archi.
"Setelah diperhatikan baik-baik, Aku pernah bertemu denganmu deh, Chi. Tapi, dimana yah." Ucap Adit.
Adit terdiam dan berpikir sejenak sembari melihatku.
"Oh, iya. Aku teringat turnamen bela diri beberapa tahun lalu. Ada junior tingkat SMP yang sangat berbakat bahkan dia sangat ditakuti oleh lawan. Kalau nggak salah dia dipanggil Queen. Aku pernah menonton pertandingannya sekali, dan Kamu mirip dengannya. Jangan-jangan itu kamu." Ucap Adit.
"Bukan, Aku." Jawabku datar memalingkan wajahku.
"Aku ingat saat itu, Aku masih SMA dan ikut serta dalam pertandingan. Teman-temanku mengajak untuk menonton pertandingan para junior. Gadis kecil itu sangat lincah dan melumpuhkan lawan dalam hitungan menit. Tapi, saat itu ada terjadi kasus sehingga turnamen dihentikan." Ucap Adit.
"Oh iya, kasus pembunuhankan. Sempat juga beritanya sangat heboh." Ucap Zaid.
"Iya, salah satu perserta membunuh salah seorang juri dan menyerang pelatihnya sendiri. Dia satu tingkat diatasku, Aku belum sempat bertanding dengan peserta itu karena Aku kalah dibabak semifinal." Ucap Adit.
"Iya, katanya dia tidak terima adiknya dilecehkan oleh juri itu. Adiknya juga peserta turnamenkan, dia juga berasal dari sekolah yang sama dengan gadis yang dipanggil Queen itu." Ucap Adit.
Flashback On
Aku mengikuti pertandingan bela diri yang diadakan saat SMP dulu. Aku mengikuti tiga pertandingan sekaligus, karena sekolah yang mendaftarkan Aku. Perwakilan dari sekolah hanya 3 orang, yakni Aku, Amel dan Lion. Amel mendaftar pada lomba Pencak Silat, Lion sendiri memilih Taekwondo, sementara Aku akan bertanding pada turnamen Karate. Saat itu, Aku sudah sabuk hitam pada bela diri karate diusia yang sangat muda, saat itu Aku adalah siswa baru yakni masih kelas 1 SMP. Akan tetapi, untuk mendapatkan presentasi menang pada tiga bidang sekaligus guruku mendaftarkan Aku di taekwondo dan pencak silat juga. Walaupun, guruku hanya mengatakan bahwa dua bidang itu hanya untuk mencari pengalaman.
Awalnya, kami bertiga berhasil melewati babak penyisihan dan sampai pada babak semifinal. Hanya saja sesuatu yang tidak terduga terjadi. Karena peristiwa tersebut Aku menjadi trauma hingga saat ini.
Aku dan Amel berjalan pulang bersama, setelah kami berlatih untuk pertandingan semifinal minggu depan.
"Chi, nggak nyangka kita bisa sampai semifinal, yah." Ucap Amel.
"Iya." Sahutku.
"Oh iya, Kakak Aku si Vino juga berhasil sampai di babak semifinal. Akan sangat bagus jika kami sama-sama memenangkan pertandingan."
"Kak Vino, hebat. Semoga aja yah kalian bisa menang."
"Iya, dong. Kalau Kak Vino menang kamu kan juga senang. Soalnya, kan kamu sangat suka sama Kak Vino."
"Amell...." Teriakku
"Aku kan cuman kagum saja." Lanjutku.
"Ih, sama aja. Ntar kalau udah gede, Aku bakal suruh Kak Vino nikah sama kamu." Ucap Amel.
"Kalau Kak Vinonya nggak mau gimana?"
"Kalau kak Vino nggak mau, Aku bakal mukul Kak Vino sampai dia mau."
"Ih, jangan dipukul tahu. Kasihan, Kak Vinonya."
"Cieeee, ngebelain kak Vino. Ehmmm.." Gurau Amel.
Kami pun bergegas pulang karena badan kami sudah sangat lelah.
Pertandingan semifinal pun dimulai, Aku, Amel dan Lion berhasil masuk final. Hal ini merupakan kebanggaan untuk kami dan nama sekolah.
Pertandingan final akan diadakan lusa, pelatih menyarankan kami tinggal bersama agar tidak repot saat dia jemput ke tempat pertandingan nanti. Pelatih kami meminta kami untuk tinggal dihotel dekat tempat pertandingan kami. Tentu saja biaya inapnya ditanggung oleh sekolah. Begitulah ucap pelatih kami. Kami yang masih polos pun mengikuti saran dari pelatih.
Aku sedang bersiap dirumah, dan menunggu Ayah yang akan mengantarkanku ke hotel. Amel, sudah tiba di hotel terlebih dahulu. Sementara, Leon akan ke hotel malam hari karena dia ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal.
Aku dan Amel akan sekamar, karena Aku telat jadinya Amel meminta kunci kamar duluan tanpa menungguku. Aku pun tidak masalah karena kasihan jika dia harus menungguku datang dulu baru kita kekamar.
Aku masih menunggu Ayah yang tak kunjung pulang. Aku ingin pergi dengan ojek saja, namun Aku tidak ingin mengecewakan Ayah yang meminta untuk mengantarku.
Dua jam berlalu, Ayah baru pulang ke rumah. Ayah meminta maaf dan langsung mengantar Aku ke hotel X. Ayah hanya mengantarku telat di depan hotel. Aku tahu Ayah sangat lelah jadi tidak memintanya mengantar Aku sampai dikamar. Setelah, pamit dengan mencium telapak tangan Ayah. Ayah pun langsung pergi, Aku masih berdiri melihat Ayah pergi hingga punggungnya sudah tidak terlihat lagi.
Aku menelpon Amel untuk menjemputku dibawah namun dia tidak mengangkat telponnya padahal telponnya masuk. Aku mengirimnya pesan namun tidak juga dibalas. Aku menunggu hampir 20 menit lamanya. Karena Amel belum memberikan kabar, Aku pun masuk dan bertanya kepada resepsionis.
Kata resepsionis kamar kami berada dilantai 3, nomor 113. Aku pun bergegas ke lift untuk menuju kekamar. Lift pun tiba dilantai 3. Aku berjalan mengecek nomor-nomor yang ada di pintu. Aku berjalan hingga mentok diujung koridor lantai 3, namun Aku tidak menemukan kamar dengan nomor 113. Aku pun kebingungan, dan berulang kali mengecek nomor-nomor yang tertera dari masing-masing pintu. Namun, masih sama saja aku tidak menemukan kamar dengan nomor 113.