
Alif dan Kay berjalan ke arah kantin, disana mereka berjumpa dengan Anton dan Aris yang sedang menikmati semangkuk bakso pesanan mereka.
"Hey, bro. Tumben berdua doang. Teman-teman cewek kalian pada kemana?" Sapa Alif.
"Biasa di kosnya Ria rebahan." Jawab Aris.
"Kenapa kalian nggak ikut haha..." Ucap Alif.
"Kos khusus cewek Cok. Yang ada kita berdua digebukin." Tutur Anton.
"Lif, kamu pesan apa oy." Teriak Kay.
"Mie ayam sama es teh satu." Jawab Alif.
Alif, Aris, Anton dan Kay mengobrol sembari menikmati makanan mereka. Pembahasan bermacam-macam, banyak topik yang mereka bahas padahal hanya memesan semangkuk bakso dan mie ayam.
"Eh, btw kalian berdua kan suka ngumpul bareng cewek-cewek kan." Tanya Alif.
"Kalian kan juga suka kumpul kebo di kosnya Bian." Sahut Anton.
"Mana ada, aku mah jomblo cuy. Itu si Bian, Andi, Angga dan teman kos lainnya yang sering bawa cewek. Cuman ngumpul-ngumpul doang ye nggak buat macam-macam." Tutur Alif.
"Oh iya kalian berdua aja kan yang jomblo. Gimana tuh perasaan kalian pas melihat mereka bucin-bucin gitu? Hahaha.." Tukas Aris.
"Batin tersiksa cuy." Jawab Alif.
"Istighfar everytime." Sahut Kay.
"Kita dong komplotan jomblo hahaha..." Jawab Aris.
"Mana ada, tuh si Ria, Sari, Via, Yeni ada pasangannya." Jawab Kay.
"Iya, tapi mereka jarang kumpul dengan kami juga. Biasa yang kumpul kita-kita doang yang jomblo, kecuali si Ria." Tukas Aris.
"Emang siapa aja? Kalian berdua, trus Cherly, Naina dan Chia yah?" Tanya Alif.
"Iyaps..."Jawab Anton.
"Kalian pernah nggak suka sama salah satu diantara mereka?" Tanya Alif sembari menyeruput mie ayamnya.
"Nggak bakal cuy, tuh cewek-cewek kesabarannya setipis tisu, suka ngoceh, cerewet luar biasa. Haduh pokoknya nggak bakal deh." Ucap Aris.
"Benaran nih, padahal nih yah kalau diperhatikan mereka cantik-cantik loh." Tutur Alif.
"Iya cantik tapi kelakuan kayak setan semua, nggak ada lembut-lembutnya jadi cewek." Tutur Anton.
"Kami nanya-nanya seperti ini, jangan-jangan?" Ucap Aris.
"Iya nih, Aku bosan jomblo dari lahir jomblo pengen juga bucin kek anak-anak kos. Kira-kira diantara mereka ada yang mau sama Aku nggak yah?" Ucap Alif.
"Wah, itu para cewek walaupun jomblo standar mereka cowok Korea cuy." Ucap Anton.
"Tiap hari bahasnya cowok Korea mulu." Sahut Aris.
"Emangnya kamu mau sama siapa?" Tanya Anton.
"Hmmm, si Chia sih. Tapi, pasti dia nggak mau sama Aku kan." Tukas Alif.
Anton, Aris dan Kay tiba-tiba tersedak mendengar kejujuran Alif, mereka saling pandang dan menatap ke arah Alif.
"Kamu yang benar saja? Bisa-bisanya kamu tertarik sama ratu Singa kayak dia." Tutur Anton.
"Emang dia segalak itu yah? Yah, emang kalau dia lagi serius tuh mukanya judes banget. Tapi, Aku rasa dia baik kok." Tutur Alif.
"Iya emang, diluar galaknya dia bisa dibilang dia cewek yang sangat perfect. Jangankan kamu Aku juga mau tapi yah beda kepercayaan." Tutur Anton.
"Kan dia tuh cantik banget, trus mana pintar, baik, perhatian pokoknya dia tuh keren deh. Kira-kira dia mau nggak sama Aku." Tanya Alif.
"Enggak, dia tuh kalau disuka duluan suka dicuekin, jadi harus dia yang suka duluan gitu. Tapi, dia suka sama cowok yang emang nggak suka dia, noh contohnya si Kay." Tukas Aris.
"Oh, iya dia suka sama Kay yah." Ucap Alif sedih.
"Tapi, kalau kamu mau bilang aja ke dia. Si Kay juga nggak tertarik sama Chia kan. Trus sekarang sepertinya dia sudah tidak pernah menceritakan tentang Kay. Biasanya dia selalu membahas si Kay, tapi sekarang udah enggak jadi kamu masih memiliki kesempatan." Tutur Anton.
"Si Kay mah sok jual mahal sih, padahal Chia itu perfect banget loh. Oh iya Kay sukanya sama si Nadin." Tutur Alif.
"Enggak yah, Aku nggak ada perasaan apapun sama Nadin." Sahut Kay.
"Masa sih? Si Chia always mengeluh karena kamu selalu perhatian sama Nadin." Jawab Anton.
"Iya, padahal setiap hari dia selalu begadang buat ringkasan materi buat kamu, bahkan kami jadi korban biar bantu kamu disemua mata kuliah, dia selalu memperhatikanmu dari kejauhan bahkan sering menangis karena kamu mengabaikan dia." Cicit Aris.
"Parah sih, emang nih si Kay sombong banget. Sok cakep deh, kalau Aku jadi Kay udah Aku langsung terima."Tutur Alif.
"Apaan sih." Sahut Kay.
"Eh tapi kamu benar nggak tertarik sama Chia kan? Biar Aku yang maju aja. Memperjuangkan perasaanku kepadanya. Siapa tahu Aku mendapatkan keberuntungan dari langit hahahaha..." Tutur Alif.
"Semangat, Lif." Ucap Anton dan Aris kompak.
...----------------...
Dicafe Chia dan Kay sedang menunggu Alif dan Sion yang tak kunjung datang. Mereka janjian untuk menyelesaikan tugas kelompok mereka di cafe. Alif yang menyarankan untuk melanjutkan tugas di Cafe namun dia sendiri yang belum tiba.
Tidak ada percakapan sama sekali antara Chia dan Kay, suasana menjadi canggung.
"Si Sion nggak bisa datang karena ada urusan mendadak." Ucap Kay memecahkan keheningan.
"Okey." Jawab Chia singkat.
Tidak sampai semenit Alif juga mengabarkan bahwa dia tidak bisa datang. Terpaksa, hanya Kay dan Chia saja yang melanjutkan tugas tersebut.
"Ehm, kamu mau pesan apa?" Tanya Kay.
"Tidak perlu repot, nanti Aku pesan sendiri." Ucap Chia.
Chia benar-benar menunjukkan perubahan sifat yang sangat signifikan terhadap Kay. Biasanya dia akan sangat lemah lembut jika berbicara dengan Kay, namun saat ini kebalikannya, dia sangat tegas dan datar.
"Oh, iya syntax yang error sudah kamu perbaiki?" Tanya Chia.
"Oh iya, maaf Aku masih belum bisa memperbaiki. Aku bingung kesalahannya dimana." Ucap Kay.
"Hmm, coba Aku lihat." Ucap Chia.
Kay pun bergegas berdiri membawa laptopnya ke Chia. Padahal, dia bisa saja menggeser laptop itu ke arah Chia.
Kay meletakkan laptop nya disamping laptop Chia, kemudian dia duduk disamping Chia. Chia pun mencari kesalahan error pada syntax yang dibuat oleh Kay.
"Permisi, Mas. Ada mau pesan makan atau minum." Tanya seorang waiter.
Saat mereka tiba, mereka membang belum memesan apa-apa. Kay pun langsung memesan makan dan minum miliknya.
"Okey sudah saya catat yah, Mas. Pacarnya mau pesan apa?" Tanya waiter lagi.
Chia menoleh saat waiter itu melihat ke arahnya.
"Maaf, kak. Aku bukan pacarnya." Ucap Chia datar.
"Oh, maaf." Ucap Waiter.
Chia hanya mengangguk, dan memesan minum dan makan punya dia. Setelah itu, waiter itu pergi.
Chia kembali fokus dengan laptop yang berada dihadapannya. Sementara, Kay izin untuk ke toilet sebentar.
"Gadis itu sendiri yah? Wah, cantik yah." Ucap kumpulan lelaki.
"Kalau sendiri Aku mau sapa ah." Ucap salah satu diantara mereka.
Sementara itu, didalam toilet. Beberapa cowok masuk bersamaan sembari tertawa terbahak-bahak.
"Gila tuh si Vino, langsung gercep aja kalau lihat cewek cantik." Ucap Salah satu pria.
"Aku juga mau, cantik banget tuh cewek. Sendirian pula, Aku juga mau minta nomor teleponnya deh."
"Cewek di meja nomor 4 kan, iya men cakep banget. Tadi Aku sempat lewat didekatnya beh wangi banget."
"Gimana kalau ada pacarnya?"
"Yaudah rebut dong."
Kay membuka pintu toilet, dia berjalan diantara para cowok itu. Mencuci tangannya lalu mengeringkan tangannya. Setelah itu, Kay beranjak keluar namun dia menghentikan langkah kakinya.
"Maaf, cewek yang ada di meja nomor 4 adalah pacar saya. Tolong, jangan berpikir hal-hal yang senonoh." Ucap Kay kepada para pria itu kemudian langsung pergi menutup pintu toilet.
...----------------...
Saat Kay keluar dari kamar kecil, dia mendapati Chia sedang mengobrol dengan seorang pria. Pria itu duduk didepan Chia namun Chia menjawab dengan wajah judes dan cuek.
Kay pun bergegas ke arah Chia, kemudian duduk disamping Chia.
"Temanmu yah Chi?" Ucap Kay.
Chia menoleh ke arah Kay, dia menjawab pertanyaan Kay dengan menggelengkan kepalanya.
"Maaf kamu siapa yah?" Tanya Kay kepada pria itu.
"Oh, tidak Aku pikir tadi dia sendiri jadi Aku mengajaknya mengobrol." Jawab pria itu.
"Oh, dia datang bersama denganku." Ucap Kay.
Pria itu langsung bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Chia masih saja fokus dengan laptop milik Kay. Sementara, Kay terus melirik dan mencuri-curi pandang ke arah Chia.
"Nah, ini sudah beres. Kamu salahnya disini loh, harusnya kan kamu buat gini tapi malah kamu buatnya seperti ini. Kan udah beres simple aja." Jelas Chia.
Chia menoleh ke arah Kay dan kemudian tersenyum beberapa detik, bahkan Kay sempat terpesona dengan senyuman Chia. Namun, ekspresi Chia tiba-tiba berubah datar.
"Eh, maaf." Ucap Chia.
"For what?" Tanya Kay.
"Bukan apa-apa, oh iya kenapa kamu duduk disitu?" Tanya Chia.
"Memangnya kenapa?" Tanya Kay.
"Bukannya kamu nggak suka dekat-dekat sama Aku? But, it's okey bukan Aku yang duluan yah kamu yang duluan. Tapi, tenang aja Aku udah nggak tertarik sama kamu." Ucap Chia lugas.
"Why?" Tanya Kay.
Chia pun menatap Kay dengan tatapan sedikit kaget. Kenapa dia harus menanyakan alasan padahal dia sendiri yang meminta.
"Karena mengejar itu capek, so Aku menyerah. Jadi, kamu tenang aja Aku nggak bakal ganggu kamu lagi. Jawab Chia.
Kay hanya terdiam, sementara Chia menggeserkan barang-barang yang ada diatas meja, karena makanan yang dipesannya sudah tiba. Chia pun melahap makanannya dengan nikmat.
...----------------...
Dua jam sudah mereka berada di cafe, mereka pun beres-beres untuk pulang.
Didepan pintu cafe, langkah mereka terhenti karena hujan yang turun sangat lebat.
"Perasaan tadi panas deh, mana nggak bawa mantel." Tutur Kay.
Sementara, Chia membungkus tasnya dengan pelindung hujan. Setelah itu, dia melangkah ingin menerobos hujan. Namun, Kay menarik tasnya sehingga Ia tertarik kebelakang.
"Ih, apaan sih." Ucap Chia.
"Kamu mau kemana? Nggak lihat hujan tuh." Ucap Kay.
"Yah, mau pulang lah." Sahut Chia.
"Kamu bawa motor?"
"Enggak."
"Trus, kamu pulang sama siapa? Dijemput?" Tanya Kay.
"Sama ojeklah."
"Astaga, tunggu hujan agak reda. Aku antar kamu pulang."
"Enggak, usah terimakasih."
"Ntar laptop kamu basah tahu."
"Enggak, Aku bawa mantel trus ditambah mantel Pak Ojek jadi nggak bakal basah."
Chia pun dengan cepat berlari ke luar dari gedung. Sementara, Kay hanya melihat Chia yang sudah pergi.
Hampir sejam Kay menunggu hujan tak kunjung berhenti. Dia ingin menerobos, hujan namun dia sedang membawa laptop.
"Pacar cantiknya mana, Mas?" Tanya salah satu pria yang Kay temukan di toilet tadi.
"Hahaha, palingan cuman teman tapi ngaku-ngaku pacarnya yah..."
Kay hanya diam dan tidak merespon ucapan pria-pria itu.
"Iya, kata pelayan juga cewek itu malah ngaku bukan pacarnya. Ngaku-ngaku aja gitu, mungkin dia yang suka tapi ceweknya nggak mau."
"Hahahaha...." Gelak tawa mereka pecah.
Kay masih sabar dan tidak merespon ocehan mereka.
Dari kejauhan, Kay melihat Chia yang sedang berlari dengan mantel yang dua kali lebih besar dari tubuhnya.
Chia berlari hingga berdiri didepan Kay dan pria-pria yang sedang mengejek Kay.
"Kenapa wajahmu masam?" Tanya Chia yang sangat peka dengan ekspresi Kay.
"Tidak apa-apa. Kenapa kamu kembali?" Tanya Kay.
"Kamu nggak bawa mantel kan? Hujan sepertinya awet, ini udah mau gelap loh. Kalau kamu terobos nanti laptop kamu basah. Jadi, ini Aku beli plastik di kios depan sana. Bungkus deh laptop dan tas kamu." Ucap Chia.
Kay yang melihat Chia mengoceh dengan tangannya yang memperagakan apa yang dia ceritakan serta mantelnya yang sangat besar membuat Chia seperti anak kecil yang sangat imut. Tidak hanya Kay, pria-pria yang mengejek Kay pun ikut senyum-senyum sendiri.
"Pacarnya perhatian yah, Mas." Ucap salah satu pria.
Kay dan Chia menoleh ke arah pria itu, lalu Kay kembali menatap wajah Chia.
"Iya, sangat perhatian." Ucap Kay sembari menatap wajah Chia.
Pria-pria itu langsung pergi, tinggal Chia dan Kay sendiri.
"Sudah semua?" Tanya Chia.
"Iya sudah." Jawab Kay.
"Okey deh, kalau gitu Aku pergi dulu." Ucap Chia.
Lagi-lagi Kay menarik Chia, dan memaksa untuk mengantarkan Chia pulang. Akhirnya, Chia menerima tawaran Kay untuk mengantarnya pulang.