I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 36



Mau berapa kali Aku memanggilnya dia tidak pun menoleh. Setiap Aku mendekatinya dia selalu menghindar. Aku sangat kesal, lalu Aku pun tidak melakukan hal yang sama. Aku memilih untuk berhenti meminta ponselku pada Kak Archi. Aku masuk kekamar, kurebahkan tubuhku diatas kasur.


Perutku terus mengeluarkan aungannya. Suara peringatan bahwa tubuhku butuh energi. Sejak pagi, Aku tidak makan. Aku sangat pening hingga nafsu makanku hilang. Namun, Aku mengabaikan bunyi perutku itu.


Aku mengelus-elus dan sesekali memukul pelan perutku yang setiap kali berbunyi. Wajahku menatap langit-langit, namun lengan kiriku menutup mataku. Aku seperti linglung dan tidak tahu mau melakukan apa.


Kak Archi yang masuk ke kamar, memang kamar ini milik dia. Jadi, sesuka hatinya masuk keluar kamar.


Aku hanya mendengar suara pintu terbuka, namun Aku masih dalam posisiku tanpa menoleh bahkan melirik sedikit pun. Perutku terus berbunyi tanpa henti, mungkin Kak Archi juga mendengarnya. Yah, mungkin saja karena Aku saja bisa mendengar suara itu seperti aungan singa.


"Apakah rumah ini tidak memiliki makanan sama sekali, sampai perutmu mengeluarkan suara seperti guntur?" Cerca Kak Archi.


Akhirnya, dia berbicara denganku. Walaupun, terlambat baginya karena Aku sudah sangat kesal padanya hingga malas Aku berbicara dengannya. Yah, sama seperti dia mengabaikanku.


Aku masih diam, perutku terus berbunyi dengan suara yang lebih keras.


Kak Archi bergegas keluar kamar, namun Aku tidak peduli dan masih rebahan seperti pada posisi sebelumnya.


****


Beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka kembali terdengar. Kak Archi masuk lagi kekamar. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri menghadap diriku.


"Bangun." Ucap Kak Archi


Aku tidak menghiraukannya dan membuat diriku seakan-akan tuli.


"Aku sudah beli nasi bungkus, cepat pergilah makan." Ucap Kak Archi lagi


Aku masih tidak menghiraukannya. Biar dia rasa bagaimana perasaan orang yang diabaikan.


"Aku hitung sampai 3. Kalau kamu masih tidak bangun, lihat akibatnya." Seru Kak Archi


"Cih, dia pikir dia siapa? Apa yang dikatakannya harus didengar. Kalau kita yang ngomong suka-suka dia mau dengar atau enggak." Batinku


"Chia, jangan buat Aku marah yah. 1, 2, 3...." Seru Kak Archi


Aku masih sama, terus menghiraukannya.


Kak Archi yang tingkat kesabarannya setipis kertas HVS pun mulai kesal dan mengomel panjang lebar.


Kak Archi menarik tanganku begitu kuat, sehingga Aku tiba-tiba dalam posisi berdiri. Tarikkannya sangat kuat, hingga Aku bisa terhempas dari kasur.


"Cepat, ke ruang makan. Jangan buat Aku kesal."


Aku tidak menjawabnya dan mencoba untuk kembali merebahkan badanku diatas kasur. Kak Archi yang melihat tingkahku itu pun, langsung menggendongku dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan.


"Apaan sih, turunkan Aku. Aku nggak mau makan." Teriakku meronta-ronta.


Kak Archi menggendongku sangat kuat, hingga sampai dimeja makan. Dia langsung menurunkan Aku, dan menarik kursi hingga membuatku terduduk.


"Aku bilang nggak mau makan." Ucapku kembali berdiri dan ingin pergi.


Aku melangkah hingga dalam hitungan tiga langkah.


"Okey, kamu tidak mau makan. Aku tidak pusing. Tapi, kamu berani membantahku. Baiklah, sepertinya kamu tidak ingin HPmu kembali. Ku banting saja HP ini." Ucap Archi sinis.


Aku sudah tidak tahan, Aku mengepalkan kedua tanganku. Wajahku sudah panas karena emosi. Menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri pun sudah tidak mempan.


Aku membalikkan badanku, menatap tajam ke Kak Archi.


"Kalau Kak Archi ada dendam sama Aku, Kak Archi ngomong. Apakah, Aku ada buat salah sama Kakak? Atau mungkin Kak Archi nggak suka sama Aku. Tolong, Kak Archi bilang. Nggak usah mempersulit Aku seperti ini." Ucapku dengan mata yang panas dan berkaca-kaca.


"Kalau Aku ada salah sama Kakak, Aku minta maaf. Mungkin Aku buat Kakak kesal sengaja atau tidak disengaja Aku minta maaf." Lanjutku.


"Kalau misal Kak Archi bilang Aku yang ambil jam tangan Kakak. Demi Allah, Kak. Aku nggak ambil. Aku datang ke kota ini untuk menghibur diri bukan untuk nyuri barang orang." Tuturku yang langsung menitihkan air mata.


Aku menundukkan wajahku, air mataku bercucuran dilantai. Perasaanku campur aduk, antara marah, kesal dan sedih.


Aku sudah tidak bisa menahan lagi, suaraku semakin tersedu-sedu. Menangis dengan suara ratapan penuh emosi.


"Maaf, Kakak tidak bermaksud begitu." Ucap Kak Archi yang tiba saja sudah didepanku.


"Tidak bermaksud bagaimana, Kak. Aku tidak tahu Aku buat apa sampai Kakak memperlakukan Aku seperti ini." Tangisku benar-benar pecah.


Kak Archi menarik ku dalam pelukannya. Dia mengelus punggungku. Aku yang menolak mencoba mendorong tubuhnya menjauh dariku. Tapi, pelukan Kak Archi semakin kuat.


"Aku salah apa kak?" Ucapku sembari memukul-mukul tubuh Kak Archi


"Kamu nggak salah, Kakak minta maaf." Ucap Kak Archi.


"Kalau nggak salah, kenapa Kakak selalu mempersulit Aku. Sekejap baik, sekejap kayak monster yang menyebalkan. Kak Archi benar-benar diktaktor tahu." Ocehku yang masih dalam pelukan Kak Archi.


"Iya, Kakak emang gitu. Maaf, Kakak tidak bermaksud membuatmu menangis. Jangan nangis lagi."


"Kak Archi tuh menyebalkan tahu. Suka maksa, harus patuh. Pokoknya, Kak Archi menyebalkan." Ocehanku semakin menyudutkan Archi.


"Iya, maaf. Jangan nangis lagi."


"Iya, udah jangan nangis lagi. Baju kakak sudah banyak ingus kamu tuh." Ujar Kak Archi


Aku menarik wajahku dan melihat kaos Kak Archi yang basah akibat air mata dan ingusku yang kutumpahkan.


"It...itu ..kan gara-gara Kakak." Ucapku


Kak Archi kembali menarikku dalam pelukannya.


"Iya Kakak minta maaf."


"Kak Archi janji nggak boleh jadi orang yang nyusahin gitu."


"Iya, janji kakak nggak gitu lagi."


"Kalau gitu kembalikan HP aku." Ucapku yang lepas dari pelukan Kak Archi


"Iya, iya. Nih ambil." Ucap Kak Archi sembari menyerahkan HP milikku


Aku mengambil HP milikku yang disodorkan Kak Archi kepadaku.


"Nanti Kakak yang boking tiket untukmu. Tapi, kamu makan dulu yah. Kasihan perut kamu udah teriak-teriak terus." Pinta Kak Archi


Aku pun mengangguk dan kembali ke meja makan. Kak Archi hanya membeli sebungkus nasi. Yang mana nasi itu hanya diberikan kepadaku. Sementara, Kak Archi tidak makan.


Aku pun mulai menyantapi makananku. Dan Kak Archi terus melihatku makan.


"Kak Archiii... Nggak... Nyusahin Aku lagi kan kali ini..." Tanyaku dengan segukan


"Iya, udah kamu fokus makan tuh."


Kak Archi mendekatkan kursinya dengan kursiku. Dia melap pinggiran mataku, yang masih tersisa air mata. Aku hanya menoleh kepadanya, dengan kedua pipi yang chubby karena penuh makanan. Kak Archi hanya tersenyum dan mencoba menahan tawanya melihatku. Aku pun sudah tidak perduli dengan image seorang wanita, karena Aku juga sudah sangat kelaparan.


POV: Archi


Aku mengamati Chia makan, dia seperti tupai yang sedang menyimpan makanan dikedua pipinya. Tubuhnya kecil tetapi pipinya begitu empuk dan lumayan chubby untuk dicubit.


Ekspresinya saat marah begitu lucu dan sangat cantik.


Namun, Aku tidak bisa melihat wajahnya penuh air mata. Aku sangat menyesal membuat dia menangis.


Dia mengatakan bahwa Aku membencinya. Nyatanya, adalah kebalikannya. Aku jatuh cinta padanya. Dia sangat manis dan setiap melihatnya rasanya tidak ingin dia lepas dari pandanganku.


Mengetahui dia akan pergi, aku merasa sangat sedih. Dan tiba-tiba saja aku sangat kesal dan marah. Sehingga, membuatku ingin menjahilinya.


"Kamu makan yang benar dong. Ini sampai belepotan dipipimu." Ucapku sembari memunguti sisa makanan yang ada di pipinya.


Aku memasukkan sisa itu kedalam mulutku.


"Ih, Kak Archi. Itukan sisa makananku."


"Yah, emang."


"Kenapa dimakan. Kalau mau makan ini ambil yang disini. Jangan yang dipipi aku. Kak Archi nggak jijik apa." Seru Chia


"Enggak, sisanya Chia enak kok." Jawabku


Aku terus menatapnya, semakin lama dan semakin lekat Aku melihatnya dia semakin menarik dimataku.


"Kak Archi, Aku benar nggak ambil jam tangan milik Kakak. Sumpah deh, Aku nggak bohong. Tapi, kalau kakak kekeh mengatakan bahwa Aku yang mengambilnya, aku akan bertanggung jawab untuk menggantikan yang baru." Tutur Chia


"Iya, kakak tahu. Kakak sebenarnya nggak hilang kok jam tangannya."


Chia tiba-tiba menatapku tajam, lalu dia mulai menangis lagi.


"Kak Archi, kenapa gitu. Kalau mau ngerjain orang jangan kayak gitu juga kan. Gimana kalau orang-orang pada percaya kalau Aku yang ambil. Kan aku kesini bukan untuk jadi pencuri kak." Isak Chia


Walaupun wajahnya penuh dengan air mata, tetapi mulutnya yang penuh dengan makanan serta ocehannya membuatku ingin menertawai ekspresinya saat ini. Tetapi, dia akan semakin marah padaku.


"Iya, kakak minta maaf." Ucapku


Aku berjalan kearahnya memeluknya lagi dan mengelusnya kepalanya, agar dia tenang.


Namun, jujur saja ini adalah kesempatan yang bagus bagiku karena bisa memeluk Chia. Aku benar-benar menyayanginya.


POV: Chia


Aku sangat kesal dengan Kak Archi, dia benar-benar manusia yang menyebalkan. Menuduhku sembarangan, padahal itu hanya akal-akalan dia saja.


Aku tidak kuasa menahan tangisku. Hanya didepannya saja harga diriku bisa dipermainkan seperti ini.


"Kakak lain kali jangan gitu lagi, yah. Itu dapat merusak nama baikku. Kalau Ibukku mendengarnya Aku sudah langsung diusir dari kartu keluarga." Ucapku dengan isakan


Kak Archi terus mengelus kepalaku dan memelukku, dan mengucapkan kata 'maaf' berulang kali.


Aku pun tidak berbicara apa-apa lagi, hanya terisak namun masih menyantapi makananku.