I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 72



Pertandingan final dimulai, sebenernya Chia tidak ingin hadir. Namun, angkatan mereka masuk final baik group cowok dan cewek. Oleh karena itu, Chia hadir dengan paksaan dari Cherly dan Aris. Kali ini, Chia sudah berjanji kepada Naina untuk diam dan tidak bertindak gegabah seperti beberapa hari yang lalu sehingga membuatnya malu sendiri.


Pertandingan begitu menegangkan hingga bunyi peluit detik-detik terakhir kemenangan diraih oleh tim cowok, membuat semua bersorak gembira.


Kali ini, tim cowok dan cewek sama-sama memenangkan pertandingan, kedua tim mendapatkan juara 1. Hal ini membuat sporter mereka heboh dan berhamburan masuk kelapangan untuk memberikan semangat dan merayakan kemenangan.


Chia dan kawan-kawannya menghampiri dan mengucapkan selamat. Mereka mengambil banyak gambar dan melepaskan haru, ini pertama kalinya dalam 3 tahun angkatan mereka bisa mendapatkan juara 1.


Mereka pun mengobrol panjang lebar begitu juga dengan Aris dan Anton yang terus membahas detik-detik tendangan pinalti yang menentukan angkatan mereka bisa menang.


Tendangan pinalti dilakukan oleh Andi, namun tidak sempat gol tetapi diselematkan oleh Anton dan Kay yang dengan cepat merebut menyundul dan menendang bola dengan kompak hingga masuk ke gawang lawan. Permainan, yang penuh dengan drama dan kerja keras. Namun, hasilnya sangat membanggakan.


Disamping itu, Chia terus melirik ke arah Kay. Kay dikeliling banyak orang terutama banyak wanita yang berfoto dengannya.


"Hufftttt...." Hela napas Chia sembari menundukkan wajahnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Cherly.


"Enggak." Jawab Chia.


"Ehm, oh kamu juga mau foto dengan Kay yah?" Bisik Cherly.


Chia menoleh menatap Cherly, dia diam tanpa mengatakan apa-apa. Namun, eksepsinya dengan mudah ditebak oleh Cherly.


"Ayok." Ajak Cherly.


"Kemana?" Tanya Chia.


"Mau foto sama dia nggak?" Tunjuk Cherly ke arah Kay.


"Enggak ah, lagian dia juga nggak bakal mau foto sama Aku." Sahut Chia murung.


"Ih, udah ini lagi momen bahagia loh, tuh semua aja berfoto dengan dia. Ayok." Ucap Cherly menarik tangan Chia.


Chia mengikuti langkah Cherly, yang berjalan mengarah ke Kay. Cherly dan Chia menunggu sejenak hingga orang-orang yang mengelilingi Kay pergi. Tepat saat Kay tinggal seorang diri, Cherly menarik tangan Chia dan mendekati Kay.


"Kay, selamat yah." Ucap Cherly basa basi.


"Iya, terimakasih." Jawab Kay.


Chia sangat deh degan dia juga ingin mengucapkan selamat kepada Kay. Namun, tidak sanggup keluar kalimat dari mulutnya saking gugupnya.


"Oh, iya Chia mau foto sama kamu boleh?" Tanya Cherly.


"Yah, Aku sudah mau pergi. Teman-teman Aku lagi nunggu." Ucap Kay.


"Cepat aja, foto doang." Paksa Cherly.


"Maaf, yah. Lain kali yah." Ucap Kay.


"Tapi...."


Chia menarik lengan baju Cherly, memberikan isyarat untuk tidak memaksa Kay lagi.


Kay pun pergi begitu saja, Chia hanya tersenyum dan memegang dadanya yang bercampur aduk antara deg degan dan sedih.


"Sorry, yah. Chi." Ucap Cherly.


"Iya, nggak papa. Aku sudah tahu kok dia nggak bakal mau foto sama Aku." Ungkap Chia tersenyum.


"Dia aneh yah, padahal dulu kamu sama Ian dia nempel di kamu. Sekarang sok banget dijauhin segala." Cerca Cherly.


"Ya udah ayok deh, ditunggu tuh sama teman-teman yang lain." Tutur Chia.


Cherly dan Chia kembali berkumpul dengan teman-temannya. Mereka bersiap-siap untuk pulang.


Saat melewati lapangan yang saat ini sedang bertanding adalah kakak tingkat di prodi mereka.


"Eh, katanya buru-buru pulang. Apaan tuh lagi nonton doang." Cicit Cherly.


"Siapa?" Tanya Aris.


"Tuh, si Kay. Tadi kamu minta foto bilangnya buru-buru. Padahal, nggak kelihatan buru-buru." Tutur Cherly.


Ekspresi Chia semakin mendung, dia berusaha untuk menguatkan hatinya. Bahkan saat dia melihat ada yang datang meminta foto lagi kepada Kay. Kay dengan senang hati menyambut dan berpose. Chia tersenyum sinis dan seketika tertawa kesal.


Mereka berjalan melewati gerombolan Kay dan teman-temannya. Namun, dari arah lapangan bola melayang hingga keluar lapangan. Bola itu mengarah ke arah Kay. Chia dengan sigap menghadang bola dengan tubuhnya. Bola itu mengenai kepala Chia.


"Awww...." Jerit Chia.


"Kamu nggak papakan?" Tanya Kating.


"Iya, Kak. Nggak papa." Ucap Chia.


Chia memalingkan wajahnya dari lapangan, saat berjalan kepalanya tiba-tiba saja pusing. Tendangan tadi sangat kuat hingga bola yang menyentuh kepala belakang Chia mengenai otak kecil Chia. Chia berjalan dengan terhuyung, kemudian dia menjongkok agar tidak terjatuh.


Naina berjalan kearahnya, diikuti oleh teman-temannya yang lain.


"Are you okay?" Tanya Ria.


"Aku pusing, hehehe...." Ucap Chia.


"Kamu sih, pake acara ngehadang bola. Kamu kira bola itu lembek kayak kapas." Cerca Naina.


"Kamu bisa berdiri?" Tanya Ria.


"Wait, Aku duduk sejenak." Ucap Chia mengelus keningnya.


"Heh, lihat tuh orang yang kamu lindungi asik foto-foto dengan cewek lain. Nggak punya hati banget deh, udah ditolongin juga." Ujar Cherly.


Chia melirik kearah Kay, namun kepalanya sedang pusing sehingga tidak mampu lagi hatinya merespon sakit.


Anton dan Aris membantu Chia untuk berdiri, kemudian mereka bergegas keluar dari stadion.


...----------------...


"Gimana jadi makan nggak?" Tanya Aris.


"Chia tuh kayaknya nggak bisa deh, antar dia pulang dulu gimana?" Sahut Cherly.


"Eh, gapapa. Aku fine, ayok kita makan aja." Jawab Chia.


"Are you sure?" Tanya Ria.


"Iya, ayok. Aku juga udah lapar deh. Udah nggak pusing lagi kok." Tutur Chia.


Mereka pun saling memandang satu sama lain, berbicara dengan bahasa isyarat.


"Ih, ayok. Aku benar-benar baik okey. Ayok jalan." Ucap Chia.


Mereka pun menuruti ucapan Chia, mereka segera mencari warung makan yang mereka sukai untuk mengisi kekosongan diperut mereka.


...----------------...


Mereka tiba diwarung makan langganan mereka, mereka pun memesan makanan mereka masing-masing.


Sembari menunggu makanan mereka diantar, mereka pun mengobrol seperti manusia pada umumnya.


"Gila, Aku kesal banget. Nggak nolongin malah genit sama cewek." Oceh Naina.


"Iya, padahal pas Aku samperin tuh tahu apa dia bilang 'duh teman-temanku sudah nunggu'. Padahal, dia masih nonton pertandingan juga. Sumpah emosi deh." Sambung Cherly.


"Siapa sih yang kalian bicarakan?" Tanya Aris.


"Tuh, si Kay. Pujaan hatinya si Chia yang songong." Tutur Naina.


"Oh iya, waktu itu juga Aku temani Chia mau ngasih air malah di tolak." Ucap Aris.


"Yang sabar yah, Chi." Ucap Anton mengelus bahu Chia.


"Apaan sih." Ucap Chia.


"Kamu tuh suka apanya sih?" Tanya Anton.


"Kamu nanya? Sini Aku kasih tahu yah. Kalau kamu tanya Aku, Aku tanya siapa?" Ucap Chia.


"Mengesalkan. Pantas Kay nggak suka sama kamu." Sahut Anton.


"Yah, astaga. Aku mana tahu Aku suka dia karena apa? Yah, tiba-tiba suka aja. Lagian yah emangnya cinta itu butuh alasan ha?" Oceh Chia.


"Tapi, dia udah nolak kamu sampai berkali-kali. Nggak capek apa ngejar mulu?" Tanya Naina.


"Huffftttttt...." Chia hanya bisa menghela napas, dia bahkan bingung menjawab pertanyaan itu.


Ditengah-tengah obrolan mereka, makanan pesanan mereka pun tiba. Seketika mereka sibuk dengan makanan mereka dan menyantap makanan mereka dengan lahap.