
Setelah hampir 25 menit Kay memejamkan matanya, diapun membuka matanya. Dia menegakkan tubuhnya. Pundak Chia rasanya keram bahkan dia tidak bisa menggerakkan tangannya.
"Ini sudah jam berapa?" Tanya Kay.
"Jam setengah sembilan." Jawab Chia.
"Beberapa lama Aku tertidur?"
"Kira-kira 25 menit."
"Apa? 25 menit? Pundak kamu nggak papakan. Apa sakit?" Ucap Kay memeriksa pundak Chia.
"Nggak papa cuman agak keram aja, ntar juga kembali normal." Tutur Chia.
"Maaf yah." Ucap Kay memelas.
"Iya, kamu hafal nomor anggota keluargamu nggak? Biar Aku pinjam HP orang aja trus kita hubungi keluargamu." Ucap Chia.
"Ehm, Aku rasa nomor Ibuku."
"Oh, ya udah berapa nomornya?"
Kay pun menyebutkan nomor Ibunya, walaupun agak ragu benar atau tidak Chia tetap ingin mencoba. Chia masuk ke ruang IGD lagi, dia berbicara dengan suster untuk meminta pertolongan untuk menghubungi keluarganya Kay. Setelah menghubungi nomor yang disebutkan oleh Kay, nomor itu benar punya Ibunya. Suster yang berbicara kepada Ibu Kay, kata suster keluarganya akan datang segera mungkin.
Chia pun keluar untuk memberitahu Kay bahwa keluarganya akan datang menjemputnya.
"Keluargamu sudah akan datang, jadi Aku bisa pergi sekarang." Ucap Chia.
"Tunggu, keluargaku belum tiba masa kamu tega ninggalin Aku sendiri." Ucap Kay.
"Trus, Aku harus nunggu lagi gitu? Ntar kemalaman adekku nggak mungkin mau nyari Aku."
"Keluargaku akan mengantarmu."
Chia pun hanya diam, dia juga tidak tega meninggalkan Kah seorang diri. Dia pun menunggu lagi bersama Kay.
"Aku haus." Ucap Kay.
"Ehm? Kamu mau minum?" Tanya Chia
"Iya."
"Ya udah, kamu tunggu disini Aku belikan kamu air dulu. Selain minum kamu mau apa lagi?"
"Enggak itu saja."
"Okey. Nih, pegang obatmu."
"Masukkan saja didalam tas."
"Baiklah, kamu tunggu yah Aku cepat saja kok."
Chia bergegas pergi untuk membeli air minum untuk Kay.
...----------------...
Chia membeli air di kantin rumah sakit, setelah membeli air Chia bergegas kembali. Namun, dalam perjalanan kembali ke Kay, Chia berjumpa dengan Nadin.
"Loh, Chia? Kamu sedang apa disini." Tanya Nadin.
"Oh, Aku tadi check up. Kamu ngapain disini."
"Aku jenguk teman Aku yang sakit. Kamu sendirian?"
"Kalau check up sendirian, tapi sekarang Kau bersama Kay."
"Kay? Kok bisa dia sama kamu? Pantas saja tadi Aku tunggu dia nggak datang, padahal dia bilang akan mengantarku ke rumah sakit ini." Oceh Nadin.
"Mengantarmu?"
"Iya, Aku memintanya untuk mengantarku. Tapi, Aku tunggu-tunggu dia nggak datang, Aku hubungi pun nomornya diluar jangkauan."
"Jadi, sebelum kecelakaan Kay ingin menjemput Nadin? Heh, apa yang Kau harapkan. Entah, Aku sangat menyedihkan." Batin Chia.
"Kenapa kamu bisa bersama Kay?"
"Oh, Kay kecelakaan. Trus, Aku tidak sengaja bertemu dengannya di IGD. Ponselnya rusak, mungkin karena itu kamu tidak bisa menghubunginya."
"Kecelakaan? Kok bisa? Trus dia dimana?"
"Dia didepan IGD. Ini aku lagi beli air untuknya."
"Oh yeah, Aku kesana deh. Oh, iya sini biar Aku yang ngasih dia aja." Tutur Nadin.
"Nggak apa-apa, biar Aku yang ngasih aja." Ucap Chia.
"Nggak papa sini Aku aja, lagian gara-gara Aku mungkin dia jadi kecelakaan. Dia bela-belain mau jemput Aku sampai harus terkena musibah gini." Tutur Nadin.
Chia tidak bisa menolak lagi, dia pun menyerahkan air itu kepada Nadin. Padahal, hatinya tidak rela namun dia tetap memberikan air itu.
"Oh, iya kamu hanya menemani dia kan?"
"Iya, tadinya Aku mau pulang tapi karena keluarganya baru dihubungi jadi Kay memintaku untuk menunggu sampai keluarganya tiba."
"Oh gitu, yaudah kamu pulang aja. Biar Kay aku yang temani."
"Nggak usah kamu langsung pulang aja."
"Oh, okey. Baiklah, bilang dia semoga cepat sembuh. Oh sama satu, obatnya ada dua satu obat minum dan satu obat salep, yang satu minumnya 3 kali sehari yah."
"Okey, nanti Aku bilang ke dia yah."
Nadin pun bergegas mencari keberadaan Kay, Chia hanya diam melihat Nadin yang berlari mencari Kay. Chia memegang dadanya yang terasa sakit. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Kay sendiri kecelakaan karena ingin menjemput Nadin. Chia berbalik arah, menuju pintu keluar utama.
...----------------...
Nadin akhirnya berjumpa dengan Kay, dia pun menyapa Kay. Dengan wajah ibanya melihat kondisi Kay.
"Kamu baik-baik saja? Maaf yah gara-gara Aku kamu jadi seperti ini." Tutur Nadin.
"Nggak papa. Kamu kok disini?"
"Aku nungguin kamu tapi kamu nggak datang-datang juga, jadi aku jenguk temanku sendiri aja. Oh iya ini minumnya."
"Siapa yang... Ini Chia yang ngasih yah?"
"Iya, Aku tadi nggak sengaja ketemu sama dia dikantin. Trus, katanya dia buru-buru mau pulang jadi nitip ini sama Aku." Ucap Nadin.
"Apakah dia benar sangat membenciku, bahkan tidak mau berlama-lama bersamaku?" Batin Kay.
Tidak berapa lama keluarga Kay akhirnya datang juga.
Sementara itu, Chia sedang merogoh saku dipakaiannya.
"Astaga, uangku nggak ada. Oh iya, Aku tadi pake uang ojek untuk tebus obatnya si Kay. Gimana nih? Aku balik aja kali yah minta ganti uang." Tutur Chia.
Chia pun kembali untuk berjumpa dengan Kay. Namun, dari kejauhan Chia melihat Kay sedang dibopong oleh keluarganya. Tidak hanya itu, Nadin juga ikut didalam mobil itu. Chia bahkan belum sempat meminta uang ganti kepada Kay. Mobil Kay berlalu melewati Chia begitu saja.
"Trus Aku gimana nih. Apa jalan kaki aja, nggak jauh juga sih tapi lumayan juga. Duh, gimana nih?" Oceh Chia.
Chia pun berjalan keluar gerbang rumah sakit. Untungnya ini malam minggu, jadi jalan masih ramai.
Chia memutuskan untuk memanggil ojek, sampai dirumah nanti baru dia bayar.
Sesampainya didepan gerbang rumah, Chia menyuruh ojek untuk tunggu sebentar karena dia ingin membawa uang dulu dirumah. Chia bergegas masuk kerumahnya, sementara ojek menunggu diluar.
"Maaf, Pak. Lagi nunggu siapa yah?"
"Nunggu mbak yang tinggal disini, Mas. Katanya mau ambil uang dulu."
"Oh, dia belum bayar yah?"
"Iya, Mas ee."
"Berapa totalnya?"
"5000rb saja, Mas."
"Ini, Pak."
"Iya, terimakasih yah Mas."
Ojek itu pun berlalu pergi, sementara Chia bergegas lari keluar rumah.
"Loh, ojeknya kemana?"
"Udah pergi."
"Tapikan, Aku belum bayar."
"Aku udah bayarkan."
"Oh, yeah. Terimakasih, nih Aku ganti."
"Nggak papa Aku ikhlas kok."
"Ian, ambil nih uangnya."
"Iya iya, nih Aku ambil yah. Btw, kamu dari mana?" Tanya Ian.
"Kepo banget deh, dah lah Aku masuk dulu yah. Terimakasih, Ian. Byeeeee..." Ucap Chia kemudian pergi meninggalkan Ian.
...----------------...
"Hufftttttt... Kok Aku kesal yah... Apa dia nggak nunggu dulu gitu, siapa tahu Aku kembali lagikan. Dia kan bilang mau ngantar Aku. Dasar nggak tahu etika, kan harusnya dia ngucap terimakasih dulu... Argahhhhh kesal deh." Oceh Chia.
Chia terus ngedumel dan mencaci maki Kay, dia terus mengumpat.
"Apakah Nadin dan Kay sedang pendekatan. Jika iya, bukankah Aku harus menyerah. Haish, Aku tidak ingin bersaing dengan siapapun." Cicit Chia.
Chia terus mengingat saat Kay naik ke mobil, dia bahkan tidak menoleh untuk mencari keberadaan Chia. Bahkan memberikan tumpangan kepada Nadin, padahal yang mendampinginya adalah dirinya. Mengingat hal itu, air mata Chia menetes begitu saja.
"Hiks, hiks, hiks kenapa Aku menangis sih. Padahal, Aku udah bertekad untuk menjauh darinya, huhuhu... Mengapa melupakan perasaan untuk dia sangat sulit, padahal dengan Ian tidak seperti ini. Hiks hiks hiks..." Oceh Chia sembari menangis.
"Ayolah, Chia. Dia tidak menginginkanmu. Ayo move on dong, kamu nggak capek kayak gini terus." Oceh Chia pada dirinya sendiri.
Chia terus menangis hingga air matanya sudah enggan untuk menetes. Bahkan, dia sampai kecapean lalu ketiduran.
"Jika bisa, Aku akan melepaskanmu. Benar kata orang, melepaskan orang yang belum dimiliki jauh lebih sulit. Dari awal tidak seharusnya Aku menaruh rasa untukmu. Namun, Aku menyerah jika kamu memilih bersama orang lain. Saat Aku terbangun nanti, semoga kamu sirna dari pikiranku.