I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 22



"Hal yang paling menyakitkan adalah kehilangan diri sendiri dalam proses terlalu mencintai seseorang, dan lupa bahwa kamu juga spesial." - Ernest Hemingway.


Begitulah kalimat yang muncul diberanda feed IG milik ku. Yang muncul saat Aku sedang men-scroll feed instagram. Seperti memberikan wejangan kepadaku untuk meniti kehidupan yang lebih baik dan lebih bersyukur karena telah dalam proses menjalani dunia pendewasaan. Benar terlalu mencintai seseorang sehingga membuat kita sakit sangatlah rugi. Bagaimana orang lain bisa mencintai diri kita jika kita saja tidak mencinta hidup kita sendiri.


"Pertama, terimalah kesedihan. Sadarilah bahwa tanpa kalah, menang tidaklah terlalu bagus." - Alyssa Milano.


Kita harus sadar bahwa kesedihan juga bagian dari aksesoris kehidupan yang akan terus kita dapatkan selama hidup. Maka, kita harus menerima walaupun terasa pedih. Apa yang tidak ditakdirkan untuk kita, maka lepaskanlah.


"Salah satu perlindungan dari kekecewaan adalah memiliki kesibukan." - Alain de Botton.


Yah, contohnya healing dan menyibukkan diri untuk menghilangkan rasa yang teramat pedih. Dan kembali tersenyum saat jiwa, hati dan pikiran kita telah jernih dan menyudahi kesedihan kita.


"Ini Instagram kok bisa tiba-tiba munculin quotes kek gini sih? Kek tahu saja Aku lagi ada masalah dan mencoba untuk melupakan. Jangan-jangan Instagram bisa meramal kali yah!" Ocehku dalam benak.


Terlepas dari itu semua, yup Aku datang ke kota M ini memang untuk melepaskan kesedihanku dan membuang semuanya. Dan kembali ke kotaku dengan Aku yang seperti dulu namun hadir dengan lembaran baru. Kesedihan kemarin telah tercatat rapih di bab yang lalu, tidak perlu disesali karena dari semua yang Aku alami kemarin membuatku mendapatkan pengalaman dan bisa membuatku lebih baik kedepannya.


Seminggu dikota M, setelah kedatanganku. Aku masih melakukan kunjungan kerumah-rumah keluarga Ibu. Ibu sudah membuat list rumah yang wajib Aku kunjungi, untuk mempererat hubungan baikku dengan keluarga Ibuku. Untung saja rumah keluarga Ibu masing-masing berdekatan jadi Aku tidak terlalu lelah. Walaupun, perjalanan ke rumah keluarga Ibu sangat jauh. Pasalnya, keluarga Ibu berada di desa. Jadi, dari kota Aku harus menempuh 4 jam perjalanan untuk ke desa.


Di kota Aku tinggal dirumah saudara sepupu jauhku. Dia juga yang menjemputku saat dibandara. Saat datang Aku dibiarkan untuk beristirahat selama 3 hari. Setelah itu, Aku diantar ke desa untuk berkunjung kerumah sanak saudara.


Keluarga ibuku rata-rata memiliki anak cowok, anak cewek sangat jarang. Mungkin, hanya Ibuku saja yang memiliki banyak anak perempuan. Tetapi, Untung saja Tante tempatku tinggal memiliki anak perempuan yang sangat ramah dan suka mengajakku jalan.


Aku harus bergantian tinggal dirumah keluargaku. Jadi, beberapa hari dikota dan beberapa hari didesa. Akan tetapi, karena didesa sangat susah mencari jaringan. Jadi, Aku lebih berlama-lama dikota.


Didesa Aku sangat jarang memegang ponsel karena sama sekali tidak ada jaringan. Kami harus berjalan beberapa kilometer untuk mendapatkan tempat yang ada sinyal jaringan. Tapi, menurutku itu bagus karena Aku bisa melakukan aktivitas lain dan mungkin akan lebih cepat melupakan kesedihanku.


Hari ini, Aku mendapatkan jadwal untuk nginap didesa. Sore hari, Aku dan sepupuku namanya Faris berencana ke laut. Yah, dia sudah janji akan mengajakku bermain dilaut.


Setelah bersiap-siap, Aku dan Faris pun bergegas pergi. Faris mengendarai motornya. Sepanjang jalan Aku benar-benar terkagum-kagum karena desa ini masih asri. Kicauan burung masih terdengar, sungai yang airnya mengalir jernih dan udara yang segar, pohon-pohon rimbun menjulang tinggi serta penduduk yang masih sedikit. Rumah-rumah di desa ini masih sedikit dan jaraknya berjauhan. Namun, penduduknya ramah. Rata-rata warga yang ada didesa ini adalah petani dan peternak. Bisa dilihat banyak hewan ternak dimana-mana.


Kami pun memasuki kawasan pantai. Benar saja baru awal saja kami sudah disuguhi pantai yang luar biasa menakjubkan air yang bersih dan juga jernih. Kawasan ini masih belum banyak dijamah oleh manusia. Faris memilih kawasan pantai yang diujung karena disana pemandangannya sangat indah.


Kami pun tiba ditempat, aku yang baru saja turun dari motor sudah tidak sabar untuk menikmati deburan ombak.


Benar-benar menakjubkan, bentukan pantai yang dibentuk langsung oleh alam ini memang sangat-sangat luar biasa Masya Allah. Pasalnya, tempat ini seperti stadion. Yang mana dindingnya terbuat dari batu-batu laut yang kokoh. Dibalik dinding yang kokoh ini kami langsung disuguh laut lepas yang airnya benar-benar biru. Deburan ombak yang pecah menghantam dinding batu karang menambah keindahan pantai ini. Oh, iya. Tempat ini tidak diperuntukkan untuk berenang. Pasalnya, gulungan ombaknya sangat kuat. Dan tempat kita berpijak ini sangat tinggi, dan sangat tajam saat berjalan. Hanya bisa berfoto dengan latar ombak yang pecah hingga ke langit. Air laut yang berwarna biru kehitaman menandakan bahwa kita diatas kedalaman laut yang sangat dalam. Sekalinya jatuh maka tubuh kita akan terbawa ombak dan tidak akan ditemukan lagi, sudah berada dilepas pantai.


Aku dan Faris berjalan perlahan-lahan. Pijakan yang sangat tajam sehingga kami harus memegang batu-batu sekitar agar tidak terjatuh. Kami ingin mencapai salah satu batu yang paling tinggi ditempat itu. Akan sangat bagus jika berfoto ditempat itu.


Setibanya dibatu tersebut, kami beristirahat sejenak, karena selain capek kami juga harus berani karena jika salah jalan kami bisa jatuh dari ketinggian ini.


"Chi, coba teriak." Pinta Faris


"Hah? Ngapain kek orang stress saja." Sahutku


"Coba deh, seru loh. Kan emang kamu lagi stress."


"Udah dengarin Aku. Teriak aja."


"Malas ahh... Nggak mau..." Ujarku


"Anggap saja teriakan itu adalah buang sial."


"Buang sial itu apa?"


"Buang sial itu kamu melepaskan semua kesialanmu atau kesedihanmu. Coba saja pasti ngaruh.


Aku hanya terdiam dan tidak mau mempermalukan diri dengan melakukan hal yang aneh. Kebiasaan orang didesa terkadang sangat aneh.


"Ya udah, Aku dulu yah yang teriak duluan." Ucap Faris


"Aaaaaaasaaaaaaa............" Teriaknya


Aku pun menutup telingaku karena suaranya yang sangat kuat yang beradu dengan deburan ombak yang pecah dibatu karang.


Aku melihatnya dia benar-benar teriak dengan sekuat tenaga. Sepertinya dia benar melepaskan beban. Dia masih melanjutkan teriaknya. Aku pun yang tergerak mulai berteriak disampingnya.


Aku kumpulkan semua emosiku, semua kesedihanku dan semua yang membuatku benar-benar merasa sakit menjadi satu dalam teriakku. Aku meneriakkan dengan segenap jiwa dan ragaku. Tanpa sadar saat teriak Aku meneteskan air mata, namun hatiku tidak merasa sakit akan tetapi sesuatu yang ada dihatiku seperti diangkat pergi dan menghilang. Aku seperti merasa lega dan merasa telah membuah semua yang buruk dihatiku.


Aku menoleh ke arah Faris, Faris tersenyum kepadaku. Air mataku masih mengalir tetapi Aku tersenyum lega.


"Kan enak kan. Ini namanya buang sial." Ucap Faris sembari bertongkak pinggang dan wajah penuh kebanggaan. Seperti orang yang ingin mendapatkan pujian.


"Iya, buang sial benar-benar manjur. Nggak sia-sia aku datang kesini." Tuturku


"Iyakan ide siapa dulu dong Farisss..." Sahutnya


"Ide Faris? Aku pikir ini tradisi pedesaan untuk membuat seseorang yang sedih kembali ceria." Ucapku dengan wajah polos.


"Hahahahhahah....." Tawa Faris Pecah


"Mana ada tradisi seperti itu. Dasar orang kota." Lanjut Faris masih menertawakanku


"Oh, bukan yah hahaha." Ujarku yang juga ikutan tertawa.


Semenjak Aku datang ke kota M, keluargaku tidak pernah bertanya apapun kepadaku, apa alasan aku datang mau dan lain sebagainya. Tetapi, mereka memperlakukanku dengan baik, menjagaku dan selalu menghiburku.


Ibu pasti sudah menceritakan masalahku kepada keluargaku tidak mungkin tidak. Namun, mereka sama sekali tidak menyinggung hal itu kepadaku. Mungkin, ibu yang meminta kepada mereka. Aku tidak mengambil keputusan yang salah, datang ke kota M benar-benar bisa membuatku kembali pulih, yah buang sial dan buang kepedihan.


Setelah berlama-lama di pantai, mengambil banyak gambar. Kami pun langsung pulang, karena langit sudah gelap. Hari ini adalah hari yang menyenangkan.