
POV: Chia
Aku terbangun saat mendengar suara Azan. Sudah Subuh rupanya. Aku mengkucek-kucek kedua mataku, lalu termenung dan masih dala posisi mengumpulkan kesadaran.
"Astaghfirullah." Ucapku yang terkejut.
Aku memeriksa tubuhku, pakaianku masih dalam keadaan lengkap. Meraba-raba tubuhku tidak terjadi apa-apa. Aku pun menarik napas lega.
Aku terkejut karena, semalam Aku nonton di ruang tamu dan entah mengapa Aku sudah tertidur dikasur.
Bisa-bisanya Aku kebablasan tidur saat bersama dengan Kak Archi. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi, Kak Archi begitu mesum.
Untung saja dia masih diberikan akal pikiran. Aku pun berdiri dan menuju kamar kecil untuk mengambil wudhu.
Selepas, salat Aku lanjut tidur diatas sajadah. Rasanya sangat nyaman, dan tidur setelah salat menurutku adalah hal yang sangat membuat tidur semakin nikmat. Mungkin, ini pengaruh kekuatan setan yang menghasutku untuk kembali tidur setelah salat. Tetapi, Aku tidak munafik. Godaan setan yang satu ini tidak bisa Aku tolak. Aku pun tertidur lelap.
****
Aku terbangun lagi, kulihat tubuhku lagi-lagi diatas kasur. Dengan mukenah masih melekat pada tubuhku. Lalu, Aku bangun dan melepaskan mukenaku.
Aku berjalan ke dapur, ku lihat Kak Archi sedang berada disana.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Kak Archi
"Apa Aku harus jawab pertanyaan Kakak, sementara Kakak sedang melihatku berdiri didepan kakak." Jawabku
"Iya, iya deh. Sini kamu sarapan dulu." Ucap Kak Archi
Aku pun berjalan ke meja makan, Kak Archi sudah menyiapkan beberapa menu untuk dijadikan sarapan.
"Bismillah, Kak Aku makan yah." Ucapku
"Iya, makan aja."
Aku pun menyantap makanan yang ada dihadapanku. Sementara itu, Kak Archi hanya memandangiku yang sedang makan. Mungkin dia memiliki hobby yang suka melihat orang makan.
"Kak Archi nggak sarapan?"
"Tidak perlu, Aku lihat kamu makan saja sudah kenyang."
"Oh, gitu yah..." Ucapku datar
"Habis ini kamu siap-siap yah."
"Siap-siap? Emangnya mau kemana?"
"Jalan. Kamu kan sudah mau balik hari Jumat besok. Jadi, sebelum balik kamu harus mengenang kota ini."
"Aku kira nggak jadi."
"Kenapa nggak jadi?"
"Ehm, okey deh Aku siap-siap deh. Trus, Nana gimana?"
"Kakak sudah telpon, dikit lagi dia pulang kok."
Suara ketukan pintu terdengar. Mungkin itu Nana, yang mengetuk pintu. Aku bergegas berdiri untuk membukakan pintu.
"Mau kemana?"
"Ada yang mengetuk pintu."
"Duduk aja."
"Tapi, ad...."
"Duduk, habiskan makananmu. Aku yang akan buka pintunya."
Akupun menurut saja kepada Kak Archi. Aku hanya duduk dan melanjutkan makan.
Tidak sampai beberapa lama, Kak Archi kembali ke ruang makan. Tidak hanya Kak Archi, dibelakang Kak Archi ada Faris, Zaid dan dua orang pria lainnya.
Setelah beberapa saat mereka datang, Nana pun tiba dirumah juga.
Aku yang sudah selesai makan, bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih sekalian memakai pakaian yang bersih.
Tidak hanya Aku, Nana pun juga bersiap setelah Aku. Sembari menunggu Nana Aku menyiapkan minum untuk Faris dan teman-temannya.
"Kamu mau ngapain?"
"Mau buat minum untuk mereka."
"Nggak usah, kayak siapa saja. Kalau mereka haus yah ambil sendiri. Kenapa kamu yang harus repot." Ucap Kak Archi
"Nggak papa, Aku nggak repot kok."
"Nggak usah, Chia. Mereka keenakan. Kamu hanya boleh buatkan Aku minum. Mereka tidak pantas minum air yang dibuat langsung dari tanganmu."
Aku mengurungkan niat, untuk membawakan air untuk Faris dan lainnya. Jika, Aku melanggar perintah Kak Archi baik itu karena dia bercanda ataupun tidak. Aku harus menjaga suasana hatinya agar dia tidak berubah mood dan membatalkan perjalanan ini.
Kami yang sudah siap sedang menunggu Nana yang masih bersiap-siap. Nana adalah anak gadis tulen, yang mana akan sangat lama jika berpakaian dan berdandan.
Kami mengobrol di ruang tamu. Selain itu, Aku juga berkenalan dengan dua teman Kak Faris. Tidak lain adalah Adit dan Kevin. Aku pernah sekilas melihat Kevin waktu didesa namun kami tidak saling menyapa. Kevin seumuran dengan Yeyen adikku. Jadi, Kevin 2 tahun lebih muda dariku. Sementara itu, Adit baru Aku jumpai. Dia seumuran dengan Faris. Jadi, satu tahun lebih tua dariku.
"Kapan kamu ke desa?" Tanya Faris
"Hari Jumat Aku sudah berangkat jadi, hari Selasa atau Kamis Aku ke desa mau pamitan. Tapi, kalau ada yang antar tapi kalau nggak kamu tolong sampaikan yah." Ucapku
"Kalau gitu setelah jalan-jalan. Kamu ikut kami saja." Timpal Adit
"Boleh, Kak. Baliknya nanti Aku ikut Tante Sinar aja. Kalau gitu Aku diboncengi siapa?"
"Aku." Ucap Faris, Zaid dan Adit kompak.
"Tubuhku cuman satu, bagaimana caranya Aku bisa bersama kalian bertiga sekaligus? Terus Kevinnya bagaimana pulangnya?"
"Dia sama Zaid. Jangan sama Adit nanti kamu dibawa lari. Dia itu buaya sungai." Ucap Faris
"Oh, ya udah Aku sama Faris saja."
"Siapa yang bolehin kamu pergi?" Timpal Kak Archi.
"Aku sendiri, kan tubuh-tubuh Aku. Jadi, suka-suka Aku dong." Jawabku sinis
"Tanpa izin dariku, kamu nggak bisa pergi."
"Ha...."
Aku ingin melanjutkan kalimatku tapi, Aku takut dia akan marah dan membatalkan rencana hari ini. Aku menarik napas panjang untuk tidak berdebat dengannya.
Nana datang diwaktu yang tepat. Setelah dia bersiap-siap. Kami pun bergegas pergi.
Kami tidak menggunakan mobil, kami memakai motor. Jadi, kami saling membonceng masing-masing.
Ada empat motor dan enam orang. Jadi, tiga dari kami harus dibonceng. Aku bingung akan ikut siapa. Aku melirik ke Nana, pasti dia bersama Kak Archi. Sementara, Kevin dia langsung naik ke motornha Faris. Jadi, Aku punya dua pilihan yaitu Zaid dan Adit.
Aku belum lama kenal dengan Adit. Jadi, Aku pun kearah Zaid.
"Aku sama Zaid yah?"
Zaid tersenyum sumringah, dia pun bergegas menurunkan pedal pinjakan penumpang.
"Kenapa kamu yang Aku bonceng sih." Tutur Faris
"Lah, trus Aku sama siapa?" Sahut Kevin
"Sama Adit sana!" Titah Faris
"Aih, motornya aja moge. Kalau Aku sama dia berasa kayak cowok letoy." Jawab Kevin
"Sama Zaid sana, ntar Chia Aku yang bonceng."
"Yeeee, bilang aja maunya sama Kak Chia."
"Udah tahu nanya."
Kevin pun berjalan kearahku.
"Kak, kamu sama Faris yah, Aku yang sama Zaid." Pinta Kevin.
Aku menjadi bingung dan menoleh kearah Faris.
"Oh, baiklah."
Aku pun bersama Faris, dan kami mulai melakukan perjalanan. Hari ini kami akan menikmati destinasi wisata yang ada di kota M ini.
Pertama kami menghampiri wisata pantai. Tempatnya sangat indah. Sangat memanjakan mata. Warna laut yang biru dan mengkilap karena terpaan sinar matahari.
Aku pun bergegas turun, namun saat ingin turun aku disuguhi pemandangan yang mungkin sangat mencengangkan.
Yup, Kak Archi dan Zaid mengulurkan tangan mereka kepadaku. Aku pikir mereka sedang meminta uang masuk tempat wisata dan uang parkir kendaraan. Aku pun turun tanpa memegang tangan mereka berdua. Setelah turun Aku merogoh uang didalam tas dan kuberikan kepada mereka berdua.
Faris dan Kevin hanya tertawa melihat tingkahku.
"Kenapa kamu memberikan aku uang? Memangnya kamu pikir Aku pengemis." Ucap Kak Archi.
"Aku pikir kakak meminta uang masuk tempat wisata." Jawabku polos.
"Kau..." Ucap Kak Archi tanpa melanjutkan perkataannya.
Faris dan Kevin terus tertawa terbahak-bahak. Sehingga, membuatku bingung. Nana juga yang menghampiriku ikut menertawakan Aku.