
Dua Minggu berlalu Chia masih tidak ke kampus, padahal seminggu lagi ujian tengah semester diadakan.
"Gimana nih udah mau ujian kok Chia nggak ke kampus juga?" Ujar Cherly.
"Iya, Aku chat dan telpon nggak ada respon centang satu malah." Tutur Aris.
"Chia nggak mungkin nggak ikut ujian kan? Apa dia cuti?" Sahut Cherly.
"Nggak tahu juga, kan absennya online trus kita nggak bisa lihat daftar hadir dosen kan?" Tutur Ria.
"Tanya sama Pak Arga gimana?" Ucap Anton.
"Langsung ke rumahnya saja." Tutur Naina.
"Oh, iya. Lagian inikan udah lama trus dia juga nggak kasih kabar."Ucap Ria.
"Iya, setelah kuliah kita langsung jenguk aja dirumahnya." Tutur Cherly.
"Oke." Jawab mereka kompak.
Setelah kuliah hari ini berakhir, Naina, Ria, Anton, Aris dan Cherly bersiap untuk ke rumah Chia. Di parkiran mereka berjumpa dengan Via dan Sari yang juga ingin menjenguk Chia, tidak hanya itu Angga, Sandi, Bian juga Yeni meminta untuk ikut.
Mereka pun bergegas pergi ke rumah Chia, dalam perjalanan mereka berjumpa dengan Kay. Kay pun bergabung bersama mereka. Sesampainya dirumah Chia, mereka pun mengetuk pintu rumah Chia.
"Tok Tok Tok...."
Pintu terbuka, Ibu Chia keluar dan menyambut kedatangan mereka. Ibu Chia mempersilahkan mereka masuk dan duduk diruang tamu.
"Silahkan duduk jangan malu-malu yah anggap rumah sendiri." Pinta Ibu Chia.
"Iya, Tante." Jawab mereka sopan.
"Kalian mau minum apa?" Tanya Ibu Chia.
"Tidak perlu repot-repot, Bu." Jawab Naina.
"Ih, jangan gitu. Yen... Yeyen... Tolong buatkan minum yah." Teriak Ibu Chia.
"Nggak usah Tante, kami cuman mau jenguk Chia aja. Soalnya dia udah dua Minggu nggak masuk kampus, trus chat kami juga nggak dibalas makanya kami kesini." Tutur Naina.
"Iya, Tan. Soalnya sudah mau ujian tengah semester tapi Chia masih belum ada kabar." Sambung Aris.
"Oh, Chia yah. Chia nggak dirumah saat ini." Jawab Ibu Chia.
"Oh, Chia lagi keluar yah?" Tanya Ria.
"Iya, seminggu yang lalu dia sama Ayahnya ke negara S untuk menjalankan exposure therapy. Kemarin malam, mereka lanjut ke negara J juga jadi mungkin baliknya dua minggu lagi." Tutur Ibu Chia.
"Memangnya Chia kenapa, Bu? Sampai harus melakukan terapi?" Tanya Naina.
"Ingatan masa lalunya kembali terulang, ingatan itu merupakan trauma terbesarnya. Entah kenapa sampai bisa terjadi, setelah keluar dari rumah sakit dia sering histeris." Tutur Ibu Chia.
"Oh, iya Bu. Aku dan Ria juga ada saat itu, dia tiba-tiba saja teriak hingga suster menyuntikkan obat penenang untuknya." Jelas Naina.
Mereka pun saling pandang satu sama lain, mereka baru menyadari jika Chia pernah mengalami kejadian yang luar biasa. Namun, Chia tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya sendiri.
"Ibu senang sekarang dia memiliki banyak teman. Karena kejadian itu, dia menjadi anak yang pendiam dan susah berbaur dengan orang lain." Jelas Ibu Chia.
"Tenang Tante sekarang, Chia orangnya periang dan juga suka menolong, walaupun dia suka marah-marah seperti singa." Tutur Aris.
"Oh iya? Tante juga lihat, dia suka senyum-senyum. Rupanya teman-temannya sekarang sangat baik yah. Mohon bantuannya untuk menjaga Chia yah." Tutur Ibu Chia.
"Iya, Tante." Jawab Mereka kompak.
"Oh, iya apakah Chia pernah jatuh? Soalnya, dia juga saat diperiksa sama dokter mengalami geger otak." Tanya Ibu Chia.
"Kalau jatuh kurang tahu yah, Bu. Tapi, kepalanya pernah hantaman dari bola saat pertandingan sepakbola di kampus." Jelas Naina.
"Oh, gitu yah? Tapi, bisa juga geger otak."
"Mungkin dia pernah jatuh namun tidak mengatakan pada siapapun." Tutur Cherly.
"Iya, juga dia memang seperti itu kalau sakit nggak pernah mau menceritakan kepada orang rumah." Jelas Ibu Chia.
Mereka pun bercerita panjang lebar tentang Chia, Ibu Chia pun menceritakan tentang Chia dengan penuh semangat dia sangat senang Chia memiliki banyak teman yang begitu peduli dengannya.
Ibu Chia juga menjelaskan bahwa Chia tidak membawa ponselnya oleh karena itu dia tidak membalas pesa yang dikirim teman-temannya. Jika ingin menghubunginya telpon saja di nomor Ayahnya.
Setelah hampir sejam mereka dirumah Chia, mereka pun pamit untuk pulang. Setelah beberapa dari mereka pergi, tinggal Naina, Anton, Aris dan Cherly juga Kay yang masih bersiap untuk pergi. Namun, Kay menahan mereka untuk sementara.
"Aku bisa ngomong sama kalian nggak?" Tanya Kay.
"Nggak punya waktu." Ucap Naina ketus.
"Sebentar saja, ini tentang Chia." Ucap Kay.
"Iya, bicara saja. Nggak usah hiraukan Naina." Tutur Aris.
"Sebenarnya, Chia pernah jatuh saat menolongku. Aku sudah ingin mengajaknya kerumah sakit, namun dia menolak. Tidak berapa lama dia pingsan dikelas, saat itu dia baru saja menolongku." Tutur Kay dengan nada yang rendah.
"Tuh kan, karena kamu. Lagi lagi kamu loh, Chia benar-benar bodoh bisa suka sama kamu. Kamu tahu sudah berapa kali dia menolong kamu. Tapi, kamu selalu membuatnya sedih dan menangis." Cerca Naina.
"Tapi, Aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak mengejar dan menolong ku lagi." Ucap Kay.
"Kamu pikir dia mau seperti itu, bahkan dia terus bertanya kenapa dia bisa menyukaimu. Bahkan, saat kamu membuatnya sedih dia tidak bisa menghapus perasaannya untukmu. Dia sudah berusaha untuk menjauh darimu, namun setiap melihatmu kesulitan hatinya terasa sakit karena itu dia selalu menolongmu. Tapi, sia-sia saja menyukai seseorang yang tidak mencintai balik sangat menyedihkan, Aku berdoa semoga dia memilih untuk menghapus ingatannya tentang menyukaimu." Tutur Naina.
"Lalu, apakah Aku harus berpura-pura menyukai dia? Bukankah itu lebih menyakitkan saat dia tahu bahwa Aku hanya menerima perasaannya karena rasa kasian kepadanya atau karena rasa ingin membalas budi baiknya?" Ujar Kay.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu, namun tidak pantas juga Kau terus membuatnya sedih dengan tingkah dan ucapanmu."
"Jika tidak seperti itu, maka dia akan terus berharap kepadaku. Sementara, Aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Aku hanya ingin berteman dengannya." Tutur Kay.
Naina terdiam, bagaimana pun Kay juga benar. Tapi, sebagai sahabatnya Chia, Naina juga merasa sangat kesal. Tanpa berkata-kata lagi Naina pun berpaling dari Kay dan bergegas menjalankan mesin motornya, sementara Aris, Anton dan Cherly terdiam sejenak namun pergi juga tanpa berkata-kata.