
"Lah, si Chia nggak ke kampus lagi? Ini udah 3 hari loh?" Tanya Anton.
"Jangan-jangan dia sakit lagi atau mungkin dia lagi ikut turnamen lagi." Ucap Aris.
"Iya nih, tuh anak suka kadang-kadang soalnya." Sahut Naina.
"Tapi, dia nggak masuk kuliah pun nilainya sudah terjamin nggak kayak kita." Tutur Cherly.
"Ho'oo. Coba video call deh." Pinta Anton.
Naina pun segera menghubungi Chia dengan melakukan panggilan video call.
Panggilannya masuk hanya saja, Chia menolak panggilan.
"Lah, ditolak dong." Tutur Naina.
"Wah, parah sih." Ucap Cherly.
Tiba-tiba panggilan telpon milik Naina bergetar. Nama Chia terpampang jelas diponsel milik Naina. Naina pun mengangkat, telpon dari Chia itu.
"Assalamualaikum, kenapa Na?" Ucap Chia.
"Wa'alaikumus salaam. Nggak papa, nih teman-teman pada nanya kamu kok nggak ke kampus." Jelas Naina.
"Speaker, Na." Suruh Aris
Naina pun meletakkan ponselnya diatas meja, lalu menyalakan speaker hp agar suara Chia dapat terdengar oleh mereka semua.
"Aku pindah kampus." Ucap Chia.
"Oh, pindah kampus. Dia pindah kampus." Ucap Naina.
"Oh..." Ucap mereka.
Seketika mereka terdiam sejenak, lalu mengulang kalimat yang diucapkan oleh Chia.
"Tadi dia bilang, pindah kampus kan?" Tanya Anton lagi.
"Iya, dia bilang gitu." Sahut Aris.
"Hahahaha, iya pindah kampus. Nih Aku lagi urus berkas-berkas Minggu depan Aku sudah pindah." Jelas Chia.
"Eh, kunyuk jangan becanda yah." Oceh Naina.
"Aku nggak becanda, coba tanya aja di prodi. Eh udah dulu yah, ini Aku lagi ada pertemuan. Byeee..." Ucap Chia.
"Yang benar, Na?" Tanya Anton.
"Lah, Aku juga nggak tahu. Dia nggak bilang ke Aku." Ucap Naina.
"Nih, anak suka aneh-aneh emang yah." Tutur Anton.
"Nggak jelas emang tuh dia." Sahut Naina.
"Kita udah dipertengahan gini dia malah mau pindah? Yang benar aja." Cicit Aris.
"Lah, emang orang pintar gitu kali yah." Ucap Cherly.
"Dukun kali, orang pintar." Ucap Anton.
"Oh, ini dia ada chat. Kata Chia, besok baru dia ke kampus trus jelaskan ke kita sekalian mau ucap salam perpisahan." Jelas Naina.
"Ya udah besok aja baru kita dengar penjelasan dia." Tutur Anton.
...----------------...
Besoknya, sesuai isi chat dari Chia, Chia pun ke kampus dan berjumpa dengan teman-temannya. Namun, dia lebih dulu ke ruang dosen mengurus beberapa berkas.
Setelah itu, Chia mencari keberadaan teman-temannya, yang mana mereka sedang berkumpul di kantin.
"Haiii gesss." Sapa Chia.
"Nah, orang yang dibicarakan sudah datang." Ucap Sari.
"Kalian lagi bicarain Aku yah? Jahat deh, bicara dibelakang." Gurau Chia.
"Iya nih, enak aja ngomongin kamu. Btw, benar kamu mau pindah kampus?" Tanya Sari.
"Iya." Angguk Chia.
"Kamu nggak bohong kan?" Tanya Via lagi.
"Iya, tapi kalian jangan ngomong ke siapa-siapa yah ini rahasia awas yah. Pacar kalian juga nggak boleh tahu."
"Iya." Jawab Via, Sari dan Ria kompak.
"Ya udah, sini dekat-dekat ke Aku. Biar Aku bisikin." Ucap Chia.
Mereka semua merapat hingga seperti berbentuk lingkaran yang bahkan tidak ada celah untuk angin menerobos masuk.
Chia dengan suara pelan menjelaskan semuanya dengan jelas.
"Ohhh..." Jawab mereka.
"Yah, walaupun begitu kamu bakal jauh dari kami dong, huhuhu..." Ucap Cherly.
"Lebay deh."
"Bukan lebay, tapi emang kita kehilangan tempat buat kami nyontek." Tutur Aris.
"Astaghfirullah, jadi selama ini Aku hanya ladang ilmu buat kalian." Tutur Chia.
"Iya." Jawab mereka kompak.
"Ya udah, Aku nggak bisa lama-lama. Masih ada yang harus Aku urus." Ucap Chia.
"Yah, kamu mau pindah nggak ada acara gitu, acara perpisahan." Ucap Aris.
"Nggak ada udah ah, Aku pergi dulu. Oh iya kalian lihat Alif nggak?" Tanya Chia.
"Di kelas tadi." Sahut Sari.
"Oke, Aku kesana dulu yah. Byeeee..." Ucap Chia sembari pergi meninggalkan teman-temannya.
...----------------...
Chia pun berjalan ke ruang kelas, mencari keberadaan Alif.
"Eh, Chia nyari siapa?" Tanya Bian.
"Aku ada perlu sama Alif, boleh pinjam dia sebentar?" Tanya Chia.
Alif pun cepat-cepat menghampiri Chia. Chia pun mengajak Alif keluar dari ruang.
Setelah mengajak Alif keluar Chia menjelaskan terkait pindah kampusnya. Alif yang mendengar pun terlihat sangat sedih.
"Jadi, kamu mau pergi Minggu depan?" Tanya Alif.
"Enggak, besok Aku sudah harus pergi. Minggu depan itu Aku sudah harus masuk kampus itu, makanya Aku keburu banget nih." Jelas Chia.
"Teman-teman kamu ngantar kamu besok?"
"Iya, kalau kamu mau nganter juga bareng mereka aja." Ucap Chia.
"Oke." Jawab Alif.
"Ya udah Aku pergi dulu yah." Ucap Chia.
Chia pun berlalu pergi, Alif hanya melihat kepergian Chia.
...****************...
Malam hari, Chia sedang beres-beres dibantu Ibu dan juga kakaknya.
"Kamu tuh disana jangan keluyuran sembarangan yah." Ucap Ibu.
"Iya, Bu." Jawab Chia.
"Kalau sudah sampai di sana hubungi rumah, Aku udah bilang teman Aku yang disana buat jemput kamu." Jelas Ka Ita.
"Iya, iya. Oh iya, Bu. Jaket tebal Aku disimpan dimana?"
"Tuh, dilemari Yeyen."
"Kok dilemari Yeyen sih, kan dia pake pakaian Aku lagi. Coba aja kalau Aku yang make punya dia pasti udah ngereog aja dia."
"Udah, kamu nih udah mau kuliah jauh pun masih aja merepet. Cepat beres-beres, besok kamu penerbangan pagi kan. Siapa yang nganter?"
"Teman-teman Aku yang ngatarin Aku."
" Ya udah, kalau sudah selesai beres-beres langsung tidur." Ucap Ibu
......................
Esoknya, Chia bersiap untuk berangkat ke kota kampus tempat dia akan berkuliah nanti. Naina, Cherly, Ria, Anton, Aris, Via, Sari dan Alif pun mengantar keberangkatan Chia dibandara.
"Chi, Aku masih nggak percaya loh kamu benaran pergi." Tutur Sari.
"Iya, kami tuh pikir kamu hanya becanda." Sambung Via.
"Apakah muka ku ini seperti orang yang suka bohong?" Tanya Chia.
"Enggak." Jawab Sari.
Sementara, Ria menyembunyikan wajahnya dipundak Naina, sejak tadi air matanya sudah menetes.
"Chia, lihat nih." Ucap Naina.
"Astaga, Ria kamu nangis? Hahahaha..." Tawa Chia pecah melihat tingkah Ria.
Seketika, tidak hanya Ria namun disusul Uta, Via dan juga Sari.
"Hey kalian pada napa sih. Aku belum mati oy." Oceh Chia.
"Tapi, kita akan berpisah lama. Hiks hiks hiks." Ucap Ria disela tangisnya.
"Ya elah, tetap aja rumah Aku disini Aku juga bakal balik."
Tiba-tiba mereka semua saling berpelukan. Setelah, melepaskan pelukan. Mereka tak lupa untuk berfoto-foto.
"Chi, pesawat yang mau kamu tumpangi sudah datang tuh." Ucap Anton.
"Oh iya, kalau gitu Aku masuk dulu yah guys." Ucap Chia.
Sebelum masuk, Chia mengobrol sedikit dengan Alif.
"Alif, maaf yah. Padahal, perjanjian kita selama 1 bulan." Tutur Chia.
"Iya, nggak papa. Seminggu aja, sudah lumayan kok." Ucap Alif.
"Udah ada panggilan tuh Aku masuk dulu yah. Bye..." Ucap Chia melambaikan tangan.
"Chia, nanti lihat chat yah. Kalau bisa balasnya sebelum kamu terbang." Teriak Alif.
Chia pun hanya mengangguk dan melambaikan tangan dengan senyuman.