I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 25



"Kak Chia, bisa jadi dokter tuh." Tutur BomBom


"Iya, Kak Chia kuliah kedokteran yah?" Sambung Nana


"Tidak, Kak Chia tidak kuliah kedokteran. Lagipula, Kan kakak waktu SMA dikelas IPA trus kebetulan sih guru Kak Chia bahas tentang kasus itu. Lagipula, itu penjelasan umumnya untuk detailnya bisa tanyakan sama dokternya langsung." Jawabku


"Chia, kuliah jurusan apa?" Tanya Tante


"Aku jurusan Informatika, Tante." Jawabku


"Informatika itu belajar apa saja? Kerjanya apa?" Tanya Tante lagi


"Itu loh, Ma. Komputer. Kerjanya nanti dibagian komputer." Jawab Faris


"Yah, kurang lebih seperti itu. Jadi, aku tuh kuliah belajarnya yah analisis matematis dan prinsip ilmu komputer dalam merancang, menguji, mengembangkan, dan mengevaluasi kinerja komputer, software, dan sistem operasi. Seperti itu, kalau untuk prospek kerjanya. Informatika sih menurut Aku bisa ditempatkan disemua bidang." Jawabku


"Oh, gitu. Tapi, Kakak juga hebat kalau jadi dokter. Aku juga nanti kalau udah lulus SMA. Mau di kedokteran." Ujar Nana


"Kakak phobia darah sih, suka pusing kalau lihat darah yang banyak. Wah, Masya Allah semoga kecapaian yah cita-citanya." Jawabku


"Takut darah, trus kalau haid gimana tuh?" Tanya Tante


"Kelimpungan sih, Tan. Hehehe, Aku biasa nutup mata kalau lagi bersih-bersih tubuh. Biasa sambil jongkok karena pusing juga apalagi bau darahnya amis." Jawabku jujur.


"Kasihan." Ucap Tante


"Kalau gitu kakak bisa buat jaringan yah?" Tanya Bombom.


"Buat jaringan? Maksudnya seperti apa, Bom?" Tanyaku balik


"Itu loh kak, kan disini tidak ada jaringan untuk internet. Kakak bisa buat nggak?" Jelas BomBom


"Itukan sudah ada petugas masing-masing. Tapi, jika dalam prakteknya cakupannya lebih kecil bisa tuh, harus memahami topologi dan juga jenis jaringannya. Tapi biasa kalau bagian pemansangan jaringan itu diserahkan kepada laki-laki, perempuan jarang malah belum ada deh kayaknya."


"Oh, gitu yah kak."


"Iya gitu."


"Tapi, si Winda itu emang perempuan nggak benar juga." Lanjut Faris kembali bergosip.


Faris adalah jelmaan emak-emak yang sehari tidak bergosip bisa buat dia menjadi stress. Sepertinya, dia lebih cocok mengenakan daster. Masih saja dia mencoba untuk melanjutkan gosipnya.


"Dia saja hamil duluan. Kata orang juga sih itu bukan anaknya Farhan. Anaknya orang lain tapi yang tanggungjawab si Farhan." Lanjut Faris


"Kok bisa hamil duluan. Tahu darimana?" Tanyaku


"Semua didesa ini juga tahu, soalnya baru nikah beberapa minggu hamilnya sudah sebulan. Kata dukun beranak sih gitu."


"Baru nikah beberapa Minggu tapi perutnya sudah sebulan. Eh, maksudnya hamilnya sudah sebulan?" Tanyaku lagi


"Iya, dengar-dengar sih gitu. Emang si Winda tuh perempuan nggak benar juga sih." Sahut Faris


"Yang jelas dong, beberapa Minggu ini maksudnya berapa Minggu? Seminggu? Dia Minggu? Atau berapa?" Tanyaku lagi


"Dia nikah kalau tidak salah tanggal 10 Maret, jadi kira-kira 2 minggulah, karena tanggal 18 April tetangganya pada heboh deh sudah ketahuan hamil sebulan beberapa hari gitu."


Aku yang memperhatikan Faris berceloteh, tertawa geli karena dia seperti Ibu-ibu yang sedang bergosip.


"Faris, mending kamu tuh pake daster saja. Lagian cowok kok suka gosip gitu." Ujarku


"Iya, ini anak kemana-mana hanya bergosip saja kerjanya." Sambung Tante


"Tante saja malah malas duduk bergosip dengan tetangga." Lanjut Tante


"Aku kan menggantikan mama." Sahut Faris


"Iya tuh Kak Faris mulutnya juga sudah kek cewek saja cerewet." Sambung Nana


"Hahahaha...." Tawaku pecah saat kami mulai mengejek Faris.


"Jadi gini yah, dibuku pelajaran SMA bab reproduksi menjelaskan bahwa usia kehamilan itu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kan kata kami si Winda itu nikahnya baru 2 minggu yah atau lebih pokoknya itulah, diperiksa sama dukun beranak sudah hamil 1 bulan. Nah, berdasarkan waktu si Winda nikah itu tanggal 10, walaupun belum terjadi pembuahan, tapi usia janinnya adalah dari usia pembuahan berarti usia janinnya baru 2 Minggu lebih sesuai dengan usia pernikahan. Jadi, pembentukan janin pas pertemuan antara ****** laki-laki dengan sel telur perempuan itu minggu lebih yang lalu. Itulah faktanya." Jawabku


"Jadi, jangan dulu menarik kesimpulan bahwa Winda itu hamidun atau hamil duluan. Coba deh tanya dulu kapan terakhir dia haid. Trus haidnya lancar apa nggak. Bisa jadi kasusnya bisa seperti yang Aku jelaskan itu. " Tuturku.


"Iya orang didesa emang gitu. Syukur Aku tinggal di kota." Sahut Nana


"Siapa bilang cuman didesa. Dikota juga banyak tuh orang-orang hamidun." Ujar Faris


"Ada tuh puskesmas cuman jauh, noh ditempat Aku bilang ada WiFi."


"Nah, kan ada tuh. Kenapa nggak cek dan lebih banyak tanya disana. Kan kasihan kalau nggak benar ceritanya. Tapi, kalau emang dia hamil duluan, yah jangan disebarin jugalah faktanya dia memang melakukan dosa. Tapi, sebagai manusia yang diberikan perasaan oleh Tuhan kita nggak boleh nyebarin hal maupun itu fakta atau nggak. Kasihan, gimana kalau itu terjadi dengan keluarga kita atau kita sendiri."


"Tahu tuh, Kak Faris. Tahunya bicara orang saja." Sahut BomBom


"Anak kecil diam." Seru Faris yang tiba-tiba saja mengetok kepala BomBom.


"Ma, lihat tuh Kak Faris." Teriak BomBom


"Sudah-sudah jangan berantem. Kamu juga nyeleneh sama kakakmu." Ucap Tante


"Kalian makannya cepat, habis itu Faris kamu antar Chia ke rumah Kakek. Semalam, Kakek telpon mau lihat Chia." Lanjut Tante


"Okey, Bos." Jawab Faris


Kami pun menyantapi makanan kami hingga habis. Selesai makan Aku membantu Tante membersihkan dapur, mencuci piring dan lain sebagainya. Setelah itu, Aku juga mencuci pakaianku, karena besok Aku sudah kembali ke kota.


Untungnya walaupun tidak ada jaringan internet tetapi ada listrik sehingga Aku bisa mencuci dengan mesin cuci. Aku pun mencuci pakaianku yang hanya beberapa lembar itu, karena biasa setiap mandi Aku mencuci pakaian yang sudah Aku kenakan sebelumnya.


"Kak Chia, Kak Chia sini." Teriak Nana


"Iya, Kak Chia sini." Sambung Bombom


Suara teriakan Nana dan BomBom berasal dari bagian belakang rumah. Aku pun berlari kearah sumber suara.


"Kalian kenapa?" Tanyaku yang tiba-tiba tergesa-gesa


"Kak Chia lihat hewan itu." Ucap Nana yang menunjukkan ke arah bawah.


Rumah Pamanku ini tepat dekat jurang. Walaupun jurangnya tidak terlalu dalam tetapi jika jatuh bisa mematahkan tulang. Seperti nampaknya jurang pada umumnya yang mana dihidupi oleh banyak pohon-pohon menjulang tinggi. Selain pohon-pohon banyak juga hewan-hewan endemik kas setia daerah. Bagaimanapun desa ini masih asri dengan alamnya.


"Aligator kah." Tanyaku yang melihat hewan tersebut sontak kaget dan menjauh.


Aku sangat tidak menyukai hewan reptil ataupun amfibi dan juga hewan yang kulitnya licin seperti cicak. Lebih tepatnya jijik dan takut.


"Bukan, Kak Chia. Itu ular berkaki empat." Jawab BomBom


"Hah? Ular? Tapi, mukanya kek buaya kecil gitu." Sahutku


"Itu ular Kaki empat kak. Kakak belum pernah lihat yah." Ujar Nana lagi


"Belum, tapi bentuknya aneh sekali semacam kadal, biawak dan buaya juga. Perkawinan silang kah?"


"Itu Panama kak. Banyak hewan gitu disini. Tuh, dibawah jurang biasa sering naik kesini kalau mau cari makan."


"Masuk didalam rumah nggak?" Tanyaku lagi


"Iya, kak. Bisa sampe masuk dirumah."


"Ih, jijik kakak. Itu gigit nggak? Berbahaya nggak?" Tanyaku dengan wajah cemas.


"Enggak sih, Kak. Cuman gigit doang."


"Ih, sama aja. Usir tuh."


"Baaaaaaa..... Nah, kalian pada ngapain". Teriak Faris yang tiba-tiba saja mengagetkan kami.


"Astaghfirullah, Faris. Jantungku mau cepat." Ucapku yang kaget


"Kak Chia, baru pertama kali lihat ular kaki empat kak."


"Oh, awas ntar dia gigit loh."


"Ih, yang benar saja. Jangan nakut-nakutin yah." Sahutku


"Enggak, becanda. Noh, sudah siap nggak. Mau aku antarin ke rumah Kakek nggak ni."


"Iya, sabar Aku masih nyuci. Aku jemur dulu pakaianku."


"Ya udah sana." Seru Faris


Aku pun bergegas ketempat cuci pakaian. Membereskan pakaianku. Setelah, menjemur pakaianku. Aku pun membersihkan badan dengan cara mandi. Setelah semua sudah aku lakukan. Aku pun bersiap untuk pergi ke rumah Kakek. Aku bersama Faris, BomBom, dan Nana pun berangkat ke rumah Kakek. Sebelumnya, kami berpamitan dengan Tante dan Om barulah kami jalan.