
POV: Chia
Aku sedang mengamati pemandangan diatas puncak gunung, Tuhan memang sangat hebat bisa menciptakan alam yang sungguh indah seperti ini. Aku pun mengabadikan banyak gambar, agar Aku bisa memamerkan keindahan ini kepada sahabat-sahabatku.
Sementara itu, Kak Archi disampingku sedang berbincang dengan Kak Dea, kata Nana sih dia mantan Kak Archi. Mereka putus bukan karena masalah internal mereka, namun karena masalah external dimana cinta mereka tidak direstui oleh orang tua Kak Archi.
Melihat cara Kak Dea memandang Kak Archi, sepertinya Kak Dea masih menyimpan perasaan yang sangat dalam kepada Kak Archi. Sungguh kasihan, padahal Tuhan maha membolak-balikkan hati. Coba saja mereka lebih berjuang dengan perasaan mereka siapa tahu orang tua Kak Archi suatu saat dapat luluh.
"Huffft...." Aku menghela napas panjang.
Terkadang cinta itu tidak semulus apa yang orang bayangkan tidak bisa 'sat set sat set' seperti film romantis. Benar-benar sungguh kasihan, kisah mereka bahkan lebih menyakitkan dari pada kisah cintaku.
Aku memperhatikan Kak Archi, entah apa yang mereka bicarakan sehingga membuat Kak Archi terus tersenyum. Bahkan, dia yang terus berwajah datar pun bisa tersenyum seperti itu. Memang hanya orang yang benar-benar mempunyai tempat dihati seseorang yang bisa membuat orang sedingin kutub utara pun bisah luluh dan mencair.
Aku kembali menoleh ke arah lain, rasanya Aku ingin pergi. Daripada hanya disini mendengar mereka berbincang mendingan Aku mencari makanan. Tapi, Kak Archi akan memakan ku hidup-hidup jika Aku membantah ucapannya.
Aku melihat Kevin dari tempatku berdiri. Aku memfokuskan lagi penglihatanku, benar itu adalah Kevin.
Dia dikelilingi banyak gadis-gadis disekitarnya. Aku pun terkekeh, sepertinya Kevin sedang dalam berada dilautan para betina yang ganjen. Lihat saja wajah Kevin yang tersenyum namun tertekan.
Wajahnya yang tertekan seperti itu, sangatlah lucu. Sehingga membuatku tertawa kecil. Resiko punya wajah tampan yah seperti itu.
Aku mengambil ponselku, Aku mengirim pesan kepada Kevin.
"Sepertinya kamu butuh bantuan." Ucapku pada pesan yang Aku kirimkan.
Aku kembali menoleh kearahnya, dia melihat ke ponselnya dan bergegas menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya, dia mencariku.
"Kak tolong." Pesan yang dikirim Kevin.
Aku pun terkekeh membaca pesannya. Akhirnya, Aku meneriakkan namanya dari tempatku berdiri.
Orang-orang yang mendengarku berteriak pun menoleh ke arahku. Namun, Aku mengabaikan dia.
"Kevinnnnn, sayanggkuuu..... Aku disini...." Jeritku.
Kak Archi yang mendengarku pun menjitak kepala ku.
"Aw....." Jeritku.
"Kau gila? Kenapa teriak-teriak seperti gorila seperti itu?" Tutur Kak Archi.
"Ih, Kak Archi. Sakit tahu..." Ucapku.
"Cewek kok teriak-teriak, Dek. Nggak sopan itu." Ujar Kak Dea.
Aku menatap Kak Dea, apa dia sedang menceramahiku.
"Iya, maaf. Oh, iya. Kak Dea tolong temani Kak Archi yah. Aku kesana dulu." Ucapku bergegas lari agar tidak ditahan oleh Kak Archi.
Aku berlari ke arah Kevin, Aku melewati celah ditengah kerumunan para gadis-gadis itu.
"Kevin." Panggilku.
"Iya, Kak." Jawab Kevin.
Aku mendekatinya, merangkul tangannya dan berbicara manja kepadanya.
"Sayang, kamu disini. Tadi Aku muter-muter nyariin kamu tahu." Tuturku.
Kevin melotot kearahku, Aku pun memberikan isyarat kepada dia untuk ikut bersandiwara.
"Oh, iya. Sayang, maaf. Tadi Aku juga nyariin kamu tapi nggak ketemu terus mereka pada samperin Aku deh." Sahut Kevin yang mulai ikut bersandiwara.
"Oh, gitu. Mereka ini siapa, Sayang?"
"Mereka mau foto bareng Aku. Tapi, Aku sudah nolak loh sayang."
"Ih, kenapa di tolak sayang. Kamu nggak boleh jahat gitu. Kalian semua mau foto barenga pacar Aku yah?"
"Kamu benar pacarnya?" Ucap salah satu gadis.
"Iya, kalau pacarnya kok tadi dia manggil kakak." Sahut salah satu diantara mereka.
"Oh, iya. Aku emang lebih tua dari pacar Aku. Dia emang suka keceplosan sih masih manggil Aku kakak. Iyakan sayang..." Ucapku dengan nada manja sembari meletakkan kepala dilengan Kevin.
"Iya." Sahut Kevin sembari melingkarkan tangannya di pinggangku.
Aku pun terkejut dan melotot ke arahnya, dia pun menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Kenapa, Sayang." Ucapnya.
Aku berusaha menahan rasa geli, karena tangan Kevin yang menyentuh pinggangku.
"Kalian mau foto dengan pacar Aku yah? Kalau mau foto ayok nanti Aku yang bantu fotoin kalian." Ucapku.
"Sayang, yakin? Kamu nggak cemburu?" Tutur Kevin.
"Enggak dong sayang. Aku nggak bakal cemburu sama mereka. Kan kamu cuman mau foto, sayang. Lagian kalau cuman foto kamu kan nggak bakal tergoda sama mereka." Ucapku.
"Yakin banget sih." Ujar Kevin.
"Iya, karena kamu kan bucin banget sama Aku. Trus, apa kamu yakin mau selingkuhin Aku?"
"Enggaklah, nggak da yang bakal bisa gantiin kamu. Dan, nggak ada yang semenggemaskan seperti dirimu." Ucap Kevin tersenyum kearahku, tangannya pun tak luput untuk mencubit pipiku.
"Ihhh, Ayangggg....." Jeritku.
Tingkah mesra kami yang cukup lebay membuat ekspresi gadis-gadis itu berubah dan menunjukkan ekspresi jijik akan tingkah kami.
"Eh, jadi lupa. Kalian jadi foto nggak?" Tanyaku.
"Enggak, deh. Terimakasih." Ucap salah satu diantara mereka lalu bergegas pergi disusul dengan gadis-gadis lain.
Setelah, mereka pergi Aku dan Kevin pun tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya kami sudah menahan tawa kami tadi saat berakting.
"Oh, iya. Kak, terimakasih yah." Tutur Kevin.
"Santai saja. Lagian, kasihan banget deh kamu ngatasi gadis-gadis itu saja sampai seperti itu."
"Iya, Kak. Padahal, Aku sudah tolak tapi mereka terus mendesakku.
"Pesonamu terlalu menawan makanya mereka tidak akan melepaskanmu. Kamu kalau disekolah juga dikejar-kejar cewek yah?"
"Setiap hari, Kak. Bahkan, guruku yang cewek pun sering meminta foto denganku."
"Iya, Kak."
"Mau bagaimana lagi, wajah kamu tuh unreal tahu. Seperti artis-artis Korea loh. Kamu nggak operasi kan?"
"Enggak lah."
"Tidak adil sekali, kenapa wajahmu bisa setampan ini. Kakak saja sampai terpesona pada pandangan pertama." Ucapku menatap lekat wajah Kevin.
"Kakak terlalu berlebihan deh. Padahal, Kakak saja sudah seperti bidadari." Ucapnya sembari tersenyum kearahku.
Aku menarik nya hingga wajahnya berhadapan dengan wajahku. Jarak kami hanya dua centi.
"Kevin, jangan tersenyum sembarangan. Senyummu bisa membunuh orang yang melihatnya." Ucapku menatap lekat wajahnya.
"Oh, yah." Ucapnya semakin tersenyum.
Aku pun mengangguk, Aku menjamah seluruh wajahnya dengan tanganku. Memegang hidungnya yang mancung, menusuk lesung pipitnya, menatap bola matanya yang berwarna coklat kekuningan, memegang alisnya. Benar-benar memastikan bahwa dia adalah manusia nyata. Kevin tidak menarik wajahnya, bahkan dia membiarkan Aku mengobrak-abrik wajahnya.
"Kamu benar nggak operasi wajahkan? Bahkan, wajahmu bisa semulus dan seglowing ini. Udah sedekat ini, Aku tidak melihat pori-pori mu sedikitpun."
"Iya, Kak. Tanya saja sama orang tuaku."
"Kamu perawatannya dimana? Pake apa saja? Kalau Aku membawamu ke Kotaku. Mungkin, teman-temanku akan mengejar mu juga."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau gitu, Kak Chia juga?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak tergoda dengan wajah ini seindah ini."
"Lebih tampan Aku atau Kak Archi?"
"Pertanyaan bodoh apa itu? Tentu saja kamulah. Yah, walaupun Kak Archi tampan. Tapi, kamu jauh lebih tampan. Dia sangat tampan tapi eksepsinya selalu seperti monster tahu." Cercaku.
"Siapa yang seperti monster?" Terdengar suara seseorang yang sangat familiar.
Aku menoleh kearah suara itu. Dan ternyata benar suara itu, suara Kak Archi. Tidak hanya Kak Archi, Nana, Faris, Zaid dan Adit pun telah berdiri dibelakangku. Aku kembali menoleh ke wajah Kevin.
"Sejak kapan mereka ada dibelakangku?" Tanyaku melotot kepada Kevin.
"Sejak kakak menjamah wajahku dan mengoceh panjang lebar."
"Kenapa Aku nggak dengar langkah mereka, kenapa kamu nggak bilang dari tadi?"
"Soalnya Kakak begitu senang memegang wajahku. Dan kesempatan disentuh Kak Chia mana mungkin Aku lewatkan."
"Ha?"
Tiba-tiba tubuhku ditarik secara paksa oleh seseorang. Tanganku pun lepas dari wajah Kevin. Kak Archi yang menarik kerah bajuku, Faris menarik tanganku. Aku pun terhempas ke belakang.
Kami pun saling menatap satu sama lain. Tidak hanya itu, Kak Archi dan Faris juga saling beradu pandang.
"Lepaskan tangannya." Ucap Kak Archi.
"Lepaskan dulu kerah bajunya." Sahut Faris.
"Aku bilang lepas yah lepas." Tutur Kak Archi.
"Kalau begitu lepas bersama saja."
"Kalian berdua saja yang lepas." Jeritku.
"Lepaskan tangannya, kau bahkan tidak bisa menjaganya dengan baik." Ucap Kak Archi.
Kenapa jadi mereka yang berantem. Jika ingin berkelahi maka lepaskanlah dulu diriku. Kenapa harus Aku diantara mereka.
"Kalian berdua lepaskan." Akupun menarik diriku menjauh dari mereka berdua.
"Aku sudah bilang kamu jangan pergi. Kamu malah menggoda pria lain disini." Ucap Kak Archi.
"Ha? Pria lain, dia kan Kevin. Lagian Aku cuma mau nolongin dia kok. Iya, kan Kevin!"
"Iya."
"Apakah berpelukan dan memanggil satu sama lain dengan sebutan sayang. Lalu, memegang meraba-raba wajah orang itu menolong?" Cerca Kak Archi.
"Itu.... Yah, itu... Lah, suka-suka Aku dong. Mau menolong dengan cara apa." Ucapku
Entah detik keberapa suasana menjadi memanas dan sedikit canggung.
"Sudah-sudah, ayok kita pulang. Bukannya, kita harus ke desa. Sebentar lagi mau hujan, jika tidak bergegas kita bakal tiba malam hari dan juga kebasahan." Tutur Adit.
"Iya, ayok kita jalan." Ucap Nana dengan ekspresi takut jika kami berdebat.
Aku pun memalingkan wajahku, Aku menarik tangan Nana dan berjalan duluan.
Kami tiba di parkiran, masing-masing dari mereka mengeluarkan motor mereka. Dalam keadaan ini, Aku mulai bingung siapa yang harus Aku numpang.
Aku tidak mungkin bersama Faris lagi, setelah menonjoknya hingga babak belur. Bahkan, jika tiba didesa nanti Aku tidak akan nginap dirumahnya. Aku takut Om dan Tante mengcap diriku wanita kasar.
Nana pasti dengan Kak Archi, lalu Aku tidak ingin bersa dengan Kak Adit. Bukan karena Aku tidak menyukainya tetapi Aku hanya tidak suka dengan motornya, jika Aku bersama dengannya Aku akan terlihat seperti wanita jalanan. Satu-satunya tinggal Zaid.
"Kevin, kamu sama Faris saja yah." Aku berbisik ditelinga Kevin.
Kevin hanya mengangguk, Aku pun menghampiri Zaid.
"Zaid, Aku sama Kamu boleh?"
"Boleh-boleh dengan senang hati." Ucap Zaid sembari menurunkan pijakan.
"Terimakasih." Ucapku.
Sementara itu, disisi lain. Ada mata yang memandang dengan wajah kesalnya.
"Om Archi kalau mau sama Kak Chia, biar Aku bertukar saja dengan Kak Chia." Ucap Nana.
"Anak kecil nggak usah ikut campur, cepat naik." Seru Archi.
"Ih, orang berbaik hati menolong juga." Oceh Nana dalam hati.
Nana pun bergegas naik ke motor. Kami pun melanjutkan perjalanan kami ke desa.