
"Chi, Chi lihat tuh!" Umpan Ria.
"Apa?" Sahut Chia.
"Tuh, lihat noh." Ucap Ria menarik wajah Chia.
Chia dan Naina menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Ria.
"Wow, parah sih." Ujar Naina.
Chia melepaskan tangan Ria yang mencengkram wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Chia.
"Ih, tuh pujaan hatimu. Ketawa ketiwi sama cewek lain." Ujar Ria.
"Uhm, yah emang kenapa? Suka-suka dialah." Sahut Chia.
"Yakin nggak cemburu?" Tanya Ria.
"Biasa aja." Jawab Chia.
"Wait, wait bukankah itu coklat yang Aku kasih ke kamu? Kok bisa ada di Kay?" Tunjuk Naina.
"Hehehe, Aku yang ngasih." Ucap Chia bersalah.
"Ih, Chia. Itu coklat mahal tahu, dari Arab langsung. Masa kamu ngasih orang gitu aja." Ketus Naina.
"Sorry, Na. Jangan marah." Ucap Chia memelas.
"Eh lihat lagi tuh, Kay ngasih coklat itu ke Nadin." Ucap Ria.
"Tuh, lihat percuma kamu ngasih dia. Dia nggak bakal terima barang yang kamu kasih. Itu coklat mahal tahu, enak aja dia ngasih cewek lain." Oceh Naina.
Chia tiba-tiba berdiri raut wajahnya berubah, mukanya yang tadi penuh keceriaan berubah menjadi datar dan judes.
Chia melangkah menjauhi kedua temannya itu, Dia berjalan mendekati Kay yang sedang mengobrol dengan Nadin.
"Eh, Chia kamu mau kemana?" Teriak Ria.
Chia tidak merespon panggilan Ria. Naina dan Ria saling memandang. Mereka pun saling melotot, karena tahu apa yang akan terjadi jika Chia sudah marah. Mereka bergegas mengejar Chia, untuk menghentikan Chia.
...----------------...
Chia menghampiri Kay dan Nadin yang sedang mengobrol.
"Eh, Chia. Hay." Sapa Nadin.
Chia tidak menoleh dan hanya menatap Kay, lalu dia berpaling melihat tangan Nadin yang memegang coklat pemberian Kay.
Ria dan Naina yang berlarian mengejar Chia pun tiba, dengan nafas tersengal-sengal.
"Kalian berdua kenapa?" Tanya Kay.
"Nih, ngejar dia." Tunjuk Naina.
"Chia, ayok." Tarik Ria.
Chia melepaskan tangan Ria yang menarik lengannya.
"Kalian sedang ngobrolin apa?" Tanya Chia tersenyum paksa.
Naina dan Ria saling menatap, bulu kuduk mereka berdiri. Tersenyum saat marah adalah ciri khas Chia. Jika, hanya mengomel panjang lebar tidak masalah, namun Chia beda tangannya akan langsung meninju dengan kekuatan penuh. Naina dan Ria memikirkan hal yang sama bagaimana jika Chia menonjok wajah Nadin, itu bukan hal yang lucu lagi.
"Oh, kita lagi bahas film." Ucap Nadin.
"Oh...." Jawab Chia.
"Chia, kita kantin aja yuk. Aku traktir nih." Pinta Ria.
Chia menoleh dengan wajah geramnya, menatap kepada Ria untuk memberikan isyarat agar dia tidak menariknya pergi.
Nadin dan Kay tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan singa betina yang sedang kelaparan, yang siap untuk memakan mereka hidup-hidup.
"Gimana coklat yang Aku kasih enak nggak?" Tanya Chia menatap Kay.
"Coklat yang ini yah? Jadi, ini kamu yang ngasih Kay. Tapi, tadi Kay ngasih ke Aku." Ucap Nadin dengan suara manja.
"Oh, gitu yah. Itu coklat yang diberikan oleh Naina kepadaku, coklat itu sangat mahal dibawa langsung dari Arab. Naina sangat marah kepadaku karena memberikan kepada orang lain. Padahal, Aku sendiri belum menikmati rasa dari coklat mahal tetapi Aku sudah memberikan kepada orang lain. Sayang, sekali coklat yang belum ku cicipi itu dikasih juga ke orang lain." Oceh Naina menatap wajah Kay sambil tersenyum kecut.
"Tapi, Aku tidak memaksamu untuk memberikan kepadaku, kamu sendiri yang memaksa untuk memberikan kepadaku." Sahut Kay datar.
"Yah, maaf jika terkesan memaksa, tetapi bisa tidak kamu menghargai dengan tidak memberikan kepada orang lain." Tutur Chia.
Nadin yang melihat perdebatan Chia dan Kay, merespon dengan membalikkan coklat itu kepada Kay.
"Aduh maaf yah gara-gara Aku nerima coklat ini membuat kalian bertengkar. Ini Kay Aku kembalikan." Ucap Nadin cemberut.
"Nggak papa kamu ambil saja." Ucap Kay.
"Ih, jangan udah ini Aku kembalikan." Tutur Nadin.
"Tapi...." Ucap Nadin melirik ke arah Chia.
"Apakah kau membenciku?" Tanya Chia.
"Tidak." Jawab Kay spontan.
"Lalu, apakah kamu takut Aku meracunimu? Setiap makanan atau minuman yang Aku kasih kamu selalu oper ke orang lain." Oceh Chia.
"Tidak, Aku lagi nggak ingin makan jadi Aku ngasih aja ke orang. Lagian, kalau kamu tidak terima kalau Aku ngasih ke orang. Tidak perlu memberikan kepadaku." Jawab Kay.
"Kamu kok gitu sih, padahal dulu Kamu nggak kayak gini ke Aku. Apakah karena Aku bilang suka sama kamu jadi kamu jadi judes dan datar kepadaku?" Cicit Chia.
"Iya." Jawab Kay.
Chia terdiam, kedua tangannya mengepal. Chia berusaha menahan amarahnya.
"Tapikan, bukan salahku juga tiba-tiba suka sama kamu. Kamu pikir Aku nggak capek ngejar-ngejar kamu biar kamu menoleh ke arahku." Tutur Chia.
Spontan Naina, Ria, Nadin dan orang-orang yang ada disekitar dengan ucapan Chia. Secara, tidak langsung Chia mengungkapkan perasaannya kepada Kay ditempat umum.
Kay mengambil coklat dari tangan Nadin, dan menyerahkan ke tangan Chia.
"Ambil kembali coklatmu, Kau tidak perlu berbicara sembarangan ditempat ramai seperti ini." Tutur Kay.
"Aku tegaskan lagi, Aku tidak menyukaimu, kita hanya teman dan Aku membenci kamu yang terus mengejarku. Apakah kamu tidak memiliki harga diri sebagai perempuan. Sangat murahan." Ucap Kay.
Kay pun beranjak pergi, diikuti oleh Nadin. Sementara, Chia hanya terpaku mencerna ucapan Kay.
"Udah, Chi. Ayok kita pergi." Ucap Naina mengelus punggung Chia.
"Iya, ayok sini Aku traktir ice cream." Tutur Ria.
Chia pun mengikuti arahan dari Naina dan Ria. Mereka juga hengkang dari tempat itu.
...****************...
Naina, Ria, Chia, Cherly dan juga Iya sedang berkumpul di kamar kos milik Ria.
Chia sedang mengutak-atik laporannya didepan laptop, sementara Naina, Ria dan Cherly sedang menenangkan Uta yang menangis.
"Udah diam-diam." Ucap Naina.
"Iya, lagian yang ditolak Chia kenapa kamu yang nangis." Ujar Ria.
"Aku sedih, bisa-bisanya dia mengucapkan hal yang menyakitkan gitu, hiks hiks hiks." Ucap Uta.
"Bukan kamu saja, Aku saja kesal tahu." Sahut Naina.
"Tapi, Chia kok biasa saja?" Tanya Cherly.
"Chia...." Panggil Ria.
"Ehm...." Sahut Chia.
"Are you okay?" Tanya Cherly.
"I'm okay. Why?" Jawab Chia.
"Kamu kalau mau nangis, nangis aja." Pinta Cherly.
"Nangis buat apa? Haish, kalian tenang saja Aku nggak bakal nangis, soalnya ini sudah kedua kalinya Aku ditolak sama dia. Kalau kesal sih ada tapi bagaimana cintaku mengalahkan rasa kesalku." Canda Chia.
"Emang malas ngomong sama anak ini. Kamu tuh udah digituin aja masih juga suka sama dia." Oceh Naina.
"Huffttt, mau bagaimana lagi. Cinta itu buta." Sahut Chia.
"Ini mah bodoh tingkat dewa namanya. Pelajaran doang pintar, tapi soal hubungan bodohnya minta ampun." Lagi-lagi Naina ngoceh panjang lebar.
"Udahlah, Aku baik-baik saja." Tutur Chia.
"Trus, kamu masih mau ngejar dia gitu?"
"Ehmmm, iya." Jawab Chia.
"Dahlah, serah kamu yah. Aku udah nggak perduli lagi." Tutur Naina.
"Iya iya, ini terakhir kalinya Aku berjuang. Kalau misal dia belum juga menyukaiku maka Aku akan melepaskan perasaanku ini dengan ikhlas." Ujar Chia.
"Kamu yakin?" Tanya Cherly.
"Yakin banget..." Jawab Chia.
"Baiklah, tapi kalau kamu pengen cerita atau nangis lakukan saja jangan dipendam." Ucap Ria.
"Okey, bos." Jawab Chia.
...****************...