
Seminggu sudah Aku di kota tanpa melakukan apapun akibat kaki ku yang terkilir ini. Sementara, dua minggu lagi Aku harus kembali ke kota A karena waktu libur telah usai, perkuliahan akan dimulai. Sebenarnya, seminggu lagi harus balik untuk melakukan registrasi ulang. Akan tetapi, Naina yang akan menghandle registrasi ulangku. Punya sahabat kalau nggak dimanfaatin kan percuma.
Aku belum mengelilingi kota M ini. Hanya didesa saja Faris mengajakku jalan. Sementara dikota Aku seperti tahanan penjara. Karena tidak bisa jalan kemanapun.
Nana pun sudah sibuk dengan sekolahnya jadi Aku dirumah sendiri kadang juga ditemani Tante. Tapi, besok Tante dan Om akan kedesa karena ada urusan keluarga yang harus diselesaikan disana. Mereka akan pergi selama seminggu. Jadi, tinggal Aku, Nana dan Kak Archi. Adam ikut orang tuanya ke desa. Dia sudah memasukan surat izin kesekolahnya sehingga bisa ikut pergi kedesa. Rumah akan semakin sepi. Dua hari sebelum berangkat ke kota A, Aku juga akan balik kedesa untuk pamit kepada kerabatku disana. Keterlaluan jika datang tak diundang pulang pun tak izin.
Siang hari ini begitu sepi, karena Tante pergi kerumah temannya. Aku sendiri dirumah, Nana pun belum pulang. Aku lagi tidak mood menonton TV, siaran yang disuguhkan pun tidak ada yang menarik. Terpaksa Aku hanya bertatapan dengan ponselku.
"Assalamu'alaikum." Ucap Adam
"Wa'alaikumus salaam." Jawabku
Sudah jam segini pantas Adam sudah pulang. Adam adalah anak yang pendiam, dia jarang sekali berbicara dan lumayan dingin juga.
Adam berjalan ke kamarnya melepaskan pakaian seragamnya. Tak lepas dengan teriakan yang sering dilakukan oleh semua anak maybe semua anak diseluruh dunia. Yup, teriak memanggil-manggil 'ibu' mereka.
"Ma, mama....." Teriak Adam
"Tante ke rumah temannya, kata Tante nanti malam baru pulang karena sekalian mau zumba fitness gitu." Ucapku menjawab teriakan Adam
Tante memang orang yang sangat menjaga tubuhnya, bagaimana tidak Tante sudah memiliki dua orang anak namun badannya masih seperti seorang gadis. Tante rajin berolahraga 3 kali dalam seminggu. Biasanya, Tante pergi dengan para tetangga. Tidak hanya bentuk tubuh, Tante juga sangat merawat kulitnya. Karena itulah, kulit Tante putih bersih dan sebening kristal. Bahkan, kulitku tidak secerah itu. Walaupun, memang Tante sudah terlahir diberkahi kulit yang cerah. Karena itu, Nana mendapatkan gen putih dari Ibunya. Hanya Adam saja yang kulitnya mengikuti gen Ayahnya agak gelap. Tidak hanya Tante Sinar, bahkan Kak Archi pun diberkahi kulit yang cerah, hidung yang mancung dan tubuh yang tinggi. Padahal kami berkerabat tetapi kenapa hanya keluarga Kak Archi yang glowing sejak dalam kandungan. Ibu Kak Archi dan Ibuku adalah saudara sepupu. Ibu kak Archi memiliki kulit sawo matang seperti Ibuku juga, namun karena gen Ayah Kak Archi yang diwariskan makanya mereka terlahir dengan kecakapan sejak dalam bentuk janin. Mungkin, pada zaman muda Ayah kak Archi adalah pria idaman yang sangat tampan dan banyak digandrungi oleh setiap wanita yang memandangnya.
Dari dapur terdengar suara tutup panci yang bunyi. Aku yang mendengar itu pun berjalan ke arah dapur, takutnya kucing yang sedang melakukan kegaduhan didapur.
"Adam..." Ucapku yang melihat Adam sedang sibuk didapur.
"Aku kira kucing." Ucapku lagi
"Mama, nggak bisa yah?"
"Iya, tadi Tante buru-buru pergi jadi nggak sempat masak. Trus, kata Tante karena Om pulang kerjanya malam, jadi nanti makan malamnya beli diluar saja." Jelasku
"Terus, Aku makan apa?" Keluh Adam
"Adam lapar? Mau Kak Chia masakan." Tanyaku
"Tidak usah, nanti Kak Archi marah lagi buat repot kak Chia."
"Ha? Nggak papa kok, nggak repot." Jawabku
"Tidak usah, Aku mau main saja." Ucap Adam kemudian pergi.
Setelah Adam pergi, Aku tetap kekeh untuk masak. Nana akan pulang sore nanti, kasihan jika saat dia pulang tidak ada makanan dirumah. Tidak mungkin kami harus menahan lapar hingga malam hari.
Aku berjalan membuka lemari es, disana banyak bahan yang bisa kupakai untuk menyajikan makanan.
Aku mengambil ayam di freezer, beberapa sayuran dan buah-buahan.
Pertama-tama, Aku merendam ayam yang baru kukeluarkan dari kulkas, agar ayam yang beku itu menjadi lunak. Sementara, menunggu ayam menjadi lunak agar mudah untuk dipotong.
Aku memotong sayur kangkung, Aku ingin membuat cah kangkung. Aku memakai dua ikat sayur kangkung yang masih muda. Setelah, kangkung selesai dipotong aku sisihkan terlebih dahulu untuk menyiapkan bumbu untuk menumis sayur tersebut, oh iya kalau Aku memotong kangkung, batang kangkungnya Aku belah menjadi dua agar tidak ada cacing atau hewan semacamnya didalam batang kangkung.
Aku memasukkan irisan bawang putih, bawang merah dan juga cabe keriting, aku tumis hingga harum kemudian Aku memasukkan sayur kangkung yang sudah Aku cuci bersih. Selebihnya, Aku tinggal memasukkan bumbu pelengkap agar kangkungnya menjadi nikmat.
Aku beralih mengambil roti tawar, buah-buahan dan bubuk whipe cream. Aku mau buat 'Ichigo Sando' atau bisa dibilang 'Fruit Sandwich atau Sandwich Buah', karena menu utama belum siap. Jadi, Aku siapakan dulu penjanggal perut untuk menahan perut hingga menu utamanya siap.
Aku membuat whipe cream terlebih dahulu, setalah itu Aku oleskan pada roti tawar satu demi satu. Aku memakai buah anggur, jeruk dan stroberi. Buah yang kebetulan ada dikulkas. Setelah semua siap, aku masukan ke freezer untuk beberapa saat.
Karena masih banyak buah yang tersisa, Aku pun sekalian membuat salad buah. Semua ku campurkan menjadi satu dan diatasnya aku masukan keju parut. Salad buah pun sudah siap, Aku memasukkan lagi kekulkas.
Setelah, menu sampingan dan penutup telah selesai aku buat. Aku pun melanjutkan pada menu utama yaitu membuat Ayam woku-woku.
Aku begitu sibuk didapur, menyelesaikan semua hidangan. Tak terasa sudah masuk waktu Azar. Bisa dibilang Aku masak untuk makan malam.
Adam tiba-tiba masuk ke dapur. Dia mengambil segelas air untuk ditegukknya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Adam
"Memangnya Kau lihat Aku sedang apa?"
"Orang nanya, ditanya balik. Kamu masak apa? Kan nanti Kak Archi marah kalau Kak Chia masak nanti kakinya nggak sembuh." Ucap Adam
Aku memutarkan kedua bola mataku. Kakiku yang sakit, bukan tanganku. Kak Archi terlalu berlebihan.
"Itu kamu yang buat?"
"Iyalah. Ini ada beberapa pilihan buahnya loh. Kamu coba deh."
"Aku boleh coba?"
"Iyalah, Aku buat untuk dimakan tahu."
Adam pun mengambil sepotong sandwich yang ku buat.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak, Kak." Ucap Adam
"Enakkan."
"Iya, boleh Aku minta lagi?"
"Iya, ambil saja."
"Wah, makasih kak."
Ini pertama kali Aku melihat Adam tersenyum kegirangan seperti ini. Dia sangat manis kalau tersenyum seperti itu.
"Kak kalau yang ini boleh Aku makan." Tanya Adam sembari menunjuk salad buah.
"Iya boleh, makan saja. Kaka solat asar dulu yah kamu tolong liatin masakan kakak." Ucapku
"Oke, kak."
Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena sudah masuk waktu asar.
Setelah solat, aku pun bergegas kembali ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan makanan.
Beberapa jam berlalu, jam menunjukkan pukul 5 sore. Masakan ku akhirnya sudah siap semua. Aku masak dari siang hingga sore. Bagaimana tidak banyak menu yang aku buat. Ayam woku-woku, cah kangkung, tempe tahu goreng, sambal terasi, sandwich buah, dan salad buah, tak lupa juga Aku membuat puding untuk makanan penutup.
Setelah menyiapkan makanan, Aku pun merebahkan tubuhku diatas sofa.
Beberapa menit kemudian Nana dan kak Archi datang bersamaan. Disusul Tante Sinar dan juga Om Nio.
Aku menarik napas panjang tanda lega karena sudah selesai masak sebelum mereka pulang.
"Ma, Kak Chia masak tadi sendiri loh." Ucap Adam yang langsung menghampiri Tante Sinar
"Oh, ya?"
"Iya, ma. Terus Kak Chia juga buat kue, enak rasanya." Ucap Adam yang begitu antusias.
"Kue apa? Kak Chia aku juga mau dong." Teriak Nana yang masih acak-acakan dengan seragamnya
"Itu sandwich buah, salad buah dan puding doang. Ada di kulkas." Tuturku
"Aku minta yah Kak."
"Iya, makan saja."
Nana pun mengeluarkan sandwich, salad dan puding yang aku buat tadi. Sebenarnya mau dijadikan hidangan terakhir untuk makan malam, tetapi mereka sudah memakannya.
"Kamu juga masak makanan ini?" Tanya Tante
"Iya, Tante." Jawabku
"Kamu sendiri yang masak?" Tanya Kak Archi
"Iya, Aku yang masak."
"Wuihhh, kan gini Aku jadi tambah naksir." Ujar Kak Archi
"Apaan sih." Jawabku
Semua orang yang mendengar gurauan Kak Archi pun tertawa.