
"Hmm, gimana yah Aku nonton sendiri atau pulang aja? Ini jam berapa yah(lihat jam tangan), jam 8 filmnya dua jam lebih. Hmmm... Gimana yah? Pulang aja deh." Batin Chia.
Chia pun memutar badannya dan melangkah mendekati pintu keluar.
Saat mendekati pintu, Chia berpapasan dengan Kay yang muncul di pintu masuk.
"Chia." Ucap Kay.
"Iya." Sahut Chia.
"Kamu baru selesai nonton atau baru datang? Sama siapa?" Tanya Kay.
"Hmm, film yang mau ku nonton baru dimulai sih. Aku sama Kak Adit." Jawab Chia.
"Oh, trus Kak Adit mana?" Tanya Kay.
"Kak Adit balik duluan karena ada urusan mendadak. Jadi, Aku sendiri sekarang." Sahut Chia.
"Oh, trus kenapa nggak masuk? Katamu film sudah mulai." Timpal Kay.
"Aku mau pulang, filmnya dua jam. Ntar malam banget mana Aku pulang sendiri." Jelas Chia.
"Hmm, tumben biasanya berani pulang malam sendiri nggak bawa ponsel lagi." Tukas Kay.
"Itukan karena keluarnya nggak jauh dari rumah yah." Timpal Chia.
"Iya deh, emangnya film apa yang mau kamu nonton?"
"Ehm, film horor nih." Menunjukkan tiket.
"Ya udah ayok nonton bareng Aku aja."
Chia pun sangat senang walaupun tidak menunjukkan secara langsung namun dia terdiam sejenak overthingking dalam pikirannya sejenak.
"Wait, Kay sama Nadin kan udah jadi pasangan, kalau Aku jalan sama Kay berarti Aku semacam pelakor nggak sih? Ya ampun enggak deh, walaupun Aku suka sama Kay tapi Aku nggak mau dibilang pelakor. Harus nolak Chia." Batin Chia.
"Emangnya kamu kesini sama siapa saja?" Tanya Chia.
"Sama teman-teman Aku, tuh mereka lagi pesan tiektnya." Ucap Kay.
"Nggak sama Nadin?" Tanya Chia.
"Enggak, kenapa harus sama dia. Gimana mau bareng nggak?" Ujar Kay.
"Enggak deh, nanti Aku dibilang pelakor lagi." Sahut Chia.
"Ha? Siapa yang bilang kayak gitu?"
"Yah, Nadin. Kamu sama Nadin kan pasangan kekasih." Tutur Chia.
Kay pun menatap Chia kemudian tertawa mendengar ucapan Chia. Chia bahkan bingung kenapa Kay menertawakan ucapannya.
"Mana ada, Aku dan Nadin nggak ada hubungan seperti itu. Aku dan dia cuman teman." Jelas Kay masih menahan tawanya.
"Ha? Yang benar? Tapi di story ignya, wait wait Chia." Batin Chia.
Chia masih bergulat dengan pikirannya dan beroverthingking.
"Jadi gimana mau nggak?" Tanya Kay lagi.
"Iya, mau." Jawab Chia spontan.
"Opppss, Chia bodoh kenapa langsung bilang mau? Kamu kan belum menyakan soal story itu. Gimana kalau dia emang dekat sama Nadin, tapi bilang enggak sama kamu." Batin Chia.
"Ya udah Aku beli tiket dulu." Ucap Kay.
"Eh, enggak usah beli ini Aku ada satu tiket, kamu pake aja." Jawab Chia.
"Itu punya Kak Adit yah?" Tanya Kay."
"Iya."
Kay mengambil tiket dari tangan Chia, dia pun menghampiri teman-temannya.
"Bro, kalian udah beli tiket belum?" Tanya Kay.
"Belum." Jawab teman-teman Kay.
"Nih, Aku punya dua tiket."
"Wih, baik banget."
"Eits nggak gratis yah. Bayar sesuai harganya."
"Ya elah, kirain."
"Cepatan."
Kay pun menjual tiket yang Adit beli, kemudian dia berjalan ke kasir dan memesan 2 tiket baru. Setelah itu, dia berjalan kembali ke arah Chia.
"Nih." Ucap Kay menyerahkan uang hasil jual tiket Chia tadi.
"Uang apa ini?"
"Uangnya Kak Adit, kamu balikan gih. Dan ini tiket dari Aku." Ucap Kay.
Chia mengambil uang itu, dan memasukkan kedalam tasnya.
"Kamu mau snack apa? Biar Aku belikan?" Tanya Kay.
"Nggak usah nih Aku sudah punya." Ucap Chia.
"Kak Adit yang belikan yah?" Tanya Kay.
Chia pun mengangguk menjawab pertanyaan Kay. Kay lalu mengambil lagi popcorn dan minuman yang dipegang Chia. Dia kembali berjalan ke teman-temannya. Dengan hal yang sama menjual popcorn dan minuman itu ke teman-temannya. Lalu mengembalikan uang hasil jualan itu kepada Chia.
Chia hanya terdiam melihat tingkah laku Kay.
"Ehm, Aku terserah kamu saja?" Ucap Chia.
Kay pun memesan popcorn dan minuman dengan pilihan rasa yang menurutnya sangat enak. Setelah itu memberikan kepada Chia.
"Kamu mau ini aja atau tambah lagi?" Tanya Kay.
"Ini aja udah banyak." Jawab Chia.
"Ya udah ayok." Ucap Kay.
Kay menoleh keteman-temannya dan mengatakan akan nonton bersama Chia.
"Yang itu yah yang kamu bilang?" Tukas salah satu teman Kay.
"Bacot." Jawab Kay.
"Ya elah, udah ada cewek kami dilupakan." Ucap Temannya lagi.
"Bacotttttt lu pada, udah Aku duluan yah." Ucap Kay.
Kay pun berjalan bersama Chia memasuki ruangan sesuai tiket mereka, mereka melangkah mencari seat sesuai tiket mereka. Setelah mendapatkan seat, mereka pun duduk.
Chia terus menatap Kay yang duduk disebelahnya, wajahnya terlihat penuh pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Kay.
"Kenapa?" Tanya Kay yang menyadari Chia menatapnya sejak tadi.
"Hmm, Kamu benar nggak pacaran sama Nadin?" Tanpa basa basi Chia bertanya.
"Iya enggaklah." Jawab Kay.
"Lalu, story kamu waktu itu. Sepulang dari game center." Tanya Chia penasaran.
"Story?"
"Iya, story Ig."
"Oh, yang itu. Bukan Aku yang pasang, itu Nadin yang merebut paksa HPku trus pasang deh."
"Kenapa kamu nggak larang atau marah, kan hp kamu."
"Hmm, karena kalau Aku larang dia bakal bilang ke kamu kalau Aku... Eh, pokoknya nggak bisa dilarang."
"Kamu tadi mau ngomong apa? Bilang apa ke Aku?" Tanya Chia.
"Eh, udah kelewatan beberapa menit filmnya. Kata orang bagus film ini." Ucap Kay mengalihkan pembicaraan.
"Ada apa yah? Kok Kay langsung mengalihkan pembicaraan? Bilang apa ke Aku? Apa Aku tanya saja ke Nadin. Eh, enggak deh malas ngomong sama cewek itu. Kira-kira apa yah?" Batin Chia.
Chia pun ikut fokus menonton film yang ditayangkan di layar depan mata mereka.
Namun, sesekali dia melirik ke arah Kay. Menatap Kay yang fokus menonton.
"Kenapa?" Tanya Kay.
"Hmm, enggak."
"Kalau ada yang mau ditanyakan asalkan bukan pertanyaan yang sama kayak tadi bakal Aku jawab." Ujar Kay.
"Uhm, maksud teman kamu 'oh yang itu yah yang kamu bilang', itu maksudnya apa? Emangnya kamu bilang apa?" Tanya Chia.
"Mereka emang suka iseng, nggak usah digubris." Tukas Kay.
"Uhmm, okey." Jawab Chia.
Walaupun masih penasaran, karena jawaban Kay yang tidak memberikan jawaban yang membuat Chia puas. Namun, Chia berhenti untuk bertanya dia takut jika Kay akan risih dengan rasa penasarannya.
Chia pun fokus menonton film yang sedang berlangsung didepannya.
Dipertengahan film, Chia tertidur dengan pulasnya. Padahal, suara bioskop yang begitu kuat dan ditambah jeritan penonton tidak membuat tidur Chia terganggu.
Kay yang melihat Chia tertidur pulas pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Kay melepaskan jaketnya dan menutup tubuh kecil Chia yang sedang tertidur.
Chia yang sangat pulas pun tidak sadar menaruh kepala ke salah satu penonton disebelahnya, Kay yang menyadari hal itu cepat-cepat memposisikan kepala Chia agar bersandar di pundaknya.
Kay terus tersenyum sumringah, melihat cara tidur Chia.
Setelah tidur beberapa menit, Chia pun terbangun karena penonton yang menendang kursi tempatnya duduk.
Dengan ekspresi orang yang baru bangun tidur, nyawa yang masih belum terkumpul. Chia mengucek-ngucek matanya. Dia terkejut saat melihat wajah Kay begitu dekat dengannya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Kay.
"Aku ketiduran?" Tanya Chia.
"Iya."
"Ha, sejak kapan? Berapa lama?" Tanya Chia meraba wajahnya, mencari apakah ada jejak iler diwajahnya.
Ekspresi terkejutnya itu membuat Kay semakin tidak kuasa menahan tawanya.
"Kira-kira 30 menit. Hebat yah kamu nggak bangun padahal orang-orang ada jerit jerit." Ucap Kay.
"Ha? Masa?" Ucap Chia.
"OMG, kok bisa ketiduran sih. Wait, tadi Aku ileran nggak yah? Aku ngorok nggak yah. Ya Ampun, Kay setelah ini masih mau teman sama Aku nggak yah. Ya Ampun, Chia. Nggak bisa jaga image kali." Batin Chia syok.
"Imut?" Tutur Kay.
"Yah?"
"Kamu tidur imut kok, santai aja." Sahut Kay.
"Apaan sih." Ucap Chia mengusap menutup wajahnya yang salting.
Mereka pun kembali fokus menonton film, kali ini Chia tidak tidur lagi dan ikut nonton hingga film berakhir.