I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 73



"Eh, kok error sih." Jerit Ria.


"Jangan tanya padaku lihat punyaku juga error." Sahut Naina.


"Aih, mau nyerah aja. Enaknya gini nikah aja kali yah." Tukas Ria.


"Nikah ndasmu." Sahut Cherly.


"Susah nggak sih, otak ku udah mau pecah sumpah." Tutur Ria.


Sementara mereka sibuk dengan program mereka yang error. Justru, Anton dan Chia sedang berdiskusi dengan tenang.


Di group mereka yang lumayan paham tentang program adalah Anton karena dia juga lulusan dari SMK jurusan komputer. Jadi, Anton dan Chia sering berdiskusi dan mencari jawaban jika program mereka error. Setelah berhasil mendapatkan jalan keluar untuk mengatasi masalah program mereka, mereka berdua akan bergilir menjelaskan kepada teman-teman mereka.


"Oh, Aku tahu kalau yang ini harusnya pake fungsi ini." Ucap Anton.


"Kamu yakin, kalau gitu kamu pake fungsi itu trus Aku pake yang ini aja. Kita lihat mana yang berhasil, tapi kalau dua-duanya berhasil malah lebih bagus." Tutur Chia.


"Okey, boleh juga."


Mereka berdua fokus dengan program yang mereka kerjakan, sementara teman-temannya masih mengeluh panjang lebar.


"Aku nyari pacar yang jago IT kali yah." Ucap Naina.


"Tuh, Si Ria kan pacarnya jago IT." Tukas Aris.


"Alah, jago doang tapi pelit. Pacarnya aja nggak bantu kok." Sarkas Naina.


"Mungkin karena Ria nggak ngomong. Aku kalau jadi Ria udah aku suruh bantu." Tutur Aris.


"Mana ada, Aku loh udah minta bantu. Tapi, jawabannya nanti-nanti mulu." Sahut Ria.


"Sangat tidak berguna kawan-kawan." Ucap Cherly.


"Hastag ganti pacar." Sahut Aris.


"Ih, nggak mau yah. Gitu-gitu Aku tetap cinta." Tukas Ria.


"Makan tuh cinta." Cerca Naina.


Tiba-tiba dari kejauhan, Kay berjalan mendekati mereka.


"Eh eh si Kay." Tutur Cherly.


"Kayaknya mau kesini." Ucap Aris.


Benar kata Aris, Kay menghampiri mereka. Dengan tersenyum dia menyapa mereka, kemudian menoleh mencari seseorang.


"Boleh bicara sebentar?" Tanya Kay yang menghampiri Chia.


Chia menengadahkan wajahnya menatap wajah Kay. Chia menoleh ke arah kanan dan kiri kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu." Ucap Kay.


"Cieeeeee...." Kompak Aris menggoda Chia.


"Ayok ikut Aku. Aku pinjam Chia sebentar yah." Ucap Kay.


Chia pun mengikuti Kay dari belakang, Kay menuju belakang gedung, disana sepi tidak ada siapapun.


Kay menghentikan langkahnya, diikuti oleh Chia. Chia sangat gugup, pikirannya bercampur aduk. Apa yang akan dikatakan oleh Kay, Chia sangat penasaran.


"Kamu bisa nggak?" Tanya Kay.


"Ya?" Sahut Chia.


"Kamu bisa nggak, nggak ngejar-ngejar Aku. Aku sangat ilfeel dan risih." Tutur Kay.


Jleb, jantung Chia terasa ditusuk oleh bilah pisau. Ucapan Kay begitu menyakitkan, walaupun dia sering menerima perlakuan tidak baik dari Kay namun Chia masih sabar.


"Tapi, Aku sudah menjaga jarak darimu. Apakah kamu harus berkata seperti itu padaku." Ucap Chia.


"Apanya yang menjauh? Kau bahkan dengan tidak tahu malu berbicara yang tidak benar kepada Ayahku." Tukas Kay.


"Mengatakan yang tidak benar apanya? Aku nggak pernah ngomong aneh-aneh sama Ayahmu kok." Ucap Chia.


"Kamu yakin?" Tanya Kay.


Chia terdiam sejenak, apakah dia pernah ngobrol sama Ayahnya Kay. Seketika dia tersadar, dia pernah bertemu dengan Ayah Kay saat mengunjungi gedung rektor. Tapi, Chia yakin tidak mengatakan hal yang aneh dan tidak benar seperti apa yang dikatakan Kay.


Flashback On


Chia mengantar beberapa berkas ke gedung rektorat, disana dia berjumpa dengan Ayah Kay yang sedang mengobrol dengan beberapa staf.


Saat mengantar berkas, Chia sedikit mengobrol dengan staf yang menerima berkasnya. Beberapa menit kemudian, ada salah satu staf yang menyapa Chia.


"Hey, Chia." Sapa Staf itu.


"Eh, Bu Tya." Jawab Chia.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Bu Tya.


"Aku ngantar berkas, Bu." Jawab Chia.


"Oh, okey." Ucap Bu Tya


Bu Tya adalah adik tingkat Chia. Dia mengambil S1 untuk di jurusan yang sama dengan Chia. Yah, walaupun sudah Ibu-ibu tetapi karena berdasarkan senioritas dalam jurusan, Chia satu tingkat diatas Ibu Tya.


"Pak ini Chia, dia yang sering bantu-bantu saat Aku kuliah. Yah, biasa Pak kuliah sambil kerja trus ngurus keluarga jadi adanya Chia ini sangat membantu sekali." Ucap Bu Tya.


"Wah, anak yang baik. Salam kenal yah Chia."


"Chia ini Prof Pratama." Ucap Bu Tya.


"Iya, Pak. Salam kenal." Jawab Chia.


Seketika mata Chia melotot, dia sangat terkejut mendengar bahwa dosen yang didepannya ini adalah dosen yang Ia kagumi dan juga Ayah Kay. Chia hanya mengagumi sebatas nama dan pengalaman Profesor namun belum pernah melihat orangnya seperti apa.


"Nih, loh. Pak Anaknya cerdas banget, oh iya Pak ini juga calon mantu bapak." Ucap Bu Tya bercanda.


"Eh enggak, Pak." Sahut Chia gugup.


"Calon mantu?" Tanya Pak Profesor menatap Chia.


"Ituloh, Pak. Sama si Kay anak bapak. Cocok loh Pak, mereka juga sekelas." Tutur Bu Tya.


Chia tidak sanggup berkata-kata, dia sangat malu. Rasanya dia ingin menceburkan mukanya di kolam ikan. Bu Tya membuat Chia frustasi dengan sikap blak-blakannya.


"Oh, iya iya. Belajar yang benar setelah S1 lanjut S2 dan seterusnya. Kalau mau jadi calon anak mantu harus melakukan yang terbaik." Tutur Pak Prof.


"Itu Chia udah lampu ijo dari bapak mantu." Tukas Bu Tya.


Chia hanya bisa menyengir, dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


Flashback Off


"Sumpah Kau, Aku nggak ngomong apa-apa. Okey, Aku jujur beberapa hari yang lalu Aku berjumpa dengan Ayahmu. Namun, hanya sekedar tegur sapa. Aku nggak ngomong aneh-aneh." Tutur Chia.


"Kamu pikir dengan prestasi dan kepintaranmu itu bisa mendapatkan semua perhatian semua orang? Aku bilang yah sama kamu, sekuat apa kamu berusaha Aku tidak akan menyukaimu." Ucap Kay.


"Kamu salah paham, sumpah Kay. Bu Tya yang terus membicarakan tentang diriku kepada Ayahmu, membesar-besarkan semuanya. Aku tidak pernah membanggakan diriku." Sahut Chia.


"Aku tidak perduli dengan alasanmu. Aku sudah berkali-kali ngomong sama kamu untuk membuang perasaanmu kepadaku." Tutur Kay.


"Kamu kenapa sih, kamu pikir Aku mau seperti ini. Aku juga tidak tahu kenapa bisa suka sama kamu. Bahkan, perhatianku dan pengorbananku kamu acuhkan Aku masih tetap suka sama kamu. Kamu kira enak jadi Aku, menyukai seseorang yang bahkan tidak mengharapkan dirimu?" Tutur Chia.


"Apakah Aku yang memaksa mu? Tidak kan? Pokoknya, Aku ingin kamu jaga jarak dan jangan pernah menunjukkan perasaanmu. Percuma itu hanya sia-sia. Dan juga Aku tidak butuh pengorbanan dan perhatianmu, berikan saja pada yang lain." Cerca Kay sembari meninggalkan Chia.


Chia menatap punggung Kay, yang semakin lama semakin bilang dari pandangannya.


Chia kemudian berjongkok dan membenamkan wajahnya. Air matanya menetes, dia menangis tersedu-sedu.


"Aku juga nggak mau seperti ini, ngejar-ngejar orang capek tahu. Hiks hiks hiks...." Oceh Chia dalam tangisannya.


Hampir beberapa menit Chia menangis, setelah itu Dia merapikan dirinya dan juga menghapus air matanya. Dia kembali berkumpul dengan teman-temannya.


"Kalian bicara apa?" Tanya Aris kepo.


"Nggak bicara apa-apa." Ucap Chia dengan bergetar.


Mereka saling pandang, pemikiran mereka sama. Namun, mereka diam tidak bertanya apa-apa kepada Chia.


Chia melanjutkan programnya, mengutak atik laptopnya. Pikirannya sangat kacau dia bahkan tidak bisa fokus dengan kode program yang sedang ia ketik.


"Ini kenapa salah mulu sih." Teriak Chia.


Mereka menoleh ke arah Chia, Chia yang biasa sangat tenang mengoding sekarang seperti orang yang sangat depresi.


"Hiks, hiks hiks... Ini gimana?" Tangis Chia pecah.


"Yang mana? Sini Aku bantu." Ucap Aris.


"Apanya yang bantu, kamu aja nyontek sama Aku. Hiks hiks hiks...." Cicit Chia.


"Udah nggak usah nangis lagi, emangnya di dunia ini hanya ada Kay doang?" Tutur Naina.


"Dia menyebalkan sekali tahu, padahal Aku nggak ngomong apa-apa sama Ayahnya. Hiks hiks hiks..." Tutur Chia.


"Kalau dipikir-pikir, setelah kamu tuh jatuh cintong, semakin lemah dan semakin cengeng yah." Tutur Anton.


"Iya, enggak seperti biasanya yang garang, mode singa kelaparan. Sekarang menye-menye kali." Sahut Aris.


"Iyakan, kan kalau lemah lemah gini Aku jadi pengen nikahin." Ucap Anton.


Chia menoleh menatap Anton tajam, matanya yang memerah dan berair sangat terpampang jelas.


"Mas kawinnya apa?" Tanya Aris.


"Kerbau seekor." Jawab Anton.


Seketika pecah tawa mereka bersama, Chia bahkan ikut terkekeh namun masih berseguk.


"Kalian pada kenapa sih, engga bisa lihat orang sedih yah." Tutur Chia.


"Iya, soalnya kalau kamu sedih. Nggak konsen buat kerjain tugas, kalau kamu nggak ngerjain tugas kami nggak bisa nyontek." Celetuk Aris.


"Iya, jangan bersedih. Nih makan dulu, minum nih ayok semangat fighting..." Ucap Cherly


...----------------...


Mereka kembali fokus mengerjakan tugas, namun lagi-lagi Chia mengoceh sembari menangis.


"Hiks hiks hiks, Aku cerdasakan?" Tanya Chia.


"Iya." Kompak mereka menjawab pertanyaan Chia.


"Aku nggak pamer juga kan? Nggak bilang Aku pintar juga kan hiks hiks hks." Tutur Chia.


"Iya...." Jawab mereka lagi.


Chia menoleh ke arah teman-temannya, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi wajah teman-temannya.


Teman-temannya saling pandang, dalam benak mereka Chia seperti orang yang sedang depresi.


"Chia, aman?" Tanya Anton.


"Kamu nggak kerasukan kan?" Tanya Ria.


Chia menggelengkan kepalanya lalu kembali mengerjakan tugasnya. Kali ini mereka fokus menyelesaikan tugas hingga selesai.