
"Kenapa wajahmu merah?" Tanya Kay menatap lekat wajah Chia.
"Ha, kepanasan mungkin." Jawab Chia gugup.
"Panas?" Tanya Kay sembari mengambil kertas dan mengipas ke arah Chia.
Chia menoleh hingga bertatapan dengan Kay, membuat wajah Chia semakin memerah.
"Apa masih panas? Wajahmu semakin memerah." Ujar Kay.
Chia menarik kertas yang dipake Kay untuk mengipas dirinya. Dan mengipas dirinya sendiri, Chia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kenapa Aku mengiyakannya untuk bertemu dan mengajarinya." Batin Chia.
Flashback On
Chia sedang rebahan di kasur, sedang menonton serial Anime kesukaannya. Tiba-tiba ada notif WhatsApp yang masuk. Pesannya dari nomor baru, awalnya Chia mengabaikan pesan itu. Tetapi, pesan berikutnya masuk dan tertera nama Kay. Chia dengan sigap membuka chat itu. Benar saja itu dari Kay. Entah kenapa saat melihat nama itu hati Chia menjadi berdebar dan begitu semangat untuk membalas pesan itu. Padahal, chat dari teman-temannya sendiri saja diabaikan begitu saja.
"Kamu dapat nomorku dari Siapa?" Tanya Chia.
"Aku ambil di group angkatan." Balas Chia.
Yah, walaupun sekelas tetapi Chia tidak menyimpan nomor-nomor mereka hanya orang-orang terdekat saja yang ada di kontak HP Chia.
"Iya ada perlu apa yah?" Balas Chia.
"Aku bisa minta tolong, nggak? Tolong ajarkan Aku materi probabilitas dan statistika dong, Aku kurang paham soalnya hehehehe😅."
"Oh, boleh. Kalau ketemu di kampus panggil Aku saja, biar Aku jelaskan." Balas Chia.
"Kalau besok boleh nggak😂?" Balas Kay.
"Besok? Tapi, besok kan hari Sabtu. Hari Sabtu kan nggak kuliah." Balas Chia.
"Iya emang, bisa nggak?" Balas Chia.
"Bisa, tapi kalau Sabtu motor dipake saudaraku." Balas Chia.
"Aku jemput kamu." Balas Kay.
"Oh, boleh deh." Balas Chia.
"Okey, terimakasih yah. Sampai jumpa besok." balas Kay.
Chia tidak membalas pesan terakhir Kau, tetapi dia terus tersenyum sumringah.
Besoknya, Kay menjemput Chia. Namun, Chia menyuruh Kay untuk menjemputnya didekat taman saja. Chia tidak mau orang-orang melihatnya dibonceng oleh pria.
Flashback Off
"Kamu haus? Aku pesankan minum yah." Ucap Kay berdiri dari Kursi.
Chia bergegas menarik lengan bajunya. Kay menoleh ke arah Chia.
"Kenapa?" Tanya Kay.
Chia cepat-cepat menarik tangannya kembali, wajahnya semakin memerah.
"Tidak, tidak jadi." Ucap Chia.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Kay.
"Air mineral saja." Jawab Chia segan.
"Makannya?" Tanya Kay.
"Tidak usah." Sahut Chia.
Kay pun pergi memesan minum di kedai tempat mereka nongkrong.
Chia menarik nafas dalam-dalam, entah mengapa jantungnya terus berdebar tanpa henti. Dia pun selalu salah tingkah saat Kay berada didekatnya.
****
Kay kembali setelah memesan minum, dia lalu duduk disamping Chia.
"Aku sudah pesan. Sebentar lagi diantar." Ucap Kay.
"Oke, ini sudah Aku ringkas apa saja yang perlu kamu pelajari untuk mempermudah kamu memahaminya soal. Coba kamu kerjakan soal ini berdasarkan contoh yang Aku buat ini." Sahut Chia.
"Baiklah."
Kay pun mengerjakan soal dengan serius, sementara Chia menatap Kau dengan saksama.
"Kalau ini...." Tiba-tiba Kay bertanya.
"Ha? Ya? Apa?" Chia gelagap.
"Kamu kenapa?"" Tanya Kay.
"Aku... Aku tidak apa-apa." Ucap Chia.
Chia yang salah tingkah membuat tangannya yang banyak bergerak menabrak salah seorang pelayan yang membawa minuman.
"Brughh..." Suara benda yang jatuh.
Chia terkejut dan panik, dia yang ingin menolong tiba-tiba kakinya menyenggol meja sehingga membuatnya ikut terjatuh.
Untung saja pengunjung cuman dia dan Kay, jadi tidak banyak yang melihat. Namun, Walaupun cuman Kau, Chia tetap saja merasa malu. Wajahnya semakin memerah karena merasa malu. Kau cepat membantu Chia, setelah itu membantu pelayan membersihkan minuman yang tumpah.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja." Ucap Chia yang terus meminta maaf.
"Iya, mbak nggak papa." Jawab pelayan dengan lembut.
"Sekali lagi, maaf. Kerugiannya biar masukkan ke nota saja, Kak. Nanti saya bayar. Maaf yah." Ucap Chia dengan penuh penyesalan.
"Nggak papa, Mbak." Ucap Pelayan.
Pelayan itu kembali ke dapur untuk mengganti minuman yang tidak sengaja Aku senggol.
Chia kembali duduk, mengusap wajahnya. Entah kenapa hari ini dia benar-benar merasa aneh.
"Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Kay.
Chia menoleh ke arah Kah, dengan tatapan lirih.
"Aku minta maaf yah." Ucap Chia.
"Maaf kenapa?" Tanya Kay.
"Maaf kejadian tadi." Jawab Chia.
"Nggak papa, kamu nggak salah kok" Ucap Kay sembari mengelus kepala Chia.
Pipi Chia tiba-tiba saja memerah, jantungnya lagi-lagi berdebar kencang.
"Kenapa wajahmu sering memerah?" Tanya Kay.
"Mungkin Aku lagi nggak enak badan." Jawab Chia.
"Benarkah?" Tanya Kay sembari meletakkan tangannya dikening Chia.
Tidak hanya wajah Chia yang semakin memerah, kuping telinga Chia pun ikut memerah.
"Wajahmu semakin merah, kita kerumah sakit saja gimana?" Ujar Kay.
"Tidak, tidak perlu. Kita lanjut saja." Ujar Chia.
"Oh, okey. Tapi kalau kamu sudah tidak sanggup bilang saja." Pinta Kay.
"Baiklah." Ucap Chia.
Chia pun melanjutkan mengajar Kay dengan serius, Chia berusaha untuk fokus mengajar Kay.
****************
"Yang ini kamu pahami soalnya dulu, kalau masih nggak paham pake cara yang ditanya, diketahui biar lebih mudah untuk menyelesaikan soalnya." Jelas Chia.
"Oh, hmm..." Sahut Kay.
"Kamu sudah paham kan? Kalau yang lain kamu tinggal lihat rumus yang Aku ringkas buat kamu ini." Tutur Chia.
"Oh, okey deh. Tapi yang ini Aku kurang paham deh." Jawab Kay.
"Yang mana? Oh itu, peluang bersyarat. Dua kejadian disebut kejadian bersyarat apabila terjadi atau tidak terjadinya kejadian A akan mempengaruhi terjadi atau tidak terjadinya kejadian B atau sebaliknya. Rumusnya tuh yang ini, contoh soalnya yang seperti ini. Syaratnya kamu tahu rumusnya dan pahami soalnya, selebihnya itu mudah saja kamu mengerjakan soal-soal lain."
"Oh, jadi ini hanya pakai rumus ini?" Tanya Kay.
"Iya, pake itu."
"Oh, okeh deh. Aku sudah paham."
****************
Chia dan Kay belajar hingga hampir 3 jam, mereka pun beranjak untuk pulang. Setelah membayar makan dan minum yang mereka pesan, mereka pun keluar dari Kedai tempat mereka nongkrong itu. Sebelum pulang Kay menawarkan untuk membeli makanan, Chia hanya mengiyakan apa yang diucap oleh Kay. Mereka tiba di warung makan, disana Kay membeli dua porsi nasi goreng.
Tidak hanya itu, Kay juga membelikan minumn boba. Dan baru mengantar Chia pulang. Kay menurunkan Chia ditaman atas permintaan Chia sendiri. Kay juga memberikan makanan dan minuman yang telah di beli olehnya. Awalnya, Chia menolak namun Kay memaksa untuk memberikan kepada Chia. Chia pun akhirnya menerima pemberian Kay.
Setelah itu, Kau pun pergi. Sementara, Chia masih melihat Kay berlalu pergi hingga tidak terlihat lagi dipandangan matanya.
Chia duduk sebentar di kursi taman, tersenyum kemudian tertawa seperti orang yang kehilangan akal sehat. Jantungnya masih berdebar-debar, entah kenapa dia begitu bahagia bercampur malu karena mengingat tingkah konyolnya dikedai tadi. Setelah tawanya sudah capek, dia pun bergegas pulang kerumah.